Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
56. Kau Sangat Berharga Bagiku.


__ADS_3

Aura Aneshka memutuskan untuk menelfhon saja


setelah sekian lama gelisah menunggu Damaresh yang tak juga datang, padahal ini sudah hampir jam sebelas malam.


Perkara Damaresh yang telat pulang memang bukan hal baru dan Aura juga paham kalau jadwal kerja Damaresh begitu padat, tapi masalahnya perasaannya tak nyaman sedari tadi, seakan ada sesuatu yang buruk, yang sedang terjadi.


Tapi dari hasilnya menelfhon Damaresh, rasa tak nyaman itu semakin menjadi karna suara wanita yang menjawab panggilannya di ponsel sang suami.


"Aresh sedang tidur,"


Suara wanita di telfhon.


"Apa? tidur? ini siapa?"


Aura bertanya dengan perasaan berdebar tak karuan.


Dan jawaban wanita di telfhon itu membuat debarannya kian tak beraturan.


"Aku siapa? kau tanya sendiri pada Aresh besok, siapa aku!"


Dan panggilan telfhon terputus.


Aura melangkah lunglai menuju pembaringan dan duduk di tepinya sambil menghempas napas berat.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Hanya kalimat tanya itu yang bermain-main dalam pikirannya saat ini. Bukan tak berusaha untuk berpikir positif saja untuk sesuatu hal yang masih belum pasti.


Nyatanya pemikiran negativ lah yang lebih mendominasi.


Terbersit niatan untuk bertanya pada Kaivan, karna lelaki itu yang pergi bersama dengan Damaresh,


tapi Aura ternyata tak punya nomer telfhonnya. Jadilah


gadis itu kian gelisah dalam kesendiriannya.


Terdengar sebuah pesan masuk sekitar sepuluh kemudian, reflek Aura meraih ponselnya yang tergeletak mengenaskan di atas kasur, berharap kalau


Damaresh yang memberi kabar. Ternyata dari nomer yang tak dikenal mengirimkan sebuah gambar.


Aura menatap nanar layar ponselnya, tak percaya dengan pemandangan yang terpampang di depannya,


Aura mengerjapkan matanya berkali-kali ternyata gambar itu tak berubah sama sekali.


Sepasang matanya memanas, tubuhnya terasa lemas, dan luruh ke lantai dengan tangisan yang yang deras.


******


"Apa yang kau lakukan di sini,Arra?"


Damaresh tiba-tiba saja telah berdiri di belakang Aura dalam jarak satu meter. Keberadaannya di pantry membuat beberapa maid yang sedang beraktifitas itu berdiri menyisih, ada yang kembali melanjutkan pekerjaan, ada yang masih mencuri-curi pandang pada sang majikan yang tampak begitu tampan siang ini dengan kemeja putih yang tak dikancing sempurna.



"Seperti yang kau lihat, aku sedang memasak," jawab Aura tanpa perlu menoleh pada lelaki yang berdiri di belakangnya itu.


Beginilah sikap yang ditunjukkan Aura pada Damaresh dari tadi, tepatnya sejak ia pulang ke rumah bersama Kaivan sekitar jam enam pagi.


Aura tak mencium tangannya,

__ADS_1


Aura tak mengembangkan senyum indahnya,


Aura juga tak bertanya kemana Damaresh semalaman hingga tak pulang. Dan Aura juga enggan menatap wajah Damaresh, meski tetap menjawab tiap kali ditanya, seperti kali ini.


"Tugasmu di sini tidak untuk memasak, Arra! kau tinggal bilang saja makanan apa yang kau inginkan, mereka pasti akan membuatkan."


Damaresh segera meraih tangan Aura untuk membawa gadis itu pergi dari sana.


Aura berbalik menatap Damaresh sesaat lalu menepiskan tangannya. "Aku ingin memasak makananku sendiri kali ini," ucapnya dan kembali mengaduk masakannya di atas wajan anti lengket itu.


Sebenarnya itu hanya cara Aura untuk sedikit mengalihkan perasaannya yang sedang sedih tingkat dewa. (Dewa apa dewi ya?)


Damaresh dapat melihat wajah Aura yang agak pucat dan bingkai matanya yang sedikit sembab, pasti telah terjadi sesuatu pada gadis itu tanpa sepengetahuannya.


"Apa yang terjadi, Arra?"


Aura menggeleng lemah. "Tidak ada apa-apa, kau duduk saja di sana!" Aura memberi isyarat pada sebuah kursi di dekat pantry. "Setelah masakan ini matang, kita bisa mencicipi bersama, mudah-mudahan rasanya tidak mengecewakan," imbuhnya sambil berusaha tersenyum, senyum yang dipaksakan, hasilnya terasa hambar.


"Baiklah, aku akan menelfhon Kai dulu."


Damaresh mengalah bila memang Aura tak ingin mengatakan apa-apa padanya. Ia gegas pergi dan naik tangga menuju lantai atas.


Aura pun lanjut dengan pekerjaannya memasak hingga mencapai kematangan yang diinginkan, Aura segera menyiapkan makanan itu di atas piring saji lalu duduk menunggu Damaresh datang. Lima menit berlalu lelaki itu tak menunjukkan batang hidungnya, kawatir makanannya keburu dingin Aura segera menyusul naik ke lantai dua.


"Apa ini, Arra?"


Damaresh menyorongkan tangannya yang memegang ponsel pada Aura. Gadis itu mengambil ponsel dirinya dari tangan Damaresh dan melihat sebuah foto di sana.


Foto Damaresh yang sedang tidur satu bantal dengan Yeslin. Terlihat tangan Yeslin melingkari dada Damaresh yang kancing atas kemejanya terbuka.


"Kau bertanya padaku, Aresh? harusnya aku yang bertanya padamu, ini apa?" tanya Aura dengan suara bergetar.


"Aku juga tidak tau, pengirimnya memakai private number "


"Kapan kau menerima foto itu?"


"Semalam setelah aku menelfhonmu!"


"Semalam kau menelfhonku?" tanya Damaresh heran.


Padahal tak didapatinya riwayat panggilan masuk dari Aura.


"Ya, dan yang menjawab seorang perempuan,"


"Ckk" Damaresh berdecak kesal, ia harus segera menanyakan semua ini pada Kaivan tentang apa yang terjadi padanya semalam di rumah sakit, karna dari foto itu jelas itu adalah saat dirinya tidur dalam pengaruh obat di rumah sakit.


"Jadi karna ini sikapmu berubah padaku?"


Damaresh menatap Aura lekat.


"Apa yang harus aku lakukan, atas kekecewaan yang kurasakan?" Aura balik melontar tanya dengan penuh penekanan.


"Setidaknya kau tanyakan dulu padaku, Arra."


Damaresh berucap lembut selembut tatapannya.


"Apa hak-ku untuk tau urusanmu?"


"Kau punya hak, Arra. Kau istriku!" tandas Damaresh.

__ADS_1


"Istri yang tidak pernah kau akui, istri yang tidak pernah kau cintai."


Aura menatap tajam Damaresh yang langsung bungkam tak bisa lagi memberi jawaban.


Aura menunduk saat air yang mengambang di pelupuk


matanya jatuh berguliran di wajahnya yang bening.


"Arra aku---"


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Aresh."


Aura cepat memotong ucapan Damaresh sebelum mencapai titik. "Kau menolak menyentuhku, padahal aku halal untukmu. Tapi kau memilih tidur dengan wanita lain," ucap Aura dengan terbata menahan isak tangis yang sudah meronta-ronta di dalam dada.


Gadis itu segera memutar tumitnya untuk pergi.


jlebb


Damaresh menarik tangannya dan mendekap erat tubuhnya, selanjutnya yang terdengar adalah isak tangis aura hingga tubuhnya terlihat bergetar.


Pedih, perih itu yang dirasakan.


Aura berusaha terus berasabar dalan Menjalankan pernikahan sepihak dengan Damaresh. Ya..Pernikahan sepihak, anggap saja begitu. Karna hanya Aura yang berusaha menjalankan pernikahan itu sebagaimana mestinya.


Aura menyerahkan hatinya untuk lelaki yang telah menikahinya itu, yang sebenarnya juga tak pernah didambakannya untuk menjadi suaminya, tapi Aura mencoba menerima kenyataan dengan ikhlas, tak hanya itu, ia mematuhi dan menuruti segala ucapan Damaresh tanpa syarat, meski dirinya bisa dikata sebagai istri yang tak dianggap, semuanya berusaha diterimanya dengan sabar.


Tapi melihat suaminya tidur dengan wanita lain, hati istri mana yang tak akan terluka, Aura merasakan perasaannya hancur berkeping, tapi segala kesakitan dan kekecewaan hanya bisa disimpannya dalam diam, dan ketika dia punya peluang untuk melampiaskan,


tangisannya pecah tanpa bisa ditahan.


Damaresh terus mendekap tubuhnya walau berkali-kali Aura berusaha meronta, tapi laki-laki itu tetap tak melepasnya, ia bahkan menciumi kepala istrinya itu berkali-kali sambil mengusap-usap pundaknya, hingga lambat laun, tangis Aura-pun reda.


Damaresh melepaskan pelukannya, mengusap air mata Aura yang masih terus bercucuran walaupun tanpa suara. Selanjutnya ia menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya.


"Aku minta maaf untuk segala kesakitan yang kau rasa,


Aku minta maaf, karna belum berani berkata cinta."


Lelaki itu melenguhkan napasnya, seakan ia masih butuh keyakinan lebih untuk melanjutkan ucapan.


"Kau sangat berharga bagiku, Arra. hadirmu dalam hidupku, sangat berharga. Melebihi apapun."


Damaresh mencium kening Aura dengan lama.


Seakan menunjukkan bahwa segala apa yang diucapkannya adalah memang berdasar perasaannya.


Aura diam saja, ia tak memberi tanggapan apa-apa.


Beruntunglah Damaresh memiliki istri se-tenang Aura,


gadis itu tidak kian menyalakan api yang sedang berkobar di dada. Tapi ia memberi waktu pada Damaresh untuk menjelaskan semuanya. Meski hatinya mungkin tak akan langsung percaya begitu saja.


"Dan mengenai foto itu, aku tak melakukan hal apapun dengan Yeslin, apalagi sampai tidur berdua.


Semalam aku menginap di rumah sakit karna aku terlalu banyak minum alkohol dari arak Bali. Aku harus dirawat karna tubuhku sangat lemas. Kau bisa tanyakan ini pada Kaivan, jika kau tak percaya dengan keteranganku." ucap Damaresh lagi.


Aura tetap terdiam, mungkin ia masih butuh waktu untuk menyelami persaannya sendiri terkait kejujuran Damaresh ini.


"Dan soal apa yang kau lihat di foto ini, aku akan segera mengurusnya." Damaresh berkata sepenuh tekad terlihat dari sinar matanya yang berkilat.

__ADS_1


__ADS_2