
Tiga jam sebelumnya.
Duduk berlama-lama di depan laptop yang terbuka beserta tumpukan berkas, bukanlah hal baru baginya,
ia sanggup melakoninya bahkan sampai semalam suntuk. Rutinitas yang seakan tak pernah mempertemukannya pada kata jenuh dan lelah. Demi apa coba?
Padahal tumpukan rupiah dan dollar yang telah dikumpulkan tak menggiringnya pada satu kata "kebahagiaan" , tapi toh ia tetap bertahan bahkan terlena kian dalam.
Hingga kemudian Denting irama di ponselnya, mengalihkan segala atensi Damaresh dari kesibukan yang dilakoninya tanpa jeda sejak satu jam sebelumnya.
"Iya."
"Aresh, kau sedang sibuk, atau justru sudah tidur?"
"Belum, ada apa Anthoni?"
"Tante Clau memintaku untuk menyuruhmu pulang ke mansion besok,"
"Hmm" Tanggapan Damaresh hanya berupa dengungan saja. Tapi tak masalah bagi Anthoni, itu bukan suatu penghalang untuknya melanjutkan kata.
"Bawa Aura! aku juga akan membawa Vriska"
Terdengar Anthoni lalu tertawa ringan. Tawa untuk dirinya sendiri, karna apa yang diucapkannya itu untuk saat ini hanya menjadi sebatas angan.
Damaresh sudah menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi sebelum kalimat yang diucapkan Anthoni mencapai titik. "Itu saja kepentinganmu?"
tanya Damaresh dengan jengah.
"Satu hal lagi, Aura itu tegas dan hebat. Aku sudah memberitaunya tentang rahasiamu, tapi ia tetap bertahan bersamamu, pertahankan dia Resh!, ya setidaknya dengan itu aku akan jadi punya sekutu,"
lagi-lagi Anthoni mengahiri kalimatnya dengan tawa.
"Kau sudah selesai? aku akan lanjutkan pekerjaanku,"
ucap Damaresh, terdengar tak perduli dengan segala apa yang diucapkan oleh Anthoni.
Tetapi setelah panggilan telfhon berakhir, Damaresh masih terkapar dalam tanda tanya akan hal apa yang telah disampaikan Anthoni pada Aura terkait dirinya.
Pekerjaannya rampung bersamaan dengan perjalanan malam yang mencapai titik tengah, tapi kantuk belum datang menyapa, ditambah lagi ucapan Anthoni yang masih terngiang di telinganya menciptakan kekalutan, Damaresh memilih untuk membunuh semua kekalutan itu dengan bergegas keluar dari ruang kerjanya dan menuruni tangga untuk menemui Dirga.
Kebiasaannya sejak kecil, tiap kali tak dapat memeluk tidurnya dengan lena, Damaresh akan duduk bersama Dirga, meminta pengasuhnya itu untuk bercerita hal apa saja, yang akan mengalihkan kerancuan jiwanya karna bertumbuh di tengah keluarga yang tak membiaskan kehangatan selayaknya sebuah keluarga.
Dan Dirga akan selalu memenuhi keinginan Damaresh, kendati ia harus melewatkan waktu istirahatnya, kendati kantuk sudah mencengkramnya, Dirga sanggup menahan semuanya demi sang tuan muda.
Dan hal itu terus berlanjut kendati sang tuan muda telah dewasa.
Namun di ruang tengah lantai bawah itu, ia melihat siluet Aura yang melangkah menuju pantry dan membuka kulkas, rasa penasaran Damaresh yang sudah di ubun-ubun ia putuskan untuk segera dituntaskan saat itu juga.
Terjadilah pembicaraan itu dengan Aura, dimana, di ujung percakapan terungkaplah sebuah kebenaran yang tak pernah diduga Aura sebelumnya perihal penyebab mereka terpaksa menikah.
"Aku yang telah membuatmu gagal menikah dengan Akhtar, aku yang telah menyuruh orang untuk mengirimkan foto-foto kita pada keluarga Akhtar,"
ungkap Damaresh dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
__ADS_1
"Bu-Bukankah itu perbuatan pak Edgard?" tanya Aura dengan gugup.
"Tidak, itu perbuatan orang suruhanku," tandas Damaresh.
Flasback on
Peristiwa itu bermula, ketika orang suruhan Edgard menjebak Kaivan dan Aura di apartement.
Damaresh yang datang menyelamatkan pada Akhirnya menjadi sasaran tuduhan dari Aura, terlebih ketika dengan tanpa pikir panjang, Damaresh mengangkat telfhon dari Akhtar untuk Aura pada jam tiga dini hari,
membuat perdebatan cukup sengit terjadi diantara keduanya. Di ujung perdebatan itu, dengan asal-asalan Damaresh mengatakan akan menggantikan Akhtar untuk menikahinya, karna Aura yang kawatir, Akhtar akan membatalkan pernikahan mereka yang tinggal dua minggu lagi.
Sebagai lelaki yang memiliki kekuasaan yang tinggi menjulang, dan disertai pesona yang tak terbantahkan,
harga diri Damaresh sangat terlukai atas ucapan Aura Aneshka yang menjawab lantang ucapan Damaresh itu.
"Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah sudi menikah dengan Bapak, karna Bapak tidak akan bisa menjadi imam yang baik untuk saya, dan juga tidak tau bagaimana caranya menjadi imam yang baik dalam sebuah rumah tangga."
Padahal tawaran yang ia ajukan pada Aura adalah jauh. dari sebuah kesungguhan. Menikah adalah sebuah pencapaian yang tidak pernah ada dalam agenda hidupnya, dan jatuh cinta adalah juga hal yang tak ia harapkan kehadirannya.
Damaresh tak ingin seperti dua orang sepupunya, Anthoni dan Edgard, yang terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan yang satunya terjerat dalam cinta tanpa ikatan.
Tapi ucapan Aura telah membuatnya tertantang untuk membuktikan kekuasaannya, bahwa ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Berbekal rekaman cctv di kamar Kaivan itu, Damaresh mengedit beberapa gambar dirinya dan Aura dengan sedikit polesan di sana sini, seolah mereka sedang tidur bersama.
Ia lalu memerintahkan Stevan untuk mengirimkan gambar itu ke alamat Akhtar, dan untuk mengelabui Aura, di buatlah sebuah rekayasa kalau pengirim gambar yang menjadi penyebab hancurnya rencana pernikahan Aura dan Akhtar itu ber-alamat di daerah Surabaya tak jauh dari gedung kantor Mediatama Corp,
perusahaan pimpinan Edgard.
Flashback of
Sekian waktu dilewati Aura dengan diam dan bertetes air mata, membuat Damaresh yakin kalau Aura tak akan bisa memaafkan dirinya atas kesalahannya itu.
Damaresh sendiri juga siap atas akibat apapun yang akan diterimanya karna hal itu.
"Aku minta maaf," lirih Damaresh yang tak mendapatkan jawaban apa-apa dari Aura. Lelaki itu segera membawa tubuhnya berdiri dari duduknya untuk segera pergi dari sana.
"Setiap sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, tak lepas dari goresan takdir yang maha kuasa, seperti pernikahan kita, itu adalah takdir, terlepas apapun yang menjadi penyebab pernikahan itu terjadi."
Ucapan Aura itu mengurungkan niat Damaresh untuk segera pergi.
"Apa itu artinya kau memaafkanku?"
Damaresh menatap Aura dalam. Gadis itu mengangguk pelan tapi pasti, di serta jawaban penegas. "Iya."
"Hanya satu hal--" Aura segera menghentikan ucapannya sebelum mencapai titik, karna Damaresh yang gegas bertanya, tampak begitu penasaran sekali.
"Apa?"
"Beritaukan semua kebenaran ini pada Akhtar, jika suatu saat kau punya waktu bertemu dengannya,"
pinta Aura.
"Sepertinya dia masih memiliki tempat di hatimu ya? sampai kau tak ingin dia salah paham," tanya Damaresh
__ADS_1
dengan nada tak nyaman. Lelaki itu bahkan segera duduk kembali di samping Aura.
"Tidak," sanggah Aura dengan cepat.
"Saat ini aku sudah bersuami, dan aku sudah haramkan ada lelaki lain dalam hatiku, selain suamiku."
"Kau yakin dengan ucapanmu?"
Jujur saja, ada rasa senang dalam diri Damaresh mendengar ucapan Aura, tapi ia tak mau tenggelam dalam rasa senang itu karna ada satu fakta tentang keluarga Damaredh yang tak diketahui Aura.
Bisa jadi nanti gadis itu akan menyurutkan langkahnya
setelah mengetahui kebenarannya.
"Iya." Aura kembali memberi jawaban pasti yang disertai tatapan penuh tekad.
"Ada satu hal yang perlu kau ketahui tentang keluargaku, Arra! bahwa setiap wanita yang masuk dalam keluarga Willyam hanya akan memiliki dua jalan,
Terbelenggu dalam ikatan tanpa cinta, atau terjerat dalam cinta tanpa ikatan."
Aura cukup terkejut mendengarnya, rumor seperti itu memang sudah pernah didengarnya dulu di L&D Foundation sebelum ia bertemu Damaresh dan bekerja padanya, tapi hanya sebatas rumor yang belum diketahui kebenarannya. Dulu Anthoni sempat mengisyaratkan kalau hal itu memang benar, dan ternyata sekarang Damaresh dengan tegas menyatakan kalau hal itu memang benar.
Sungguh dua hal yang disebutkan Damaresh adalah hal yang tak inginkan oleh wanita manapun. Benar tidak?
"Karna itukah, diawal menikah dulu kau membuat peraturan untuk tak saling jatuh cinta?"
tanya Aura teringatkan syarat pertama yang diajukan Damaresh dulu di kamar Aura setelah akad nikah.
"Salah satunya, Iya."
"Lalu kau akan menempatkan aku diposisi yang mana?"
Aura merasa harus memperjelas semuanya.
"Untuk saat ini, aku belum tau. Maaf," ucap Damaresh pelan dan memutus pandangannya begitu saja dari Aura. Damaresh merasa benci dirinya harus berada dalam kondisi seperti ini sekarang, kondisi dimana ia tak dapat memutuskan sesuatu dengan cepat dan tegas seperti cara kerjanya selama ini dalam memimpin Pramudya Corp.
Tentu saja beda, mengambil keputusan untuk sebuah perasaan tak semudah mengambil keputusan tentang
perusahaan. Damaresh memang sukses dalam memimpin perusahaan tapi tak tentu ia akan sukses dalam urusan perasaan.
"Gak papa Aresh, aku paham," ucap Aura terlihat sepenuh pengertian. Terlihat dirinya baik-baik saja dengan itu.
"Ahh sepertinya aku ingin melanjutkan tidurku," ucapnya lagi kemudian.
"Iya, tidurlah kembali!"
"Kau juga harus tidur, Aresh!"
Setelah mendapat anggukan dari Damaresh, Aura segera membawa dirinya dengan bergesa kembali ke kamar. Dan begitu tangannya meraih pintu kamarnya, air mata yang sudah ditahannya dari sejak mendengar jawaban Damaresh itupun jatuh di belahan pipinya.
Aura sebenarnya tidak baik-baik saja. Hatinya terluka.
Dan Rasa kecewa serta rasa sedih atas jawaban Damaresh yang berusaha ditutupinya itu ,.tumpah begitu saja dalam sebentuk linangan air mata tak terbendung.
__ADS_1