Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
109. Melepaskan Tahta.


__ADS_3

"Hadiah ulang tahun yang luar biasa, Aresh," puji William sejurus kemudian, setelah mengatur napasnya yang menjadi naik turun tak teratur atas pernyataan Damaresh barusan, di hadapannya dan di depan semua orang.


"Apa aku perlu bertanya, apakah kau sudah mengambil keputusan itu dengan matang?" William mengarahkan tatapannya pada Damaresh dengan tajam.


"Tak perlu, Kakek! kau yang selalu mengajarkan kepadaku untuk selalu tepat dalam mengambil keputusan, dan sekali keputusan itu dibuat, maka itu yang harus dijalankan," jawab Damaresh.


"Bagus, kau mengingat semua ajaran ku dengan benar," puji William sekali lagi.


Tapi apakah itu memang sebentuk pujian? ketika diucapkan dengan nada yang datar disertai pandangan mata berkilat tajam.


"Tapi mungkin aku hanya perlu mengingatkan, barangkali kau lupa, bahwa ada aturan dalam sebuah perusahaan bagi seorang CEO yang ingin mengundurkan diri dari jabatannya."


Sepertinya beberapa aturan tersebut akan digunakan oleh William untuk menolak pengunduran diri Damaresh dari kedudukannya sebagai CEO Pramudya Corp.


Dipo Anggara maju ke depan, setelah menerima isyarat perintah dari William.


"Setidaknya ada tiga aturan yang harus dipatuhi oleh CEO Pramudya Corp, sebelum menyatakan pengunduran diri secara terbuka," ucap Dipo langsung setelah tiba di hadapan Damaresh.


Sepertinya kini acara ulang tahun William yang meriah telah berubah menjadi acara rapat dewan direksi secara mendadak.


"Aturan pertama, CEO, harus memberikan surat pengunduran dirinya di hadapan komisaris atau dewan direksi, setidaknya tiga hari sebelum pernyataan resmi."


"Aturan kedua, harus ada alasan mendasar yang menjadi penyebab CEO meletakkan jabatannya, yang bisa menjadi bahan pertimbangan dewan direksi untuk menyetujui pengunduran dirinya atau


tidak. Dan aturan ketiga, harus adanya calon pengganti yang tepat dan siap untuk melanjutkan tugas CEO yang mengundurkan diri. Bila ketiga hal itu terpenuhi, pengajuan pengunduran diri CEO Pramudya Corp dapat kami terima."


Dipo Anggara mengakhiri pembacaan peraturannya.


"Bagaimana, Damaresh William? tanpa itu semua pengunduran diri yang kau ajukan tidak dianggap shah," putus William dengan tatapan tajam.


"Ketiga aturan yang dimaksud, sudah aku penuhi sesuai prosedurnya," jawab Damaresh, santai.


Bahasa tubuhnya dan tatapannya tak mengisyaratkan sesuatu apapun. Tapi tiba-tiba Anthoni maju ke depan


dan langsung memberikan pernyataan. Pernyataannya sebagai anggota dewan direksi Pramudya Corp.


"Terhitung sejak tanggal 3 november, yakni tiga hari yang lalu, surat pengajuan pengunduran diri CEO Pramudya Corp, atas nama, Damaresh William sudah masuk pada meja dewan direksi dan komisaris."


Anthoni memutus kalimatnya karna hadirnya seorang staf direksi yang membawa dua map besar yang diberikan pada Anthoni. Selanjutnya, Anthoni memberikan salah satunya pada Dipo Anggara, sedang map yang satu tetap ada dalam genggamannya.


"Disini, tertulis alasan mendasar pengunduran diri CEO, yang tak dapat lagi sepaham dengan komisaris perusahaan dalam menjalankan aturan perusahaan," tutur Anthoni yang membuat William menarik napasnya samar.


Dipo Anggara nampak membaca surat resmi itu dengan seksama, dan tak menemukan adanya peraturan yang dilanggar disana. Dipo segera memberikan surat itu pada William.


"Kalau Pak Anthoni mengetahui ini, kenapa tidak segera mengkoordinasikan rapat direksi untuk membahas masalah ini?" tanya Dipo.


Sangat wajar jika ia menanyakan hal itu, bahkan sudah seharusnya.


"Perihal ini sudah menjadi salah satu dari agenda rapat direksi yang gagal terlaksana, beberapa hari yang lalu, ketika komisaris mengumumkan pertunangan CEO dengan Nona Naila Anggara, di hadapan awak media," jawab Anthoni.


Siapa yang tak tau pada peristiwa itu, dimana rapat direksi gagal terlaksana ketika William mengumumkan pertunangan Damaresh dengan Naila yang berakhir dengan Damaresh pergi meninggalkan ruangan.


Kini, jangankan Dipo Anggara, William sendiri-pun tak dapat lagi menyangkal apalagi menyalahkan Damaresh dengan keputusannya.


Tapi masih ada satu titik, yaitu peraturan terakhir yang disebutkan oleh Dipo, yang segera kini menjadi bahan pertanyaannya pada Damaresh.


"Bagaimana dengan poin yang ketiga, Pak Damaresh?"


"Tentu saja, saya sudah mendapatkan pengganti yang tepat, serta siap untuk melanjutkan tugas-tugas saya di Pramudya Corp," sahut Damaresh dengan ekspresi santai.


"Dia adalah, Pak Edgard William."


Edgard yang berdiri tak jauh di dekat Damaresh itu


sangat menunjukkan keterkejutannya. Jujur, meski ia sangat mengincar kursi CEO Pramudya, namun pada dasarnya ia tak cukup punya keberanian untuk duduk di kursi yang panas dan memiliki tegangan listrik tinggi itu. kenapa disebut kursi panas? karna yang mendudukinya harus siap dengan keputusan-keputusan cerdas dan brilian dalam setiap saat.Tak hanya sekedar dengan duduk santai menikmati bantalannya yang empuk dan sandarannya yang tinggi, serta tinggal tunjuk kanan, dan tunjuk kiri.


Meski Edgard sangat angkuh dengan memosisikan dirinya sebagai orang yang mengincar kursi CEO itu, tapi sebenarnya ia sadar kalau kemampuannya tak sebanding dengan Damaresh William.

__ADS_1


"Apa-Apaan, kau Resh?" Edgard segera melayangkan protes tersembunyi pada Damaresh.


"Bukankah barusan kau sudah setuju untuk bekerjasama denganku?" Damaresh membalik tanya.


"Tapi tidak untuk hal ini," sanggah Edgard.


"Peraturannya, aku tak harus memberitahukan bentuk kerjaannya, kan, yang penting aku bisa memberikan imbalan sesuai yang kau inginkan."


Edgard terdiam, dirinya merasa dijebak oleh sepupunya yang brilian itu.


"Inilah bentuk kerja-sama yang telah kita sepakati dan sekaligus imbalannya juga, Edgard," ucap Damaresh santai.


"Apa maksudmu?" tanya Edgard dengan menahan geram.


"Aku kembalikan kepadamu tahta Pramudya yang selama ini kau klaim sebagai milikmu. Ini, kan, yang kau incar selama ini?" pertanyaan bernada sindiran.


"Kau--" Edgard memotong kalimatnya begitu saja, karna melihat banyak pasang mata yang memerhatikan keduanya.


"Maju-lah, Ed! setidaknya dengan ini, istrimu tak akan mengatakan kalau kau tidur ngelindur dan mimpi terlalu panjang."


Edgard hanya bisa menahan kesal, namun juga tak punya pilihan selain maju dan berdiri tepat di samping Damaresh William.


"Pak Edgard William, apa benar kalau pak Damaresh William sudah menunjuk, Anda, sebagai penggantinya?" tanya Dipo Anggara langsung.


"Benar, Pak," sahut Edgard, sementara ujung matanya melirik Damaresh William.


"Dan apa Pak Edgard sanggup untuk menjalankan tugas CEO, menggantikan Pak Damaresh William?"


"Ya, saya sanggup," sahut Edgard.


Dipo anggukkan kepalanya dan sesaat menoleh pada William yang nampak tegang.


Pemilik Pramudya Corp itu tak menyangka kalau tiga orang cucu kebanggaannya kini bersekongkol menyerang dirinya. Sedemikian cerdasnya otak Damaresh yang bisa mengajak kedua sepupunya untuk memenangkan pertarungannya dengan William.


"Baiklah, untuk selanjutnya hanya tinggal pengesahan dari komisaris perusahaan,"


putus Dipo Anggara.


"Mohon tanda tangannya, Kakek."


"Kau yakin, kalau aku akan tanda tangani surat pengunduran dirimu?"


"Sangat yakin," jawab Damaresh mantap.


"Karna Kakek tidak punya alasan lagi untuk menolak," lanjutnya.


"Di samping itu, kau sudah berjanji pada kami di hadapan semuanya, barusan. Kalau malam ini kami, semua cucumu boleh mengajukan permintaan padamu, yang pasti akan kau kabulkan.


Maka ini permintaanku padamu, Kakek.


Tanda tangani surat pengunduran diriku.


Dan aku yakin, Tuan William Pramudya tak akan mengingkari ucapannya yang sudah disaksikan oleh semuanya."


Skakmat.


William tak punya alasan lagi untuk menolak. Entah berapa banyak sumpah serapah yang terucap dalam hatinya, yang pasti kini, tangannya bergerak dan membubuhkan tanda tangannya pada surat itu yang lalu diberikannya pada Dipo Anggara, yang selanjutnya diserahkan pada Damaresh William selaku pemohon.


Setelah memeriksa surat itu dengan seksama dan lalu menyerahkannya pada Anthoni, Damaresh kini menghadapkan tubuh dan wajahnya pada puluhan sorot kamera yang sedari tadi terus merekam semua kejadian dan peristiwa tanpa jeda.


"Dengan ini, secara shah saya nyatakan, bahwa saya bukan lagi CEO Pramudya Corp dan bukan bagian dari perusahaan ini lagi. Dan bersama hal ini pula, saya membatalkan pertunangan saya dengan Nona Naila Anggara."


Adakah kini yang bisa menghalangi keputusannya itu?


Bahkan William Pramudya sendiri pun, tidak bisa menghalanginya lagi.


Sebelum sepasang mata Damaresh menjadi silau oleh jepretan kamera yang mengarah padanya, sepasang netranya masih tetap bertemu tatap dengan Naila Anggara yang berdiri di samping Dien Anggara.

__ADS_1


Terlihat oleh Damaresh kalau Naila Anggara anggukkan kepalanya sambil tersenyum, dan Dien Anggara yang juga menampilkan senyum.


Claudya yang sedari awal diam menyaksikan kini menepukkan kedua tangannya sebagai apresiasi atas keputusan yang telah disampaikan oleh putranya. Dan tindakan Claudya inipun diikuti oleh yang lainnya yang juga ikut bertepuk tangan.


Sesaat kemudian, acara kembali dilanjutkan.


"Kau sepertinya sudah benar-benar tak perduli pada keselamatan ayahmu, Aresh,"


Ucap William saat Damaresh berpamitan untuk pergi lebih dulu.


Damaresh menghentikan langkahnya dan berbalik badanĀ  menatap sang kakek yang kini melihatnya tanpa keramahan, dan tanpa senyuman.


"Sebenarnya aku tak pernah bersungguh-sungguh untuk mencelakai ayahmu. Aku masih ingat kalau dia putra sahabatku yang ikut merintis dan membesarkan Pramudya Corp. Tapi setelah tindakanmu malam ini, sudah tak ada lagi yang menghalangiku untuk meneruskan rencanaku," ucap William penuh ancaman.


Harus Damaresh akui, kalau kini kakeknya itu tak main-main lagi dengan ucapannya, terlihat dari ekpresi wajahnya yang benar-benar menyimpan kemarahan yang terpendam. Yang sebentar lagi akan segera dimuntahkan.


Bagaimana tidak, ia kini telah kehilangan tambang emasnya, kehilangan aset berharga keluarga William. Pramudya Corp, jika tidak ditangan Damaresh, tak akan menjulang setegak ini, kepakan sayapnya tak akan selebar ini. Bahkan di london, Pramudya menjadi salah satu perusahaan yang paling di segani setelah berhasil mengakuisisi BLC Corp, dan itu karna kehebatan Damaresh.


Kini, si pebisnis handal jenius itu telah memilih pergi, demi mempertahankan keutuhan keluarga kecilnya, ia rela melepaskan tahtanya. William tentu saja sangat tidak terima.


Hanya saja William enggan merenungi, kalau kepergian Damaresh adalah akibat dari kesalahannya sendiri.


"Kalaupun nanti daddy akan menjadi korban keegoisanmu, Kakek, kurasa ia akan mengerti. Karna aku tau, kalau ayahku sangat menyayangiku," sahut Damaresh santai sekali.


"Semua ini, untuk wanita itu?" geram William dalam pertanyaannya.


"Untuk ikatan suci pernikahan kami," sahut Damaresh mantap. Hatinya tak gentar sedikitpun melihat kepekatan emosi di wajah William.


"Baiklah, cucuku. Kau sudah benar-benar mengibarkan bendera perang denganku," sarkas William dan segera berbalik badan.


Matanya memberi isyarat pada Damian yang segera menghampirinya dan memberikan telfhon genggam.


Sementara Damaresh gegas teruskan langkahnya untuk bertolak kembali ke rumah sakit Saiful Anwar, di malang.


"Hallo Pablo," sapa William langsung begitu panggilan telfhonnya terjawab.


"Ya, Tuan."


"Di mana posisi kalian sekarang?"


"Kami sudah naik pesawat, Tuan, sebentar lagi take off."


"Bagus, setelah sampai di negara tujuan, segera eksekusi rencana awal!"


"Baik, Tuan."


William memutuskan sambungan setelah perintahnya diterima oleh Pablo dengan tanpa bantahan.


Pablo adalah orang kepercayaannya yang ditugaskan menjaga dan mengamankan Airlangga.


Pertanyaannya sekarang, apakah Damaresh betul-betul tidak perduli lagi dengan nasib ayahnya?


Apakah ia betul-betul tega mengorbankan Airlangga dalam keputusannya??


Temukan jawabannya sama-sama, yuk


Next.


****


*******


Teman-teman mohon maaf ya..kemarin tak dapat


melaksanakan janji untuk up, karna adanya beberapa gangguan yang menyebabkan ketidak lancaran..diantaranya bab hati dan perasaan yang tidak dalam kondisi tenang..sehingga fokus dan konsentarasi menulis menjadi ambyar..


aduhhh bahasaku...ya..

__ADS_1


bak pujangga yang kesiangan..hihi..


terima kasih untuk semua dukungan dan kesetiaan. salam cinta. Najwa Aini.


__ADS_2