Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
32. Rencana Yeslin.


__ADS_3

Yeslin langsung mengembangkan senyumnya tatkala melihat lelaki tampan pujaannya itu berdiri di tengah pintu keluar bandara. Damaresh pasti sedang menunggu mobilnya yang sedang diambilkan oleh petugas valet. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Yeslin segera menghampiri dengan langkah anggunnya.


"Aresh" sapa Yeslin tak lupa dengan disertai senyum terindahnya.


Damaresh menoleh sekejab menatap gadis yang dalam sesaat telah berdiri di sampingnya itu, namun tak ada kata yang terucap dari Damaresh.


"Pesawat kakek sudah take off ?" tanya Yeslin.


"Hmm" Jawab Damaresh. Salah, itu bukan jawaban, tapi dengungan kecil saja.


"Sama sih, pesawat yang dinaiki papa juga udah take off dari setengah jam lalu," kata Yeslin.


"Om Alex pergi ke luar negeri?" tanya Damaresh tanpa menatap lawan bicaranya.


"Iya, ke Thailand, ... Aresh kamu bawa mobil?"


"Iya," Dan terlihat sebuah mobil SUV warna putih mendekat dan berhenti tepat di depan Damaresh berdiri.


"Aku tadi kemari diantar sopir, tapi dia balik duluan karna mau ngantar mama-" Yeslin memutus ucapannya sesaat karna petugas valet yang tengah memberikan kontak mobil pada Damaresh sebelum kemudian berlalu.


"Jadi, boleh gak aku pulang sama kamu?" pinta Yeslin.


"Aku mau langsung ke kantor," tolak Damaresh.


"Gak papa, aku ikut ke sana juga,"


"Mungkin aku akan lama,"


"Gak papa, aku bersedia menunggu," Yeslin menatap penuh harap dan senyumnya segera terkembang tatkala terlihat Damaresh mengangguk kecil.


Yeslin masih berdiri menunggu ketika Damaresh sudah melangkah hendak masuk mobil. Yeslin berharap lelaki itu akan membukakan pintu mobil untuknya, ternyata Damaresh melenggang begitu saja menuju posisi duduknya sendiri di belakang kemudi.


Yeslin sedikit mengerucutkan bibirnya melihat itu, ia segera membuka pintu mobil sendiri dan bergegas masuk karna Damaresh sudah menghidupkan mesin, pertanda mobil akan segera melaju.


Apa yang diharapkan Yeslin, dia ingin Damaresh memperlakukannya bak ratu? Istrinya saja, tidak diperlakukan demikian oleh lelaki itu, bahkan belum pernah, Aura duduk semobil dengan Damaresh seperti Yeslin saat ini. Tapi sebaiknya Yeslin tidak tau hal itu, biar tidak ngelunjak dia.

__ADS_1


Senyum itu tak hentinya terbit di bibir Yeslin, bahkan jika saja bisa dia tak hanya ingin bertepuk tangan dengan pencapaiannya sekarang, tapi juga bertepuk kaki. Bersyukurlah dia mendapatkan info dari Claudya kalau Damaresh mengantar tuan Willyam ke bandara.


Yeslin yang sebenarnya tak pernah berniat mengantar papanya yang akan bepergian ke luar negri segera berinisiatif melakukan hal tersebut. Dia sengaja menyuruh sopirnya pulang lebih dulu dan menunggu Damaresh di dekat pintu keluar bandara, wanita itu lalu segera melancarkan aksinya begitu terlihat Damaresh benar-benar seorang sendiri sebagaimana informasi dari Claudya.


Rencana satu Yeslin berjalan dengan mulus. Selanjutnya rencana dua, membangun komunikasi akrab dengan Damaresh selama dalam perjalanan dari bandara ke kantor Pramudya yang memang dibutuhkan waktu selama lebih satu jam. Kita lihat saja, rencana kedua Yeslin ini akan berhasil atau tidak.


Satu kali, dua kali, tiga dan empat kali, Yeslin melirik ke arah Damaresh sambil otaknya sibuk mencari obrolan yang tepat, pasalnya sejak roda mobil bergulir dari bandara hingga kini entah sudah berapa puluh menit berlalu, kesunyian tercipta dalam mobil itu. Sunyi dan sepi.


"Bagaimana kalau kita putar musik Resh, biar lebih santai?" Akhirnya Yeslin mendapatkan kalimat yang tepat untuk mengajak ngobrol Damaresh.


Tapi lelaki itu hanya menggeleng singkat, seperti kebiasaannya selama ini bila menanggapi pembicaraan Yeslin, yang hanya lebih banyak mengangguk dan menggeleng, atau kata "hmm" saja.


"Aku akan pilihkan musik yang enak, kau pasti akan suka." Yeslin mulai memajukan tubuhnya.


"Gak usah!" cegah Damaresh. Lelaki itu memang bukan orang yang suka mendengarkan musik selama perjalanan, bukan karna dia tidak suka musik, hanya saja cukup sulit mencari jenis musik yang sesuai dengan seleranya.


"Ayolah, Resh, biar ku pilihkan jenis musik yang pasti kau suka," Yeslin bersikeras dengan niatnya, padahal seharusnya dia patuh saja, agar perjalanannya ini aman


dan sentosa sampai tujuan.


kena sembur ucapan Damaresh yang sepedas bon cabe level lima puluh.


Yeslin seketika menghentikan niatnya. Tatap kecewa terpancar di mata yang terhias bulu mata palsu berlapis itu. Ternyata lelaki itu benar-benar membangun tembok yang sangat tinggi dengannya,


yang ketinggiannya hampir mustahil untuk dilompati.


Tapi apa Yeslin akan menyerah? tentu tidak. Ibarat kata


Yeslin sedang berburu, buruannya kali ini bukan hanya sejenis binatang langka yang dilindungi pemerintah karna populasinya yang hampir punah. Tapi ini juga buruan yang bertelur emas tiap hari, sehingga hidupnya akan terjamin sampai sepuluh turunan nanti dengan gaya hidup mewah dan glamour pasti. Pun naluri ber-belanjanya yang di atas normal akan selalu bisa terpuaskan. Ditambah lagi dengan sebutan sebagai


"Nyonya Damaresh Willyam" itu adalah sesuatu bukan?


"Aresh, kenapa sih kau tak memberiku kesempatan untuk lebih mengenalmu? aku ini kan calon istrimu!"


ucap Yeslin selembut mungkin setelah berhasil menguasai dirinya sendiri.

__ADS_1


"Calon istri? siapa yang sudah memberi ketentuan seperti itu?" tanya Damaresh datar.


"Mommy Claudya," sahut Yeslin. "Mommy Claudya tak hanya mengatakannya kepadaku tapi juga kepada papa dan mamaku kalau kita akan di jodohkan, bahkan katanya, tuan Willyam juga sudah setuju." lanjut Yeslin.


"Kau tanyakan saja pada Claudya itu, siapa anaknya yang akan ia jodohkan denganmu!" sahut Damaresh santai.


"Tentu saja kau, Aresh. Damaresh Willyam putra mommy Claudya."


"Sayangnya aku tak merasa kalau dia itu adalah ibuku, jadi aku tak harus mematuhi aturannya," tukas Damaresh.


"A-Apa maksudnya ini? kenapa kau bilang begitu Aresh?" tanya Yeslin heran. "Kenapa kau tak menganggap mommy Claudya sebagai ibumu, padahal darah Willyam kau dapat darinya bukan dari om Airlangga--"


"Jangan kau sebut-sebut nama dadyku!" sergah Damaresh.


"Ta-Tapi aku benar kan, Resh?"


"Sepertinya memenuhi permintaanmu untuk ikut di mobilku adalah keputusan yang salah, Yeslin," Damaresh menatap tajam wanita di sampingnya itu.


"Mak-Maksudmu?"


"Kau pilih diam, dan lanjut perjalanan denganku, atau naik taksi online saja dari sini!" pungkas Damaresh yang sukses membuat Yeslin mengatupkan bibirnya rapat.


Ternyata sungguh sulit untuk mendekati Damaresh, jangankan menggapai hatinya, mengakrapinya saja tidak mudah. Rencana kedua Yeslin gagal. Lalu apa dia akan menyerah? Jangan bertanya hal itu lagi. Bukan Yeslin namanya kalau ia harus mundur hanya dengan sentilan kecil seperti itu.


Apalagi dia sudah punya backing yang kuat yaitu keluarga Damaresh sendiri, abaikan ucapan Damaresh barusan tentang ibunya, karna bisa jadi lelaki itu hanya sekedar mengancamnya saja, pikir Yeslin.


Yang pasti, dia akan terus maju, karna masuk menjadi keluarga Willyam Pramudya sudah menjadi impian banyak wanita kalangan atas termasuk dirinya, dari dulu.


Lalu bagaimana jika Damaresh tak akan pernah mencintainya? Persetan dengan itu, cinta bukan satu-satunya hal yang harus melandasi sebuah pernikahan, yang penting hidup terjamin dan punya nama besar yang patut diperhitungkan. Itu sudah cukup.


Berapa banyak rumah tangga yang dibina tanpa cinta tapi tetap bertahan sampai sekarang, dan berapa banyak pula rumah tangga yang didasari cinta, namun akhirnya memilih jalan berpisah.


Jadi apapun tanggapan Damaresh, menikah dengannya adalah tujuan Yeslin yang harus terlaksana.


Yeslin mengahiri pemikirannya dengan tersenyum.

__ADS_1


Senyum untuk dirinya sendiri.


__ADS_2