Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
29. Bukan Malaikat


__ADS_3

Orang pertama yang keluar dari small meeting room itu adalah tuan Willyam yang di-iringi oleh dua orang asisten pribadinya, dan di ikuti oleh empat orang bodyguard pilihannya.


Orang kedua yang keluar dari sana kemudian adalah pasangan paling bahagia di keluarga besar Pramudya, Edgard Willyam dan istrinya, Nola yang senantiasa menautkan tangannya dilengan kokoh sang suami. Sesekali juga Edgard mengusap lembut jemari sang istri. Benar-Benar potret keluarga bahagia, terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi.


Wajah tampan nan rupawan Damaresh Willyam menjadi orang ketiga yang keluar dari ruangan. Jika untuk orang pertama dan kedua, Clara dan Aura yang menunggu di depan ruang meeting selama rapat para pemegang saham itu berlangsung, hanya berdiri dan menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan,


tapi untuk orang ketiga yang adalah bos besarnya sendiri, kedua gadis itu kompak menampilkan senyuman yang mereka sadar tak akan terbalas.


Dan tepat dugaan Damaresh hanya menatap mereka sekilas sebelum berlalu disusul Kaivan.


"Haii Clara," Antoni Willyam menjadi orang ke-empat yang keluar, namun tak sebagaimana orang-orang sebelumnya yang berlalu begitu saja, Antoni masih menghampiri kedua wanita yang menjadi orang dekat CEO pramudya corp itu dan bahkan menyapa akrab pada Clara.


"Hai juga mr.Antoni," balas Clara, juga dengan nada akrab.


"Apa kabar, mantan pacar sepuluh hari-ku?"


tanya Antoni, apa ia bercanda dengan ucapan itu?


Tidak. itu memang benar, Clara memang pernah menjadi teman kencan singkat Antoni, yang bila dihitung, memang tak lebih dari sepuluh hari.


"Kabar baik," sahut Clara dengan sedikit tak nyaman atas ucapan Antoni itu.


"Sepertinya, pesona sepupuku belum terkalahkan ya,"


tukas Antoni yang segera di sambut tawa renyah oleh Clara.


"Aku bekerja pada sepupu-mu tidak hanya dengan sepenuh kemampuanku, tapi juga sepenuh hatiku,"


tutur Clara dengan penuh semangat.


"Dan dia meng-gajimu dengan sesuai?" Antoni menatap


Clara dengan pandangan menelisik.


"Sangat sesuai untuk semua kinerjaku,"


"Dan untuk urusan hatimu?"


"Sedang kuperjuangkan,"


Antoni langsung tergelak dengan jawaban Clara itu.


Clara adalah orang kesekian yang diketahui Antoni sebagai wanita yang sangat terpesona dengan Damaresh Willyam sepupunya, dan juga menjadi orang kesekian yang juga tidak mendapatkan respon dari cucu kesayangan tuan Willyam itu.


Tapi Clara tetap betah bekerja secara profesional pada Damaresh kendati telah berkali-kali mendapat tawaran pekerjaan dari Antoni, karna Damaresh adalah orang yang juga tak pernah mencampur adukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi.


Pembicaraan sejenak terhenti, menyusul orang kelima yang keluar dari ruangan setelah beberapa jenak kemudian.


Dua orang lelaki setengah umur yang tampak masih gagah diusianya, didukung dengan tampilan jas dan dasi yang sesuai menambah jelas kesan gagahnya meski sudah berumur. keduanya melintasi mereka setelah sempat melempar senyum pada Antoni yang membalas dengan disertai sedikit anggukan kepala.


Keduanya adalah dua orang keponakan tuan Willyam,


yang juga memiliki saham di Pramudya Corp meski tak lebih dari sepuluh persen saja.


"Dia, siapa?" Antoni kemudian menggiring pandangannya pada Aura, yang berdiri dekat disamping Clara.


"PA, CEO."


"Oya?" Antoni nampak sedikit terlonjak. Sebagaimana keheranan orang-orang sebelumnya juga, ketika tau kalau Damaresh mempekerjakan wanita berhijab di dekatnya. Tapi Antoni tau kalau Damaresh adalah orang yang sangat selektif apalagi dalam urusan pekerjaan, maka jika pilihannya sudah jatuh pada seseorang itu berarti orang tersebut memang bisa diandalkan.


"Hallo, aku Antoni Willyam," Antoni mengulurkan tangannya pada Aura sambil tersenyum, memang diantara sesama marga Willyam, Antoni lebih friendly


pada orang lain walau dibeberapa tempat mulutnya bisa sangat pedas.


"Aura Aneshka," Aura menerima uluran tangan itu sekejab sambil juga menyebutkan namanya.


Antoni mengerutkan keningnya yang membuat Clara bertanya. "Kenapa?"

__ADS_1


"Aku bingung, yang mana yang akan aku puji lebih dulu, wajahnya yang sangat cantik, atau namanya yang sangat manis," ucap Antoni.


"Anda sudah menyebutkan keduanya, Mr," Clara memutar bola matanya.


"Benarkah?" Antoni kembali melempar tawa renyahnya. Sementara Aura hanya tersenyum kecil.


"Kau masih di sini, Antoni?" terdengar pertanyaan dari nyonya Christin yang membuat Antoni mengahiri tawa lepasnya dengan seketika.


Christine dan Claudya menjadi orang terakhir yang keluar dari ruang meeting di-ikuti beberapa pengawalnya di belakang.


"Yes, moom" sahut Antoni.


"Mungkin dia masih ada keperluan dengan Damaresh,"


Claudia menanggapi.


"Tepat," jawab Antoni singkat. Sedangkan Christine nampak tengah menatap Clara dan Aura bergantian.


"Ini, .." Christine mengarahkan pandangannya pada Aura. Wajah cantik berbalut hijab itu terasa sudah familyar bagi ya.


"Aura Aneshka, Nyonya." ucap Aura segera. Crishtine adalah ketua L&D Foundation, pasti ia pernah mengenal Aura.


"Wahh iya, aku hampir lupa," Christine tersenyum senang.


"Kau mengenalnya, Christ?" tanya Claudya setelah melabuhkan tatapan sekilasnya pada Aura.


"ya, kak. Dia pernah bekerja di yayasan, dan kinerjanya bagus selama di sana, wajar kalau Damaresh merekrut


dia untuk kerja di sini," kata Christine memberikan penjelasan.


"Oo," hanya itu tanggapan Claudya, sepertinya keterangan Crishtine terkait prestasi Aura tak memberi nilai lebih pada ibunda Damaresh itu untuk menyukai Aura yang sebenarnya adalah menantunya.


Claudya bahkan segera berlalu yang kemudian disusul oleh Crishtine. Aura tersembunyi menahan napasnya.


"Aku ingin bertemu pimpinan kalian di ruangannya!, bisa antarkan aku ke sana?" tanya Antoni sesaat kemudian.


"Tentu, Mr, silahkan!"


"Kau masih di sini?" tatapannya mengarah pada Antoni.


"Ya, aku ada kepentingan denganmu,"


"Mari ke ruanganku!" Damaresh segera melangkah lebih dulu, namun sebelum mencapai pintu ruang kerjanya, ia memutar tumitnya kembali dan menatap pada Clara.


"Siapkan meeting dengan divisi keuangan setengah jam lagi, Clara!" titahnya pada sekretarisnya itu.


"Baik, Pak," Clara sigap segera berlalu tak lupa membawa berkas-berkas yang diperlukan.


"Ara, hubungi pihak Enrich group, aku akan menemui mereka di Smaal guest room usai meeting dengan divisi keuangan!" Damaresh juga memberi titahnya pada Aura. Gadis itu mengangguk.


"Pastikan semuanya tepat waktu, Ara!" titahnya lagi.


kembali Aura mengangguk sebelum bergegas mengerjakan tugas.


Damaresh pun melanjutkan langkahnya memasuki ruangan diikuti Antoni.


Setelah beberapa saat berlalu.


"Arra!"


Aura berjengkit kaget, melihat Damaresh tiba-tiba telah berdiri di depannya. "Iya Pak," gadis itu segera berdiri setelah kembali menguasai situasi.


"Kau sudah melakukan tugasmu dengan tepat dan benar?" tanya Damaresh dengan penuh penekanan.


"Iya," Aura menjawab singkat.


"Kenapa pihak Enrich Group belum datang?" tanya Damaresh tajam.

__ADS_1


Usai rapat dengan divisi keuangan di small meeting room yang hanya berjalan sekitar empat puluh menit,


Damaresh segera mengayun langkah menuju smaal guest room yang bisa dipastikan kalau pihak Enrich group sudah menunggunya di sana. Ternyata di luar dugaan tak ada siapa-siapa di ruangan itu. Maka Aura adalah orang yang paling bertanggung jawab atas hal tersebut.


"Pihak Enrich akan datang dalam satu jam ke depan, Pak," sahut Aura kendati dengan suara pelan, namun terdengar tegas.


"Satu jam lagi? apa itu sesuai dengan interuksi-ku tadi padamu?" nada tanya Damaresh terdengar menyakitkan di telinga.


"Tidak," Aura menjawab dengan suara tenang.


"Artinya, kau dengan sengaja bertindak tidak profesional, Arra?"


"Maaf, Pak,"


"Pastikan ini yang terakhir!" Damaresh terlihat menahan emosinya, hal itu terpancar dari tatapan matanya yang berkilat. Sudah cukup ia merasa lelah dengan aktivitas yang padat dalam sehari ini, ditambah lagi dengan Aura yang sengaja tidak melakukan pekerjaannya dengan benar. Rasa lelahnya berubah menjadi kesal dalam sekejab.


"Saya punya alasan di balik tindakan saya, Pak," ucap Aura tak gentar.


"Aku tak punya waktu mendengarkan alasanmu," sahut Damaresh tajam, ia segera memutar tubuhnya untuk berlalu.


"Tapi berdasarkan peraturan, atas satu kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, Bapak wajib mendengarkan


alasan mereka," Aura menahan langkah Damaresh dengan ucapannya yang cukup lantang.


Lelaki itu memutar tubuhnya kembali, menatap Aura


tajam. "Pastikan alasanmu itu tepat dan benar," Dan lelaki itu memilih untuk mendengarkan pendapat Aura.


Aura mengangguk, "Saya sengaja mengulur waktu selama satu jam, agar Bapak bisa beristirahat sebelum melanjutkan pekerjaan yang lain," ucap Aura


"Jelaskan maksudmu, Arra!" sergah Damaresh.


"Dalam sehari ini, Bapak terlalu sibuk hingga tidak punya waktu untuk sekedar istirahat dan makan siang,


saya tau Bapak bersikap profesional, tapi bapak bukan malaikat yang dicipta tidak butuh makan, minum dan tidur. Bapak manusia biasa yang bisa lelah ... Intinya saya tidak ingin, Bapak sakit," suara Aura terdengar lirih di ujung kalimat. Sesaat tatapan teduhnya beradu dengan netra hitam Damaresh yang langsung terdiam atas segala apa yang dikatakan Aura terhadapnya.


Memang yang dikatakan Aura sangat benar, jadwal pekerjaannya begitu padat dalam satu hari ini.


Diawali dengan rapat dengan semua divisi dan semua pimpinan anak perusahaan Pramudya Corp, terkait rancangan bisnis baru yang diusung oleh tuan Willyam untuk mendirikan anak perusahaan di Bali.


Rapat yang dilaksanakan di big meeting room itu memakan waktu cukup lama sesuai dengan panjang dan detail pembahasan.


Berikutnya dilanjutkan dengan rapat para pemegang saham yang baru selesai lebih satu jam yang lalu, diteruskan dengan rapat dengan divisi keuangan.


Betul kata Aura kalau Damaresh memang merasa lelah, karna dia bukan malaikat.


"Saya sudah siapkan makanan dan minuman Bapak di


private room, saya kira waktu satu jam cukup untuk bapak makan dan istirahat," ucap Aura lagi.


Bagai terhipnotis, Damaresh masih terdiam atas ucapan gadis itu.


"Satu jam lagi, setelah Pihak Enrich Group datang, saya akan segera memberitaukan bapak." Aura segera memutar tubuhnya untuk keluar, namun belum mencapai pintu, Damaresh memanggilnya.


"Arra!"


Gadis itu segera menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Nanti malam, aku akan pergi ke Bali, bersama Kai.


Mungkin selama tiga hari kami di sana," Damaresh memberitaukan dan sekaligus juga berpamitan.


"Baiklah, tapi tolong jaga waktu makan dan waktu istirahat Bapak!" pinta Aura.


"Aku akan berusaha mengingat itu, Arra. Terima kasih,"


ucap Damaresh, terdengar cukup manis, tapi percayalah Damaresh mengucapkan itu dengan wajah yang datar-datar saja. Andai sedikit saja ia menyematkan senyum dalam ucapannya, mungkin

__ADS_1


suasana akan berubah menjadi romantis.


Aura mengangguk sambil tersenyum dan lalu meneruskan langkahnya keluar.


__ADS_2