Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
96. Acara Penghargaan.


__ADS_3

Kehadiran William Pramudya di Balroom hotel Shangri-la The Shard .. di mana pesta itu di gelar, menarik atensi banyak mata memandang.


Bukan karna pesona William yang tak terbantahkan, karna terlihat tampan menawan atau tampilan yang begitu memukau. bukan, bukan karna itu.


Usia William sudah hampir mencapai kepala enam, beberapa baris putih di rambutnya sudah tak bisa disamarkan, kerutan di wajah dan garis-garis tanda penuaan yang lain juga bukan karna aplikasi make-up atau tipuan. Tapi itu memang nyata. Kalaupun masih ada sisa ketampanan yang terpahat di wajahnya, tapi untuk menyebutnya dengan kalimat tampan rupawan, itu sudah bukan tempatnya.


Lalu kenapa kakek pemilik tumpukan rupiah dan dollar itu sedemikian jadi pusat perhatian?


Bahkan kehadirannya jauh lebih diperhatikan dari pada cucunya sendiri, Damaresh William, yang datang lebih awal sekitar setengah jam, bersama Anthoni William. Kehadiran Damaresh memang diwarnai penyambutan dan cukup menjadi pusat perhatian, tapi tak sebagaimana William yang hadirnya betul-betul mencuri perhatian.


Padahal dalam acara pesta yang diadakan oleh Asosiasi pengusaha besar di kota London itu kali ini, Damaresh yang  menjadi bintang, yang akan dianugerahi penghargaan dengan setumpuk pujian dan segepok sanjungan.


Lalu kenapa justru William yang lebih menjadi pusat perhatian??


Mari kita simak penampilan William dengan seksama. Dari bajunya, rasanya tak ada yang aneh atau berlebihan, pemilihan warna dan modelnya, serta bahannya yang mewah, sesuai dengan usianya dan kedudukannya sebagai pemilik perusahaan sukses ternama. Semua terlihat pas, tak ada yang lebih dan tak ada yang kurang.


Atau mungkin karna ia datang bersama dua orang wanita muda yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Dua wanita yang sama-sama tampil mempesona dalam balutan  warna hitam, namun dengan gaya busana yang berbeda.


Naila yang terlihat cantik dan anggun dengan surai hitam bak sutra. Dan Aura yang tampil ayu dan elegan dengan hijab dan baju tertutupnya.


Dan sepertinya memang dua orang wanita inilah, yang lebih menjadi pusat perhatian mereka semua, bukan William. Mungkin karna keduanya hadir bersama William, berjalan di samping kanan dan kirinya pula.


William sudah menempati tempat duduknya, begitu pula Naila dan Aura yang juga duduk satu meja dengan William.


"Akhirnya kau juga datang, William," sapa seorang lelaki yang sepertinya seusia dengan William. Dilihat dari cara menyapanya dan cara menyebutnya, keduanya pasti sudah sangat mengenal. lelaki tersebut segera duduk di dekat William.


"Kudengar kau sudah mau kembali ke Indonesia," lanjutnya lagi.


"Aku harus menundanya lagi, Han, karna ada satu hal yang harus kupastikan tepat dan benar dulu," sahut William.


Tangannya kini berjabat  dengan beberapa pengusaha muda yang tergabung dalam asosiasi, yang setiap ada perkumpulan seperti ini, sudah menjadi tradisi bagi setiap yang muda untuk memberi salam pada seniornya.


Pengusaha muda bukan berarti pengusaha baru ya, karna dalam asosiasi ini, hanya beranggotakan para pengusaha besar yang sudah sukses di dalam setiap bidang.


Pengusaha muda yang dimaksud adalah, para trah penerus perusahaan, atau para putra putra mahkota calon penerus kekuasaan.


"Kau mempunyai penerus yang luar biasa, Will, apalagi yang kau kawatirkan?"


Burhan sedikit melayangkan pandang ke arah puluhan meter di depan, dimana seorang Damaresh William sedang terlibat perbincangan bersama dua orang rekan dengan minuman di tangan.


"Bukan masalah skill bisnis cucuku, aku sangat tau ia tak ada duanya. Tapi ini tentang yang pantas atau tidak, untuk berada di sampingnya," sahut William sambil menegakkan posisi duduknya.


Ucapannya ini tentu juga didengar oleh Naila dan Aura, meski keduanya tidak dalam posisi yang sangat berdekatan dengan William. Namun baik Naila maupun Aura sama-sama tak menunjukkan reaksi apa-apa. Seakan telinga mereka sudah terlatih agar apa yang didengar tidak untuk disimpan  tapi harus langsung dibuang, bahkan tanpa perlu memberikan tanggapan.


"Apa ini perihal pendamping?" Burhan tertawa renyah. "Kau jangan kawatir, Will. Kupastikan sejak malam ini, kau akan menerima banyak pinangan untuk cucumu, sampai kau sendiri akan kelelahan untuk menyeleksi."


William menampakkan senyum berbinar dengan ucapan Burhan. Dan memang sudah menjadi rahasia umum, setiap pengusaha muda yang prestasinya terangkat dalam forum ini, sudah barang pasti mereka akan dapat tawaran menggiurkan bukan hanya dalam hal bisnis dan usaha bahkan juga untuk duduk di kursi parlemen dan pemerintahan. Apalagi kalau hanya pendamping hidup, di pastikan sederet antrian akan menunggu giliran, untuk dipilih atau dihempaskan.


"Apalagi cucumu juga sangat tampan," lanjut Burhan tetap dengan mode pujian untuk Damaresh William.


"Aku juga merasa akan begitu," sahut William dengan pongah. "Tapi untuk calon pendamping cucuku, aku sudah punya kandidatnya," lanjut William lagi seiring tatapan lurus.


"Itu, aku juga sudah menduga, kau tak akan melepas aset-mu untuk berada dalam kekuasaan sembarang orang," ujar Burhan.


"Tentu saja," tegas William.


Terlihat Aura membuang pandangan, menafikan kuliah singkat tadi yang telah ia dapatkan selama lima belas menit, sebagai bekalnya untuk ikut hadir dalam acara pesta pengusaha kelas atas ini.


Diantaranya, tatapan harus lurus, abaikan siapapun yang dianggap tidak berkepentingan, bicara seperlunya, tersenyum seperlunya, jangan menolak ajakan minum walau cuma satu sesapan. Dan jika berbicara dengan posisi berdiri, pastikan gelas minuman ada di tangan.


William melirik dengan ujung mata, melihat satu peraturan yang telah di langgar oleh Aura.


Sedangkan wanita itu sendiri, berada dalam kondisi hati yang sangat miris, ketika mendengar suaminya, dengan segala potensi yang ada padanya, hanya dianggap aset oleh  tetuanya. Bukan seonggok daging yang punya rasa dan merdeka. Jiwa Aura meronta tak terima.


"Tapi siapa yang kau bawa bersamamu, sekarang Will?" tanya Burhan setelah melayangkan pandang sesaat pada dua orang wanita muda yang berbeda penampilan, yang duduk dalam jarak tak begitu dekat di kanan dan kiri William.


"Jangan sampai bisik-bisik itu benar," tukas Burhan yang pastinya telah mendengar selentingan dugaan dari cara hadirnya William yang diluar kebiasaan.


William tertawa lebar sambil menepuk pundak Burhan. "Kau tau, sejak Laura Dewi meninggal  aku tak pernah punya waktu untuk melirik wanita manapun  apalagi untuk bermain-main dengan daun muda," ungkap William, yang kendati di-iringi tawa tapi terlihat jelas kesungguhan tercetak di wajahnya.


"Salah satu dari mereka, adalah calon pendamping Aresh," tutur William dengan isyarat tangan pada Aura dan Naila.


"Salah satunya?" tanya Burhan dengan keryitkan kening.


"Bisa jadi, keduanya."


Burhan langsung tertawa lebar. "Kau kakek yang luar biasa, Will. Kau bahkan menyiapkan dua calon sekaligus untuk Damaresh," ucapnya.


"Bagiku tak masalah, cucuku mau punya berapa wanita, yang penting hanya wanita yang berkelas dan sepadan yang akan menjadi wanita nya yang utama," putus William.

__ADS_1


Ucapan tegas dan lugas itu, mengundang Naila untuk melihat sekejab expresi wajah Aura. Karna dari expresi wajah, biasanya dapat ditebak apa yang tengah dirasa. Tapi Aura tampak terlihat tenang saja, tak seperti sesaat lalu yang membuang pandang atas apa yang didengar. Karna atas apa yang diucapkan oleh William barusan, Aura sudah punya dugaan, jadi tak ada lagi keterkejutan, walau jujur saja, ada nyeri yang dirasakan.


"Aku sependapat denganmu," sahut Burhan.


"Aku akan kembali ke kursiku, Will. Selamat untukmu ya, malam ini Damaresh akan mendapatkan penghargaan."


"Untuk itulah aku datang, Burhan. Terima kasih," ucap William.


Dan hening, kembali menyelimuti meja mereka, ketika tak ada lagi pembicaraan sepeninggal Burhan barusan.


"Aura, aku ambil minuman ya, untukmu?" Pertanyaan dari Naila itu memecah keheningan yang tercipta.


"Terima kasih, Naila. Tapi tidak usah, aku tidak biasa dengan minuman ber-alkohol,"


tolak Aura lembut.


"Tapi tidak ada minuman yang tak ber-alkohol di sini, Aura." tutur Naila.


Aura mengangguk, hal itu memang sudah ia ketahui tadi dari petugas yang disuruh William memberitaukan padanya beberapa hal mengenai pesta ini dan segala peraturan tak tertulis yang berlaku di dalamnya.


Disebutkan juga beberapa minuman yang akan ada di pesta, dari mulai, wine, Bir, Sake, Tequila, Brandy,


Wiski dan Vodka.


Yang kesemuanya adalah minuman yang mengandung kadar alkohol cukup tinggi.


Dan bukan minuman yang bisa di cicipi oleh Aura.


Sebenarnya pesta yang diadakan orang-orang kelas atas ini dengan segala konsepnya, adalah hal yang bertolak belakang dengan kepribadian dan gaya hidup Aura. Tapi ia memilih untuk tetap ikut ke pesta ini, dengan segala konsekuensi yang mungkin akan ia terima nanti. Bukan semata karna ingin menjawab tantangan William dan menunjukkan bahwa ia bisa, tapi karna ia ingin memperjuangkan apa yang sudah menjadi haknya menurut hukum agama. Yakni, suaminya.


"Kalau begitu kau bisa pilih minuman yang kadar alkoholnya paling rendah, Aura. Sebutkan saja, akan aku ambilkan."


Naila keukeuh ingin mengambilkan minuman untuk Aura.


Aura menggeleng. "Aku juga tidak tau jenis minuman apa yaang kadar alkoholnya paling rendah," ucapnya apa adanya.


"Oooh." Naila harus paham kini, kalau ini pasti pertama kalinya bagi Aura menghadiri


Pesta seperti ini.


"Kau ambil saja minuman yang sama denganmu!" Putus William memberi titah.


Vodka, minuman yang mengandung kadar alkohol 35-60% itu yang dipilih Naila yang juga disuguhkannya pada Aura. Tapi wanita berhijab itu hanya menatapnya saja setelah mengucap terima kasih atas kebaikan Naila. Beda dengan Naila yang segera  menyesap minumannya pelan sambil sesekali berbicara lirih dengan William.


"Lihatlah Aresh itu!" Tunjuk William dengan isyarat mata ke arah Damaresh yang berdiri dalam jarak cukup jauh dari posisi duduk ketiganya. Terlihat satu demi satu rekan bisnisnya datang menyapa, berbicara sesaat lalu menjabat tangannya memberi selamat.


Dari semua rekan bisnis yang melakukan itu pada Damaresh, mayoritas mereka tak


Sendiri, tapi Selalu ada wanita cantik yang anggun dengan penampilan berkelas yang berdiri di dekatnya, dan mengapit lengan prianya, entah wanita yang bersama para pebisnis sukses itu benar-benar istrinya atau hanya simpanannya, yang pasti kehadiran mereka yang tak sendiri saja.


Berbeda dengan Damaresh yang hanya berdiri diapit Anthoni serta dua orang asisten kepercayaan dalam tubuh Pramudya.


Terlihat kesendirian Damaresh tanpa adanya pendampingan dari makhluk cantik bernama perempuan itu menjadi bahan ledekan dari beberapa rekan, namun terlihat juga kalau expresi Damaresh terkesan enjoy dan santai.


"Menurut kalian apa yang kurang dari Aresh di sana?" William mulai melempar umpan dengan pertanyannya, untuk memulai permainan yang sudah dirancangnya.


"Pendamping," sahut Naila cepat, seakan ingin beradu tangkas dengan Aura untuk lebih dulu menjawab.


Tapi rupanya Aura tak berminat untuk menjawab, karna tatapannya sedang memindai  Damaresh dengan seksama sambil berharap dalam dada, kalau suaminya itu akan menyadari keberadaannya, bahwa mereka ada di tempat yang sama.


"Benar." Dan William memutar kepalanya menatap Aura. "Bisakah kau tunjukkan padaku, kalau kau adalah orang yang tepat untuk mendampingi cucuku," ucapnya.


Aura mengangguk. Ia harus menghampiri Damaresh dengan membawa minuman di tangan, berdiri di sampingnya, ikut dalam pembicaraan di bagian yang ringan-ringan saja, dan tak berhenti menunjukkan sikap yang anggun dan berkelasnya. Itu rentetan peraturan yang diajarkan tadi padanya, yang semuanya masih diingat oleh Aura dengan begitu rupa.


"Ingat, bila aku melihatmu gagal, aku akan segera menyuruh Naila untuk menggantikan," ancam William.


Aura kembali menjawab dengan anggukan.


Wanita itu gegas berdiri dari duduknya, tak lupa mengambil gelas minuman yang terbuat dari kaca di depannya, langkahnya pasti untuk menghampiri sang suami, akan tetapi hanya dalam tiga ayunan langkah, seseorang menubruknya dengan cukup keras membuat minuman ditangannya tumpah pada baju yang di pakai, dan gelas yang dipegangnya pun jatuh ke lantai.


Untunglah, jatuhnya tepat di atas lantai yang berlapis karpet tebal, sehingga mencegah gelas itu untuk pecah berantakan dan akan semakin menarik perhatian banyak orang.


Author : kejadian seperti ini pasti sudah sering kalian baca atau saksikan diacara-acara pesta besar kelas atas, dan biasanya yang menjadi korban adalah orang yang tak terbiasa datang ke acara, sehingga sangat mungkin mereka kurang perhitungan dalam langkah dan tindakan yang lalu membuatnya berada dalam situasi yang tak diinginkan. Maaf ya para pembaca, kalau aku memberi nasib yang sama pada Aura seperti nasib yang sudah umum terjadi pada seorang upik abu di tengah pestanya pangeran mahkota.


Kembali ke cerita.


"Maaf..maaf, Nona, saya tidak sengaja," ucap lelaki yang berperan sebagai penabrak. Tangannya segera terulur untuk mengusap baju Aura yang telah basah di bagian dadanya, mungkin niatnya untuk menebus rasa bersalah.


Aura dengan tegas menolak, ia mengangkat tangannya dan mundur dua langkah. Sementara kejadian itu sudah cukup menjadi pusat perhatian beberapa orang.

__ADS_1


"Nai, cepat alihkan perhatian Damaresh, jangan sampai peristiwa ini membuatnya merasa terganggu," titah William pada Naila yang segera ditanggapi dengan sigap. Wanita cantik itu segera menghampiri Damaresh dan berdiri anggun di sampingnya, berbaur dengan circle Damaresh dengan luwesnya.


"Saya permisi mau ke toilet," pamit Aura pada William.


"Sebaiknya kau cepat, bersihkan pakaianmu dan rapikan seperti semula!"


Perintah William tegas.  "dalam sepuluh menit ke depan, Damaresh akan menerima penghargaan, jangan sampai kau terlambat," imbuhnya lagi dengan tersisip kalimat ancaman.


Aura mengangguk dan gegas meninggalkan balroom hotel dimana acara sedang di gelar, ia harus berpacu dengan waktu kalau tak ingin tempat yang seharusnya untuknya, akan diberikan oleh William pada orang lain untuk menggantikannya.


Hanya selang lima menit kemudian, acara inti akan segera digelar. Terlihat dari ketua asosiasi yang mulai naik ke atas panggung kecil yang telah disediakan.


"Kenapa ada di sini, Nai?" Tanya Damaresh tanpa menatap lawan bicaranya, begitu semua orang hanya mengarahkan perhatiannya pada sang ketua yang telah memberikan pengumuman.


"Aku datang bersama kakek," sahut Naila singkat. Dari jawabannya itu Damaresh pasti sudah paham kalau keberadaan Naila di sampingnya sekarang juga karna titah dari William.


sampai kapan, dia akan berhenti turut campur dalam urusanku, batin Damaresh yang terbungkus dalam dengkusan samar.


Nama Damaresh William disebut sebagai pengusaha muda paling bersinar di tahun ini, dengan berbagai pencapaian yang didapatkan, dari mulai merger atau menggabungkan dua perusahaan dan mengakuisisi beberapa perusahaan yang lain juga, diantaranya BLC Corp, yang dikenal sebagai perusahaan yang lebih besar dari Prmudya Corp, tapi kini berhasil diambil alih oleh Pramudya berkat strategi bisnis Damaresh William.


Karna hal tersebut, nama Damaresh William di gaung-kan dalam acara ini dan berhak berdiri di panggung kehormatan untuk menerima penghargaan. Itulah inti dari di-adakannya pesta malam ini.


Naila tak dapat menahan dirinya untuk tak memuji


kesempurnaan tampilan Damaresh dan kerupawanan wajahnya ketika berdiri di atas sana, dan memberikan sambutan singkatnya. Meski


Pujian itu harus ia simpan dalam lubuk hatinya yang terdalam saja.


" Tuan Damaresh William, bisa beritaukan pada kami, siapa sosok hebat yang telah berhasil mendukung langkahmu sampai setinggi ini," ucap sang ketua yang sekaligus merangkap sebagai master of ceremony .


Damaresh terlihat menanggapi itu dengan tatap tanya. "Istri, atau calon istri." MC lebih menjelaskan maksud ucapannya. Damaresh langsung menarik sudut bibirnya samar.


"Meski kita sudah berada di era yang serba bisa, tapi tentunya semua masih setuju dengan adanya satu ungkapan, bahwa dibelakang suami yang hebat, ada sosok istri yang luar biasa, setuju?"


Sang MC dengan pintarnya menggiring semua hadirin untuk menyetujui permintaannya.


"Ya, setuju, hadirkan istrinya Tuan Damaresh, tak mungkin tak ada makhluk cantik di belakang anda," celetuk seseorang yang diketahui tadi sempat gencar meledek kehadiran Damaresh tanpa bersama seorang perempuan.


"Setuju.."


"Setuju.."


Ungkapan beberapa kata setuju, sesaat membahana dalam ruangan.


"Boleh, tunjuk seseorang untuk mensejajari anda di sini, Tuan Damaresh, atau sebutkan satu nama, yang akan segera kami undang untuk bergabung bersama," pinta sang ketua tanpa mampu dibantah .


Master off ceremony ini telah menjebak Damaresh dalam suasana yang menyulitkan.


Tak mungkin Damaresh asal tunjuk orang yang tak diinginkan, bukan. Karna siapa wanita yang akan berdiri di sampingnya malam ini, segera akan menjadi pemberitaan meluas karna acara ini sendiri diliput oleh beberapa stasiun tv setempat.


Atau haruskah Damaresh menyebut nama tak bertuan, nama Aura Aneshka, dimana yang empunya nama sedang tak ada di tempat acara dilaksanakan. Sesaat ia menyesali keputusannya tak membawa Aura turut serta.


Tapi bila hal itu yang dilakukan, menyebut nama istri yang sedang ada di rumah, maka pasti juga akan menjadi sorotan. Kenapa seorang Damaresh William tidak membawa istrinya dalam sebuah acara penghargaan. Dan tentunya setelah itu beberapa rumor tak baik akan segera menyebar.


Damaresh berada dalam bimbang, sementara semua orang menunggunya memberi jawaban.


Lain halnya William, yang terlihat tersenyum menang dari tempat duduknya sekarang.


Keterdiaman Damaresh membuat MC segera melempar kata pada William Pramudya, ini moment yang sudah diperkirakan dan ditunggu kedatangannya oleh William tentunya.


"Tuan William Pramudya, sepertinya Tuan Damaresh belum menentukan pilihannya. Kami silahkan Tuan William untuk menunjukkanya,"


Sudah dapat diduga bukan, William akan menyebut nama siapa. Dan bila Naila yang berdiri di samping Damaresh malam ini, secara otomatis itu berarti mengumumkan pada khalayak luas, kalau Naila Anggara adalah istri atau calon istri Damaresh william. Sangat cerdas bukan cara yang dipilih William.


Dan, Apakah Damaresh akan membiarkan itu terjadi?


***%%%%****%%%%*****%


Beugghh..part ini panjang sekali ya, 2700k.lebih. semoga yang baca gak bosan, aku sekalian mengqodho yang libur up kemarin.


Tapi aku tau, meski aku udah nulis sepanjang ini, akan ada yang bilang gantung..kayak jemuran..


Aku gak gantung kalian kok, apalagi dianggap jemuran tak kering..tidak kok..sungguh.


Tetap akan aku lanjutkan, tapi tidak sekarang, next part aja besok, sekalian nunggu kalian kasih vote, kan besok senen..


Ujung-Ujungnya ya... hihi.


Ya biasa lah, Author remahan, harus rajin-rajin mengemis dukungan..

__ADS_1


Sampai ketemu besok, Insha-Allah ya ..


__ADS_2