Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
31. Aresh...


__ADS_3

Bugg


Suara benda yang dilempar ke atas kursi, sangat jelas terdengar setelah diawali suara langkah kaki yang sebentar mendekat, sebentar menjauh.


Aura memasang telinganya tajam, ia bahkan membuka mukennahnya agar dapat mendengar dengan jelas.


Gadis itu baru selesai melakukan sholat malam, ia memutuskan menunggu waktu subuh dengan tanpa membuka mukennahnya ketika suara-suara mencurigakan itu terdengar dari ruang tengah.


Kreekkk


Suara pintu terbuka, entah pintu di bagian mana, Aura menarik napas pelan. Baru pertama kalinya sejak hampir setengah bulan tinggal di rumah mewah ini, ia mendengar suara-suara mencurigakan di waktu dini hari begini.


Apa itu pak Dirga? tanya Aura dalam hati. Karna hanya ada dirinya dan pak Dirga di rumah ini kalau malam hari. Tapi kamar pak Dirga ada di bagian paling belakang dari bangunan rumah ini. Artinya hanya ada dirinya sendiri di dalam bangunan rumah utama ini.


Debb


Terdengar pintu ditutup, lalu kembali terdengar langkah kaki. Tak tahan untuk tetap meringkuk dalam rasa penasaran seperti ini, Aura perlahan bangkit dan melangkah menuju pintu terlupa untuk mengenakan hijabnya, rambut indahnya tergerai begitu saja.


Sangat pelan Aura membuka pintu kamarnya dan mengintip keluar, suasana cukup remang dari cahaya lampu di halaman. Tapi kosong, Aura tak mendapati siapapun di sana. Gadis itu melangkah berjinjit untuk melihat lebih jauh lagi, karna telinganya sangat jelas mendengar suara-suara itu barusan, mustahil kalau tak ada yang terjadi di ruangan yang luas ini. pikirnya.


Degg


Aura merasakan jantungnya berdetak cepat, tatkala pandangannya menemukan sesosok tubuh tinggi tegap berdiri di tengah pintu yang menuju ke pantry


"Siapa?" Aura bertanya dengan nada tajam lebih mengarah pada bentakan.


Dan dalam sekejab lampu ruang menyala membuat suasana menjadi terang benderang.


Aura jadi sangat terkesima melihat pemandangan


yang terpampang di depan matanya kini.


"Pak Damaresh?" Heran campur tak percaya melihat sosok mahluk tampan itu ada di depan matanya.


Aura mengucek matanya untuk lebih memastikan kalau pandangannya tak salah. Hasilnya sama saja.


Lelaki berpostur tinggi tegap yang mengenakan kemeja polos warna navy, yang lengannya di gulung sampai siku dipadu celana bahan warna dark grey yang bagian bawahnya juga digulung sampai tengah kaki,


memang nyata berdiri disana, menatap ke arahnya dengan seksama bahkan kini tengah melangkah mendekat padanya.


"Ka-kapan Bapak datang?" Aura tak dapat menahan senyum, setelah benar-benar yakin kalau lelaki yang tengah menghampirinya itu dengan tanpa melepaskan tatapan pada wajah cantik alami Aura yang


saat itu tampil tanpa hijabnya, dimana angin yang menyeruak masuk melalui ventilasi udara dalam ruangan mengayun-ayunkan lembut rambutnya yang berkilau.


Tak ada jawaban dari Damaresh, kecuali ia tetap menggiring tubuhnya untuk semakin mendekat, kian dekat dan sangat dekat. Kebungkaman Damaresh tampak tak masalah bagi Aura, terlihat cerlang matanya tetap berbinar karna menemukan lelaki yang diam-diam selalu bermain dalam pikirannya itu ada di rumah ini sekarang. Gadis itu menyambut dengan senyum, dan ketika jarak diantara keduanya hanya tinggal sepersekian saja, Aura segera hendak meraih tangan Damaresh untuk mencium punggung tangannya, namun gerakan Aura kalah cepat dari pergerakan kedua tangan Damaresh.


Dengan cepat kedua tangan Damaresh terangkat dan menangkup wajah Aura yang terlihat begitu imut dalam pandangannya saat ini.


"Pa-Pak Damaresh?" Lebih dari hanya sekedar kaget dengan sikap Damaresh yang tak biasa itu, Aura lansung tegang dan gugup, mendadak hawa panas menjalar rata di wajahnya, apalagi ketika pandangannya bertemu dengan kilau tajam dari netra hitam pekat Damaresh, jantungya seperti melompat-lompat tak tentu arah, ditambah lagi dengan aroma maskulin yang menguar dari lelaki di depannya itu sukses membuat Aura berada dalam mode tegang yang sempurna.


"Aresh..!" suara serak itu meluncur dari bibir kissable Damaresh yang berwarna merah tanpa polesan lipstick.

__ADS_1


"A-apa?" Aura bertanya dengan tercekat.


"Panggil aku, Aresh!"


"Oh.." Aura terlihat kian tegang.


"Panggil aku, Aresh, saja, Arra!"


"Ta-tapi.."


"Sebutkan sekarang, Arra!" Damaresh enggan melepaskan kedua tapak tangannya dari wajah lembut Aura yang terasa begitu hangat dan lembut, ia seakan tak perduli dengan kondisi kejiwaan gadis di depannya


yang sudah benar-benar kacau akibat perlakuannya tersebut.


"A-Aresh,.. Aresh," Aura menyebut nama itu sambil berusaha menghindari tatapan Damaresh yang seakan ingin mengelupas perasaannya. Hingga ia tak tau kalau lelaki yang berdiri dekat di depannya itu menarik sudut bibirnya sedikit membentuk lengkungan tak sempurna. Yang sangat ia sadari kemudian sebuah benda kenyal meraup bibirnya dengan cepat.


cup


Aura masih belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi ketika Damaresh sudah menarik dirinya kembali


dengan cepat, melepaskan genggamannya di wajah gadis itu yang tubuhnya tlah membeku, kaku bak tiang listrik.


"Aku bisa berbuat lebih, Arra," lirih suara Damaresh di pendengaran Aura seakan tengah berbisik.


"Kalau kau ingin menghindarinya, jangan tampil seperti ini lagi di depanku! kenakan hijabmu seperti biasanya!"


lelaki itu segera berlalu dengan cepat meninggalkan Aura yang tetap berdiri mematung dengan ritme jantung yang kian tak menentu.


***


"Iya, Pak," jawab Aura sambil tangannya dengan lincah memasukkan sayuran segar ke dalam lemari pendingin.


"Jadi Mbak Aura sudah tau, apa Mbak Aura mau mengantarkan minuman ini ke kamar tuan?"


"Bapak saja," tolak Aura, tentu ia masih ingin menghindari Damaresh setelah lelaki itu tadi memberinya ciuman singkat tanpa permisi.


"Baiklah," Dirga segera membawa minumannya, namun baru beberapa langkah, terlihat Damaresh hadir di ruangan itu,


"Tuan sudah bangun?"


Damaresh mengangguk, lalu menarik kursi dengan cepat dan segera duduk sambil menyugar rambutnya dengan jari. Beda dengan Aura yang sudah terlihat siap pergi ke kantor, Damaresh nampak santai bahkan ia hanya memakai celana pendek di padu T-shirt hitam polos lengan pendek yang sukses mengekpos kulit bersih terawatnya.


"Tuan mau sarapan?" tanya Dirga lagi.


"Tidak, aku mau minum saja,"


Dirga segera memberikan minuman yang dibawanya ke hadapan sang empunya dan segera berlalu.


Sambil menyesap minuman itu, Damaresh menatap Aura yang berdiri diam di dekat lemari pendingin.


"Kau sudah siap berangkat?" tanya Damaresh.

__ADS_1


"Iya," jawabnya singkat.


"Duduklah!" Damaresh memberi isyarat dengan mata pada kursi di depannya untuk Aura duduk.


Untuk beberapa saat keduanya saling diam kendati duduk berhadapan jarak satu meja. Damaresh sendiri nampak santai menikmati minuman hangatnya, sedangkan Aura juga terlihat enggan untuk memulai percakapan lebih dulu.


"Kau marah padaku?" tanya Damaresh akhirnya.


"Tidak, Pak," sahut Aura.


"Pak?, kau lupa aku tadi memintamu, memanggilku apa?"


"Ah Iya, A-Aresh,"


"Kenapa kau tidak marah, atas apa yang ku lakukan tadi?"


"Karna-, karna kau lelaki yang halal untukku, jadi kau punya hak untuk melakukan itu padaku," sahut Aura.


"Benarkah? jika aku ingin melakukannya lagi, kau mengijinkan?" Damaresh menatap lekat wajah Aura.


"I-Iya," jawab Aura dengan suara tercekat disertai helaan napas.


"Dan jika aku ingin melakukan lebih dari itu, apa kaupun mengijinkan?"


"Ee.." Aura tak dapat segera menjawab, tatapan intens Damaresh benar-benar membuat lidahnya menjadi kelu.


"Kenapa kau tegang begitu, Arra? aku kan hanya bertanya," sembur Damaresh cepat yang membuat Aura segera menghela napasnya dalam.


"Jadi?"


"Jadi apa?"


"Jawabannya!" Damaresh sepertinya benar-benar ingin mendapat jawaban dari pertanyaanya, ia tak perduli dengan wajah Aura yang memerah dan memanas karnanya.


"Iya, jawabannya, iya." Sahut Aura cepat.


"Terdengar manis," Damaresh menenggak minumannya sampai tandas, sebelum ia meletakkan gelas kosong di tangannya, tatapannya kembali berlabuh pada Aura.


"Tidak perlu merasa tidak nyaman, Arra! aku tidak akan pernah menyentuh orang karna terpaksa."


Lelaki itu kemudian bangkit. "Berangkatlah ke kantor, kau sudah terlambat sepuluh menit,"


Aura ikut bangkit mensejajari lelaki itu. "Kau sendiri tidak akan ke kantor, Aresh?" tanya-nya. Aura mencoba mengurai kecanggungan yang menguar diantara keduanya dengan pertanyaannya.


"Tidak. Jam sepuluh nanti, aku akan mengantar kakek ke bandara, ia mau kembali ke LN, mungkin setelah itu aku akan ke kantor." dan berhasil, Damaresh memberikan jawaban yang lengkap. Aura tersenyum mendengarnya.


Dirga menghampiri keduanya. "Mbak Aura sudah mau berangkat?" tanyanya.


"Iya Pak,"


"Baik," Dirga sigap untuk segera mengantar Aura bekerja. Setelah mencium punggung tangan suaminya plus menitipkan senyum lembutnya, Aura pun segera bergegas menyusul Dirga yang telah keluar lebih dulu.

__ADS_1


------****-----


sampai ketemu di part berikutnya, insha-Allah hari senen ya, jangan lupa dukungannya selalu biar hubungan Aresh-Arra semakin hangat.


__ADS_2