Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
15. libur khusus


__ADS_3

"Mau ngantor?" Kaivan langsung duduk tak jauh di samping sahabat plus bos tampannya itu.


"Hmm" Damaresh mengangguk saja. expresi wajahnya terlihat datar, bagi yang lain itu adalah hal yang biasa.


penampakan seperti itu memang sudah jadi ciri khas Damaresh Willyam. Tapi tidak bagi Kaivan, ia dapat merasa kalau ada hal yang tengah mengganggu pikiran


Damaresh saat ini.


"Ada apa?" Kaivan bertanya setelah menyesap minumannya.


"Wanita itu sudah pergi?" Damaresh malah bertanya lain. Ini juga salah satu kebiasaan Damaresh bila tak ingin membahas apa yang menjadi beban pikirannya. Ia akan mengalihkan pembicaraan dengan cepat.


"Sudah. Lewat jam satu dini hari tadi,"


"Kenapa kau mengusirnya begitu cepat?" Damaresh menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dan kini posisi duduknya menjadi lebih rilex.


"Aku hanya memakainya sekali," Jawab Kaivan.


"Harusnya kau menikmatinya lebih lama,"


"Sangat tidak menyenangkan berada dalam situasi seperti ini," Kaivan menggeram.


"Apa waktu dua puluh empat jam cukup untuk mengusut semua ini, Kai?" Damaresh segera berganti topik.


"Bukankah sudah jelas kalau ini ulahnya anak buah Edgard?" Kaivan menatap Damaresh serius.


"Ia. Tapi aku juga ingin siapa saja yang ikut terlibat dalam hal ini juga di lindas habis. Perkara Edgard aku sudah menyusun rencana untuk membalasnya."


"Baiklah, tak sampai dua puluh empat jam, kau akan mendapatkan laporannya dariku," Kaivan nampak lebih bersemangat dari biasanya tiap kali mendapat tugas membabat kerikil di depan langkah Damaresh, pasalnya karna dalam hal ini dirinya sendiri yang jadi korban.


"Aku langsung ke kantor," Damaresh bangkit dari posisi duduk santainya. "Kau antarkan Arra pulang," titahnya kemudian ketika hampir mencapai pintu.


"Bukannya dia juga harus ke kantor?"


"Aku kasih dia libur sebanyak yang dia mau, agar leluasa untuk bertengkar dengan calon suaminya,"


sahut Damaresh dan segera menghilang di balik pintu.


Kaivan mengerutkan keningnya heran dengan ucapan sang bos, dan ketika dia berbalik badan, Aura ternyata sudah bediri tak jauh di belakangnya. Bisa saja ia ikut mendengar ucapan Damaresh barusan, atau justru Damaresh sengaja berkata demikian karna tau kalau Aura sudah ada disana juga.

__ADS_1


Sesaat Kaivan masih menatap Aura yang terdapat bekas-bekas air mata di wajahnya. Kai sempat berpikir tentang kemungkinan buruk yang di lakukan Damaresh pada gadis itu semalam. Tapi tidak. Kaivan segera membuang jauh-jauh pikiran itu, karna ia tau


Damaresh memang seseorang yang otoriter dalam kepemimpinanya. Tapi kalau urusan ranjang, dia bukan lelaki yang suka memaksa, apalagi untuk meniduri gadis yang sedang berada dalam pengaruh obat bius.


"Aku antarkan kau pulang, tunggu sebentar ya," ucap Kaivan. Aura mengangguk. Ia memilih duduk sembari menunggu Kaivan. Tak ada bahasa yang di keluarkannya sekalipun, begitupun selama dalam perjalanan menuju kontrakannya. Gadis itu merasa sangat lelah, lelah dengan kesalah pahaman yang ada di antara dirinya dengan Akhtar. Dan kini sepertinya Damaresh juga mulai mengibarkan bendera perang dingin dengannya. Terasa bebannya bertambah, dan ada rasa sedih juga.


Tapi kenapa harus sedih sih Aura, Damaresh kan memang sudah terbiasa bersikap dingin. Selama ini komunikasi kalian juga lebih banyak di isi perdebatan, baik yang penting ataupun tidak penting.


Harusnya gak masalah kan kalau kini di antara kalian ada perang dingin. Kalau perlu pergi kutub sekalian biar sama-sama beku. Aura bermonolog pada dirinya sendiri, hingga tak sadar kalau kini mereka telah sampai di jalan depan gang yang menuju ke rumah kontrakannya.


"Lagi banyak pikiran ya?" Tanya Kaivan sebelum Aura membuka pintu mobil.


Aura mengangguk sambil senyum.


"Pantas si bos memberimu libur panjang," ujar Kaivan.


"Mungkin besok saya sudah masuk kerja pak," sahut Aura setelah berada di luar mobil itu.


"Kalau memang masih belum nyaman, libur aja dulu gak papa, ini libur khusus untukmu lho," ujar Kaivan dan tanpa tunggu jawaban Aura lelaki itu segera melajukan mobilnya dengan cepat.


Nyatanya Aura baru masuk kerja setelah tiga hari kemudian, karna setelah periatiwa itu bukan hanya perasaannya saja yang tidak enak, badannya juga tidak enak. Ditambah lagi komunikasinya dengan Akhtar yang sudah ada pada titik memprihatinkan. Padahal dalam sepuluh hari kedepan, mereka akan naik pelaminan. Aura juga takut pada ancaman Damaresh.


Untunglah hari ini Aura sudah berada dalam kondisi lebih sehat, dan siap untuk bekerja lagi, siap untuk berdebat lagi dengan Damaresh yang sampai saat ini belum memberikan ruang kerja lain untuk Aura. artinya keduanya masih berbagi satu ruang yang sama, dimana hak Aura disana hanya Satu persen saja sedangkan sisanya adalah haknya Damaresh Willyam


sendiri.


"Saya mau tanya sesuatu pak, boleh?" Aura duduk di depan Kaivan yang segera mengangguk.


"Boleh, tanya saja."


"Peristiwa itu sebenarnya bagaimana pak?"


"Aku memang menunggumu bertanya ini Aura, karna Damaresh melarangku untuk memberitaumu sebelum kau sendiri yang bertanya."


"Artinya pak Damaresh mau membiarkan saja kesalah pahaman saya?"


"Jadi kau sudah tau, kalau kau hanya salah paham?"


Aura mengangguk lemah. Semalam bibi pemilik warung menemuinya dan menjelaskan kalau pada malam itu ia di paksa dan di ancam untuk mencampurkan obat dalam makanan Aura hingga membuat gadis itu tidak sadarkan diri dan di bawa pergi oleh seorang lelaki tinggi besar dengan dua orang kawannya. Dimana ciri-ciri ketiga lelaki tersebut yang di sebutkan bibi sama persis dengan tiga orang suruhan Edgard yang mengancamnya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Dari sana Aura baru tau kalau dia telah salah menuduh Damaresh yang telah membiusnya untuk melakukan tindakan tak senonoh. Ditambah lagi kemudian Kiavan menjelaskan hal yang sebenarnya, bahwa Damaresh justru menyelamatkan dirinya, Aura jadi semakin merasa bersalah.


"Saya telah salah paham, saya harus minta maaf pada pak Damaresh," ucap gadis itu sambil tertunduk.


"Tapi sepertinya kau harus menyimpan dulu permintaan maafmu sampai satu minggu kedepan,"


ucap Kaivan.


"Kenapa pak?"


"Bos sedang berada di LN sejak kemarin, mungkin akan tiba disini lagi minggu depan."


pantas saja dari tadi Aura tak menemukan keberadaan CEO tampan itu. Rupanya karna memang sedang berada di luar negeri.


"Sendirian saja?"


"Aku akan menyusulnya kesana bersama Clara hari ini."


Aura mengangguk. Kembali ia akan menanyakan sesuatu tapi tertahan karna dering ponselnya.


"Permisi pak," pamitnya pada Kaivan yang segera mengangguk.


Aura berdiri menyisih untuk menerima telfhon itu, dan tak seberapa lama kemudian ia menghampiri Kaivan dengan wajah pucat.


"Ada sesuatu dengan calon suamimu?" tanya Kaivan langsung.


"Bukan pak, ayah saya masuk kerumah sakit karna serangan jantung," suara Aura mengecil tercekat di tenggorokan.


"Saya harus pulang," lanjutnya.


"Baiklah kau boleh pulang."


"terima kasih pak," Aura segera bergegas bangkit dengan terburu.


"Tunggu Aura!" panggil Kaivan.


"Ia pak,"


"Aku akan suruh orang untuk mengantarmu,"

__ADS_1


"Terima kasih pak," Aura sampai membungkukkan badannya sebelum segera bergegas pergi.


__ADS_2