Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
Extra 7


__ADS_3

"Izara...!"


Langkah Sherin seketika terhenti, saat melihat box bayi tempat putrinya yang masih berumur 10 hari itu kedapatan kosong.


"Izara.." gumam Sherin seraya menoleh kanan kiri. Bayi mungil cantik yang menjadi sumber senyumnya belakangan ini, tersebut tak dilihatnya di tempat manapun dalam kabar ini.


"Izara..!" Shering langsung panik dan mengeluarkan teriakan histeris.


"Sherin jangan teriak!" terdengar suara dari arah balkon kamar yang terbuka.


"Aura? itu kamu?" tanya Sherin yang merasa sangat kenal suara itu.


"Sini! gak usah teriak!"


Benar, itu memang suara Aura dari arah balkon. Istri Alarik itu gegas menghampiri dan matanya hampir membulat melihat wanita berperut buncit itu sedang memangku putri kecilnya yang sedang tidur nyenyak.


"Kamu mau nyulik anakku?" tuduh Sherin pada Aura.


"Iya. Aku ingin minta tebusan 1 M sama papanya Zara, bagus 'kan ideku?"


"Gak." Sherin menggeleng tegas. " 1 M itu terlalu sedikit," ucapnya.


"Berapa enaknya?"


"Yang sekiranya cukup buat beli pulau. Nanti di pulau itu, aku ikat kamu sendirian, dan aku tinggalin," tekad Sherin sambil menatap Aura tajam. "Kamu itu udah bikin aku jantungan, Arra istrinya Aresh. kalau mau bawa Zara bilang dulu, kenapa?" damprat Sherin kemudian.


Aura ketawa lepas mendengarnya, tapi tawanya segera di rem, karena Izara memperdengarkan suara yang menandakan kalau tidurnya terganggu, mendengar keributan dua orang dewasa itu.


"Aku masuk kamar ini juga sambil mengendap-endap," ungkap Aura dengan sedikit mengecilkan volume suaranya.


"Jadi emang niat mau nyulik anakku?" todong Sherin. Aura menggeleng sambil ketawa renyah.


"Aku lari dari para perawat yang disuruh menjagaku," ujar Aura.


Sherin segera terkekeh mendengarnya. Sejak Aresh ke London dua hari yang lalu, Mansion Pramudya memang seolah berubah jadi klinik dadakan, di mana banyak pekerja medist yang keluar masuk hunian bak istana itu dalam setiap 4 jam, selama 24 jam.


Tentu saja, itu akibat ulah William yang memang mendapat tanda tangan persetujuan dari Damaresh, sang pemegang kekuasaan. Aura tak bisa membantah, atas sabda sang maha raja yang telah memberi titah.


Wal-hasil, istri Aresh itu berada dalam pengawasan dari segala hal, dimulai dari pola makan, pola tidur, frekuensi gerakan dan lain sebagainya. Yang kesemuanya membuat Aura jengah. Kini ia hanya bisa berharap, agar waktu melahirkan itu segera tiba. Agar protokol kesehatan yang mengikatnya, berakhir dengan segera.


"Nyesel 'kan sekarang? nyuruh Aresh ke London?" ledek Sherin sambil terus terkekeh.


Aura menggeleng tak yakin.


"Kalau ingin lepas dari semua ini, gampang, Aura. Kau telepon saja, Aresh. suruh dia kembali," usul Sherin.

__ADS_1


"Gak deh. Biar dia menyelesaikan pekerjaannya dulu," putus Aura.


"Ya udah, nikmati aja semuanya dengan santai, senyum!" Sherin menoel pipi Aura yang sedikit manyun.


"Capek, tau," gerutu Aura.


"Atau kamu susul Aresh ke London!"


"Kalau aku nanti melahirkan di sana, gimana?"


"Ya itu kemungkinannya."


Aura menggeleng. "Gak mau. Aku mau melahirkan ditangani dokter spesialis perempuan. kalau di sana, gak tau, dokter yang bakal menangani kayak gimana."


"Ya udah lah! jalani aja semua ini. berat di awal, tapi lama-lama akan terbiasa."


"Memang berat, Sherin. Tapi lebih berat lagi rinduku pada Aresh." Aura menatap menerawang. "Kalau malam, aku gak segera bisa lelap, kalau gak dipeluk dia," imbuhnya.


"Kasiannn," ledek Sherin yang ditanggapi Aura dengan tawa renyah. Sayangnya obrolan ringan itu harus terhenti ketika ada panggilan dari Claudya dari arah pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Sherin!"


"Ya, Kak Clau," jawab Sherin yang segera menyambut kakak iparnya itu.


"Iya, Kak. Masuk aja!"


Claudya segera masuk kamar Izara itu sambil tersenyum pada Sherin.


"Aura ada di sini?" tanyanya.


Sebelum Sherin menjawab, Aura sudah menjawabnya lebih dulu. "Ya, Momm."


Wanita yang sedang hamil besar itu segera menghampiri sambil menggendong Izara.


"Itu, kamu dicariin, mbak. katanya mau tensi," tutur Claudya.


"Tadi pagi sudah ditensi kok, Mom," jawab Aura.


"Ya sekarang tensi lagi. kan memang tiap 4 jam sekali. Sebelum team dokter ganti shift." Claudya segera menghampiri menantunya itu. "Sini, aku yang mau gendong Zara," pintanya.


Aura segera menyerahkan putri Sherin dan Alarik itu pada mertuanya.


"Barusan juga Aresh telp, katanya dia udah telp kamu sampai 3 kali, gak diangkat," kata Claudya sambil sedikit menggerakkan tubuhnya untuk memberikan sesnsasi nyaman pada baby Zara yang menunjukkan gerakan seperti ingin bangun.


"Wah iya, ponselku ada di kamar." Aura gegas keluar dengan sedikit terburu.

__ADS_1


"Hati-hati, sayang!" Claudya memeringatinya dengan suara cukup keras. Hal itu membuat Izara kembali bergerak, Tapi Claudya segera menina bobokkan lagi dengan belaian lembut.


Apa kabarnya Aresh yang ada di London ya? Semua pasti ingat betapa lihainya Damaresh William dalam urusan bisnis. Bagaimana kalau kita intip perjalanannya di Negara ratu Elizabeth itu sejenak? Kita lihat langkah apa lagi yang dilakukan Damaresh untuk memertahankan BLC Corp, yang mana hal itu atas mandat dari Aura Aneshka, istri tercinta.


Meski sudah dua hari berada di London dalam misi menyelamatkan BLC, tapi bos besar Pramudya Corp itu, belum melakukan kunjungan ke kantor BLC. Ia masih sibuk memeriksa beberapa database perusahaan di Kantor Pramudya saja.


Baru hari ini lah ia berkunjung ke kantor BLC. Kedatangannya yang tanpa pemberitahuan itu cukup mengejutkan, sehingga ada beberapa petinggi perusahaan yang kalang kabut bak cacing kepanasan. Apalagi kunjungan Damaresh bersamaan dengan hampir waktu jam makan siang. Di mana semua pegawai baik yang tingkat executive sampai ke bawah, dalam kondisi merenggangkan dasi bersantai menjelang makan siang.


"Saya tak akan mengganggu waktu jam makan siang, kalian," ucapnya penuh wibawa di hadapan Dewan Direksi dan Kepala semua Difisi yang saat ini mengahadapi Damaresh dengan ragam Ekspresi.


Putra Airlangga itu sesaat melihat jam tangannya, dan masih melihat putaran jarum jam itu dengan seksama. Caranya ini justru makin mendatangkan tanda tanya. Karena semua sudah dapat menyangka, jika kedatangannya ke sana adalah untuk meminta laporan kinerja. Bisa saja, sang bos besar itu hanya memberi waktu sesempit mungkin untuk semua anak buahnya itu memberikan laporan yang rumit dan panjang.


Menyiksa anak buah, itu adalah bagian dari kemampuan seorang atasan. benar??


"Saya akan melimpahkan building contruction di Fleet Street, pada BLC."


Damaresh menghentikan kalimatnya dan mengedarkan pandangan pada semuanya, yang rata-rata memperlihatkan ekspresi yang sama. Tegang.


"Kami bekerjasama dengan perusahaan pengembang terbesar di Negara ini. Besok, kedua belah pihak harus bertemu untuk membahas program kerja pertama. Silakan kalian meeting dulu untuk menunjuk siapa yang akan jadi perwakilan dalam pertemuan besok."


"Be-Besok, Mr?" Salah seorang bertanya mewakili yang lain.


"Iya? apa waktunya terlalu sempit?" Damaresh menatap mereka dengan sedikit memicingkan mata.


"Ti-Tidak." mereka menjawab serempak. Bersama dengan suara hati mereka yang juga serempak. Tentu saja, waktunya sangat sempit.


"Apa masih perlu arahan dari saya?" tanya Damaresh yang sebenarnya itu bukan penawaran, tapi ancaman. Jika mereka bilang iya, sindiran bernada haluslah yang akan mereka dengar.


"Ti-Tidak perlu, Mr."


"Baik, saya percaya, kalian mampu. Dan besok, sebelum pertemuan dengan pihak pengembang, saya butuh laporan program kerjanya segera."


"Baik, Mr." semua kompak memberikan jawaban.


"Waktu makan siang tinggal 3 menit lagi. silakan!" Damaresh menyilakan dengan tangan. Dan lelaki gagah menawan dengan tampilan busana kerjanya itu segera meninggalkan ruangan. diikuti beberapa Asisten dan pengawal.


****%


****%%%


Masih belum jelas ya, apa mau nya Damaresh dibalik keputusannya itu. pastinya itu sebentuk strategi. tapi strategi apa? nex extra part aja ya..


ini pasti akan cukup panjang. Tak akan selesai dalam satu atau dua part aja. padahal rencananya Extra part no konflik. tapi aku kangen Aresh yang cerdas dalam bisnis dan melibas lawan dengan sekali tebasan.


apakah kalian sama denganku?

__ADS_1


__ADS_2