Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
52..Romansa Di Dalam Mobil.


__ADS_3

"Apa kau sedang kesal, Aresh?"


Aura memilih bertanya, karna sekian waktu yang dilaluinya bersama Damaresh hanya di-isi dengan kebungkaman oleh lelaki itu dengan tatapan lurus ke depan.


Mereka kini berdua dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir perusahaan.


"Ya," jawab Damaresh singkat.


Aura sebenarnya tau hal apa yang memicu kekesalan suaminya itu, ia berada dalam ruangan yang sama dan hanya dibatasi sekat yang tipis saja, sehingga ia dapat dengan jelas mendengarkan pembicaraan Damaresh dengan yang lain setelah kedatangan Yeslin. Namun bagi Aura itu bukanlah ranahnya untuk turut campur, ia lebih memilih memperhatikan Damaresh secara pribadi saja.


"Ada yang bisa aku bantu untuk meredakan kekesalanmu?"


Damaresh memutar kepalanya dan memandang sepenuh tatap gadis cantik berhijab yang duduk tak jauh di sampingnya. "Sepertinya memang ada,"


Ucap Damaresh tanpa memutus pandangannya.


"Apa?"


Damaresh tak menjawab dengan ucapan, ia malah menggeser tubuhnya duduk merapat pada Aura kedua tangannya lalu melingkari pinggang Aura yang berbalut baju longkar tak membentuk lekuk tubuh.


Damaresh baru tau kalau Aura memiliki pinggang yang ramping dan perut yang rata dari hal itu.


Aura menahan napasnya atas perlakuan Damaresh itu


lalu menghembuskannya pelan ketika dagu Damaresh bertumpu di atas bahunya.


"Sepertinya rasa kesalku akan reda dengan begini Arra," bisik Damaresh lembut yang menciptakan atmosfer romantis dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu.


"Apa kau keberatan?" tanya Damaresh demi dilihatnya Aura hanya diam tak memberikan tanggapan.


"Aku sendiri yang menawarkan bantuan, jika dengan ini akan membuatmu tak lagi merasa kesal.


ya monggo," sahut Aura.


"Terima kasih," lirih Damaresh sambil memejamkan matanya. Demi apapun saat ini ia merasa begitu tenang, tak ada lagi beban pemikiran terkait masalah pekerjaan yang biasanya masih terus merongrongnya kendati ia sedang tidur. Tapi sekarang segala beban itu


seperti terhempas begitu saja dari maya otaknya.


Memang tak dapat dipungkiri kalau kerap kali Damaresh merasakan jiwanya berada dalam


kehangatan hanya dengan melihat wajah Aura dengan senyumnya yang meneduhkan, seakan gadis itu adalah sauna yang


mencairkan hatinya yang beku. Dan dilain waktu Aura juga seakan embun pagi yang menyejukkan jiwanya yang terbakar emosi seperti saat ini. Bahkan tanpa perlu Aura berucap kata, pun tanpa ber-aksi pula, hanya dengan menatapnya saja, hati Damaresh sudah merasa tenang. Itu adalah fakta yang tak bisa dipungkiri oleh Damaresh dan fakta yang tak akan pernah sudi ia berbagi cerita ini dengan siapapun.


Damaresh tidak tau apa yang dirasakannya saat ini adalah sebuah anugerah yang luar biasa, dirinya menjadi salah satu dari pria beruntung yang bisa memperistri seorang wanita saliha.


Bukankah sudah disinyalir dalam salah satu hadist nabi yang diriwayatkan oleh imam Bukhori tentang seorang istri yang saliha, yaitu bila dipandang menyenangkannya, bila diperintah mematuhinya dan bila suami pergi, ia akan menjaga dirinya.


Semua itu ada pada diri Aura Aneshka.


Satu fakta lagi yang tak diketahui oleh Damaresh kalau

__ADS_1


Aura adalah the most wanted muslimah. Banyak lelaki shalih yang mendamba bisa membawanya menuju akad, karna Aura memiliki segala kriteria istri saliha yang bisa menjadi partner menuju jannah.


Jika para lelaki shalih itu tau, kalau Aura menikah dengan pria yang tidak se-kufu, mungkin mereka akan menggalang kekuatan untuk menggagalkan pernikahan itu, atau mereka akan ber-unjuk rasa di depan kantor Pramudya, agar Damaresh melepaskan Aura. (Ah sepertinya aku terlalu berlebihan dalam hal ini)


Kembali pada Aura dan Damaresh di dalam mobil.


"Apa kau tertidur?"


...Tak ada jawaban dari Damaresh, Aura mengangkat satu tangannya dan mengusap pelan wajah pria itu yang masih enggan beralih dari posisi yang paling nyaman...


menurutnya.


"Kau merasa pegal?" tanya Damaresh sambil membuka matanya.


"Iya dan tidak." Aura malah memberi jawaban ambigu.


"Kalau begitu gantian."


Aura tak paham apa yang dimaksud gantian oleh Damaresh, sampai lelaki itu merubah posisinya dan merengkuh tubuh Aura untuk bersandar di pundaknya.


"Kalau kau mengantuk, tidur saja!" ucap Damaresh sambil kembali melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping Aura.


"Dengan posisi begini?"


"Iya."


Aura punya keinginan untuk beringsut saja. Karna berada sangat dekat seperti ini tak baik untuk kesehatan jantungnya. Namun lebih besar lagi keinginannya untuk menikmati saja. Bagaimanapun ini bukan perkara ilegal bagi mereka.


"Kita seperti pasangan suami istri sungguhan ya?"


"Memang bukan?"


"Menurutmu?" Aura malah balik tanya.


"Maaf." Damaresh mengusap-usap tangan Aura lembut. Entahlah kenapa bersama Aura, Damaresh jadi mudah mengucapkan kata maaf, padahal dulu ia menjadi orang yang hampir tak pernah mengucap kata itu.


Aura memejamkan matanya merasakan hembus napas Damaresh yang menerpa hangat di pipinya, seiring itu iapun mendengarkan detak jantung lelaki itu yang seakan berpacu.


"Aku seperti mendengar derap pacuan kuda," usil Aura. Padahal detak jantungnya juga tak berada dalam kondisi normal pula.


"Ya, akupun mendengar hal yang sama," sahut Damaresh.


"Jadi menurutmu itu apa?" Aura tetap dalam mode polosnya.


"Seperti yang kau katakan, itu suara tapak kaki kuda yang sedang berpacu,"


Aura tersenyum di kulum mendengarnya, dan senyum itu kian terkembang ketika Damaresh mencium lembut keningnya, meski singkat tapi cukup membuat bunga-bunga bermekaran di hatinya bersama kupu-kupu yang beterbangan di dalam sana.


"Pak, kita sudah sampai!" Sopir memberitaukan dari depan, tanpa berani memutar kepalanya ke belakang.


Ia tak ingin menjadi penonton satu-satunya romansa Damaresh dan Aura dalam mobil itu.

__ADS_1


Entah apa yang dirasakan Damaresh dan Aura, hingga tak sadar kalau mobil telah berhenti di halaman vila yang mereka tempati.


"Putar balik, kita kembali ke kantor!" perintah Damaresh.


"Baik, Pak." sang sopir patuh tanpa tanya.


Pertanyaan justru datang dari Aura.


"Kenapa kita kembali ke kantor?"


"Ada yang ketinggalan di sana," sahut Damaresh.


"Apa?"


"Kai."


Aura tak lantas percaya begitu saja kalau Damaresh menyuruh kembali ke kantor untuk menjemput Kaivan. Tapi ia juga tak mau menebak kalau lelaki itu sebenarnya ingin lebih lama mendekap tubuh Aura yang bersandar di pundaknya. Aura takut salah yang berakhir dengan kekecewaan nantinya.


Mobil berhenti kembali di halaman kantor setelah setengah jam kemudian. Sopir turun untuk memanggil Kaivan atas perintah majikan. Karna Damaresh tak ingin bergerak sedikitpun dari duduknya agar tak membangunkan Aura yang sudah tertidur dalam dekapannya.


Kaivan bergegas cepat menghindari panas yang menyengat, begitu tiba tangannya langsung hendak membuka pintu penumpang bagian belakang tapi sopir yang sekitar seumuran dengan Kaivan itu segera mencegahnya.


"Pak Kaivan duduk di depan saja!"


"Kenapa?"


"Pak bos masih ada di dalam."


"Ha?" meski sempat heran, Kaivan mematuhi aturan sopir. Setelah ia duduk dengan nyaman di dalam mobil sambil merenggangkan ikatan dasinya, kepalanya segera memutar ke belakang, maksud hati ingin memberi laporan singkat tapi malah berganti jadi seruan heboh.


"Wahh pemandangan apa ini?"


"Ckk. gak usah keras-keras, nanti dia terbangun,"


Damaresh memperinggatinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Kaivan sambil menaik-turunkan alisnya.


"Tak terjadi apa-apa,"


"Tak mungkin tiba-tiba kau berubah menjadi pria romantis begini, kalau tidak terjadi apa-apa sebelumnya, apa kepalamu kejedot pintu?"


"Diam Kai!" Damaresh memberikan tatapan tajamnya.


"Ok," Kaivan mengedikkan bahunya sambil menggerutu. "Kau pikir aku suka mendapat sajian pemandangan seperti ini?"


"Mudah saja, gak perlu melihat ke belakang,"


sahut Damaresh.


Kaivan mengangguk lalu menepuk pundak sopir di sampingnya yang mulai kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Tatap lurus ke depan saja ya, jangan sekali-kali menoleh ke belekang! kalau perlu kasih penyangga di lehermu agar kepalamu tak bisa memutar ke belakang!"


Si sopir hanya mengangguk dengan canggung.


__ADS_2