
"Kakek!" Edgard berseru panik melihat William yang ambruk. Meski sebelumnya keduanya sempat terlibat perdebatan kecil
Tapi Edgard tentu tak bisa tinggal diam melihat kakeknya itu tumbang di depan matanya.
Kepanikan pun terjadi di sana, segala pemikiran buruk mulai terlintas pada tiap-tiap kepala, akan hal buruk yang mungkin saja akan menimpa pada William.
Namun ternyata tak sedemikian adanya.
Satu jam kemudian, semuanyapun mulai bisa bernapas lega, karena William yang sudah kembali menemukan kesadarannya tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Hanya dengan mendatangkan dokter pribadinya yang memang sudah ahli dalam menangani kondisi kesehatan pemilik Pramudya Corp itu.
"Beristirahatlah, Tuan!"
Damian mengingatkan lagi untuk yang kesekian kali, agar tuannya itu segera beristirahat saja.
"Pramudya dalam kehancuran, Damian.
Bagaimana bisa aku beristirahat dengan tenang,"
tolak William dengan tatapan tajam.
" pasti ada jalan keluarnya, Tuan."
"Dan jalan itu tak akan ditemukan dengan aku hanya berdiam."
"Tapi Anda sedang sakit, jangan memaksakan diri untuk terlalu banyak berfikir. Bila Tuan sudah sehat, semuanya pasti bisa di atasi."
William bergeming, sekian persen ucapan Damian adalah benar. Dirinya memang berada dalam kondisi lemah saat ini, lemah secara pisik, pun juga secara psikis.
Seberapapun kuatnya dirinya berpikir dan mengatur strategi, tetap tak ditemukan cara untuk menghindar dari jerat kesepakatan dengan Alpha DMC. Dan setelah tiba pada titik ini, kekesalannya kian membuncah pada Edgard William yang dianggapnya sudah semena-semena mengambil keputusan tanpa pertimbangan.
"Siapa sebenarnya pemilik Alpha DMC?"
tanya William setelah sekian lama melewati keterdiaman.
"Dimitri Liem, seorang pria keturunan tiongkok yang tinggal di Amerika. Alpha DMC, awalnya berpusat di New York, tapi tidak tau kenapa, mereka lalu menjadikan Dubai sebagai pusat dari perusahaan itu,"
tutur Damian berdasarkan informasi yang ia kumpulkan tentang Alpha DMC.
"Dimitri Liem, nama itu, aku seperti pernah mendengarnya," lirih William sambil menerawangkan pandangan, berusaha untuk mengingat sesuatu.
"Mungkin Tuan pernah memdengarnya di London, karena menurut berita, BLC Corp London pernah menjadi rekanan bisnis Alpha DMC selama beberapa tahun. Dan ketika Tuan Damaresh mengakuisisi BlC Corp beberapa waktu lalu, BLC sedang memiliki leabilities sebanyak 20% saham pada Alpha DMC.
Entah bagaimana caranya tuan Damaresh menyingkirkan niat Alpha DMC yang juga menginginkan BLC Corp waktu itu."
Damian mengakhiri keterangannya dengan harapan kalau William akan memahami maksud terpendam dari semua ceritanya itu.
"Jadi menurutmu, hanya Aresh yang mampu mengimbangi kejeniusan bisnis dari pemilik Alpha DMC?"
tanya William sembari menatap orang kepercayaannya itu dengan seksama.
Damian tersembunyi menghela napas lega, karena ternyata, William dapat menangkap umpan pancingannya dengan cepat.
__ADS_1
"Iya, Tuan"
"Kau tau, aku tidak akan pernah meminta bantuan anak itu?" retoris William dengan tatapan tajam.
"Saya tau, tapi tolong, Tuan pikirkan! Demi menyelamatkan Pramudya Corp, Tuan."
"Damian, apa kau tidak tau? Kalau Aresh yang telah membuat keadaan seperti sekarang. Kalau saja ia tidak menyerahkan kepemimpinan pada Edgard yang memang tak cukup punya kemampuan itu, Pramudya Corp tidak akan jatuh seperti sekarang."
"Kalau Tuan beranggapan begitu, bukankah tepat jika Tuan meminta pada tuan Damaresh untuk menguraikan benang kusut yang telah ia tinggalkan?"
William terdiam, sepertinya lelaki tua itu mulai termakan dengan ucapan Damian.
Hal itu membuat Damian kian berani menyuarakan pendapatnya.
"Jika memang tuan Damaresh dianggap paling bertanggung jawab atas semua kejadian ini, apa yang menghalangi, Tuan William untuk meminta bantuannya?"
" kau tau, dimana anak itu sekarang?"
tanya William yang sepertinya mulai melihat sisi kebenaran dibalik ucapan Damian.
"Tuan Damaresh sedang berada di LN, mungkin untuk mengunjungi tuan Airlangga."
"Bawa istrinya kemari!" Perintah William.
"Istrinya tuan Damaresh?" Tanya William dengan heran.
"Ya, biar istrinya yang memintanya datang kemari. Karena anak itu hanya akan mendengarkan istrinya saja, bukan yang lainnya," tukas Willam.
"Tapi ingat, Damian, bawa istrinya Aresh dengan cara baik-baik, jangan sampai ia merasa kalau kita sedang menculiknya,"
Ucap William mengingatkan.
"Tapi bagaimana jika nona Aura tidak bersedia, Tuan?"
"Apa gunanya kau bekerja selama bertahun-tahun kepadaku, jika untuk mengatasi hal kecil ini saja, kau masih meminta pendapatku?" tukas William yang seketika membuat Damian bungkam, lalu bergegas untuk segera menunaikan perintah William, sebelum sang raja hutan berubah pikiran.
*******
********
"Aresh, aku sekarang ada di Jakarta," ucap Aura langsung begitu Damaresh mengangkat telephonnya.
"Di Jakarta?" terdengar Damaresh bertanya heran.
"Iya, aku ada di mansion Pramudya."
"hal apa yang membuatmu ada di sana?"
pertanyaan Damaresh terdengar datar.
"karena sebuah alasan, Aresh,"
__ADS_1
"Alasan apa yang membenarkan seorang istri pergi tanpa persetujuan dari suaminya?"
"Kalau begitu, jemput aku kesini, Aresh. Selambat-lambatnya besok pagi, kau sudah harus ada disini!" tegas Aura dengan mengabaikan kekawatiran hatinya karena suara Damaresh yang terdengar tajam ketika bertanya.
"Siapa yang mengajarimu untuk bermain-main seperti ini denganku, Arra?"
"Jemput saja aku, Sayang! aku mohon."
Aura mengeluarkan jurus andalannya, memanja dan merajuk. Tak ada tanggapan apa-apa dari Damaresh di seberang sana, hingga Aura memanggilnya pelan.
"Aresh,"
"Ya, aku akan datang. Pastikan kau masih baik-baik saja, saat aku tiba di sana," ucap Damaresh yang membuat Aura menghela napasnya lega.
"Berikan ponselnya pada orang yang telah menyuruhmu, Arra!" titah Damaresh yang membuat Aura berjengkit kaget, karena Damaresh yang seolah tau kalau saat ini Aura tidak sedang sendirian, tapi bersama William dan juga Damian.
Aura segera memberikan ponsel genggam itu pada William yang segera menerimanya dan meletakkan benda pipih itu di samping kepalanya.
"Selalu saja, menjadikan istriku sebagai ancaman," ucap Damaresh yang seperti tau betul kalau ponselnya sudah berpindah pada William.
"Karena hanya itu cara yang paling tepat sekarang,"
sahut William dengan menyunggingkan senyum kemenangan.
"Apa yang kau inginkan?"
"Besok, aku akan memberitahukannya padamu secara langsung, Aresh. Dan ini adalah pekerjaan yang menyenangkan buatmu, Aresh," kata William dengan sepenuh keyakinan.
"Yang aku pedulikan hanya keselamatan istriku, lainnya itu bukan hal yang cukup penting bagiku,"
tegas Damaresh dari seberang.
"Aku tau. kalau bukan karena aku tau hal itu, aku tak akan menyuruh istrimu untuk memintamu datang.
Aku akan kirimkan jet pribadi untuk menjemputmu
ke New Zealand," ujar William.
"Tidak perlu. kau pastikan saja kalau istriku baik-baik saja saat aku tiba di sana."
"Baiklah." William menghela napasnya pelan.
"kau tenang saja, nyamuk pun tak akan ku biarkan untuk menyentuh istri kesayanganmu, Aresh,"
ucap William dengan sedikit penekanan di ujung kalimat.
"Sebaiknya begitu," ucap Damaresh dan segera memutus sambungan secara sepihak.
"Damian, bawa Nona Aura untuk segera beristirahat! pastikan keamanan dan kenyamanannya selama di sini terjaga!"
titah William segera yang disambut dengan sangat patuh oleh sang ajudan.
__ADS_1