Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
57. Kejutan Untuk Yeslin.


__ADS_3

Masih sama, masih diam saja, tak ada kata yang terucap, tidak meski hanya dalam sebentuk isyarat.


Tatapannya tak terbaca, expresi wajah tak menunjukkan tanda, Aura benar-benar menutup dirinya dari semua bahasa.


"Marahlah!"


Netra pekat Damaresh menyapu wajah lembut itu dengan selaksa rasa tak nyaman yang menyelimuti kalbu, atas keterdiaman Aura yang seakan gadis bisu.


"Marahlah! itu lebih baik bagiku, daripada kau hanya diam begitu," ucap Damaresh sambil meremas lembut jemari Aura yang masih bergeming saja.


"Arra, please!"


Damaresh menggeram frustasi seraya meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak pernah terbayangkan akan berada dalam situasi begini, dimana ia seakan kehilangan Aura di saat gadis itu masih berdiri utuh di depannya.


"Aresh." lirih suaranya mulai terdengar ketika Damaresh hampir putus asa membujuknya untuk bicara.


"Iya," gegas Damaresh meraih tangannya lagi dan menatapnya seksama siap untuk segala apa yang akan diucapkan gadis itu, andaipun itu suatu kata perintah untuknya, Damaresh siap melaksanakannya. Karna mendapatkan Aura kembali dengan suaranya seakan menemukan setumpuk berlian saja rasanya. Atau bahkan lebih dari itu perumpamaannya.


"Aku butuh waktu tenangkan diriku, aku mau sholat dhuhur dulu." Gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Damaresh dan memutar tumitnya untuk berlalu.


"Ara, Aku--"


"Kebenarannya akan segera terungkap Aresh, Tuhan juga akan memberitaukanku," ujar Aura cepat sebelum Damaresh menyelesaikan ucapannya sampai tuntas.


"Baiklah, sholatlah! Aku akan menemui Kaivan dulu." Damaresh harus menghargai keputusan Aura juga kan, gadis itu butuh sendiri untuk menenangkan diri.


"Tapi kau baik-baik saja, kan, Arra?" tanya Damaresh sebelum istrinya itu benar-benar berlalu.


"Insha-Allah," jawab Aura pasti bahkan ada seulas senyum yang tersungging di bibirnya, meski sangat singkat sekali. Damaresh menghela napasnya lega.


*******


"Kita ke kantor sekarang?"


Yeslin bertanya pada asistennya yang duduk santai dengan jemari sibuk menari-nari di layar ponsel.


"Belum ada pemberitahuan, Bu," sahut Winda asistennya itu.


"Lho? seharusnya jadwal yang dimundurkan kemarin, akan dilakukan hari ini, kan?" tanya Yeslin heran.


Menurut agenda yang diterimanya, seharusnya kemarin ada rapat dengan CEO Pramudya sebelum bertolak kembali ke Jakarta. Tapi mendadak ada pemberitahuan kalau rapat diundur esok hari, yakni hari ini.


Yeslin sudah siap dan rapi, ia tampil sangat cantik sekali, karna bertemu dengan Damaresh Willyam adalah sesuatu yang selalu ia nanti, meski tak berhasil berdekatan, karna sampai kini Yeslin masih belum tau alamat vila yang ditempati Damaresh, tapi setidaknya mereka bisa bertemu di kantor pada saat jam kerja.


Maka Yeslin selalu mempersiapkan dirinya dengan sangat matang tiap kali akan bertemu dengan sang pujaan hati, seperti kali ini.


Sayangnya, Yeslin yang sudah tampil habis-habisan malah berbanding terbalik dengan asistennya yang malah tetap mengenakan pakaian santai, sambil duduk lesehan sibuk dengan gawai.


"Saya sudah tanyakan hal itu pada asistennya pak Darwin, Bu."


"Lalu?"


"Dia bilang tunggu pemberitahuan lebih lanjut!"


"Lho kok aneh?" Yeslin segera menghempaskan bokongnya di kursi itu dengan raut wajah penuh keheranan.


"Padahal ini rapat penting, tapi mereka menundanya


sampai waktu yang belum ditentukan, ini bukan cara kerja CEO Pramudya Corp," tukas Yeslin dengan kening berkerut.


Apa sebenarnya yang terjadi? Apa ini ada kaitannya dengan Damaresh? Apa dia masih belum keluar dari rumah sakit? tapi menurut info yang ku dapat, Damaresh sudah keluar dari rumah sakit keesokan


harinya, ia hanya semalam saja di sana.


Pikiran Yeslin berkecamuk dengan selaksa tanda tanya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana Bu?" tanya sang asisten.


"Ganti bajumu! kita ke kantor sekarang!"


titah yeslin. Ia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi, jalan satu-satunya adalah dengan datang ke kantor, meski belum ada pemberitahuan rapat untuk hari ini.


Setibanya di bangunan berlantai dua yang tak sebegitu besar itu, yang sementara ini difungsikan sebagai kantor, sambil menunggu proyek selesai, Yeslin terus menuju lantai atas ke sebuah ruangan yang biasa di tempati oleh Damaresh. Suasana nampak sepi hanya ada seorang security yang sedang berjaga di depan pintu.


"Apa pak Damaresh ada di dalam?" tanya Yeslin.


"Tidak ada Bu," jawab security itu.


"Apa beliau belum datang?" tanya Yeslin lebih lanjut.


"Pak Damaresh sudah datang dari tadi, Bu. Tapi sekarang beliau sedang ada rapat."


Security itu memberikan keterangan lebih lengkap.


"Rapat? dimana?"


Terlihat kening Yeslin mulai berkerut dalam.


"Di lantai bawah, di tempat biasanya, Bu."


"Kenapa tidak ada pemberitahuan padaku, kalau ada rapat hari ini?" Yeslin mulai terlihat berang.


"Winda!" pandangannya menatap penuh selidik pada asistennya.


"Ti-Tidak ada, Bu!" Winda menjadi sangat gugup, ia cepat memeriksa ponselnya untuk melihat mungkin


saja ada pemberitahuan yang terlewat.


"Tidak ada, Bu!"


Winda menyorongkan ponsel di tangannya agar Yeslin dapat melihatnya sendiri.


Pikirannya hanya satu ingin segera sampai di tempat rapat itu.


Yeslin tak perduli dengan dua orang security yang berdiri di depan ruangan rapat yang pintunya tertutup,


tanpa basa-basi wanita itu segera hendak masuk, tapi niatnya segera di halangi oleh dua orang security.


"Maaf Bu, Ibu di larang masuk! di dalam sedang ada rapat penting," ucap security berbadan tegap itu.


"Aku juga anggota rapat hari ini!" Yeslin berkata dengan tatapan tajam.


"Maaf Bu, kami telah diperintahkan untuk mencegah siapapun masuk ke dalam, selama rapat berlangsung."


Security yang berbadan lebih pendek dari rekannya itu turut memberikan penjelasan.


"Termasuk aku?"


"Siapapun, Bu," tegas security itu bersamaan.


"Kalian tak tau aku ini siapa? aku ini perwakilan dari Blanc Compani, jadi aku harus mengikuti rapat ini! kalian paham?" Yeslin membentak kasar.


Winda segera menepuk-nepuk pundaknya untuk menenangkan.


"Kami hanya menjalankan perintah Bu!" jawab security itu.


"Kalau Bu Yeslin memang ada kepentingan, silahkan menunggu!" security yang satunya menunjuk ke arah kursi tak jauh dari tempat itu.


"Bu, sebaiknya kita ikuti aturannya dulu!"


Winda mengusulkan selembut mungkin.

__ADS_1


"Ini aneh, Winda. Mengapa mereka menjegalku untuk masuk, padahal seharusnya aku ikut dalam rapat itu.


Apa yang terjadi?" sungut Yeslin dengan suara memburu dan tatapan berkilat.


"Kita akan mengetahui jawabannya, Bu. Tak baik kalau Bu Yeslin membentak-bentak begitu!" Winda coba mengingatkan.


"Lalu yang baik menurutmu sekarang bagaimana!?"


kini giliran Winda yang menjadi sasaran bentakan Yeslin.


"Kita tunggu saja dulu, Bu. Nanti kita bisa tanya pada Pak Darwin," sahut Winda dengan berusaha untuk tetap berkata sopan, meskipun hatinya kesal dengan sikap Yeslin yang tidak bisa menahan diri dan gampang terbawa emosi.


Yeslin menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi sekasar hembusan napasnya yang masih berselimut kekesalan. Untunglah mereka tak dibuat menunggu terlalu lama, karna sekitar lima belas menit kemudian pintu besar itu terbuka, Darwin yang pertama kali keluar beriringan dengan seorang lelaki sebayanya yang juga memiliki postur tubuh hampir serupa dengan Darwin, hanya wajah mereka yang terlihat jauh berbeda.


Melihat lelaki yang bersama Darwin itu, Yeslin segera


menghampiri, sementara Keduanya berbicara sejenak di depan pintu lalu saling berjabat tangan, kemudian


Darwin gegas berlalu setelah sempat tersenyum tipis pada Yeslin.


"Pak Etien! kenapa tiba-tiba ada di sini? kapan Pak Etien datang? dan kenapa meninggalkan papa sendirian?" Yeslin langsung mencecar Etien, orang kepercayaan ayahnya itu dengan beberapa pertanyaan.


"Saya tiba di sini sejak kemarin sore, Mbak," Dari tiga pertanyaan Yeslin hanya satu saja yang dijawab oleh Etien.


"Kemarin? kenapa tak memberitauku? Dan ada apa Pak Etien kemari? bukankah sudah ada aku yang menggantikan tugasmu di sini?"


kembali Yeslin memberondong Etien dengan berbagai pertanyaan.


"Saya di perintahkan Pak Alex untuk membawa Mbak Yeslin kembali ke Jakarta sekarang." Lagi, hanya satu pertanyaan Yeslin saja yang dijawab oleh Etien.


"Kenapa? pekerjaanku di sini belum selesai," tolak Yeslin dengan raut tak senang, ia tak suka jika Etien tiba-tiba akan menggantikan pekerjaannya di Mangupura ini.


"Pekerjaan kita di sini sudah selesai semua, Mbak Yeslin. Kita tidak punya pekerjaan apa-apa lagi di sini,"


ucap Etien.


"Proyek di sini belum berjalan lima puluh persen, Pak Etien!" Yeslin mengingatkan.


"Iya. Tapi itu sudah bukan tanggung jawab Blanc Compani."


"Maksudmu?"


"Pramudya Corp sudah memutus kontrak kerja dengan Blanc Compani, Mbak Yeslin," jawab Etien.


"Apa??" Yeslin membelalakkan matanya.


"Tidak mungkin, kau jangan main-main, Etien!"


Yeslin bahkan sampai menuding wajah Etien.


"Justru karna itu, saya datang kemari."


"Jadi?" Yeslin menggantungkan kalamatnya. Etien mengangguk pasti.


"Kapan?" tanya Yeslin lemah.


"Kemarin."


Kemarin? Dan dia tidak tau apa-apa dan tidak mendengar apa-apa. Sangat niat sekali kalau Damaresh ingin memberinya kejutan, tapi kejutan yang tidak di inginkan.


******


*****


**************

__ADS_1


Next episode scroll aja ke bawah ya,


hari ini duble up.


__ADS_2