
Berbohong itu berat, berbohong itu melelahkan.
Karna untuk menutupi satu kebohongan, di perlukan kebohongan yang lain, begitu lagi dan seterusnya.
Lama-lama berbohong menjadi sebuah kebiasaan dan untuk selanjutnya, bila sudah terbiasa berbohong, maka akan disebut sebagai pembohong.
Aura bergidik ngeri di ujung pemikirannya sendiri.
Meski tak ingin melakukan kebohongan apalagi disebut pembohong, nyatanya dalam beberapa hari ini ia telah melakukan kebohongan itu, dan parahnya lagi korbannya adalah ayahnya sendiri. Seseorang yang sangat dihormati dan disayanginya selama ini.
Aura meraup nafasnya berkali-kali, tidurnya bahkan sudah terganggu karna memikirkan semua ini.
Dalam dua hari ini ia terlambat bangun yang berujung pada terlambat pergi kekantor. Ditambah lagi dengan kemacetan dijalan dan harus berdesak-desakan di dalam angkutan umum.
Kalian jangan berpikir kalau setelah menikah dengan CEO Pramudya Corp, Aura akan tinggal di rumah megah dengan fasilitas serba ada, dari mulai Art, sopir dan mobil pribadi. Tidak. Aura tetap Aura dengan kehidupan yang tak berubah seperti sebelumnya.
Tinggal di rumah kontrakan, pulang pergi ke kantor naik angkutan umum. Kenapa? karna dia hanya istri rahasia.
"Terlambat lagi," Sarkas Damaresh menyambut kedatangan Aura. Gadis itu melangkah gontai ke hadapan sang bos yang sudah duduk angkuh di kursi kebesarannya.
Dua hari terlambat, Damaresh hanya menatapnya tanpa kata, dan selanjutnya semuapun berjalan seperti biasa. Damaresh dengan kesibukannya, Aura dengan pekerjaannya, keduanya berkomunikasi hanya perihal pekerjaan saja. Tapi kini lelaki itu langsung menyambutnya dengan pertanyaan yang tak enak didengar. Aura tersenyum kikuk.
"Kalau kau masih ingin bekerja di sini, besok jangan sampai terlambat lagi!" Damaresh menatap Aura tajam setajam ucapannya. Ia mengancam tanpa bertanya lebih dulu apa yang membuat Aura datang terlambat dalam tiga hari terakhir ini.
Padahal secara tak lansung Aura terlambat karna melindunginya, melindungi undang-undang pernikahan tak wajar yang telah diterapkan oleh Damaresh agar tak diketahui Lukman.
Setiap malam dalam tiga hari ini, Lukman selalu menelfhon Aura menanyakan kabarnya plus menanyakan Damaresh juga, bahkan meminta waktu untuk bicara dengan suami putrinya itu.
Aura harus bilang apa? jujur? gak mungkin.
Susah payah ia mengarang cerita kalau suaminya lagi lembur, suaminya ada kunjungan kerja keluar, atau suaminya lagi bertemu dengan relasi bisnisnya di luar rumah.
Dan setelah semua cerita bohongnya itu, Lukman memang terdengar percaya tapi Aura menjadi gelisah sendiri, tak tenang sendiri. Perasaan bersalah dan berdosa menghantui dirinya. Bayangan kalau dirinya akan disebut pembohong oleh sang ayah jika semuanya ini terbongkar membuatnya bergidik ngeri.
Seperti diketahui bersama bukan, mana ada kebohongan yang abadi. Bahkan untuk sebuah kebohongan yang terorganisir sekalipun, sesaat memang tidak ada yang menyadarinya. Tapi waktu selalu menjawab setiap cerita yang sebenarnya.
Andai itu tiba, Aura tak akan sanggup melihat kesakitan yang akan diterima ayahnya. Sehingga semua pemikiran ini membuatnya sulit memejamkan mata, jadinya terlambat tidur, dan terlambat bangun, lalu terlambat masuk kerja.
"Kenapa masih berdiri saja?" sarkas Damaresh lagi ke arah Aura yang masih berdiri diam di posisi semula.
"Jadi saya sudah boleh duduk pak?" Aura menanggapi dengan santai.
"Kalau kau masih ingin tetap berdiri di situ, gak papa juga." Damaresh menatap datar.
"Jadi bapak sudah selesai memarahi saya? baiklah saya akan duduk." Aura melempar senyuman tipis yang di tangkap Damaresh hanya sekilas karna gadis itu segera melangkah untuk duduk di kursinya.
"Kenapa wajahmu terlihat pucat? apa kau sakit?"
sebuah pertanyaan untuk Aura yang mengandung sebentuk perhatian. Tapi tenang, yang bertanya itu bukan Damaresh, melainkan Kaivan yang kebetulan juga ada di ruangan yang sama.
"Gak papa pak," sahut Aura.
"Benarkah?" Kaivan menatap Aura dengan seksama.
"Hanya sedikit kurang tidur,"
"Kenapa? Apa kau banyak pikiran? atau di kontrakanmu banyak nyamuk? atau ada tetanggamu yang ribut malam-malam sampai kau tak bisa tidur?"
__ADS_1
Pertanyaan Kaivan itu terdengar lucu bagi Aura sehingga membuat gadis itu tertawa lepas ke arah Kaivan. "Gak lucu ya?" tanya Kaivan.
"Justru sangat lucu pak, makanya saya tertawa," Aura menjawab dengan sisa tawanya, Kaivan pun jadi ikut-ikutan tertawa.
"Aku baru pertama kali ini lihat kamu tertawa, Ra.
Ternyata melihatmu tertawa itu lebih menyenangkan dari pada melihat cewek Korea," Ucap Kaivan yang sukses membuat Aura kembali tertawa.
"Saya juga baru tau kalau Pak Kai itu bisa melucu juga,"
balas Aura
"Kau tau kalau aku dulu juga pernah ingin ikut stand up comedi sebuah acara yang tayang di salah satu TV swasta itu, tau kan?"
"Iya pak, tau," Aura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa kau tau, apa alasanku ingin ikut acara itu?"
"Kenapa pak?" Aura antusias bertanya.
"Karna aku sudah hampir lupa bagaimana caranya tertawa, gara-gara sejak kecil aku bersahabat dengan seseorang yang tidak tau caranya tertawa, tidak tau caranya tersenyum, mukanya datar saja seperti bangunan tembok belakang apartemenku,"
"Ooh gitu ya, pak?" Aura kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil menutup mulutnya untuk menahan tawa. Tentu saja Aura tau siapa yang dimaksud oleh Kai itu.
"Tapi aku tidak lolos audisi waktu itu, Ra, karna .."
"Ehemm." Damaresh segera menginterupsi perbincangan tak penting Kaivan dengan Aura itu yang bahkan mereka mengabaikan keberadaannya. Padahal dirinya adalah sang empunya kekuasaan di dalam ruangan ini dan di seluruh kantor tentunya.
"Tuh! ambilkan air untuk bos-mu, Aura. Sepertinya dia butuh minuman," Kaivan memberi isyarat pada Damaresh.
"Aku tidak haus," sahut Damaresh segera.
"Agar kau menghentikan pembicaraan tak pentingmu itu dengan Arra," sahut Damaresh tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kenapa memang? ada undang-undangnya ya kalau aku gak boleh bercanda dengan personal asistan mu?
atau aku gak boleh bercanda dengan istrimu?"
Pertanyaan telak Kaivan itu membuat Damaresh terdongak dan menatap tajam Kaivan, seolah mengisyaratkan kalau dirinya tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya tersebut.
Alih-alih merasa bersalah ataupun merasa takut menghadapi respon Damaresh, Kaivan justru semakin mendekati Aura. "Aura kau tau, langkah paling benar yang harus aku lakukan sekarang itu apa?"
"Apa pak?"
"Kabur," kaivan segera bergegas pergi meninggalkan ruangan itu dengan menahan tawanya. Aura pun mengiring kepergian Kaivan dengan tawanya juga.
"Sudah selesai tertawanya?" Damaresh menatap tajam ke arahnya.
"Belum pak, sebentar lagi," Sahut Aura sekenanya.
"Kalaupun bapak tidak bisa tertawa, setidaknya jangan menghalangi orang lain tertawa, karna tertawa itu indah pak, suatu keindahan yang belum pernah bapak rasakan," imbuhnya lagi.
"Kamu mau bekerja, atau mau menceramahiku?"
Aura tak menjawab kecuali hanya melempar senyum, senyum yang juga bisa dilihat oleh Damaresh sekilas, karna gadis itu segera fokus dengan pekerjaannya tak lagi memperdulikan apa yang dilakukan oleh Damaresh setelahnya.
Aura tak tau saja, kalau disetiap Aura tersenyum ke arah bos besar Pramudya Corp itu, Damaresh merespon dengan menghela nafas seperti tengah mengusir sesuatu hal dalam dirinya akan pesona senyuman lembut Aura yang baru dilihatnya hari ini saja, setelah hampir sebulan mereka bekerja bersama.
__ADS_1
Usai memperlihatkan notulen rapat yang telah disusunnya dan disetujui oleh Damaresh, Aura masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Biasanya ia akan langsung berlalu kembali ke tempatnya setelah memberitaukan kepentingannya.
Damaresh terdongak menatapnya.
"Ada apa lagi?"
"Saya mau minta tolong pak, boleh?"
"Hmm," Damaresh mengangguk kecil.
"Bicaralah dengan ayah saya, walau hanya sebentar pak," pinta Aura.
"Kenapa?" Damaresh nampak heran dengan permintaan itu.
"Sudah tiga malam ini, ayah selalu menelfhon dan meminta bicara dengan bapak juga." Aura menjelaskan.
Sesaat Damaresh masih terdiam berpikir. "Baiklah, nanti," sahutnya.
"Tidak bisa sekarang pak?" Tanya Aura karna biasanya jam segini Lukman sudah pulang dari ladang.
"Aku masih banyak pekerjaan, kau lihat sendiri kan?"
"Baiklah saya mengerti, tapi bapak janji kan nanti?"
Aura ingin lebih memastikan.
"Hhmm," Damaresh mengangguk.
Aura langsung tersenyum senang "Terima kasih pak, terima kasih ya," Wajahnya begitu terlihat berbinar karna bahagia.
"Jangan tersenyum seperti itu kepadaku!" Ucap Damaresh tiba-tiba, setelah tiga kali ia mendapatkan senyum indah Aura yang berakibat kurang baik pada jantungnya, lelaki itu segera memberikan titahnya.
Aura sejenak tercekat dengan larangan seperti itu,
namun lalu jiwa jahilnya mendobrak keluar.
"Hanya kepada bapak saja kan, saya tidak boleh tersenyum seperti ini, kalau kepada pak Kai, pak Anton dan beberapa karyawan yang lain gak papa kan pak?"
"Jangan tersenyum seperti itu kepada siapapun Arra!"
Damaresh malah memperluas larangannya.
"Lalu saya harus tersenyum seperti apa?" Aura kini dibuat heran dengan larangan yang terlalu mengada-ada itu.
"Tersenyum biasa saja,"
"Tapi saya gak punya stok senyum banyak, senyum saya ya seperti ini memang," Aura berkata dengan tersenyum lagi. Damaresh tampak kesal dengan itu.
Membuat Aura kian suka dengan perdebatan ini.
"Ya sudah, gak usah tersenyum pada siapapun!" Putus Damaresh.
"Ooh gak bisa pak, dalam agama saya dijelaskan kalau senyum itu sedekah, iya kalau bapak bisa bersedekah dengan materi dan kekuasaan. Kalau saya kan gak punya itu pak, ya cukup dengan senyum aja sedekah saya." Pungkas Aura.
"Dalam agamamu, juga disebutkan kalau mematuhi suami itu wajib kan?" Damaresh menatap Aura.
"Mematuhi suami, maksudnya itu bapak ya? mulai kapan bapak merasa menjadi suami saya?"
__ADS_1
Pertanyaan sarkas Aura sukses membuat Damaresh terdiam. Aura tersenyum menang.