Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
83. Tekad Yang Sama.


__ADS_3

Flashback On


St.Thomas ' Hospital - London.


Willyam Pramudya melihat sekilas pada Damaresh yang telah duduk di kursi tak jauh dari hospital bed- nya.


"Kau sudah datang?" tanya nya datar. Tak tampak kebahagiaan di wajahnya selayaknya orang sakit yang mendapatkan kunjungan anggota keluarganya.


"Ya." jawaban singkat tak bervolume juga diberikan Damaresh untuk Willyam.


"Aku pikir kau akan terlambat datang, karna sedang sibuk bermain-main," tukas Willyam yang masih betah enggan melabuhkan pandang pada wajah tampan yang selalu menjadi kebanggaan.


"Aku tidak sedang bermain-main," sanggah Damaresh.


"Jadi kau mau bilang, kalau kau bersungguh-sungguh,


begitu?" nada suara Willyam naik sedikit lebih tinggi, expresi mengeras juga tampil di wajahnya.


"Kurasa begitu," sahut Damaresh dengan tatapan lurus.


Willyam memutar kepalanya melihat sang cucu, rupanya jawaban yang dilontarkan oleh Damares berhasil membuang keenggannya untuk menatap wajah tampan itu.


"Hanya aku-" Willyam memutus ucapannya sekejab.


"Hanya aku yang bisa menentukan, kapan kau boleh main-main, dan kapan kau harus sungguh-sungguh," lanjutnya dengan tegas, bahkan ada sedikit getar yang terdengar dari suaranya ketika mengucapkan.


Perihal Damaresh, sudah sampai pada telinganya dengan utuh, sangat akurat, dari inteligent pribadinya yang terpercaya, yang kesemuanya ditanggapinya dengan biasa, baginya tak masalah, jika dalam anggota keluarganya mempunyai beberapa wanita untuk mewarnai hari-harinya, asal hanya ada satu wanita yang namanya tercantum dalam daftar keluarga dan tersemat di atas buku nikah. Tentu saja tempat itu hanya untuk wanita yang kwalitasnya terpercaya dan telah lulus uji kelayakan menurut standar keluarga Willyam Pramudya.


Willyam percaya, kalau cucu kesayangannya, yang merupakan tambang emasnya itu, tak akan sembarangan mengangkat satu nama untuk disandingkan dengan namanya, di jajaran keluarga besar Willyam Pramudya. Apalagi Damaresh bukan tipikal pengelana cinta seperti beberapa keturunan Willyam yang lainnya.


Akan tetapi jawaban singkat yang diberikan Damaresh padanya baru saja, cukup memantik emosinya untuk segera menegaskan kekuasaannya. Apakah terlalu awal ia memberi penegasan pada Damaresh?


Tentu tidak, karna ia tau, putra tunggal Claudya itu bukan orang yang suka berhambur kata, apa yang diucapkannya adalah demikian adanya.


"Ingat, kau dan aku terikat perjanjian, bagaimana bisa kau membuat keputusan tanpa minta persetujuan dariku," tandas Willyam lagi demi dilihatnya Damaresh hanya diam atas peringatannya.


Sangat enggan, itulah yang dirasakan oleh Damaresh tiap kali Willyam menyebut tentang perjanjian.


"Apa saja tugasku di sini, Kakek?"


Tampan berusia tiga puluh dua tahun itu mengalihkan topik pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.


Terlihat expresi wajah Willyam semakin mengeras menandakan ke-tidak sukaannya pada tindakan sang cucu, yang seakan tak mengindahkan ultimatum darinya itu. "Apa Naila belum menjelaskan semuanya?"


Dan Willyam memilih untuk menjawab pertanyaan Damaresh dengan artian juga ikut mengalihkan topik pembicaraan, mengingat waktu yang hanya tersisa sekejab, untuk Damaresh mulai memimpin beberapa


rapat, mewakili dirinya yang tiba-tiba harus dirawat.


"Sudah. Hanya saja aku tidak percaya kalau kakek begitu percaya pada orang lain, ini di luar kebiasaanmu," tukas Damaresh. Dan segera membawa tubuhnya untuk berdiri.


"Aku percaya pada Naila Anggara dalam banyak hal,


terutama untuk mendampingimu," sahut Willyam penuh penegasan. "Dan kau tau, aku tidak menerima penolakan," tegas Willyam sembari memberi tatapan tajam.


Damaresh tak menjawab, dan tak pula beranjak, netranya menatap lekat, mengarah pada Willyam yang baru saja berkata sepenuh tekad.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Willyam.


Dia akhirnya kalah, dari niatnya untuk tetap bungkam setelah memberi sedikit ancaman,

__ADS_1


karna ternyata Damaresh lebih piawai dalam mengelola emosinya. Diamnya, membuat Willyam tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya.


"Manakah yang harus lebih aku prioritaskan saat ini


menurutmu, Kakek? mematuhi aturanmu itu, atau menyukseskan agenda bisnismu di sini?"


Sebuah pertanyaan cerdas diucapkan oleh Damaresh pada Willyam.


"Kau seperti mau menampik perintahku, Aresh,"


tukas Willyam dengan pandangan tajam.


"Aku tau Kakek tidak mau menerima penolakan, begitupun aku." Damaresh berkata tegas sambil berusaha menentang tatap tajam Willyam.


"Kakek juga selalu bilang, kalau otak bisnisku sangat brilian, tapi aku juga punya batasan, aku tak bisa berfokus pada dua hal sekaligus secara bersamaan. Sekarang menurut Kakek, mana yang harus lebih aku proiritaskan? mematuhimu, atau menyukseskan bisnismu?" pertanyaan sekaligus ancaman.


Willyam mendengus samar. Memang hanya Damaresh yang selalu memahami jalan pikirannya, tapi jika dulu semua itu diterimanya dengan senang hati, namun tidak kali ini. Ia benci ketika menyadari cucunya itu menyadari apa yang menjadi jalan pikirannya saat ini.


"Pergilah! meeting nya hampir dimulai!"


titahnya singkat.


Itulah jawaban Willyam atas pertanyaan Damaresh,


memang apa yang lebih menarik dari pria berumur itu sekarang, selain menumpuk rupiah dan dollar. Damaresh tau betul hal itu, sebagaimana ia juga tau, kalau sewaktu-waktu Willyam juga bisa bertindak yang membuat keamanan hubungannya dengan Aura akan terganggu.


Tapi setidaknya untuk saat ini, selama berada di kota


London ini, Willyam tak akan menekannya untuk menuruti kehendaknya tentang Naila Anggara, karna Willyam pasti tak mau kehilangan kesempatan meraup dolar sebanyak-banyaknya, bila Damaresh enggan menjalankan bianisnya, di saat dirinya masih dirawat begini.


Flashback off


"Belum tidur juga?"


Tangannya terulur membelai lembut rambut Aura.


"Tidurlah kembali, ini masih malam."


Itu juga ucapan Damaresh yang ketiga kalinya.


Tindakan dan ucapan yang sama tiap kali Aura terjaga dan mendapati dirinya masih belum pejamkan mata.


Aura melirik jam diatas nakas, jarum pendeknya menunjuk arah tengah antara angka satu dan angka dua.


Gadis itu pelan hempaskan nafas lalu segera duduk tepat di samping Damaresh ikut sandarkan tubuhnya di headboard pula.


Tindakannya ini sukses membuat Aresh memutar kepala menatapnya.


"Kenapa malah duduk?"


"Aku ingin menemanimu," sahutnya tanpa menoleh, sedikit membetulkan duduknya untuk memperoleh posisi yang lebih nyaman. "Walaupun aku gak bisa merasakan kegelisahanmu, tapi setidaknya aku bisa menemanimu untuk tetap terjaga," ujarnya lagi sambil memandang Damaresh dan memberikan senyuman.


Wanita ini, yang cantiknya alami, dengan wajah sepolos ini, tanpa sapuan kosmetik sama sekali, tapi cantiknya tetap memancar berseri, tak terlihat muka bantalnya sama sekali.


Sangat disayangkan jika Damaresh membiarkan pesona sang istri begitu saja, tanpa menunjukkan sikap memuja, kendati hanya dalam bentuk kecupan singkat saja. Ya, itu dilakukan Damaresh, di kening, di pipi, dan di bibir istrinya.


Ia bahkan merebahkan kepalanya di pangkuan Aura, di mana dengan reflek, tangan Aura segera membelai-belai rambutnya. "Masih tentang tante Claudya?" tanya Aura yang mencoba menyelami kegelisahan suaminya sampai tak dapat memejamkan mata.


"Tidak juga," sahut Damaresh singkat.

__ADS_1


"Tentang pekerjaan?" tanya Aura lagi.


"Apalagi itu, Tidak," jawab Damaresh tegas, karna sepanjang sejarah kepemimpinannya di Pramudya Corp, tak pernah ada masalah dalam perusahaan yang sampai membuatnya tak bisa memejamkan mata.


Malam-Malamnya yang selalu dilewati dengan bekerja dan bekerja, adalah bukan tentang Pramudya Corp, tapi tentang sesuatu yang dirintisnya secara pribadi dan rahasia.


"Lalu?" tanya Aura lebih lanjut.


"Tentangmu, Arra."


"Aku?" jawaban Damaresh justru membuat Aura terlonjak. Ia menunduk menatap lekat wajah tampan Damaresh yang rebah dengan nyaman dipangkuannya.


"Kau sudah mendengar dengan jelas, pembicaraanku dengan mommy," ucap Damaresh.


"Ya."


"Itulah keluargaku, Arra, yang mungkin sangat ingin kau ketahui dari dulu."


Aura terdiam berpikir, ia memang belum sepenuhnya paham dengan detail masalahnya dalam pembicaraan atau mungkin lebih tepatnya di sebut pertengkaran Damaresh dan Claudya, tapi ia cukup mengerti bagaimana cara orang-orang dalam keluarga Willyam itu menyelesaikan masalah, yang membuatnya cukup bergidik ngeri juga.


"Itulah keluargaku. Kenapa aku tidak pernah mau menceritakannya, karna aku tidak bangga terlahir di tengah-tengah mereka."


Aura menunduk mencium kening Damaresh begitu dilihatnya ada tatap luka yang terukir pada sepasang netra pekatnya, untuk sekedar memberikan rasa nyaman padanya.


"Itulah juga sebabnya, kenapa aku tak pernah mau terikat hubungan dengan wanita manapun, karna kerumitan keluargaku, sampai akhirnya kau datang, dan kau mengacaukan semua rencanaku."


Damaresh menatap wajah Aura yang tetap mengarahkan tatap padanya.


"Maaf, aku tak bermaksud begitu," ucap Aura lirih.


"Mungkin benar, seperti yang kau ucap dulu, kalau ini adalah Takdir, ya-- walaupun semua terjadi karna ulahku,"


kata Damaresh sambil sedikit menyunggingkan senyum.


"Aresh, bisakah kita tak usah kembali pada masa yang telah lewat?" pinta Aura. Entahlah, selalu ada rasa tak nyaman dalam dirinya di saat Damaresh menyalahkan diri sendiri seperti ini.


Damaresh tak menjawab, tangannya malah terangkat dan membelai wajah Aura lembut.


"Sekarang saatnya kita menatap ke depan, jangan lagi menoleh ke belakang," ujar Aura lagi.


"Kau mau terus berjalan ke depan bersamaku?" tanya Damaresh. Sebenarnya ia tau, Aura bukan type wanita yang akan mudah berpaling, pilihannya pada Damaresh bukan hanya karna berdasarkan rasa cinta, tapi sebentuk kepatuhan seorang hamba akan peraturan tuhannya, yang telah merekatkan dirinya dengan Damaresh dalam sebuah ikatan halal pernikahan.


Bahkan karna pondasi halal itulah, di dalam diri Aura tertanam rasa cinta untuk Damaresh yang sebenarnya bukan sosok imam impiannya.


Maka dapat dipastikan kalau Aura tidak akan dapat berpaling selagi keduanya masih dalam satu ikatan yang sama. Yaitu "halal".


Tapi ada beberapa orang yang punya keterkaitan dengan Damaresh, yang buta akan pandangan sejati sebuah pernikahan suci, sehingga menganggap Aura bukan pasangan yang pantas untuk Damaresh, yang sayangnya mereka juga punya kuasa, yang bisa saja membuat keduanya berpisah.


Hal ini hanya diketahui oleh Damaresh, hingga ia merasa perlu untuk mempertanyakan tekad Aura untuk menentukan langkah mereka lebih lanjut kedepannya.


"Harusnya bagaimana, Aresh? Kau adalah suamiku, tentu saja aku akan tetap di sampingmu."


Damaresh terlihat tersenyum setelah Aura mencapai titik dari ucapannya. Meski tak diungkap lewat kata, tapi dari senyum yang terukir di bibirnya sudah cukup menunjukkan apa yang tengah suaminya itu rasa.


"Pertanyaannya sekarang, Aresh. Apa kau pun menginginkan aku untuk tetap berjalan bersamamu?"


"Ya, Arra," jawab Damaresh cepat.


Tangannya segera melingkari tengkuk Aura dan menariknya pelan hingga wajah itu tertunduk dekat, memudahkan Damaresh untuk meluapkan hasrat, menyapu bibir ranum istrinya dengan lidahnya yang basah.

__ADS_1


... ..... ....... .....


Dan setelah keduanya berikrar dalam satu tekad yang sama, kini mereka sama-sama tenggelam dalam pagutan mesra, berdua.


__ADS_2