
Titik peluh berjejal tak rapi di keningnya, di ujung hidung, dan sedikit di kedua belahan pipinya. Sudah berapa kali diusap, tapi hadir lagi dan lagi. Mungkin efek makanan pedas yang sedang dilahap. Semua itu menjadi pemandangan indah tersendiri bagi Alarick William. Yang enggan mengalihkan tatapannya sedari awal, pada sang istri yang tengah melahap bakso--yang diklaim sebagai makanan kesukaan.
"Sherin!"
Tiba-tiba sebuah panggilan dari suara yang sudah sangat ia kenal, menginterupsi Sherin yang sedang lahap dengan baksonya.
"Aura!" Sherin juga berseru kaget sekaligus senang. Wanita berperut buncit itu segera berdiri, mengabaikan begitu saja sendok berisi bakso yang hampir saja masuk mulut tadi.
Keduanya sama-sama saling menghampiri, saling berpeluk erat tapi tak bisa merapat, karena terhalangi oleh ukuran perut masing-masing yang sama-sama membuncit.
"Apa kabar, Tanteku sayang?" tanya Aura.
"Kabar baik, keponakanku sayang," balas Sherin dan diakhiri tawa renyah.
"Kamu kangen juga sama, Bang Rohim?" tanya Aura.
"Ya, aku sampek gak bisa tidur semalaman."
"Cinta Bang Rohim luar biasa ya."
Tawa renyah keduanya kembali mengudara. mengabaikan Alarick dan Damaresh yang saat ini dianggap tak kasat mata. Kedua bumil itu terlibat perbincangan seputar dunia mereka setelah Aura memesan bakso bang Rohim, yang ketika dibayangkan saja air liurnya sudah mengalir.
Bakso Bang Rohim, favorit seantero pesantren Darul Falah. Warung baksonya terletak tak seberapa jauh dari gerbang pesantren. Warung bakso yang tak pernah sepi pembeli itu, khusus hari ini jadi lengang. Hanya ada Aura dan Sherin di dalam. entah ini ulah Alarick atau Damaresh William. Yang jelas salah satunya pasti sudah memborong bakso tersebut. Agar aktifitas makan bakso para istri mereka tidak terganggu dengan pembeli yang lain.
"Apa kabar, Om?" Aresh baru teringat untuk menyapa Alarick setelah beberapa jenak masih memerhatikan tingkah laku istrinya bersama Sherin.
"Yah, beginilah, Resh." Alarick tersenyum sambil menghela napas.
"Jadi korban ibu hamil ya, Om," ledek Damaresh sambil ketawa.
Alarick tertawa renyah, teringat ulah istrinya sejak semalam yang senantiasa menyebut-nyebut nama "Bang Rohim" hingga Alarick naik pitam, dikira istrinya lagi jatuh cinta pada seseorang. usut punya usut, ternyata bang Rohim adalah nama tukang bakso di area pesantren Darul-Falah.
Alarick jadi ingin tepuk jidat, karena harus jauh-jauh datang dari Malang ke Probolinggo hanya untuk memenuhi selera makan bakso istrinya, yang HPL nya sebentar lagi itu.
"Dan dia minta jalan kaki dari jalan raya sana, kemari," pungkas Alarick di ujung ceritanya.
"Jalan kaki," ulang Damaresh, teringat jarak dari jalan raya ke warung bakso itu yang diperkirakan satu kilo. Suami Aura itu segera tertawa.
"Gak usah meledek! kau sendiri juga korban ibu hamil," balas Alarick yang langsung menghentikan tawa dari Damaresh. "Aku pikir hanya istriku saja yang ajaib, jauh-jauh dari Malang hanya untuk makan bakso di sini. Ternyata ada yg lebih ajaib lagi. Dari Jakarta datang kemari, hanya untuk makan bakso juga." Dan kini giliran Alarick yang tertawa. Sedangkan Damaresh jadi menggerayangi tengkuknya yang tak gatal dengan lima jari.
"Dia minta naik kereta api lagi, Om," tutur Aresh.
"Dari Jakarta?" Alarick langsung terhenyak.
__ADS_1
"Dari Gubeng, Om, Surabaya. Dan dari Stasiun kota ini, dia minta naik Becak motor," adu Damaresh.
Alarick segera menepuk lembut pundak keponakannya itu. "Sabar Resh, Syukuri saja semuanya." Dan Alarick kembali memerlihatkan tawa renyah.
"Om juga ya," sahut Aresh. kedua lelaki itu kian tenggelam dengan obrolan bersama, dalam dunia mereka saja. Dunia para suami yang punya istri hamil besar dengan keinginan yang terkadang di luar dalam. Mungkin sepasang Om dan keponakan itu sedang saling menguatkan, saling memberi dukungan antara satu dengan yang lainnya.
Aura dan Sherin juga sibuk dengan dunianya. Dunia memenuhi keinginan yang tiba-tiba datang tanpa bisa ditahan, dan cenderung berada di luar kebiasaan. Tapi atas nama apa pun, menghadapinya dengan tetap senyum dan Syukur itu adalah yang terbaik.
Sayangnya Euforia kedua pasang suami istri dengan masing-masing dunianya itu harus terganggu. Karena tiba-tiba Sherin mengaduh sambil memegangi perutnya yang besar.
"Rin, kamu kenapa?" tanya Aura.
Sherin menggeleng sambil terus menunduk dalam, sedangkan kedua tangan menopang perutnya yang besar. "Perutku sakit, Ra. Sakit banget," keluh Sherin.
"Hah? sakit? HPL mu kapan?"
"Besok lusa."
"Ya Allah! Om, Om Al!" panggil Aura cepat. panggilan yang tak hanya direspon oleh Alarick tapi juga Damaresh.
"Tante sakit perut, Om!"
"Sherin " Alarick gegas menghampiri istrinya, mengangkat kepala Sherin yang tertunduk. Wajah itu pucat dan keringat dinginnya mengalir deras.
"Gak gitu, Mas," rengek Sherin sambil sesekali mengaduh. Sementara Alarick menghapus keringat di wajah istrinya itu, Sherin terus saja berdesis lirih. "Aku tuh kayak mau melahirkan sekarang, Mas," kata Sherin dengan napas tetengah.
"Apa?!" Semua kaget mendengarnya.
"Kita bawa ke Rumah sakit sekarang, Om," usul Damaresh.
"Mobilku ada di tepi jalan raya, Resh," ucap Alarick mulai dengan raut wajah panik.
Damaresh segera berlari ke luar warung. Untungnya tadi ia meminta anak buahnya mengikuti perjalanannya dengan Aura pakai mobil. Lelaki itu segera meminta pada sang anak buah untuk mendekatkan mobilnya ke warung bakso. Dan tak lama, Alarick keluar dari sana sambil menggendong tubuh istrinya diikuti Aura.
Karena kapasitas mobil mewah jenis sedan itu hanya 4 orang, maka Damaresh sendiri yang bertindak sebagai sopir dan Aura duduk di sampingnya. Sedangkan di kursi belakang, Alarick bersama Sherin yang tidur di pangkuan suaminya sambil tak hentinya berdesis kesakitan.
"Rin, sabar ya, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit," bujuk Aura sambil melongokkan kepalanya ke belakang.
Sherin hanya mengangguk sambil terus mencengkram tangan Alarick untuk menahan rasa sakit. Sesaat tak terdengar rintih kesakitan Sherin. Tapi kemudian, wanita itu kembali merintih lebih keras karena sakit yang semakin kuat.
"Sabar ya, Sayang," ucap Alarik lembut sambil mengusap-usap perut Sherin.
"Sakit banget, Mas," rintih Sherin dengan air mata jatuh.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tau. Tahan ya. Sebentar lagi kita sampai," ucap Alarick. Padahal aslinya ia gak tau letak rumah sakit kota ini sudah dekat atau masih jauh dari posisi mereka sekarang.
Sherin berangsur tenang, tapi sesaat kemudian, malah Terdengar Alarick menjerit tertahan.
"Kenapa, Om?" Aresh dan Arra segera melongok ke belakang bersamaan. Terlihat Sherin sedang menjambak rambut Alarick dengan kuat, hingga suaminya itu harus menunduk dan menahan sakit.
"Rin, jangan gitu dong, Rin. Rambutnya Om Al bisa copot," kata Aura.
"Biarin, aku sakit." Dan Sherin kembali mengaduh kuat sambil terus menjambak. Alarick mengaduh tertahan.
"Om, Om gak papa?" tanya Aresh dari depan.
"Gak papa, Resh," jawab Alarick, tapi jelas dari suaranya kalau ia tengah menahan rasa sakit.
"Rin, lepasin ya rambut Om Al." Aura coba bernegoisasi dengan Sherin yang tak menjawab kecuali hanya kian merintih sakit.
"kalau semua rambut Om Al copot, kamu bisa punya suami botak, ihh jellek Sherin," bujuk Aura lagi karena tak tahan melihat wajah Alarick yang memerah menahan sakit.
"Gak papa, bisa pakai wig," sahut Sherin di sela rintihannya.
"Tapi kalau wignya dibuka, tetap aja jellek, Sherin. Quinsha pasti akan sering meledek kalian," bujuk Aura tak kehilangan akal.
Astaga dua orang bumil ini malah membahas rambut botak.
Cukup ampuh juga bujukan Aura, Sherin perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari kepala suaminya. Dan hal itu disambut Alarick dengan menarik napas lega.
Sesaat hening, Sherin tak lagi terdengar merintih, tapi kemudian, rintih kesakitan itu terdengar dari depan, tepatnya dari samping Damaresh William.
"Arra kenapa?"
"Tiba-tiba perutku juga sakit, Aresh," sahut Aura sambil mengusap-usap pelan rambutnya.
"Arra ..."
"Apa aku juga akan melahirkan sekarang, ya." Aura kian merintih karena rasa sakit yang kian menjadi.
"Arra, jangan main-main, sayang!" seru Damaresh panik.
"Aku gak main-main, Aresh. Aku beneran merasa sakit."
"Iya, iya aku percaya. Tapi masa kamu mau melahirkan sekarang juga? aku harus bagaimana ini?" Damaresh tak hanya panik tapi juga terlihat frustasi.
"Ya udah, kamu terus menyetir sampai ke rumah sakit!" titah Aura sambil terus menahan sakit.
__ADS_1