Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
58. Mempermalukan Diri Sendiri.


__ADS_3

"Tapi kenapa? apa salah kita? apa yang kurang dari kinerja kita?" tanya Yeslin tidak terima.


"Kalau untuk hal itu, saya rasa Mbak Yeslin bisa menjawabnya," sahut Etien


Jawaban Etien itu membuat Yeslin memutar rotasi matanya kanan kiri, satu kemungkinan ditemukannya dalam maya pikirnya. Apa karna foto yang dikirimkannya pada Aura itu??


Apa hanya karna hal itu??


Di bagian pemikirannya yang lain justru menolak kemungkinan tersebut, tak mungkin seorang Damaresh mengambil resiko besar hanya untuk foto iseng yang dikirimkannya untuk Aura, memang siapa Aura itu bagi Damaresh kenapa ia sampai membelanya sedemikian rupa?


(Author) : Ku kasih tau ya, Yeslin. Kau


membuat foto itu bukan karna iseng semata, tapi


ada niat licik di dalamnya.


jangan mungkir deh, banyak kok saksinya.


"Aku tidak terima Pak Etien, Pramudya Corp sudah memutuskan kontrak kerja secara sepihak, ini adalah tindakan melanggar hukum, aku akan menuntut Damaresh dengan keputusannya ini," ujar Yeslin dengan sepenuh tekad.


"Jangan menambah masalah baru, Mbak Yeslin, kita pulang saja ke Jakarta,"


Etien masih berusaha menahan diri menghadapi Yeslin yang terlihat begitu emosi.


"Apa maksudmu kita akan diam begitu saja, atas penghinaan Damaresh? tidak. Pak Etien, aku akan menemui Damaresh, dia harus mempertanggung jawabkan keputusannya ini."


Yeslin bergegas hendak masuk ke dalam ruangan rapat yang diyakininya kalau pimpinan Pramudya Corp itu masih ada di sana.


"Pak Damaresh sudah keluar sejak tadi, Mbak." tutur Etien.


"Kalau begitu aku akan menyusul dia ke vilanya, meski aku tidak tau dimana, tapi aku akan segera mendapatkan alamatnya," ujar Yeslin penuh keyakinan.


"Mbak Yeslin, sebaiknya jangan melakukan sesuatu yang percuma."


Etien berusaha mencegah Yeslin dengan ucapan tegas, tapi apa jawab Yeslin untuk ucapannya tersebut.


"Kalau kau takut, kau diam saja! aku yang akan maju."


Etien terdiam, bukan karna merasa ucapan Yeslin itu benar, tapi karna ia sadar, percuma mencegah Yeslin yang sedang terbakar api kemarahan besar.


Mungkin dia memang harus tau semuanya secara langsung agar ia paham bahwa semua ini terjadi akibat dari kecerobohannya sendiri.


Yeslin bergegas keluar dari dalam kantor menuju mobilnya membuat Winda terbirit-birit mengejar dan segera ikut masuk ke dalam mobil yang dikemudikan sendiri oleh Yeslin itu.


*******


Damaresh bersama Kaivan sedang menerima tamu di salah satu ruang dalam vila itu, ketika seorang maid memberitaukan kalau ada tamu seorang perempuan yang memaksa bertemu.


Ya..betul sekali dugaan kalian, tamu itu adalah Yeslin, ia berhasil sampai di villa setelah berhasil menekan asisten Darwin untuk memberitaukan dimana


alamat villa yang ditempati oleh Damaresh. Yeslin boleh berbangga karna berhasil menemukan tempat tinggal Damaresh akhirnya, tapi tanpa ia ketahui kalau sebenarnya Darwin yang memang mengijinkan asistennya memberikan alamat itu jika Yeslin bertanya, tentu saja semua itu adalah kode dari Damaresh juga.


Yeslin yang sedang duduk menyilangkan kedua kakinya segera berdiri tegak begitu melihat Damaresh hadir ditempat itu bersama Kaivan.


"Jelaskan padaku, apa maksud dari semua ini Pak Damaresh Willyam yang terhormat!"


Kalimat tanya penuh penekanan disertai kilatan amarah dalam tatapan Yeslin menjadi sambutan spesial untuk kehadiran Damaresh.


"Kau masih bertanya maksudnya padaku, apa pak Etien tak menjelaskannya padamu?" Retoris Damaresh dengan expresi sangat santai.


"Apa kau tau, kalau itu adalah tindakan melanggar hukum?" Yeslin melayangkan tatapan tajamnya pada pemilik wajah rupawan yang sangat dikaguminya itu.


"Terima kasih telah mengingatkanku, Nona Yeslin Wilson, tapi tentang hal itu aku juga sudah sangat tau," jawab Damaresh dengan expresi yang sama. Santai..


"Kami akan menuntut Pramudya Corp atas semua ini," ancam yeslin sambil mengacungkan jarinya.

__ADS_1


"Berapapun dan kemanapun tuntutan kalian, aku ladeni."


Damaresh menarik sudut bibirnya singkat, dan.. "kalau kepentinganmu, sudah selesai, silahkan pergi!"


Cara Damaresh yang begitu santai menanggapi kemarahannya dan malah mengusirnya pergi semakin membuat Yeslin meradang.


"Baik, akan aku buktikan ucapanku, tunggu saja! tak sampai dua puluh empat jam, berkas tuntutan kami akan sampai di mejamu!"


"Itu tidak akan bisa, Mbak Yeslin."


Terdengar sebuah ucapan lantang, dan itu bukan dari Damaresh, karna CEO Pramudya itu terlihat diam saja.


Yeslin memutar kepalanya ke arah sumber suara, ternyata Etien sudah ada di sana. Dan dia yang telah berbicara barusan.


"Saya sudah menanda tangani berkas kesepakatan pemutusan kontrak dengan Pramudya Corp. Jadi kita sudah tidak punya kekuatan untuk menuntut apa-apa lagi," jelas Etien yang membuat Yeslin membulatkan matanya menatap nanar orang kepercayaan ayahnya itu.


"Beraninya kau, .. beraninya kau mengambil keputusan seperti itu tanpa minta persetujuan papa."


Yeslin menunjuk Etien dengan tatapan berkilat.


"Justru ini atas perintah tuan Alex, Mbak Yeslin," tegas Etien.


"Gak mungkin. gak mungkin papaku akan senaif itu membiarkan harga dirinya terinjak-injak seperti ini, kau telah bertindak bodoh Pak Etien," sarkas Yeslin. Tatapannya bak singa betina yang siap menerkam mangsa.


"Jangan melewati batas, Mbak Yeslin,"


geram Etien. "Kau itu tidak tau apa-apa tentang perusahaan, karna kau hanya bisa menghambur-hamburkan uang perusahaan," lanjut Etien, terkikis sudah kesabarannya menghadapi Yeslin.


"Kau---" Yeslin sudah siap dengan bantahannya, tapi Etien tak memberikan kesempatan itu padanya.


"Menuntut Pramudya atas hal ini, sama artinya dengan bunuh diri. Kau tau kenapa, karna lima puluh persen saham Blanc Compani itu adalah milik pak Damaresh Willyam!"


"Apa?? gak, gak mungkin."


Yeslin menolak percaya meski dalam hatinya sudah merasa tak nyaman.


ungkap Etien dengan nada tinggi.


Yeslin langsung terdiam membisu, tubuhnya membeku bak patung batu.


Ucapan Etien lebih dari sekedar pukulan baginya, tapi seakan langit runtuh menimpa kepalanya.


"Kita pulang mbak Yeslin! Sudah cukup kau mempermalukan diri di sini," tandas Etien.


Yeslin masih terdiam, sesaat dirinya tak tau harus melakukan apa, harus mengatakan apa, hingga terlihat sepasang matanya berkaca dan suaranya terdengar bergetar ketika bertanya. "Tapi kenapa Aresh? kenapa kau melakukan semua itu?"


"Pertanyaan yang sama Yeslin, kenapa kau membuat foto seperti itu?"


"Jadi hanya karna foto itu?"


"Hanya kau bilang? kau mengusik hidupku, kau membuatku tersinggung, kau menciptakan kesalah pahaman di antara aku dan Aura," ucap Damaresh dengan penuh penekanan.


"Jadi ini semua demi Aura? Karna dia?


memang apa hubunganmu dengannya Aresh, sampai kau mengambil keputusan sebesar ini hanya untuk menghargai perasaannya?"


"Aura itu istriku!"


Damaresh menjawab tegas.


"Apa?! kau bercanda ya.." Yeslin tergelak. "Kau pikir aku akan percaya kalau gadis kampung itu adalah istrimu?" ucap Yeslin dengan sisa tawanya.


"Nyatanya yang kau sebut gadis kampung itu lebih terhormat darimu Yeslin, dan dia itu istriku. Aku tak perlu mengulangi lagi pengakuanku ini."


Damaresh lalu mengarahkan pembicaraan pada Etien.

__ADS_1


"Pak Etien, kau bisa membawa nona-mu ini pergi!"


"Baik Pak," sigap Etien dan segera mendekati Yeslin. "Kita kembali ke Jakarta sekarang, Mbak Yeslin. Ini juga atas perintah tuan Alex."


"Lihat saja Aresh, aku akan memberitaukan semua ini pada tante Claudya, dia pasti tidak akan tinggal diam, kalau tau kau sudah menikah dengan Aura," ancam Yeslin.


Damaresh maju dua langkah ke hadapan Yeslin dan melemparkan smirknya dengan ancaman itu, "kau pikir ancamanmu ini berhasil membuatku takut, justru ini yang kutunggu Yeslin.


Silahkan kau laporkan hal ini pada Claudya Willyam, aku juga ingin tau bagaimana reaksinya jika ia tau skandal yang telah kau tutupi selama ini,"


Damaresh balik memberikan ancaman.


"Skandal apa?"


"Perlu kujawab sekarang? Baiklah, karna itu memang hal yang sangat ingin kuungkap dari dulu, sejak kau mulai mengejar-ngejarku seperti wanita tak tau malu."


"Kau jangan asal menuduhku, Aresh!"


seru Yeslin berang.


Damaresh tersenyum menyeringai lalu memutar kepalanya menatap Kaivan.


"Kai, bawa tamu kita kemari!"


"Baik, Pak." Kaivan segera bergegas pergi. Terlihat Yeslin mulai gelisah, merasakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


Tak berselang lama Kaivan datang lagi bersama seorang lelaki berparas tampan bertubuh atletis yang tersembul dari balik kemeja berbahan tipis yang dikenakan.


Yeslin langsung mundur dua langkah melihat ke arah lelaki yang berusia sekitar empat puluh tahun itu yang kini sedang memberinya senyum. Senyum yang sulit diartikan.


"Kenapa kau mau menjauhiku? Bukankah semalam kau bilang rindu padaku?" tanyanya pada Yeslin.


"Ma-Mas Satrya, ke-kenapa kau ada di sini?" tanya Yeslin begitu gugup.


"Tentu saja menjemputmu. Kau sudah melangkah terlalu jauh, kau sudah banyak membohongiku, kita pulang ke rumah kita Yeslin, dan kita selesaikan masalah kita di sana!" putus lelaki itu.


Satrya adalah salah satu pejabat tinggi pemerintahan. Pertemuannya dengan Yeslin terjadi ketika lelaki berparas tampan itu hadir sebagai pembicara di kampus Yeslin empat tahun silam.


Yeslin yang saat itu sebagai mahasisiwi smester akhir langsung tertarik pada pandangan pertama pada Satrya.


Dengan sedikit usaha, ia berhasil mendapatkan kontak Satrya yang mulailah dari sana komunikasi mereka terjalin, dan ternyata ketertarikan Yeslin padanya disambut serupa oleh Satrya yang saat itu sudah punya istri.


Keduanya melakoni hubungan diam-diam yang sangat ditentang oleh Alex Wilson ayah Yeslin, tapi dua orang yang sedang kasamaran itu tak memperdulikan segala aral dan rintangan mereka terus melakukan hubungan hingga tingkat keintiman, sampai kemudian skandal mereka terbongkar dua tahun kemudian.


Alex Wilson berusaha membersihkan nama baik putrinya yang di cap sebagai pelakor dengan menggelontorkan banyak uang untuk menyuap media dan para pemburu berita untuk menutup berita ini dan bahkan memberikan pernyataan kalau semua hanya gosip yang tak dapat dipertanggung jawabkan kebanarannya.


Satrya pun melakukan hal yang sama, ia menggandeng istri shah-nya untuk menepis berita ini yang hampir menghancurkan karirnya di pemerintahan. Nyatanya setelah berita itu menghilang dari media, Satrya dan Yeslin tak benar-benar berpisah keduanya masih sering bertemu diam-diam hingga pada akhirnya Yeslin hamil, yang membuatnya tak bisa lepas lagi dari Satrya.


Tapi saat ia mendapat tawaran dari Claudya untuk dijodohkan dengan putra tunggalnya, Yeslin tak dapat menolak.


Siapa juga yang tak akan terjerat dengan pesona Damaresh Willyam, apalagi posisinya sebagai CEO Pramudya Corp, tak perlu lagi dihayalkan kalau hidup bersamanya pasti akan bergelimangkan kecukupan dan kemewahan. Meski Yeslin juga berasal dari keluarga pengusaha tapi tak bisa dibandingkan dengan ketajiran Damaresh Wilyam kan?


Mulailah Yeslin menjalankan peran ganda, sebagai istri siri Satrya dan sebagai calon istri Damaresh Willyam.


Setiap kali Damaresh menolaknya, Satrya yang selalu jadi pelarian. Yeslin pun tak menampik kalau dirinya juga terjerat dengan pesona Satrya apalagi dengan kepiawaiannya di atas ranjang, selalu membuat Yeslin merindukan lelaki yang telah membuatnya menjadi ibu diam-diam itu.


Tanpa Yeslin tau, kalau sebenarnya Damaresh mengetahui rahasia besarnya itu. "Apa dalam dirimu masih tersedia kata sanggahan, Yeslin?"


tanya Damaresh yang melihat Yeslin tak mampu lagi mengelak.


"Mu-Mulai kapan kau tau?" tanya Yeslin dengan wajah pucat.


"Sejak lama, sejak kau diperkenalkan padaku sebagai calon istri. Aku diam karna aku menghargai om alex, ayahmu."


Yeslin menunduk. Ia sangat menyesal kenapa tak mengikuti ajakan Etien untuk segera pergi, sehingga ia tak akan mempermalukan diri sendiri dengan lebih dalam lagi seperti ini.

__ADS_1


"Pak Satrya, anda boleh membawanya pergi!" perintah Damaresh pada Satrya.


"Terima kasih Pak Damaresh," jawab Satrya dan tanpa tunggu persetujuan dari Yeslin ia segera menarik tangan wanita itu untuk keluar dari sana di ikuti oleh Etien yang sempat mengangguk hormat pada Damaresh dan Kaivan.


__ADS_2