
"Aura, ada telfhon untukmu!" Clara mengacungkan gagang telfhon yang dipegangnya. Membuat Aura menyisihkan dulu berkas-berkas yang dibawanya untuk menerima telfhon tersebut.
"Aura, Mr Antoni minta nomermu, apa akan ku berikan?" tanya Clara sesaat setelah Aura menerima telfhonnya.
"Sebaiknya jangan, mbak!"
"Ok. Tapi biasanya Antoni Willyam itu akan sangat gigih untuk mendapatkan apa yang dia mau," tutur Clara.
"Mbak Clara sepertinya sudah cukup mengenal pak Antoni ya?" tanya Aura.
"Yah, seperti yang kau dengar sendiri darinya, kalau aku ini mantan pacar sepuluh hari dia," sahut Clara.
"Jadi itu benar?" Aura terlonjak.
Clara mengangguk. "Aku juga pernah berkencan dengan Edgard Willyam, ada dua atau tiga kali," ujarnya lagi.
"Wahh!" seru Aura disertai tawa.
"Hanya satu dari klan Willyam yang belum pernah mengajakku kencan," imbuh Clara.
"Siapa, Mbak?"
"Siapa lagi, kalau bukan Big Bos kita,"
"Oo" Aura mengangguk-anggukkan kepalanya "Jadi Mbak Clara mau nih, kalau diajak kencan pak Damaresh?"
"Waah itu moment yang paling aku tunggu, Ra," seloroh Clara. "Boleh jika kau ingin membujuk pak Damaresh untuk itu, aku tak hanya akan berterima kasih padamu, Ra. Tapi aku juga akan memberimu bonus," imbuhnya lagi.
"Sayangnya saya gak pinter membujuk, Mbak." tolak Aura. Ya kali dia mau membujuk suaminya buat kencan dengan wanita lain, dirinya sendiri saja belum pernah di ajak makan malam romantis kayak di novel-novel gitu sama Damaresh.
Clara hanya mengedikkan bahu lalu kembali perhatiannya teralih pada pekerjaan yang ditekuninya dari tadi. Melihat itu Aura segera berlalu.
"Mau kemana, Ra?" tanya Clara begitu dilihatnya Aura semakin menjauh.
"Barusan resepsionist telfhon ngasih tau saya, kalau ada tamu untuk saya. Saya akan menemuinya dulu!"
"Oh ok,"
Aura harus turun ke lantai duapuluh untuk menemui tamunya yang ditempatkan di small guest room.
Di dalam gedung kantor Pramudya terdapat empat big meeting room , lima small meeting room dan tuju small guest room. untuk tamu-tamu pribadi atau tamu dalam jumblah kecil, resepsionist selalu menempatkannya di
small guest room yang terdapat di lantai dua-puluh.
Aura membuka pintu kamar tamu kecil itu perlahan, pandangannya langsung mendapati seorang wanita dengan rambut bergelombang tengah duduk di salah satu sofa kamar tamu itu. Wanita yang tengah sibuk dengan gawainya tersebut sepertinya tak menyadari kehadiran Aura.
"Selamat siang," sapa Aura.
"Siang," wanita itu segera mendongak, kini tampak jelas wajahnya.
"Fadia!" seru Aura dan bergegas mendekati.
"Aura Aneshka!" Fadia rekan kerja Aura di L&D Foundation itupun bangkit keduanya saling berpelukan sejenak.
__ADS_1
"Susah banget sih menghubungimu, Ra. Sudah berasa mau ketemu istri CEO aku ini," celoteh Fadia. Mengingat bagaimana tadi proses yang harus ia lalui untuk sampai ditempat ini guna bertemu Aura, sang personal asistant CEO.
Aura tersenyum. itu memang benar, Fadia. aku memang istri rahasia CEO Pramudya Corp, ucap Aura dalam hati.
Keduanya duduk bersama di sofa itu, tampak sudah ada air mineral di atas meja, itu pasti disuguhkan oleh resepsionist tadi pada Fadia.
"Kamu apa kabar?" keduanya bertanya hampir bersamaan lalu berakhir dengan sama-sama tertawa renyah.
"Betah sekali kamu kerja di sini, sampai gak pernah menjenguk kami di yayasan," kata Fadia seraya menelisik penampilan Aura Aneshka yang terkesan lebih modis dan lebih elegant ketimbang dulu.
"Iya, harusnya aku main-main lagi ke sana ya," sahut Aura tampak menyesali waktu yang terlewat. Padahal keinginan itu memang ada dalam dirinya hanya belum di realisasikan saja.
"Tapi itu akan terlaksana dalam waktu dekat, Aura,"
"Maksudnya?"
"Aku di utus bu Olivia untuk menyampaikan undangan padamu,"
"Oya, undangan apa?"
Fadia segera menyerahkan sebuah amplop putih berukuran cukup besar yang dibagian atasnya terdapat kop resmi pesantren tempat Aura nyantri dulu.
"Ini dari Darul-Falah?" Aura terlihat heran. Darul-Falah memang satu-satunya pesantren yang mendapatkan jatah besasiswa dari L&D Foundation dalam satu tahun belakangan ini, tentu saja semua itu tak lepas dari prakarsa Aura ketika masih bekerja di yayasan itu.
Dan di tahun ini, kembali Darul-Falah mendapatkan jatah beasiswa ke salah satu Universitas ternama di Jakarta, bahkan untuk lima orang siswa kelas atas di sana, lebih banyak dari dulu yang hanya tiga orang saja.
"Iya, pesantren Darul-Falah mengundang pihak yayasan untuk acara tahunan mereka!" Fadia menjelaskan. "Pihak pesantren sendiri yang datang langsung memberikan undangan itu pada kami," tambah Fadia.
"Iya, katanya dia mantan calon suami-mu, Aura,"
ucapan Fadia kali ini membuat Aura seketika terdongak.
"Kak Akhtar?" gumam Aura.
"Benar, Akhtar Stauqi kalau tidak salah,"
Aura mengangguk, hatinya kemudian sibuk bertanya-tanya kenapa Akhtar sampai menyebutkan statusnya pada pihak yayasan, apa pria itu juga menyebut dengan siapa dirinya menikah saat ini.
Aura segera menatap Fadia serius. "Trus dia bilang apa lagi?" tanya Aura begitu penasaran.
"Yah, kepo. Jangan-Jangan belum move-on nih?"
Fadia tergelak membuat Aura tersenyum simpul.
"Dia bilang, kalau kalian belum jodoh, dan kamu sudah menikah dengan orang hebat sekarang. Awalnya aku gak percaya, masak Aura menikah tanpa mengundang kami, tapi melihatmu sekarang, aku rasa itu benar,"
Fadia mengahiri ucapannya sambil menatap Aura seksama.
"Kenapa?" tanya Aura ia merasa tak ada yang berubah dari dirinya. baru satu minggu ini saja ia menikmati fasilitas mewah dari suaminya, sebelum-sebelumnya Aura tetaplah Aura yang dulu.
"Kau terlihat lebih cantik dan lebih elegant dengan penampilanmu sekarang," ungkap Fadia.
"Ahh ini, aku hanya menyesuaikan dengan pekerjaanku di sini," sahut Aura.
__ADS_1
Fadia mengangguk. "Back to topic, bu Olivia mengutusmu untuk menghadiri undangan itu karna menurutnya kau yang lebih pantas,"
"Aku? bukankah aku sudah tidak bekerja di yayasan lagi?"
"Tapi namamu belum dicoret dari kepengurusan L&D,"
kata Fadia.
"Benarkah?" Aura terlihat cukup terkejut.
"Iya, semua itu berdasarkan permintaan pak Damaresh Willyam, intinya kau tetap bagian dari L&D tapi sedang non aktif saat ini,"
Aura menghela napasnya mendengar itu, jika benar Damaresh yang meminta demikian itu artinya lelaki itu tak berniat mempekerjakan Aura di Pramudya untuk waktu yang lama. Seharusnya Aura merasa senang dengan fakta itu karna pada dasarnya bekerja di L&D lebih sesuai dengan kemampuannya selama ini, tapi masalahnya sekarang, Aura mulai menikmati pekerjaannya di Pramudya Corp, yang mana di sini dia tak hanya bekerja sebagai asisten pada atasannya tapi juga sebagai istri pada suaminya.
"Baiklah, terkait ini aku akan minta ijin pada atasanku dulu," jawab Aura kemudian. Meski dirinya tidak yakin kalau Damaresh akan mengijinkannya pergi ke Darul-Falah yang terletak di kota Probolinggo Jawa timur itu.
"Terkait ijin itu, bu Olivia juga akan berbicara langsung pada pak Damaresh agar mengijinkanmu," ucapan Fadia menjadi angin segar buat Aura kalau dirinya akan bisa datang ke acara pesantrennya itu.
"Syukurlah, kalau begitu," ucapnya dengan senyum senang.
"Kepentinganku sudah selesai, Aura. Aku akan kembali ke yayasan," Fadia segera bangkit dari duduknya.
"Aku akan mengantarmu sampai ke bawah," Aura juga segera berdiri.
"Sepertinya kau cukup punya waktu sekarang," Fadia berkata dengan senyum, mengingat tadi Olivia sempat mewanti-wanti dirinya agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bila ketemu Aura, karna pekerjaan gadis itu yang sangat padat sebagai asistent CEO.
"Begitulah," sahut Aura dengan senyum, keduanya melangkah keluar dari small guest room itu bersaman.
"Apa big bos tak akan mencarimu?" tanya Fadia.
"Pak Damaresh saat ini sedang ada di Bali sejak empat hari yang lalu," sahut Aura. terdengar helaan napasnya pelan diujung kalimat. Teringat Damaresh yang sempat berpamitan akan berada di Bali selama tiga hari, nyatanya sudah empat hari berlalu, lelaki itu belum menunjukkan tanda akan kembali ke Jakarta.
Entahlah, Aura merasa ada yang tak biasa dalam hatinya selama menjalani hari-hari kerjanya tanpa melihat muka datar tapi sangat tampan seorang Damaresh Willyam, tanpa mendengar interuksi tegas dari suara bass nya, tanpa mendengar tegoran keras disertai tatapan tajam dari mata elang-nya.
Ada yang tak biasa dirasakan Aura tanpa itu semua.
Mungkinkah setitik rindu tengah bersarang dalam kalbu Aura Aneshka untuk suami rahasianya itu??
"Yah..sayang sekali," terdengar ucapan Fadia. "Tadinya aku berharap bisa melihat bos tampan itu di sini walau hanya sebentar, dari pada hanya selalu melihat gambarnya di majalah yang aku koleksi di rumah."
ucap Fadia lagi.
"Jadi kau su-ka pada pak Damaresh juga?" Aura bertanya pelan.
"Pasti sulit untuk tak terpesona pada Damaresh Willyam, Aura. Kau sendiri juga betah kan bekerja di dekatnya?"
Aura hanya menanggapi ucapan Fadia dengan senyuman tipis.
"Tapi kau jangan memberitaukan ini padanya, walaupun sebenarnya aku berharap kau akan mencomblangi kami," Fadia tertawa sendiri dengan ucapannya.
Aura hanya menggeleng pelan, terhitung sudah dua orang dalam sehari ini yang memintanya menjadi makcomlang untuk suaminya sendiri. Tadi Clara dan sekarang Fadia, Aura hanya bisa menekan perasaanya sendiri dalam diam.
Resiko menjadi istri rahasia, keluhnya dalam hati.
__ADS_1