
"Aku hanya ingin menegaskan, jangan pernah ganggu keluarga istriku, sampai kapanpun!"
Marah, kesal, dan kecewa, campur aduk dalam diri Claudya, atas ucapan Damaresh yang sangat menekankan betapa pentingnya Aura dalam hidupnya begitu juga keluarganya.
Mau dibandingkan dengan posisi Claudya dalam diri Damaresh? jelas bukan tandingannya sama sekali.
Hal ini sangat menyulut emosi dalam diri Claudya.
Wanita itu bangkit, tertawa miris, tawa yang dibuat-buat di atas rasa hatinya yang tercabik.
Entah dia sedang menertawakan peringatan tegas dari Damaresh atau sedang menertawakan dirinya yang kini nyata tak berarti di hadapan putranya sendiri.
Claudya memalingkan wajah full make-upnya pada sang putra yang berdiam dengan raut datar.
"Kau tau, aku tak suka diperintah oleh siapapun, dan aku tidak akan patuh pada siapapun. Aku hanya ingin melakukan apa yang ingin ku lakukan, camkan itu!"
ucapnya penuh intimidasi.
Damaresh mengangguk, "Ya, aku tau ini memang dirimu." Lelaki itu juga bangkit dari duduknya dan berdiri sejajar dengan ibunya.
"Aku hanya memperingatimu saja, agar kau tak kaget, atas tindakanku selanjutnya." Damaresh meraih ponsel dalam sakunya mengetikkan sesuatu dan meletakkannya kembali, sepersekian detik dari itu terdengar notifikasi pesan dari ponsel Claudya yang berada dalam tas jinjingnya.
Saat Claudya memeriksa ponselnya, Damaresh melangkah melewati ibunya itu menuju lukisan besar ayahnya yang terpajang di dinding kamar.
Seksama ia sapu lukisan itu seakan tengah mencari celah rahasia yang terdalam.
"Apa ini Aresh?" pertanyaan Claudya lebih seperti bentakan. Damaresh memutar kepalanya menatap wajah Claudya yang memerah, tatapannya berkilat penuh amarah. Hanya sesaat, dan tanpa kata terucap, ia kembali melanjutkan atensinya menelisik lukisan itu dengan lekat.
"Aresh, jelaskan padaku!" Claudya kembali meneriaki putranya dengan gusar, meminta perhatian lebih.
"Kau lihat saja, tidak usah teriak!"jawaban tak sesuai dilemparkan Damaresh, ucapannya mengalir santai dan datar, tanpa mengalihkan pandang dari lukisan,
bahkan tangannya kini terlihat meraba lukisan tersebut di beberapa bagian.
Tubuh Claudya menggerosoh lemah setelah melihat video berdurasi 1 menit 9 detik yang dikirimkan oleh Damaresh kepadanya itu. Wanita itu bersandar di ranjangnya sebelum terhempas duduk dengan kepala menunduk dan nafas memburu.
Damaresh melirik dengan ujung matanya.
"Kalau rekaman itu aku unggah di sosial media, atau ku kirimkan pada para pemburu berita, apa yang terjadi ya?" pertanyaan yang ditujukan pada dirinya sendiri
sekaligus ancaman pada ibunya.
"Kau mengancamku?" tanya Caludya dengan suara bergetar.
"Karna kau tak mau menurutiku," sahut Damaresh tetap denga mode santai.
"Kau ingin mengirim ibumu ini masuk penjara?"
"Jika dengan itu membuatmu tau batasan, tak masalah bukan?" Jawaban berupa pertanyaan adalah sisi Damaresh selama ini, jawaban bernada pertanyaan itu juga adalah hal pasti yang akan ia lakukan tanpa bisa ditawar lagi.
Claudya menelan salivanya cepat dan memutar otaknya dengan keras untuk mmebujuk putranya itu agar tak melakukan ancamannya tersebut, tanpa perlu mengaku salah.
Ahh dasar Claudya angkuh!
Padahal dalam rekaman itu sudah jelas bukti-bukti kejahatannya sepuluh tahun silam, dimana dia menjadi otak pembunuhan Saraswati, wanita terduga selingkuhan Airlangga. Tapi Claudya malah menolak merasa salah, apalagi mengakuinya.
__ADS_1
Kita lihat saja bujukan maut apa yang akan ia keluarkan
pada Damaresh.
"Aresh, kau tak akan bertindak teledor kan? Jika ini sampai terungkap reputasi keluarga kita akan hancur,
begitu juga nama baikmu dan Pramudya Corp, kau tentu tak ingin kerajaan bisnis kita hancur kan?"
Claudya berkata lembut, bernada membujuk.
"Malah bagus. Kalian sudah sering bertindak tidak manusiawi karna memiliki uang dan kekuasaan, jika kalian bangkrut, kalian pasti akan bisa menjadi lebih manusiawi," jawab Damaresh sinis.
Claudya terhenyak dengan jawaban putranya tersebut. Tak hanya itu, Damaresh melanjutkan ucapannya tanpa menatap ibunya.
"Aku sudah bertemu dengan keluarga besar Saraswati, mereka sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk membuka kasus ini lagi. Aku sudah melakukan banyak hal untuk membendung langkah mereka, untuk melindungi wanita yang telah melahirkanku, yang aku tidak tau masih pantas disebut sebagai ibuku atau tidak. Tapi sekarang, aku berubah pikiran--"
"Jangan Aresh!"
Akhirnya Claudya memohon juga setelah melihat kalau Damaresh tak akan mengubah keputusannya.
"Jangan lakukan itu, Mommy mohon!"
lanjutnya lagi dengan tatapan penuh harap sambil meraih lengan putranya.
"Itu tergantung padamu," kata Damaresh dingin.
"Aku tidak melakukan apa-apa pada ayah Aura, aku hanya memberitaukan kalau aku tak akan pernah merestui pernikahan kalian, agar dia mmeperingati Aura untuk meninggalkanmu, itu saja. Aku tidak punya rencana apa-apa lagi terhadapnya."
Claudya menjelaskan dengan napas memburu.
Apakah dia jujur dengan keterangannya?
Damaresh terlihat tak menggubris ucapannya, ia malah menekan salah satu tombol tersembunyi yang ada pada lukisan yang telah diperhatikannya dengan seksama dari tadi. Begitu tombol itu ditekan lukisan itu bergeser dengan sendirinya, dan kini terpampanglah sebuah lemari besi dibalik lukisan besar itu.
Claudya menutup mulutnya melihat apa yang telah dilakukan oleh putranya itu.
"A-Aresh dari siapa kau tau, tentang brangkas ini?"
tanya Claudya gugup dan melihat Damaresh sepenuh tatap.
"Aku sudah bilang, kalau aku tau apa alasanmu masih menyimpan lukisan ini, bukan karna ayahku, tapi karna
brangkas dibalik lukisan ini," tukas Damaresh menatap ibunya datar.
"Bu-Bukan sepenuhnya begitu, Aresh," jawab Claudya lebih gugup lagi, sesaat ia menelan salivanya merasa tak tau harus bicara pada Damaresh dengan cara bagaimana. Ia baru tersadar kalau putranya itu punya pribadi yang begitu kuat dan tak mudah dikuasai.
Ehh kemana saja Claudya selama ini?
"Jawab Mommy, Aresh! kau tau brangkas ini dari siapa?
hanya aku dan ayahmu yang tau, Aresh. Bahkan kakekmu juga tidak tau," kata Claudya panik.
Mengabaikan pertanyaan ibunya, Damaresh justru bertanya hal lain. "Berapa kodenya?"
"Tanggal lahirmu, Aresh," jawab Claudya tanpa babibu lagi.
__ADS_1
Dan benar, setelah menekan beberapa angka yang merupakan tanggal kelahirannya, pintu besi itu terbuka. Harta tak ternilai terdapat di sana, dari mulai emas batangan, beberapa logam mulia hingga surat-surat penting tentunya.
Namun tatapan Damaresh melewatkan semuanya ia
hanya meraih kotak kecil berukuran 20 kali 15 cm yang sangat berat karna juga terbuat dari besi dengan menggunakan kode akses sebagai cara membukanya.
"Kalau itu, mommy juga tidak bisa membukanya Aresh,
hanya ayahmu yang bisa," tutur Claudya dengan wajah lesu. Ia bahkan sudah membawa brangkas kecil itu ke tempat pembuatnya di luar negeri untuk bisa membukanya, namun semua sia-sia saja.
Damaresh melihat brangkas kecil itu seksama lalu meraih ponselnya dan melakukan panggilan video dengan seseorang di seberang sana.
"Hallo Dad,"
"Hallo, Aresh" suara di seberang sana yang membuat tubuh Claudya menegang setelah mendengarnya.
"Elang? itu suara elang?" Claudya merangsak mendekat.
"Daddy, ini aku sudah mendapatkan brangkasnya." Damaresh mengarahkan kamera ponselnya pada brangkas kecil tersebut membuat wajah pria di layar ponsel Damaresh tersebut terlihat dengan jelas oleh Claudya.
"Elang!" pekik Claudya tertahan. Ponsel di tangannya terjatuh, tubuhnya mundur dua langkah sambil menutup mulutnya tak percaya, sekujur tubuhnya langsung bergetar seketika.
"Buka saja brangkas itu Aresh! dan ambillah benda yang daddy maksud" terdengar suara Airlangga lagi dengan sangat jelas di telinga Claudya.
"Iya Dad, berapa kodenya?"
Gegas Claudya merampas ponsel Damaresh dan menghadapkan wajahnya ke layar ponsel yang menampilkan wajah tampan sebelas duabelas dengan Damaresh, hanya bedanya raut wajah di layar ponsel itu jauh lebih berumur di atas Damaresh.
"Elang? elang kau masih hidup?" tanya Claudya memburu. Tapi Damaresh segera merampas kembali ponselnya dan lanjut menanyakan kode akses yang di maksud, ternyata kodenya adalah nama panggilan Aresh tapi di-eja dari belakang.
Brangkas kecil itu terbuka dan Damaresh mengambil sebuah kotak perhiasan terbuat dari beludru bertahtakan intan. Claudya membelalakkan matanya melihat hal itu.
Kejutan apa saja ini?
Elang yang ternyata masih hidup. Dan kotak perhiasan yang berisi pink diamond yang kisaran harganya mencapai USD 1,19 juta atau setara dengan 17 miliar perkarat yang ditengarai telah diberikan Elang pada Saraswati hingga memantik kemarahan luar biasa dari Claudya sampai merancang strategi menghabisi Saraswati, bukan karna nilai harga dari permata pink itu tapi sejarah dari batu itu sendiri yang dipersembahkan Elang pada malam pertama mereka,
Ternyata pink diamond itu tetap berada dengan aman di tempatnya. Airlangga tak memberikannya pada siapa-siapa.
Claudya menjerit tertahan, tubuhnya menggerosoh di lantai, airmata langsung menganak sungai diwajahnya yang telah menjadi sepucat kertas.
Ia tak perduli lagi dengan Damaresh yang telah mengambil kotak perhiasan itu dan menyimpannya, lalu mengembalikan semua brangkas ke tempatnya semula berikut dengan lukisannya.
Damaresh beringsut hendak keluar dari kamar, mengabaikan tangisan Claudya yang tak terbendungkan.
"Aresh!" panghil Claudya tertahan.
Damaresh hentikan langkah, memutar kepala menatap ibunya.
"Dimana Elang? ada dimana dia?" tanya Claudya dengan isakan. Tak ada kebohongan dalam airmatanya, terbukti dari raut wajah pedih dan tatapannya yang terluka. Tapi Damaresh bergeming, tak mudah baginya untuk mempercayai kalau ibunya masih punya ketulusan.
"Kasih tau Mommy nak! Mommy ingin bertemu dengan ayahmu," Kali ini Claudya memohon, benar-benar memohon dengan air mata bercucuran.
Damaresh menggeleng kecil.
"Kau tak cukup pantas untuk bertemu dengan daddy,"
__ADS_1
ucapnya tandas dan teruskan langkahnya untuk pergi
mengabaikan tangisan Claudya yang seakan tak mau berhenti.