
"Kenapa menatapku begitu?"
Aura harus menghentikan gerakan tangannya yang sedang memakaikan dasi pada Damaresh, mana kala menyadari tatapan lelaki itu begitu mengarah pada wajahnya, seakan tak ada pemandangan indah yang tersaji di depan matanya, seindah wajah Aura.
"Tidak boleh?"
"Bukan begitu." Aura menggeleng cepat.
"Tapi caramu menatapku, seakan aku mau mati muda saja," ucap Aura dengan terkekeh.
"Terlihat begitu?"
"Ya, seperti kita yang mau berpisah saja--"
Dan Aura segera menutup mulutnya karna telunjuk Damaresh yang sudah menempel di bibirnya, seraya menggelengkan kepalanya pelan. Satu isyarat kalau ia tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Aura barusan.
"Bibirmu sedikit bengkak, kenapa?" tanya
Damaresh kemudian, setelah ia memperhatikan bibir ranum istrinya yang selalu berhasil menggodanya untuk menikmati manisnya lagi dan lagi.
"Disengat lebah," sahut Aura, asal.
"Lebah? Di mana ada lebah?"
" di sini," tunjuk Aura pada bibir Damaresh yang segera mendapatkan reaksi senyuman dari suaminya itu. "Sengatan lebah madu," imbuh Aura sambil menahan tawa.
"Sudah," ucap Aura kemudian, sembari merapikan dasi itu di sana sini. Dan tatapannya berhenti pada wajah Damaresh.
"Kau sangat tampan," pujinya sambil tersenyum.
"Aku tau." Damaresh meraih pinggang Aura dengan kedua tangannya, dan membawa tubuh itu dalam dekapan.
"Aku akan pulang telat, kau tidurlah dulu, tidak usah menungguku," ucapnya dengan suara pelan serupa bisikan, karna wajah keduanya yang kini sangat berdekatan.
"Ya," sahut Aura patuh.
"Dan ingat! jangan sampai telat makan"
"Ya." Jawaban yang sama diberikan oleh Aura.
"Jika ada yang datang, biarkan James atau Zka saja yang buka pintu, kau tidak boleh."
James dan Zka yang di maksud adalah dua orang yang bertugas menjaga dan menemani Aura ketika Damaresh sedang tidak ada di sana.
"Ya." Lagi, Aura menjawab dengan penuh kepatuhan.
"Jangan hanya 'iya' saja, Arra."
Aura sedikit mengangkat wajahnya untuk menatap Damaresh lebih jelas. "Iya, suamiku, sayang," ujarnya dengan seulas senyuman.
Lengkungan indah mencetak senyum sempurna terbit di bibir Damaresh atas ucapan Aura, ia lalu menunduk hendak mencium istrinya, tapi...
"Jangan membuat bibirku semakin bengkak!" Aura dengan cepat membuat penolakan. Damaresh semakin tersenyum lebar dengan itu, namun ia tak urungkan niatnya untuk melabuhkan ciuman pada Aura, tapi hanya cium kening saja.
Lelaki itu segera melenggang pergi setelah Aura mencium punggung tangannya.
Usai melaksanakan sholat ashar waktu setempat, Aura memilih duduk di balkon kamar sambil membuka aplikasi Al-Qur'an di ponselnya dan mulai membaca.
Terdengar bel pintu berbunyi, Aura mengabaikan saja, karna sudah ada James yang bertugas membuka pintu jika ada yang datang.
Bel kedua kembali berbunyi, membuat Aura sejenak menjeda bacaan, sebelum kembali dilanjutkan.
__ADS_1
Dan pada bel ketiga, Aura menutup aplikasi Qur'an dan meletakkan ponselnya di atas meja.. Ia melangkah keluar kamar memanggil James. Namun panggilannya tak mendapat jawaban. Aura juga memanggil Zka, namun wanita empat puluh tahunan berdarah eropa itu juga tak menjawab panggilan.
Sementara bel pintu terus berdentang, meminta tanggapan. Tanpa pikir panjang Aura melangkah menuju pintu dan membukanya tanpa melihat lebih dulu siapa yang datang melalui kamera monitor.
Seorang lelaki berkulit putih dengan sebagian rambut yang juga sudah memutih berdiri di depannya kini. Penampilannya sangat rapi, berjas dan berdasi. Meski tatapannya terlihat memindai Aura dengan teliti, tapi kepalanya menyodorkan anggukan, selayaknya penghormatan untuk orang yang posisinya sebagai atasan.
"Nona Aura Aneshka?"
Sapanya terangkum sekaligus dalam sebentuk tanya.
Aura mengangguk. "Ya, saya," sahut Aura dengan suguhan wajah ramah, khas seorang Aura Aneshka.
"Saya Damian, asistennya tuan William Pramudya," tutur lelaki itu memperkenalkan dirinya.
Tampak sedikit keterkejutan di wajah Aura,
Namun hanya sesaat saja, karna wanita berhijab itu segera menyadari posisinya sebagai pemilik rumah yang sedang menerima kunjungan seorang tamu. Apalagi itu adalah kepercayaan William, yang pasti kedatangannya bukan atas nama pribadi, tapi atas titah yang telah memberinya jabatan dan gaji.
"Ya, silahkan pak Damian." Aura mempersilahkan Damian untuk masuk.
"Tidak usah, Nona Aura," tolak Damian.
" Saya kesini hanya untuk menyampaikan pesan tuan William pada Nona Aura," lanjut Damian.
"Untuk saya?" tanya Aura heran.
"Ya. Tuan William mengundang Nona Aura ke Panthouse-nya sekarang," tutur Damian.
Yang tak segera mendapat tanggapan dari Aura kecuali keterdiaman.
"Saya diperintah, untuk mengantar Nona sekarang ke sana," lanjut Damian memperjelas titah yang telah ia dapatkan.
Aura bimbang, ia tak mungkin pergi tanpa ijin dari Damaresh, tapi di satu sisi, ia juga merasa tak sopan untuk menolak undangan ini, apalagi si pengundang adalah kakek Damaresh sendiri.
"Gak papa, James.. ini ada Pak Damian menyampaikan pesan dari tuan William untukku, dan memintaku pergi ke sana," ucap Aura. Ia sengaja memberitaukan itu pada James untuk tau bagaimana reaksi orang yang disuruh menjaganya oleh Damaresh itu.
"Kalau Nona ingin datang, saya antarkan," sahut James tanpa perlu berpikir panjang.
"Sebaiknya Nona Aura saja yang pergi, kau tidak udah ikut," larang Damian pada James.
"Tidak bisa, Pak. Sudah tugas saya menjaga Nona Aura, dimana-pun," tolak James.
Damian sepertinya paham, bagaimana watak yang sudah tertanam pada seorang yang berprofesi seperti James, yang pasti hanya akan mau menerima perintah dari orang yang telah mempekerjakannya saja. "Baiklah, kau boleh kawal nona-mu," putus Damian.
"Silahkan, Nona." Damian mempersilahkan dengan tangannya pada Aura yang segera mengikuti, dan James mengikut pula di belakangnya.
************
***************
Dua kata, untuk ruangan dimana Aura kini berada. Sangat Mewah. Dan ketika sepasang matanya memindai sekali lagi seisi ruangan itu, ada desir halus yang dengan sendirinya menyelinap di rongga dada.
Sebuah kesadaran, betapa sangat jauhnya perbedaan yang terbentang diantara dirinya dengan seorang Damaresh William. Hal itu terhampar dari kediaman dan tentu gaya hidup keluarganya yang sangat berkelas, beda dengan dirinya dan keluarganya yang selama ini melakoni hidup sederhana dan bersahaja.
Belum lagi cara pandang, pola pikir, pergaulan, pendidikan, dan Ahh, tetiba kepalanya terasa berat tatkala harus menyebut aneka bentuk perbedaan itu, ditambah lagi tanda tanya yang tak henti menari dalam benak, akan apa yang menjadi maksud dan tujuan William memanggilnya.
Apakah William akan memberinya restu?
Sepertinya untuk saat ini, kata restu dari William masih sebatas halusinasi.
Aura juga sangat menyadari dan tau diri, untuk tak berharap lebih.
__ADS_1
"Nona." Sapaan Damian membuat Aura menarik lamunannya lagi menuju kesadaran yang hakiki.
"Tuan William sudah menunggu anda di dalam. Mari ikuti saya," ajak Damian yang segera melangkah mendahului setelah melihat Aura menyetujui.
William duduk di sofa tunggal yang memiliki sandaran tinggi, selayaknya singgasana dalam sebuah istana yang sedang di duduki sang maha raja. Sayang, tak ada mahkota yang bertengger di atas kepala William, hanya jajaran rambut yang sebagian sudah memutih nan tersisir rapi.
"Saya membawa nona Aura Aneshka, Tuan," lapor Damian.
William mengangguk dan memberi isyarat dengan tangan agar Aura segera duduk.
Damian membungkukkan badannya berpamit pergi. Dan William juga memberi isyarat pada dua orang pengawal di belakangnya juga, agar segera pergi.
Kini dalam ruangan yaang luas dan memiliki design mewah dengan furniture berkelas itu hanya ada William dan Aura. Dimana Aura duduk dengan posisi tenang, tak tertunduk tak pula arahkan pandangan, sementara jemarinya yang salit bertaut di atas pangkuan, basah oleh air yang mengalir dari badan.
"Aura Aneshka." Suara William yang menyebut namanya terdengar menggelegar, seumpama gemuruh yang sebentar lagi memuntahkan badai, atau seperti erupsi sang merapi yang sebentar lagi memuntahkan larva pijar.
"Ya," sahut Aura pendek, itupun dengan suara yang hampir tenggelam di tenggorokan.
"Apa Damaresh sudah memberitaukanmu dengan benar, siapa aku?" Pertanyaan yang mempunyai maksud dalam nan terpendam, entah apa, Aura juga tak mampu membaca.
Wanita berhijab itu memilih jalan aman saja, yakni menjawab sesuai apa yang ditanyakannya. "Saya hanya tau, kalau Tuan William adalah kakeknya Damaresh, selebihnya itu, saya tidak tau apa-apa."
"Sudah kuduga, kalau dia belum memberitaukan padamu dengan benar, siapa aku, karna itulah, aku memintamu kemari."
"Terima kasih atas undangannya, Tuan William, saya merasa sangat terhormat sekali," ucap Aura dan kali ini, ia mengarahkan tatapannya pada William yang juga tengah menatapnya datar.
" Hmm..," dengung William, yang masih enggan melepas tatapan dari wanita yang telah dipilih Damaresh sebagai teman hidupnya itu. Membuat Aura harus mengalah dan kembali tundukkan pandangan.
"Aresh sangat memperjuangkanmu di depanku. Caranya itu cukup memberitaukan aku se-istimewa apa kau baginya. Padahal aku juga punya standart penilaian yang tak boleh dilangkahi begitu saja oleh anak keturunanku, apalagi Damaresh. Karna hanya dia yang pantas untuk menggantikan aku, maka sangat penting baginya untuk mengikuti segala aturanku," ucap William dengan untaian kalimat cukup panjang.
Kendati mengucapkan kalimat yang cukup panjang, tak ada yang berubah dari intonasi pengucapan yang tetap datar. Seakan dia memang sudah tercetak sebagai manusia yang berbicara pada orang lain tanpa adanya keramahan.
William menjeda kalimatnya cukup lama, seperti memberi tanda kalau sudah saatnya Aura yang berbicara. "Saya paham maksud, Tuan," ucap Aura.
Kalimat cukup panjang yang diucapkan William tanpa adanya tanjakan dan belokan itu, dipahami Aura hanya bermuara pada satu kata singkat saja.
Bahwa Aura bagi Damaresh sangat istimewa, tapi bagi William tidak.
"Aku senang kalau kau paham," ucap William, kendati dari nada suaranya tak terdengar kalau dia benar-benar senang. "Kau cukup cerdas," ucapnya memuji. Entah benar-benar memuji, atau hanya sekedar basa-basi.
"menjadi pendamping Damaresh, bukan hanya berdasar rasa senang, tapi juga kemampuan untuk mengimbanginya dalam semua kesempatan. Dan aku belum bisa memberi penilaian padamu, sebelum melihat kemampuanmu," putus lelaki itu.
"Jadi apa yang harus saya lakukan?" tanya Aura cepat. Sepertinya ia ingin segera membawa pembicaraan yang selalu memutar kata itu menuju titik maksud yang sebenarnya.
William menatap wanita yang duduk dalam jarak lima meter di depannya itu dengan pandangan menelisik. Hal yang tak ia duga kalau wanita berhijab itu ternyata cukup kritis, ia mampu menyelami kalimat William dalam sekejab.
"ikut aku nanti malam menghadiri sebuah acara.
Naila akan membantumu bersiap dan menjelaskan semuanya," pungkas William, sebagai akhir dari pembicaraan.
****
********
Hai semua..maaf ya..up nya telat..
di sini ada yang punya akun FB gak, Add aku ya biar kita bisa lebih saling mengenal.
Sekalian nanti kalian bisa bantu aku promosiin Aresh dan Arra..ke teman-teman kalian juga.
kalau gak keberatan sihh..
__ADS_1
makasih teman-teman..