Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
70. Gagal Total.


__ADS_3

Terlalu sering mengangkat telfhon kantor yang duduk manis di atas mejanya, membuat Clara jadi kebingungan ketika ponselnya sendiri yang memperdengarkan dering cukup keras pada saat jam kerja.


clara yang memang tengah fokus pada pekerjaannya itu, mengangkat dua perangkat telfhon di depannya secara bergantian, dan sama-sama tak menemukan pemanggilnya itu berasal dari sana, saat ia menoleh pada tasnya dan menemukan dering panggilan itu


ternyata berasal dari ponselnya sendiri yang terdapat di dalamnya, Clara jadi menepuk jidatnya sambil gelengkan kepala.


Segera ia mengambil ponselnya yang sudah tak lagi berdering karna terlalu lama diabaikan. Terlihat dua panggilan tak terjawab atas nama Aura Aneshka.


Segera Clara mendial balik nomer itu.


"Hallo mbak clara," Aura segera menjawab panggilannya dengan suara yang terdengar tergesa.


"Hallo Aura, ada apa kau telfhon?"


"Mbak, A-Aresh kemana ya? saya telfhon dari tadi gak diangkat,"


"Oo Pak Damaresh sama mas Kai ada rapat sekarang, pasti ponselnya di disilence,"


"Rapat? Rapat penting ya Mbak?"


"Iya Ra, rapat dengan semua divisi."


"Jadi saya gak bisa bicara dengannya ya?"


ada nada kesedihan yang terdengar dari suara Aura.


"Sepertinya sangat urgens ya Ra?"


"Iya mbak, bisakah saya minta tolong pada Mbak Clara?" Aura terdengar sangat berharap bahkan suaranya terdengar bergetar.


"Aku coba ya Aura, tunggu sebentar,"


Clara segera menuju big meeting room yang ada di lantai duapuluh lima, Clara bergegas hingga napasnya cukup tersengal, dan hanya butuh satu tarikan napas saja ketika Clara tiba di depan pintu ruang rapat itu sebelum mengetuk pintunya.


tanpa tunggu jawaban ataupun menunggu dapat izin masuk atau tidak, Sekretaris CEO itu segera melangkah masuk membuat rapat seketika berhenti, karna Clara segera menghampiri, Damaresh berbisik padanya dalam jarak yang tak begitu dekat.


"Pak, mbak Aura minta waktu bicara dengan Bapak, sepertinya sangat penting."


Setelah mendapat anggukan dari Damaresh, Clara segera mundur dua langkah.


Damaresh terlebih dahulu memberi isyarat pada Kaivan untuk mengambil posisinya sejenak, agar meeting bisa terus berlanjut, dan laki-laki itu sendiri segera keluar diikuti oleh Clara.


Benar seperti dugaan Clara, Damaresh akan selalu menyediakan waktunya jika itu perihal Aura. Padahal sebelumnya jangan ada siapapun yang berani mengusik pertemuan pentingnya kalau tak ingin mendapatkan murka.


Bahkan terhadap tuan Willyam sendiri, Damaresh tak segan meminta owner Pramudya Corp itu untuk menunggu bila


ingin menemuinya jika ia memang sedang rapat.


Di depan meeting room itu, Damaresh memeriksa ponselnya yang memang terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Aura.


"Aresh, aku mau ke Surabaya sekarang," ucap Aura langsung begitu Damares memperdengarkan suaranya dalam kata "hallo".


"Sekarang? Kenapa mendadak Arra, ada apa?" tanya Damaresh cepat.


"Ayah. Penyakitnya kambuh, sekarang


dia dirawat di rumah sakit, aku harus segera kesana, aku .. perasaanku gak nyaman, Resh," suaranya mulai terdengar bergetar.


Aura dan rekan-rekannya masih berada di lokasi bangunan panti sosial, dimana tadi Damaresh yang mengantarkannya kesana, ketika tiba-tiba ada telfhon dari keluarganya di Surabaya yang mengabarkan kalau ayahnya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.


Lukman yang memang punya riwayat penyakit jantung koroner, membuat Aura sangat panik dan segera memutuskan untuk segera datang ke Surabaya saat itu juga, tapi tentunya ia perlu ijin suaminya dulu sebelum berangkat kesana.


Damaresh sejenak terdiam, dia memang sudah menyusun rencana untuk pergi ke Surabaya bersama Aura, tapi itu masih besok sore, karna jadwal pekerjaannya yang tidak bisa dicancel.

__ADS_1


"Bagaimana kalau besok Ara?"


"Aku tidak bisa menunggu besok Aresh, aku harus kesana sekarang, aku takut terjadi apa-apa dengan ayah,"


"Tapi aku tak bisa mengantarmu sekarang."


"Aku bisa pergi sendiri, aku hanya butuh ijinmu, aku mohon, Aresh,"


Aresh masih diam berpikir, bisa saja ia meninggalkan rapat sekarang, karna Kaivan pasti sudah mengurusnya, tapi dua jam lagi, ada rapat dengan para pemegang saham. rapat yang mewajibkan kehadirannya tanpa perwakilan.


Lalu Aura? Bisakah ia tenang membiarkan istrinya itu pulang ke Surabaya sendirian.


Dan akhirnya satu keputusan pun ia dapatkan. "Ara kau ingat pada Stefan?"


"Iya" jawab Aura di seberang sana.


"tunggu sebentar lagi! stefan akan datang, dia yang akan mengantarmu ke Surabaya."


"Tapi Aresh--"


"Gak usah bantah Arra, ini keputusanku."


"Baiklah,"


Setelah panggilan telfhon berakhir, Damaresh segera menghubungi Stefan dan memberikan titahnya. Selanjutnya ia kembali ke dalam ruang rapat usai menuntaskan segala yang menjadi kewajibannya.


Ternyata hari ini, Aura akan pergi ke Surabaya, itu artinya rencana memberi pelukan dan kawan-kawannya pada Damaresh, nanti malam, gagal total.


**********


Tak sedikitpun Aura beranjak dari duduknya, tak sedikitpun tanganya beralih dari genggaman tangan sang ayah, tatapannya menyapu wajah pucat yang terbaring memejam itu lagi, lagi dan lagi, berharap sepasang mata itu terbuka dan menyapanya, menyebut namanya. Tapi sejauh ini semua itu masih menjadi mimpi belaka.


Lukman masih belum menunjukkan tanda akan segera terjaga dari ketidak sadarannya, usai menjalani operasi pasang ring jantung tadi siang.


Sejak kedatangannya ke rumah sakit, tadi siang, bertepatan ketika Lukman sedang menjalani operasi, hingga kini Aura enggan beranjak dari duduknya di samping Lukman, hasratnya hanya ingin melihat sang ayah kembali membuka mata dan terbebas dari rasa sakitnya.


"Iya Bi, setelah ayah sadar," tolak Aura dengan kalimat yang sama setiap kali Rahma menyuruhnya istirahat atau hanya untuk sekedar makan.


Rahma menepuk pundak keponakannya itu lembut. "Ayahmu akan baik-baik saja


Kata dokter setelah pasang ring jantung kemungkinan untuk terjadi penyumbatan pembuluh darah itu sangat kecil sekali, ya walaupun setelah ini, ayahmu harus minum obat tiap hari."


Rahma mengutip penjelasan dokter tadi, sebelum Lukman masuk ruang operasi.


"Terima kasih bi, Bibi dan Farlan sudah sangat sigap dalam mengambil keputusan terbaik untuk ayah, jika saja masih menunggu saya, mungkin ayah akan terlambat ditangani."


Aura mengusap air matanya yang jatuh karna rasa haru dan terima kasihnya pada sang bibi dan Farlan sepupunya yang segera mengambil keputusan operasi pada Lukman.


"Bukan aku ataupun Farlan, kami berdua tidak terlalu paham akan hal itu," sanggah Rahma.


"Lalu?" tanya Aura heran, tak mungkin pihak rumah sakit langsung mengambil


tindakan medist pada pasien gawat sekalipun tanda pemberitauan dan persetujuan keluarga.


"Suamimu yang menelfhon Farlan, dia menanyakan ayahmu dan juga minta bicara pada dokter, setelah itu dokter memberitaukan kami kalau ayahmu akan dioperasi untuk memasang ring jantung."


Aura menghela napasnya, lagi-lagi suami tampannya itu menunjukkan sikap kepedulian yang sangat besar kepadanya. Terbersit syukur dalam diri Aura atas semuanya.


Tiba-Tiba pintu ruangan itu diketuk pelan, sebelum dibuka dari luar dan menampilkan wajah Stefan yang datang. "Kau masih belum kembali, Stefan?" tanya Aura heran, ia pikir orang suruhan Damaresh itu telah pergi setelah mengantarnya dengan selamat ke rumah sakit ini.


"Belum ada perintah," sahut lelaki yang tetap setia menutup wajahnya dengan masker dan topi yang bertengger di kepalanya tersebut.


Stefan menyerahkan ponselnya pada Aura. "Bapak ingin bicara, Mbak," ujarnya.

__ADS_1


Aura segera menerima ponsel itu dan mulai bicara, sementara Stefan kembali keluar.


"kau belum makan,"


itu ucapan pertama Damaresh di telfhon.


"Iya, aku sedang menunggu ayah sadar,"


"Jadi kalau ayah akan sadar besok, kau juga baru mau makan besok?"


"Apa maksudmu?"


"Makan dulu, Arra! Ayah akan sadar besok pagi,"


"Dari mana kau tau?" tanya Aura cepat, Damaresh ada di Jakarta dan dia bukan dokter, mana bisa langsung memastikan begitu. Pikirnya.


"ini menurut dokter, aku sudah bicara padanya barusan,"


"Tapi Aresh--"


"Kalau kau tetap tidak mau makan, aku akan suruh Stefan untuk memaksamu pulang ke Jakarta, sekarang," titah tegas Damaresh di telfhon.


"Iya, Iya..aku akan makan sekarang," sahut Aura.


Dan setelah mendapat jawaban seperti itu, Damaresh segera mematikan sambungan telfhon.


Aura pun menyantap makanan yang harus dipaksa masuk tenggorokan dengan sesekali didorong minuman, gara-gara tak ingin Stefan kembali melaporkan pada majikannya perihal dirinya, pasalnya lelaki itu sering-sering memperhatikan dirinya dari tempatnya duduk.


Stefan hanya bicara seperlunya, hanya menjawab jika ditanya, tapi ekor matanya sering berlabuh pada Aura, pasalnya sang bos besar selalu menelfhonnya setiap jam sekali, untuk menanyakan kondisi sang istri.


Waktu merambah semakin malam, Aura dan bu Rahma duduk diluar ruangan, dan sesekali melongok kedalam melihat Lukman dari kaca pintu yang tertutup rapat.


Stefan juga duduk tak jauh dari mereka, tanpa kata hanya sibuk mengotak-atik ponselnya.


"Bi sebenarnya apa yg terjadi pada ayah, sampai dia kambuh?" tanya Aura yang baru sempat menanyakan itu sekarang, karna dari tadi, ia enggan beranjak dari sisi Lukman.


"Ayahmu kan sedang semangat-semangatnya berkebun, terkadang sampai lupa makan," jawab bu Rahma. Tapi penyakit jantung beda dengan sakit maag yang akan kambuh bila terlambat makan seperti yang disebutkan.


"Mungkin ayah kecapean," lirih Aura dengan rasa penyesalan yang dalam karna tak dapat turut serta menjaga kesehatan ayahnya yang memang rentan, setelah divonis menderita penyakit jantung dua tahun belakangan.


"Ayahmu pingsan, sekitar satu jam setelah kau pulang,"


kata Bu Rahma.


Aura segera memutar kepalanya menatap sang bibi.


"Saya Bi?"


"Ya."


"Saya gak ke rumah ayah tadi bi, ini saya tadi dari Jakarta langsung kemari," tutur Aura dengan mimik heran.


"Lho? jadi siapa yang datang? mobilnya sangat bagus, ada pengawalnya juga, mungkin suamimu, Ra,"


tebak Bu Rahma.


"Suamiku juga tidak, Bi. Tadi pagi kami berangkat bersama ke tempat kerja," kata Aura.


"Lalu siapa yang datang ya? kalau sudah ada mobil sangat bagus di depan rumahmu, kami semua nebaknya kamu dan suamimu yang datang, gitu saja."


pungkas Bu Rahma.


Aura terdiam dalam tanya,kira-kira siapa yang datang

__ADS_1


ke rumahnya, sedangkan Stefan yang juga mendengar semua pembicaraan itu sudah merekam semuanya, tanpa ada yang terlewat dalam ingatannya.


__ADS_2