
"Aresh, bangun!" Aura memanggil dengan suara yang lebih keras. Tangannya yang mengguncang tubuh Damaresh, juga semakin kuat.
"Hmm" Akhirnya, Damaresh bereaksi dengan mengeluarkan dengungan halus, tapi hanya sesaat, karena tubuh itu kembali diam, tenang, dengan napas teratur, dan dengkuran halusnya pun kembali terdengar.
Aura mendesah kesal. Ia segera menangkup muka bantal suaminya itu dengan kedua tangan, dan memberinya ciuman secara brutal.
"Argh," Damaresh menggeram kaget, tak menyangka akan mendapat serangan mendadak, yang membuatnya hampir tak bisa bernapas.
"Arra ...?" Damaresh membuka paksa sepasang matanya yang masih ingin merapat, dan menatap istrinya penuh tanya. "Ada apa, sayang?"
"Bangun, Aresh! aku sudah capek membangunkan dari tadi," sungut Aura dengan muka ditekuk jadi sekian tekukan.
"Aku ngantuk, Arra. Sebentar lagi ya." Dan Damaresh kembali memejamkan mata sambil membenahi posisi tidur agar lebih sempurna.
"Kamu ingat, gak? ini hari apa?" Aura menepuk-nepuk pelan sebelah pipi Damaresh.
"Hari minggu. Hari libur, makanya aku ingin kembali tidur," sahut Damaresh dengan suara serak, bahkan kata terakhir hampir tenggelam dibawa sepasang matanya yang kembali tertutup rapat.
"Bukan itu, Aresh. Kamu ingat gak, kita ada acara apa hari ini?" tanya Aura sekali lagi sembari kian mendekatkan wajahnya ke indera pendengaran Damaresh.
Mendengar itu, Damaresh kembali membuka matanya dengan memaksa. Walhasil hanya sebelah saja yang terbuka, "Ulang tahun? Anniversari? Mengunjungi ayah?" Kesemua pertanyaan Damaresh itu dijawab Aura dengan gelengan saja.
"Lalu apa, sayang? aku benar-benar lupa," ucap Damaresh dengan nada frustasi.
"Hari ini kita ada rencana belanja perlengkapan baby, Aresh," ujar Aura dengan lebih menekankan suara.
"Wah! iya." Lelaki itu membuka kedua matanya, mengerjap beberapa kali. Teringat rencana yang sudah disusun sejak beberapa hari sebelumnya, kalau pada hari ini, ia berdua istrinya akan belanja segala perlengkapan baby dari segala hal apa saja.
Semua itu sudah menjadi keinginan Aura sejak lama, bahwa ia akan menyiapkan sendiri segala keperluan calon anaknya, suatu saat bila waktu lahiran sudah dekat.
Maka hari ini, mereka tetapkan sebagai hari belanja nasional, dalam tanda petik, untuk Aura dan Damaresh saja ya.
"Tapi ini masih pagi, Sayang. Dan aku masih ngantuk." Damaresh mengahiri kalimatnya dengan menguap sambil menutup mulut.
Lelaki itu memang tiba di mansion jam 3 dini hari, dari mengurus Pramudya Corp di Bali. Sebenarnya, perusahaan di sana sudah diserahkan pada Anthoni. Tapi sewaktu-waktu, Damaresh sebagai penguasa tertinggi, datang untuk memantau situasi.
"Ini sudah hampir jam 8, Aresh. Kamu 'kan masih harus bersiap. Jam 9 tokonya buka. Aku ingin tiba di sana, bersamaan dengan toko dibuka itu. aku gak ingin keduluan yang lain," tutur Aura memberitahukan apa yang menjadi keinginannya.
"Tenang saja! toko itu tak akan buka, sampai kita datang. Jadi jangan kawatir keduluan orang, ya," bujuk Damaresh sambil mengusap pelan pipi Aura, dan lelaki itu kembali memejamkan mata, untuk meneruskan niatnya, melanjutkan mimpi yang sempat tertunda.
"Aresh, bangun! jangan tidur lagi!" Aura segera menggoyang-goyangkan tangan sang suami.
__ADS_1
"Apa lagi, sayang? kita gak akan keduluan yang lain, kok. Tenang saja!"
"Iya, tapi kenapa? kenapa toko itu akan buka setelah kita tiba di sana?"
"Ya, aku yang minta. Aku minta toko itu tutup hari ini untuk semua pembeli yang lain, kecuali kita."
"Aresh, aku gak mau yang seperti itu. Aku mau membaur dengan pembeli yang lain," protes Aura. "Batalkan sekarang! aku ingin toko itu seperti biasanya," pinta Aura kemudian.
"Gak bisa," sahut Aresh.
"Berapa kamu bayar ke toko? aku akan ganti," kata Aura. Catat ya, Aura sekarang sudah menjadi nyonya muda kaya raya. Untuk membooking satu atau tiga toko dia sudah bisa.
"Bukan masalah uang," tolak Damaresh.
"Lalu?"
"Semua itu aku lakukan untuk kenyamanan dan keselamatan kamu dan anak kita. Kamu minta belanja perlengkapan saat HPL sudah dekat. Sedangkan belanja itu aktivitas berat, belum lagi harus berdesakan dengan pembeli yang lain. aku kawatir, Arra." Aresh akhirnya bisa dengan sempurna membuka sepasang matanya yang tertutup rapat, karena istrinya yang mengajak berdebat.
"Tapi 'kan kalau yang belanja hanya kita, itu gak seru, Aresh. Seperti biasa aja ya, aku mohon." Aura kembali mengajukan penawaran. Karena dengan argumentasi gagal, maka ia mengeluarkan jurus andalan. Merengek.
"Untuk keselamatan istri dan anakku, aku gak suka tawar menawar. Kalau kamu gak suka, kita gak jadi belanja sekarang," putus Damaresh.
Ini perlu dicatat, Damaresh memang sangat menuruti kemauan Aura, apa saja yang menjadi keinginannya, bahkan Damaresh sanggup melakoni, sekalipun di luar kebiasaan diri.
Aura jadi terdiam, ia paham kalau sudah begini tidak boleh lagi ada bantahan. Aura juga sadar, kalau segala aturan yang dibuat oleh Damaresh untuknya, adalah demi kebaikan.
"Baiklah," ucap wanita yang sedang hamil 9 bulan itu dengan suara pelan. "Tapi kamu bangun sekarang, ya. Aku tetap ingin pergi ke sana jam 9."
"Ya, aku mandi dulu." Setelah mendengar jawaban demikian, Aura segera beringsut hendak turun dari pembaringan.
"Mau kemana?" Aresh menahan tangannya.
"Mau nyiapin sarapan buat kamu."
"Sini! kis aku dulu." Damaresh menunjuk bibirnya dengan telunjuk. Permintaannya pun segera diluruskan oleh Aura dengan lembut.
********
Satu jam kemudian, kedua pasangan itu keluar dari kamar mereka yang super besar, siap memulai pertarungan, membeli perlengkapan bayi yang memang sudah diidam-idamkan.
Terdengar suara kasak kusuk dari kamar sebelah. Kamar yang baru saja direnovasi untuk ditempati anggota keluarga baru. Tentu saja, anak Damaresh dan Aura itu.
__ADS_1
Keduanya serentak hentikan langkah, dan saling tatap penuh tanya. Terlebih ketika kemudian terdengar tawa ceria dari dalam sana, Aresh dan Arra, gegas melangkah ke kamar itu.
Dan astaga, hal apa kini yang mereka lihat saat pintu kamar itu dibuka. Ada dua orang pria berbeda usia di sana, yang satu duduk di kursi roda, yang satu bisa berjalan walau masih tidak sempurna. Dan keduanya kompak melakukan satu hal yang sama.
"Kakek, Dady, apa yang kalian lakukan?" Damaresh masih bertanya karena sangat tak menyangka, kendati apa yang dilkukan dua pria beda generasi itu sudah sangat jelas di depan mata.
"Yang ini, letakkan di sana saja, Elang!" tunjuk William pada Airlangga sambil menyerahkan sebuah guling kecil khusus bayi.
"Sebentar, Ayah," sahut Airlangga yang masih merapikan beberapa barang di dekat jendela.
Dua orang pria beda generasi itu, bukannya menjawab pertanyaan Damaresh, mereka malah sibuk berbagi peran menata ruangan yang semula masih kosong itu, dan kini sudah dipenuhi dengan semua barang perlengkapan bayi. Dan celakanya, semua barang-barang yang di sana itu, sudah ada dalam daftar belanja Aura hari ini. Tapi ternyata semua yang ingin ia beli sudah ada di sini , di kamar bayi.
Aresh dan Arra hanya bisa saling pandang, untuk sesaat mereka sama-sama tak bisa keluar ucapan. Hingga Claudya datang membawa dua tas belanja besar.
"Mommy, apa ini maksudnya?" tanya Damaresh pada ibunya.
"Kemarin, aku sama dadymu, belanja semua perlengkapan cucu pertama kami. papa juga ikut. Ini semua hasilnya. Kami sedang menatanya di sini." Claudya segera masuk ke kamar itu tanpa menunggu jawaban dari anak dan menantunya.
"Kalian tidak perlu membantu! biar ini jadi urusan kami saja," kata Airlangga yang terlihat sangat bersuka cita dengan apa yang tengah dikerjakannya.
"Jika kalian ada rencana jalan-jalan, teruskan saja, ini semua biar jadi urusan kami." William menimpali ucapan Airlangga.
"Kita gak jadi belanja, Aresh. Apalagi yang perlu kita beli, semuanya sudah lengkap di sana," resah Aura sambil berjalan keluar. Kepalanya bergelayut manja di pundak Damaresh yang masih terdiam.
"Kita jalan-jalan saja ya," ajak Damaresh untuk menghibur perasaan Aura yang mungkin sedang kecewa sekarang.
"Kemana?"
"Kemana saja kamu mau."
"Aku ingin makan cilok."
"Cilok, panganan apa itu? jangan aneh-aneh ya," tukas Damaresh.
"Gak aneh Aresh. Cilok itu makanan empat sehat lima sempurna," beber Aura dengan semangat empat lima.
"Di mana makanan itu ada?"
"Di dekat L&D Foundation, ada."
"Baiklah, ayo kita kesana!"
__ADS_1
Jadi, rencana belanja perlengkapan bayi, berubah menjadi rencana makan cilok saja. Akan jadi fenomena langka bukan, jika seorang CEO perusahaan besar, makan cilok di pinggir jalan.