
Perusahaan willson Corp.
Langkahnya cukup bergegas, dengan wajah tertunduk sibuk menscroll layar smartphone nya tanpa memperhatikan di arah mana ia melintas.
Meskipun tengah berada dalam gedung perkantoran elit, bukan berarti terbebas dari kemungkinan menabrak, memang bukan menabrak mobil atau truk, tapi menabrak sesama yang juga sedang lewat , bisa jadi kan..
Dari arah berlawanan seorang lelaki juga sedang bergegas, setali tiga uang, iapun tak melihat jalan, tangannya sedang sibuk mengancingkan jas nya yang cuma dua biji, dan lihat apa yang akan terjadi..
Brukk..
Tubrukan tak terhindarkan.
Terlalu gagah badan si pria yang tetap berdiri kokoh pasca terseruduk seonggok daging bernapas di depannya, hal ini beda dengan lawannya yang tubuhnya terhuyung dengan kepala membentur dinding ruangan.
Aww..jerit tertahan mengiring rasa nyeri meluncur dari bibirnya. Tangannya reflek mengusap kepalanya yang langsung berdenyut. Andai saja kepala itu tak tertutup hijab, pasti warna biru lebam sudah terlihat.
Lelaki tinggi tampan itu bukannya menolong malah hanya melabuhkan tatapan heran, pasalnya, dirinya belum pernah menemui seorang wanita berhijab di kantornya ini, ini baru yang pertama kali, atau justru memang sudah ada beberapa kali, cuman karna yang ada di hatinya hanya satu nama, jadi tak pernah ada satu mahluk berjenis sama yang menjadi perhatiannya, kendati berlalu lalang di depannya.
Aww
Rintih tertahan kedua dari wanita berhijab itu merampas lamunannya, segera kesadaran dan jiwa penolongnya
Meronta untuk beraksi. Tangannya terulur ikut mengusap kepala yang terbungkus, dan sang empunya segera terdongak melihat si penolong dan yang juga menjadi penyebab tubuhnya terhempas.
Tampan, terlalu tampan malah, tatapannya begitu hidup, hidungnya yang seruncing ujung keris bertengger kokoh diatas bibirnya yang ****.
Wanita berhijab itu hanya sesaat terpana karna kepalanya segera bergerak miring untuk menghindar dari tapak tangan pria itu yang bertengger
di atas pelipisnya, bahkan ada sebagian dari kulitnya yang mengenai pipinya.
Dan adegan singkat itu pasti menimbulkan efek romantis bila tertangkap mata kamera, begitu juga jika tertangkap mata manusia..seperti ketiga orang berbeda jenis yang juga menjadi saksi kejadian singkat itu, namun telah tercetak jelas dan melahirkan beberapa penilaian berbeda, dari yang biasa sampai yang luar biasa.
Damaresh bahkan sampai menghentikan langkahnya karna merasa mengenali siluet si wanita, namun disaat yang sama, satu sisi dari otaknya menolak untuk percaya, karna tak mungkin orang yang disangkanya itu akan ada di kota ini juga, bahkan di dalam gedung yang sama.
"Itu Sean Willson, Kak, CEO Willson Corp," tutur Naila yang melihat Damaresh sampai menghentikan langkah karna melihat dua orang beda jenis jarak sepuluh meter di depannya.
Damaresh sejenak beradu tatap dengan Kaivan sebelum mengambil langkah cepat, menghampiri.
Terdengar pria tampan yang ditengarai sebagai Sean Willson, CEO Willson Corp itu bertanya pada wanita di depannya.
"Kau tidak apa-apa, Nona?"
"Ya," jawab singkat gadis itu sambil katupkan matanya rapat sekadar menghalau rasa pusing yang masih menjerat.
"Kau yakin?" Sean terlihat tak percaya demi dilihatnya expresi si wanita.
Wanita itu segera ingin menjawab tapi keburu pendengarannya menangkap adanya suara yang memanggil namanya.
"Ara!"
Suara yang amat dikenalnya, yang selalu menyematkan panggilan berbeda, wanita berhijab itu reflek menoleh ke sumber suara, dan senyumnya langsung terkembang melihat siapa yang menghampirinya.
__ADS_1
Itu memang benar Aura Aneshka.
Pikirnya akan segera mendapat perlakuan manis dari orang yang selalu dirindukannya itu, tapi reaksi Aresh justru tak sesuai expectasi. Lelaki yang tak kalah tampan dari Sean Willson itu menarik tangannya keras untuk menjauh dari Sean hingga tubuh Aura menubruk tubuhnya.
"Hai, jangan kasar!" lerai Sean.
Aresh tak peduli, ia juga tak merasa iba melihat Aura yang kembali meringis, tatapannya tajam menyapu wajah cantik istrinya itu. " kenapa kau ada disini?
Dan apa yang kau lakukan dengan laki-laki itu?" cecar Aresh dengan pertanyaan tajam.
"Ehh a-aku..itu..ka-kami," aura menjawab gugup. Jiwanya gentar melihat tatapan tajam Damaresh membuat lidahnya menjadi kaku untuk bicara.
"Jawab aku Ara!" melihat kegugupan Aura, Aresh justru menaikkan suaranya
satu oktaf hingga pertanyaannya terdengar lebih seperti bentakan saja.
Aura kaget dan segera menunduk dengan wajah memanas dan mata yang berkaca.
Kaivan menepuk pundak Damaresh pelan untuk sekedar mengurai emosi lelaki itu. Sedangkan Naila melihat semua itu dengan tanda tanya dan tatapan penuh selidik darinya segera berlabuh di wajah Aura.
Beda dengan Sean, ia justru merasa kasian pada wanita berhijab itu. "Nona, kau tidak apa-apa?" ia bertanya kawatir.
Pasalnya masih jelas dalam ingatannya ketika gadis itu meringis kesakitan kini malah mendapat perlakuan yang jauh dari kelembutan dari laki-laki yang baru datang dan tidak dikenalnya itu yang bersikap seolah penguasa dari gadis tersebut.
(Sean, itu memang suaminya lho)
"Anda tak perlu ikut campur," sentak Damaresh cepat kepadanya.
"Aresh, pasti ada kesalah pahaman disini
Kasih Aura waktu untuk menjelaskan, caramu ini membuat dia takut," Kaivan coba mengingatkan Damaresh yang berdiri kaku.
Lelaki itu memutar badannya menatap lain arah untuk meraup udara sebanyak-banyaknya, guna mengalurkan dadanya yang tetiba serasa sesak. Sesak dan panas itulah yang dirasakannya sekarang. Saat itulah Naila mengambil perannya.
"Hallo tuan Sean Willson, saya Naila, dan ini Damaresh Willyam," Naila memberi isyarat pada Aresh sambil menjabat tangan Sean.
"Oo CEO Pramudya Corp," seru Sean yang sepertinya mengenali siapa Damaresh.
"Kami ada janji temu dengan tuan Sean,
Hari ini," ucap Naila dengan senyum ramahnya.
"Ya, aku juga tergesa ke ruangan untuk menyambut kalian," jawab Sean
Naila menoleh pada Damaresh yang masih menatap Aura namun mendiamkannya saja.
"Kai, kau temani Ara, aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu!" titahnya pada Kaivan yang segera mengangguk. Dan dengan sikap profesional ia segera menjabat tangan Sean memperkenalkan diri.
"Damaresh Willyam."
"Selamat datang tuan Damaresh," sambut Sean, juga dengan sikap profesional. "Kita ke ruangan saya, sekarang," ajaknya.
__ADS_1
Naila dan Damaresh pun mengekori langkah CEO Willson Corp yang berusia sekitar duapuluh tuju tahun itu menuju ruangannya.
Sementara Kaivan membawa Aura pergi dari tempat itu. "Mas Kai, dia marah padaku?" tanya Aura lirih sambil menghapus satu titik air matanya yang jatuh.
"Dia hanya salah paham saja, Aura. Dia juga terkejut karna tiba-tiba kau ada di sini, nanti kau tinggal jelaskan saja kebenarannya, dia pasti mengerti," ujar Kaivan coba menenangkan hati gadis itu yang tampak risau sekali.
Di ruangan CEO Willson Corp itu, pembicaraan seputar bisnis mengalir lancar tanpa hambatan, mengendapkan segenap peristiwa kurang nyaman yang menghiasi pertemuan pertama Damaresh dan Sean. Naila sendiri sampai terkagum-kagum dengan sikap Damaresh yang segera mendapatkan dirinya kembali setelah baru saja terbakar emosi bahkan terkait Sean Willson sendiri, yang saat ini duduk di depan keduanya sebagai partner sejati.
Setelah pembicaraan seputar bisnis itu mencapai pungkas, Damaresh dan Naila pun bersiap untuk pamit, tapi Sean menahan dengan ucapannya pada Damaresh.
"Sepertinya aku perlu menguraikan kesalah pahaman yang kau lihat barusan, Damaresh,"
Damaresh segera mengurungkan niatnya untuk meninggalkan kursinya demi mendengar hal itu.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" ia sambut ucapan Sean langsung dengan pertanyaan.
"Aku tak sengaja tadi menubruk--bagaimana aku menyebutnya-- wanitamu?" tanya Sean bingung karna dia tak tau apa hubungan rekan bisnisnya itu dengan wanita berhijab tersebut.
"Dia wanita halalku," sahut Damaresh tegas.
Naila langsung memutar kepalanya pada Damaresh, tatapan kagetnya tak dapat disembunyikan lagi. Ia bahkan masih menatap terpana untuk beberapa saat lamanya.
"Wahh!" dan reaksi takjub terlihat dari Sean. Meski ia menganut paham yang berbeda dengan Damaresh, tapi untuk istilah wanita halal, itu sudah bukan perkara
asing lagi baginya. "Itulah..aku tak sengaja menubruknya dan menyentuh kepalanya karna kulihat dia sangat kesakitan tadi, tapi dia menolak sentuhanku," ungkap Sean dengan senyumnya.
Damaresh diam mendengarkan, dia merasa sepertinya tak ada yang perlu diragukan dari keterangan Sean.
"Kita sepertinya 11-12, Damaresh, atau malah 12-13."
ucap Sean lagi sambil mengedikkan bahunya.
"Ada istilah baru rupanya," ucap Damaresh.
"Kita sama-sama sudah mengangkat seorang ratu untuk bertahta di dalam hati, memperlakukannya melebihi apapun, kita akan cenderung tak ingin hal buruk sekecil apapun terjadi padanya, yang terkadang untuk itu kita mengalami kesalah pahaman." ucap Sean bak seorang bijak yang sedang memberikan petuahnya. Entah dia mengucapkanya karna murni untuk mengingatkan Damaresh, atau justru sedang mengkisahkan dirinya sendiri.
"Hanya saja kau lebih beruntung dariku," lanjut Sean lagi.
"Kenapa?"
"Kau bucin pada wanita halal-mu, sedang aku mungkin sebentar lagi akan ditinggal nikah oleh wanita idamanku," tutur Sean sambil menautkan kesepuluh jemari tangannya di atas perutnya, dan tubuhnya bergerak kanan-kiri mengikuti gerak kursi putarnya, yang menandakan kalau ia sangat tak nyaman dengan apa yang tengah ia ceritakan.
"Dan kau membiarkan saja hal itu, Sean?" tanya Damaresh mencebik.
"Sepertinya ini karma yang memang harus aku terima, karna aku sudah banyak berbuat salah padanya," ucap Sean dengan helaan napas berat.
"Sepertinya kesalahan yang terlalu fatal," tebak Damaresh.
"Ya," Sean mengangguk.
"Semoga saja kau mendapat keajaiban, Sean,"
"Kuharap juga begitu, Aresh. Jika aku bisa mendapatkan keajaiban itu, aku bisa membawanya ke altar pernikahan, aku akan segera terbang ke Jakarta untuk menemuimu," janji Sean penuh semangat.
__ADS_1
"Aku tunggu itu, Sean," Damaresh menarik sudut bibirnya dan lanjutkan niatnya untuk berdiri dari duduknya. "Terima kasih, Sean untuk semuanya," ia menjabat tangan Sean yang mengangguk mengiyakan.
Damaresh segera keluar dari ruangan itu di ikuti Naila Anggara yang telah bertransformasi menjadi gadis bisu dari tadi, dari sejak kalimat wanita halal di sematkan oleh Damaresh untuk wanita yang bernama Aura.