
Cantik, kata itu tersemat lagi dan lagi dalam benak Kaivan ketika kerap kali netranya menatap Naila Anggara yang berjalan segaris dengannya, sejarak tiga langkah di belakang Damaresh Wilyam.
Langkah-langkahnya yang tegap namun menampilkan sisi keanggunan seorang wanita begitu selaras berpadu dengan tampilannya yang sangat fashioanable,
Merangkum berbagai kesan sempurna tentang seorang wanita yang cantik, smart dan sukses dibidangnya.
Mereka kini menapaki gedung AB atau Alphabetha Building, sebuah gedung perkantoran di kawasan pusat kota London, yang berhasil di-akuisisi oleh
Pengembang asal Indonesia, Sinar Mas Land. Gedung yang terdiri dari 9 lantai dengan spesifikasi Grade A, yakni ruangan dirancang berkwalitas tinggi itu menjadi tujuan mereka pagi ini, dimana akan dilaksanakan meeting penting dengan beberapa kolega bisnis di sana.
"Bagian sini,Pak!" Naila mengarahkan pada Damaresh untuk mengambil arah yang lebih prioritas setelah keluar dari elevator lantai tujuh.
Meski berjalan agak ke belakang, wanita itu berperan dengan sangat baik sebagai pendamping dan sekaligus penunjuk arah pada Damaresh dan Kaivan.
Sekali lagi Kaivan melirik ke arahnya, dan kali ini lirikannya dipertemukan dengan ekor mata Naila yang juga mengarah kepadanya. Kaivan segera senyum, senyum memikat dari bibir sexinya terlempar sempurna. memiliki rasa gugup karna ketahuan memperhatikan perempuan secara diam-diam itu tidak pernah ada dalam kamus hidup Kaivan.
Naila membalas dengan senyum indah pula, namun hanya sesaat karna ia segera arahkan pandangannya kedepan, seakan menatap tubuh tegap Damaresh yang begitu gagah dengan busana kerja-nya hari ini, lebih menyenangkan baginya meski cuma dari arah belakang
daripada menatap wajah Kaivan.
Sesaat kemudian, irama panggilan telfhon menghiasi langkah-langkah sejajar ketiganya. Kaivan yang menyadari kalau panggilan itu berasal dari smartfhonnya segera meraih benda pipih itu dari saku vest jas-nya.
"Pak, ada telfhon," Kaivan malah menyerahkan ponsel pintarnya itu pada Damaresh.
"Angkat saja, Kai!" tolak Damaresh.
"Tapi ini telfhon khusus untukmu!"
Tutur Kaivan yang membuat Naila melihat ke arah keduanya.
Damaresh meraih ponsel Kaivan itu, menatap layarnya sesaat dan segera menerima panggilan tersebut, namun tanpa menghentikan langkah, dimana pintu kaca ruang meeting sudah terpampang di depan sana.
"Hallo, Ara.." sapa Damaresh langsung dengan mengesampingkan pertanyaan dalam benaknya kenapa istrinya itu menghubungi dirinya melalui ponsel
kaivan, atau Damaresh sudah menyadari kalau ponselnya selalu ia Silence setiap kali akan melangsungkan rapat, sehingga tak perlu bertanya lagi kenapa Aura menelfhon nomer Kaivan.
"A-Resh!" terdengar Aura sedikit berseru kaget mendengar kalau Damaresh langsung yang menerima panggilannya.
"Hmm..ada apa Ara?" tanya Damaresh langsung tanpa ada basa basi lebih dulu, walau hanya sekedar bertanya kabar atau bagaimana.
Mendengar nama seorang perempuan yang disebut Damaresh dalam telfhonnya, Naila Anggara kembali mencuri lihat pada lelaki ganteng itu.
"Apa aku ganggu waktumu?" tanya Aura dengan perasaan tak nyaman.
"Tidak," sahut Damaresh cepat.
"Ada apa kau menelfhon?" lanjutnya bertanya yang segera dipahami Aura kalau lelaki itu pasti sedang terburu.
Aura segera menyampaikan kepentingannya.
"Ee aku, harus ke luar negeri bersama bu Olivia,"
"Tugas dari L&D?" tanya Damaresh singkat.
"Iya."
"Pergilah! Tak apa-apa," putus Damaresh cepat.
"Benarkah?" Aura seakan tak percaya kalau semudah itu Damaresh mengijinkannya.
"Ya. Tapi ajak Dirga untuk menjagamu!"
titah Damaresh.
"Tapi Aresh---"
"Gak ada penolakan Arra, aku tutup telfhonnya, ini sudah sampai ruang meeting," tanpa tunggu jawaban dari Aura, lelaki itu segera mematikan telfhon dan menyerahkannya pada Kaivan, tubuh gagahnya kemudian memasuki pintu kaca besar itu dimana kanan kiri telah berdiri beberapa orang
Yang mengangguk hormat padanya.
Tak sebagaimana dalam beberapa pertemuan bisnis sebelumnya, peran Naila Anggara kali ini tak sebanyak biasanya, ia cenderung diam dengan sesekali menahan napas menatap Damaresh, pasalnya lelaki itu mengambil beberapa kebijakan yang cukup bertentangan dengan draft keputusan tuan Willyam.
Meeting yang baru selesai hampir waktu jam makan siang itu benar-benar membuat Naila sangat penat, terlebih karna beban pikirannya yang terasa berat atas semua keputusan Damaresh yang dianggapnya tak sesuai.
__ADS_1
Maka Ketika ada kesempatan untuk menyatakan protesnya, Naila pun tak menyiakan waktu pada saat makan siang itu.
"Kak, aku boleh bertanya?" tanya Naila sambil menyendokkan beberapa makanan ke atas piring saji Damaresh.
"Kak" itu panggilan yang disematkan Naila pada Damaresh diluar jam kerja.
"Kau sudah bertanya," sahut Damaresh datar. Lelaki itu kembali berdiri untuk menanggalkan jasnya, reflek Naila juga ikut berdiri dan berinisiatif membantu.
"Tidak perlu, Nai!" tolak Damaresh.
"Gak papa kak, biar Kak Aresh gak kerepotan." Naila memaksa membantu melepas jas itu dan menyampirkannya di sandaran kursi. Kaivan tak terusik dengan pemandangan di depannya, ia terus menyantap makan siangnya tanpa kata.
"Ada lagi yang kakak butuhkan?"
Damaresh menggeleng singkat. Ia segera menyantap menu makan siangnya yang sudah dipilihkan oleh Naila. Satu suap dinikmatinya dalam tatapan Naila.
"Bagaimana kak?"
"Apanya?"
"Menu makannya?"
"Aku tidak terlalu suka," sahut Damaresh terlalu jujur.
"Padahal itu menu yang paling bagus dan pas untuk makan siang," lirih Naila terlihat sedikit kecewa.
"Menurutku menu yang kau pilihkan ini memang sangat enak, Naila. Cuma selera orang kan beda-beda." kaivan menyampaikan pendapatnya tanpa diminta.
Naila mengangguk setuju. "Apa perlu aku pesan menu lain, kak?" ia bertanya pada Damaresh. Lelaki itu hanya menggeleng kecil tanpa kata.
Naila tersamar menghela napas.
"Aku memang tidak cukup tau tentang kak Aresh, mungkin aku perlu lebih banyak belajar dari sekarang," ucapnya ambigu.
"Eh jadi kenapa ingin banyak belajar tentang Aresh?" kaivan nyeletuk bertanya. " Apa itu bagian dari tugas sebagai sekretaris tuan Willyam juga?" lanjutnya lagi.
"Bukan itu," Naila menjawab cepat dan segera merubah sedikit posisi duduknya
sebelum lanjut menjawab. "Setidaknya jika ada kerjasama lagi seperti ini, aku tak akan membuat kesalahan dalam melayani kak Aresh."
"Ada apa kai?" tanya Naila yang menyadari kalau dirinya menjadi perhatian dari lelaki yang pas duduk berhadapan dengannya tersebut.
"Sudah gak jadi yang mau bertanya?"
"Ah iya, aku hampir lupa," kata Naila sedikit terlonjak.
"Padahal pertanyaanmu itu menjadi beban pikiranmu dari tadi ya," tukas Kaivan diiringi senyum kecil.
Naila merasa salut karna lelaki di depannya itu seakan mengerti jalan pikirannya.
"Gara-Gara salah pilih menu, aku jadi kurang fokus," ucap Naila dan segera memutar kepalanya menatap Damaresh. "Maaf ya, kak, lain kali kakak bisa menyampaikan padaku menu apa yang kau suka, biar aku tak salah pilih."
Damaresh hanya mengangguk kecil.
Topik obrolan ini seperti bukan hal yang menarik untuk ia ikuti.
"Dia bukan orang yang suka pilih-pilih menu kok," Kaivan memberi infofmasi yang segera menarik perhatian Naila.
"Dia akan makan apa saja yang dihidangkan, tapi itu bila Arra yang masak," lanjut Kaivan.
"Ara? Siapa?" tanya Naila.
"Yang menelfhonnya tadi, dan semoga informasi ini tak menghilangkan fokusmu lagi untuk bertanya," tutur Kaivan dan segera menuntaskan makanannya dengan khidmat.
Naila menatap Damaresh, lelaki itu juga sudah menuntaskan makan meski masih ada tersisa beberapa suapan di atas piring sajian.
Naila menarik napasnya. "Kak, ada beberapa keputusanmu tadi yang tidak sesuai dengan keinginan tuan Wilyam." ucapnya cepat pada Damaresh, agar perkara hilang fokus tak lagi menjadi bahan sindiran dari Kaivan.
"Apa saja?" tanya Damaresh santai.
"Startegi team marketing dari Sagen Industris itu tidak di Approve oleh tuan Willyam karna dianggap kurang relevan dilingkup pasar kota ini,"
Naila menatap seksama Damaresh, menunggu lelaki itu akan menjawab, namun karna dilihatnya Damaresh tetap diam, Naila melanjutkan lagi ucapannya.
"Tuan Willyam mempunyai target mengakuisisi Sagen Industris tahun depan, hingga diperlukan untuk mempersempit lingkup kerja mereka mulai sekarang,"
__ADS_1
Damaresh mengangguk. Dan tetap diam agar Naila menuntaskan semua protesnya.
"Dan untuk Emerald Land, kakek ingin memperpanjang kontrak kerja dengan mereka hingga tiga tahun kedepan, tapi kak Aresh menolak perpanjangan kontrak dengan mereka." pungkas Naila.
"itu Saja?" tanya Damaresh santai.
"Ya kak."
"Ini perlu ku jawab?" Damaresh malah balik tanya.
"Setidaknya agar aku mampu menjelaskan di depan kakek,
bila dia bertanya padaku," sahut Naila.
"Strategi team marketing Sagen Industris tak di approve tapi di adopsi oleh team marketing kita,"
"Terdapat perbedaan kak," sahut Naila cepat.
"Hanya dua persen, kan?"
Naila mengangguk perlahan.
"Menurutku kakek bukan tidak setuju dengan ide mereka, hanya saja strategi seperti itu butuh dana yang lebih tinggi, disini justru kita mendapat dua keuntungan sekaligus. Karna Sagen akan mengajukan permohonan bantuan dana pada kita untuk menjalankan strateginya." Damaresh menjelaskan dengan ringkas alasan keputusannya.
"Dan kita sudah terlalu banyak memberikan suntikan dana pada Sagen kak," sambung Naila.
"Bukankah itu akan semakin memuluskan langkah kakek untuk mengakuisisi perusahaan mereka nanti?" sergah Damaresh cepat.
Naila terlihat terhenyak, pikirannya sama sekali tak sampai ke arah sana. Lalu perlahan kepalanya mengangguk paham.
"Dan Emerald Land, perusahaan itu justru sudah di-akuisisi oleh rival bisnis kakek di sini sejak sebulan lalu," kata Damaresh.
"Apa?" kaget, demikian expresi yang terlihat dari Naila.
"Memperpanjang kontrak kerja dengan mereka sama artinya membiarkan mereka mencuri strategi bisnis kita."
Naila langsung mengangguk setuju.
"Sudah paham semuanya?" Damaresh mengarahkan tatap pada Naila.
"Ya kak," respon gadis itu cepat.
"Dari sejak tiga hari lalu, aku cukup kagum dengan tingkat kejelianmu yang tinggi, kau sangat cakap sebagai seorang executive asistant "
Damaresh memberikan pujian pada Naila, yang segera membuat gadis itu tersenyum dengan wajah bersemu.
"Aku kira, dengan kejelianmu kau sudah mampu membaca semua ini," ucap Damaresh lagi, kali ini bukan pujian lagi yang ia berikan, tapi sindiran.
"Ehh ma'af kak, aku kurang jeli, strategimu jauh lebih lembut daripada kakek," ucap Naila dengan rasa tak nyaman. "Aku akan lebih banyak belajar untuk memahami Kak Aresh," imbuhnya lagi.
"Kau tak perlu belajar untuk memahamiku, Nai!
kita tidak akan menjadi partner selamanya." pungkas Damaresh.
Naila langsung diam mendengarnya seakan memahami akan adanya maksud tersirat dibalik ucapan Damaresh
itu. Lain halnya Kai, ia tersenyum tipis mendengar ucapan simbolik Damaresh tersebut, ia yang jadi pemerhati dari interaksi antara keduanya, mulai memperoleh penilaian, kalau Damaresh yang sedingin Es dan sekaku kawat baja itu masih ada dan tetap ada, ia hanya hangat dan manis bila di depan Aura. Hanya untuk Aura saja.
"Apa agenda ku berikutnya?" tanya nya kemudian.
"Tidak ada untuk hari ini, Kak. Jadi kita bisa ke rumah sakit lagi menjenguk kakek. Sedang untuk besok kita ada pertemuan dengan perusahaan Willson Corp di Carnaby Street." Naila membacakan agendanya dengan cepat..
Damaresh mengangguk mengiyakan.
-------?
-----??????----?
Hai, Hai teman-teman tersayang..
Hari ini aku mau double up ya..siapa tau bisa dapat banyak vote dari kalian..kan sekarang hari senen..hihi
tunggu next partnya ....hari ini juga kok..
__ADS_1
Dan pangilan untuk Novia Hayati..Author kesayanganku..aku akan pertemukan anakku si Aresh dengan anakmu si Sean..di next part ya.