Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
45. Tentang Keluarga Willyam. Bagian 1


__ADS_3

Sudah berapa kali, Clara mencuri pandang pada lelaki di depannya itu yang setiap kali dipandang perhatian lelaki tersebut tetap tak berubah dari posisi semula walaupun hanya untuk ukuran beberapa inchi saja.


Clara berdecak dalam hati,


Apa ia merasa hanya sedang duduk sendiri? Apa wanita sepertiku bukan sesuatu yang dianggap layak untuk mendapatkan pandangannya? bahkan aku sudah berada di hadapannya sejak lebih satu jam lamanya,


tapi tatapannya bahkan tak pernah teralih padaku walau hanya untuk lima detik saja.


Clara menggerutu dalam hati, sebelum kembali mencuri-curi pandang lagi.


"Langsung katakan saja, jika kau ada perlu pada pak Damaresh," kata Kaivan tiba-tiba.


Yang sontak membuat Clara menatap lelaki tampan di sampingnya itu dan bersiap memberikan sanggahannya.


"Dari pada kau hanya curi-curi pandang saja dari tadi,"


lanjut Kaivan mendahului apa yang akan diucapkan Clara, membuat wanita itu segera mengatupkan mulutnya rapat.


Ampun mas Kai, jujur banget sih, kalaupun kau lihat aku curi-curi pandang pada pak Damaresh setidaknya jangan katakan itu di depannya.


Clara hanya bisa mengumpat dalam hati sambil melemparkan tatapan membunuh pada Kaivan.


"Ada yang ingin kau sampaikan padaku, Clara?"


Dan, Damaresh pun bertanya juga.


"Eh, itu Pak, mau tanya, mbak Aura kemana ya?


Sudah tiga hari dia tidak masuk kerja, apa dia sakit?"


tanya Clara, untunglah dia segera menemukan bahan pertanyaan lain sehingga bisa mengelak dari aksi


curi-curi pandangnya yang ketahuan.


"Dia baik-baik saja," sahut Damaresh singkat.


"Apa Aura hamil, Resh?" tanya Kaivan yang membuat Clara jadi memperhatikan Damaresh dengan harap-harap cemas.


"Bisa jadi, kan? kalian suami istri yang menikah sudah cukup lama, cukup waktu lah untuk mencetak Damaresh junior," lanjut Kaivan yang di jawab Damaresh dengan tatapan tajam.


"Arra kembali bekerja di L&D," kata Damaresh.


"Tapi kenapa, Pak? kenapa mbak Aura kembali pada pekerjaannya yang dulu?" tanya Clara. Sedangkan Kaivan langsung diam, ia sudah dapat memahami situasinya.


"Salah satu alasannya agar dia terhindar dari ke-tidak sukaan-mu," sahut Damaresh. seriuskah dia dengan ucapannya, atau hanya bercanda saja?


yang jelas Clara langsung merasa tak nyaman karnanya.


"Ehhh, saya akui, saya memang suka sama Bapak, tapi saya juga berusaha mengerti dan menerima jika Pak Damaresh memilih bersama Aura. Cuman karna perasaan saya pada Bapak sudah sangat dalam, tidak mudah bagi saya untuk mengubur perasaan itu begitu saja. Saya masih butuh waktu, Pak."


ucap Clara yang diakhiri dengan menundukkan wajahnya.


"Ku harap kau segera bisa, Clara." tegas Damaresh yang membuat Clara semakin sadar kalau bos tampannya itu tak berkenan dengan perasaannya.


"Iya, Pak." Clara mengangguk pasti.


*****


"Apa masalahnya memang se-serius ini, sampai kau harus menjauhkan Aura darimu?"


tanya Kaivan pada Damaresh, kini mereka hanya berdua saja dalam ruang kerja CEO.


Kaivan sudah tau perihal orang suruhan Claudya yang membuntuti Aura beberapa hari terakhir.


"Bukan menjauhkannya dariku, Kai."


"Iya aku paham maksudmu, tapi harus seperti itu ya caranya?"


"Iya, setidaknya untuk saat ini." sahut Damaresh.


"Aura tau alasannya?"


"Tidak."


"Dia pasti mengira kau ingin menjauhinya, kan?"

__ADS_1


"Begitulah."


Damaresh menghembuskan napasnya pelan, teringat sikap Aura yang mulai menghindarinya sejak saat itu.


Sejak Aura kembali bekerja di L&D Foundation, Damaresh memang hampir tidak pernah bertemu


dengan Aura kendati mereka tetap tinggal serumah. Kesibukan pekerjaan Damaresh membuatnya pulang terlambat beberapa hari ini, saat ia tiba di rumah, Aura sudah tidur. Dan paginya ketika ia turun untuk sarapan, Aura juga sudah berangkat.


Baru tadi pagi mereka bisa bertemu, ketika Aura yang sudah berada dalam perjalanan harus kembali lagi ke rumah karna ada berkas yang tertinggal.


Melihat Damaresh sedang sarapan, Aura masih berpamit padanya dengan mencium tangan, masih sempat juga memberi senyum, tapi tak ada bahasa yang diucapkan.


"Aresh, seberapa buruk akibatnya, jika tante Claudya tau tentang Aura?" tanya Kaivan sejurus kemudian.


"Paling buruknya seperti apa yang terjadi pada Daddy,"


"Bukankah om Elang meninggal karna kecelakaan?"


"Tidak."


"Lalu?"


Damaresh bangkit dan melangkah ke arah jendela,


Melepaskan pandang keluar dan lepas pula untaian cerita dari mulutnya.


Flashback on


Airlangga Aybars Perkasa.


Airlangga Aybars Perkasa adalah putra dari Harun Aybars seorang lelaki yang berasal dari Turki dan menikah dengan wanita dari Jakrta. Harun Aybars adalah sahabat dekat Willyam Pramudya, Keduanya bersama merintis perusahaan Pramudya Corp dari nol.


Namun pada perjalanannya kemudian, keluarga besar Harun Aybars di Turki mengalami krisis keuangan parah yang membuat Harun menjual sahamnya di Pramudya Corp pada Willyam Pramudya. Harun sendiri meninggal karna kecelakaan pesawat dua tahun kemudian.


Harun Aybars adalah seorang pebisnis handal, kemampuannya ini menurun pada Airlangga Aybars Perkasa putra sulungnya. Wilyam lalu menjodohkan Airlangga dengan Claudya yang sepertinya memang sudah terpesona dengan ketampanan Airlangga yang luar biasa.


Diawal pernikahan mereka, pasangan ini terlihat bahagia dan saling mencintai, hingga lahirlah Damaresh Willyam seorang putra yang mewarisi ketampanan Airlangga, saat itulah mulai terlihat riak-riak kecil dalam rumah tangga mereka.


Diawali dengan sikap Claudya yang enggan memerankan sosok istri dan ibu yang selalu ada untuk anak dan suaminya yang mendapat protes keras dari Airlangga.


semakin membentangkan jarak yang panjang diantara keduanya, tak ada lagi keharmonisan dan kehangatan


rumah tangga yang mereka rasakan. Keduanya malah sama-sama tenggelam dalam kesibukan masing-masing yang justru semakin memperparah keadaan. Meski tampak terlihat baik-baik saja di depan semua orang, namun sebenarnya jiwa mereka kerontang, terutama Airlangga yang teramat kecewa dengan sikap Claudya yang sering tak memberikan perhatian pada putra kecil mereka. Gelimang hidup mewah dan serba ada tlah membuatnya lupa akan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu.


Airlangga sering berbagi laranya dengan sahabatnya semasa kuliah, Sarawati, seorang wanita berdarah jawa yang punya kepribadian lembut dan pengertian.


Saraswati sering menjadi pemupuk kesabaran dan semangatnya untuk terus bertahan dalam biduk rumah tangganya yang sudah porak poranda.


Claudya bukan tak tau kedekatan suaminya dengan Saraswati, tapi ia acuh tak acuh saja, karna ia yakin Airlangga tak akan kemana meski dirinya bukan sosok istri ideal untuk suaminya itu, karna dalam keluarga Willyam tak boleh ada sejarah perceraian seburuk apapun kondisinya.


Ketika kemudian Saraswati ditinggal oleh suaminya selama-lamanya dalam kondisi hamil tua, Airlangga mengambil peran sebagai ayah untuk putra Saraswati,


dan dari hal itulah benih-benih cinta itu tumbuh diantara keduanya, namun keduanya tetap mempertahankan hubungan hanya sebagai sahabat saja, karna Airlangga yang sudah punya keluarga yang lengkap.


Sampai akhirnya kedekatan keduanya mulai menggelisahkan Claudya, tapi cara yang dilakukannya untuk meraih perhatian suaminya kembali justru membuat hubungannya dengan Airlangga kian runcing. Claudya mengintimidasi Saraswati dan putranya yang masih berumur tiga tahun waktu itu,


hingga akibat ulah Claudya juga, putra Saraswati mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan nyawa, tapi dengan bijak Saraswati tak menyalahkan siapapun walaupun hatinya hancur, ia menganggap semuanya sudah takdir dari yang maha mengatur.


Kejadian itu semakin membuat Airlangga tenggelam dengan perasaannya pada Saraswati dan terkikis segenap rasanya pada Claudya. Berbagai cara dilakukan Claudya untuk merebut suaminya kembali, dan berbagai cara pula yang dilakukan Airlangga untuk melindungi Saraswati, hingga akhirnya Claudya mengutus orang untuk melenyapkan Saraswati dari muka bumi, dan dengan tanpa rasa bersalah ia memberitaukan semuanya pada Airlangga malam itu, dimana Damaresh menjadi saksi pertengkaran mereka.


Airlangga bergegas untuk menyelamatkan Saraswati,


tapi naas dalam perjalanannya ia mengalami kecelakaan hebat, dan tubuhnya yang bersimbah darah pertama kali ditemukan oleh Damaresh, putranya yang saat itu masih berusia tiga belas tahun. Damaresh sengaja menyusul ayahnya bersama Dirga sang pengasuh, karna curiga dengan ancaman Claudya pada Airlangga yang mengatakan "Kalau kau pergi, kau juga mati, Elang!"


Airlangga terbaring koma di rumah sakit, hanya Damaresh satu-satunya keluarga yang setia menemaninya, ikatan jiwanya memang sangat kuat dengan sang Daddy yang selama ini tampil sebagai pribadi yang sangat menyayanginya dari pada sang Mommy.


Damaresh yang cerdas, merasakan adanya kejanggalan dalam kecelakaan yang dialami Airlangga, apalagi pihak kepolisian memutuskan kalau itu murni kecelakaan tunggal dan langsung menutup kasusnya begitu saja.


Damaresh meminta orang kepercayaannya untuk menyelidiki kasus kecelakaan Airlangga tanpa sepengetahuan ibu dan kakeknya. Meski ia hanya seorang laki-laki remaja, tapi titahnya sudah diperhitungkan saat itu karna ia punya uang dan punya kuasa.


Terlewat dari perkiraan Willyam dan Claudya akan tindakan Damaresh yang melakukan penyelidikan, hingga ia menemukan fakta kalau kecelakaan ayahnya itu terjadi karna sabotase dari orang-orang suruhan ibunya sendiri.


Sebagai anak ia sangat murka dan menemui ibunya dengan kemarahan luar biasa.


"Daddymu sudah menkhianati Mommy, dia pantas untuk mendapatkan itu." ucap Claudya tanpa rasa bersalah atas kemarahan Damaresh waktu itu.

__ADS_1


"Daddy jatuh cinta pada Saraswati karna mommy yang sudah menjadi wanita tak layak untuk dicintai,"


sahut Damaresh dengan keras. kenapa ia bisa mengatakan itu, padahal ia masih tiga belas tahun waktu itu. Seminggu sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Airlangga sudah menceritakan semuanya pada Damaresh perihal rumah tangganya dan perasaannya pada Saraswati, meski Airlangga tau kalau putranya itu tak akan sepenuhnya mengerti, namun ia merasa kalau Damaresh harus tau kebenarannya.


"Justru itu kesalahannya, Aresh. Daddymu salah karna sudah jatuh cinta pada orang lain.


Begitupun kau Aresh, kelak kau dewasa jangan pernah jatuh cinta pada pada wanita yang bukan dari pilihan


keluarga!" Claudya malah balik mengancam Damaresh.


"Apa hak Mommy mengatur hidupku?"


"Tentu saja karna kau putraku!"


"Mulai sekarang, aku bukan putramu lagi! aku tak sudi menjadi anak dari wanita kejam sepertimu." putus Damaresh, bersamaan itu terasa hancur ikatan batin yang ada diantara dirinya dengan sang ibu.


Damaresh merasa tak lagi membutuhkan keberadaan Claudya dalam hidupnya.


Alan Willyam.


Dan tragedi jatuh cinta pada wanita lain yang berakhir tragis tak hanya dialami oleh Airlangga, tapi juga dialami oleh Alan Willyam dan Alarick Willyam.


Alan menikah dengan Christhine atas prakarsa Willyam Pramudya yang tentu saja ada tujuan bisnis di dalamnya. Setiap pernikahan yang terjadi dalam keluarga Willyam tak pernah lepas dari urusan bisnis sebagai salah satu tujuannya. Pernikahan yang diharapkan nantinya akan menghasilkan semakin meluasnya sayap bisnis Pramudya Corp.


Meski tlah dikaruniai dua putra dalam pernikahannya, Edgard dan Anthoni Willyam, Alan tak dapat menyembunyikan kerontang hatinya akan rasa cinta yang tak didapat bersama istrinya. Hingga ia bertemu dengan Aprilia, seorang yang memenuhi harinya dengan cinta. Wanita itu berprofesi sebagai dosen di salah satu Universitas yang dinaungi L&D Foundation.


Cinta itu adalah anugerah terindah dari tuhan.


Kebutuhan mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia, walaupun segelintir orang menyebutkan cinta bukan segalanya dalam hidup ini, tapi pada kenyataannya hidup ini tak lengkap tanpa adanya cinta. Demikian pasti yang dirasakan Alan Willyam yang sangat bersuka cita dengan hadirnya cinta Aprilia dalam hidupnya.


Sekian lama Alan menjalani hubungan diam-diam dengan Aprilia, hingga akhirnya hubungan itu terungkap oleh awak media. Berita perselingkuhan putra kedua Willyam Pramudya yang di gadang-gadang sebagai pewaris Pramudya Corp itupun mencuat dan menjadi berita utama baik di media cetak maupun media elektronik. Maklumlah saat itu, Willyam Pramudya dan Pramudya Corp menjadi pengusaha dan perusahaan terkenal serta nomer satu di negeri ini, yang setiap sepak terjangnya menjadi bahan pemberitaan yang diburu media berikut keluarganya.


Willyam sangat murka dengan hal itu semua, ia menggelontorkan milyaran rupiah untuk menutup berita tersebut dan membersihkan nama baik putranya. Alan dipaksa tampil romantis dan harmonis di depan kamera bersama Christhine, istrinya.


Dua minggu setelah kejadian, Aprilia hilang tanpa kabar berita, Alan bagai cacing kepanasan mencarinya,


hingga sebuah fakta mengejutkan di dapatinya, Aprilia ditemukan telah tak bernyawa di sebuah gudang tua di luar kota. Meski kematian wanita malang itu jelas teramat janggal, tapi tak adanya bukti dan saksi-saksi membuat pihak kepolisian menutup kasus kematiannya yang dilaporkan oleh Alan itu begitu saja.


Tapi Alan tau kalau ada tangan berkuasa yang telah menutupi jejak semuanya, dimana keluarganya sendiri yang punya andil di atas semuanya. Iapun tak berdaya untuk melawan kekuasaan sang ayah, tinggallah Alan sendiri dengan di kungkung rasa bersalah atas kematian Aprilia yang menggerogoti jiwanya.


Segala kesakitan itu ia tumpahkan lewat alkohol dan obat-obatan, hingga kemudian Alan ditemukan meninggal over dosis, tapi pihak keluarga merekayasa kematiannya seolah meninggal karena kecelakaan dengan alasan tak ingin menanggung aib dan malu.


Keluarga Willyam yang kaya raya dan terpandang itu selalu mengedepankan nama baik di depan publik, meski sebenarnya tak ada "kebaikan yang sebenarnya" di dalam sana.


Kalian tau kenapa? karna harta dan kekuasaan telah membuat mereka kehilangan rasa kemanusiaan.


Hati dan jiwa yang menjadi pembeda kita dengan mahluk ciptaan tuhan yang lain, dan yang juga menjadi paramater manusia disebut mahluk yang paling mulia diantara mahluk ciptaan yang lain, telah mati dan tak berfungsi karna kesilauan harta dan kekuasaan yang memang memabukkan. Dan faktanya, hanya segelintir orang saja yang tetap menjadi "manusia seutuhnya"


ketika dititipi harta dan kekuasaan, selebihnya tidak.


Dan potret keluarga besar Willyam adalah salah satu contohnya.


 


 


 


Next part, tentang keluarga Willyam bagian dua.


Terlalu panjang kalau di kupas dalan satu eps di sini.


Takutnya yang baca jadi bosan kalau terlalu panjang.


Trimz untuk semua dukungannya teman-teman.


terima kasih untuk yang sudah kasih jempol, dan koment.


Terima kasih untuk yang sdah kasih vote, yang kasih gift, sungguh aku gak bohong..dukungan kalian semua itu yang jadi penyemangatku. sampai rela duduk berjam-jam untuk ngetik, terkadang pekerjaanku yang lain jadi terbengkalai karna sibuk ngejar target harus up tiap hari, agar pembaca tak lari dan tak lupa jalan ceritanya kalau terlalu lama tidak up.


Walhasil aku kena komplain dari rekanku karna target kerja yang belum tercapai, aku hanya bilang maaf saja.


sekedar curhat saja ya..


Mau bagaimana lagi, nulis adalah hobbiku, dan ketika karyaku di baca dan di apresiasi, semangat nulisku jadi naik ke ubun-ubun, yaa meski tulisanku masih belepotan dan jauh dari kata sempurna. Tapi aku akan terus belajar. Terima kasih untuk yang sudah kasih saran, kasih ilmu untuk tulisanku lebih baik. Di akhir curahanku, aku cinta kalian..

__ADS_1


Semoga kita selalu diberi


__ADS_2