Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
54 Kode Alam.


__ADS_3

"Kau belum tidur?"


"Kau tau kalau aku belum tidur?" Aura balik tanya.


Damaresh segera merubah posisi tidurnya yang telentang dengan tidur menyamping menatap Aura.


"Aku merasakannya,"


"Aku belum mengantuk, tapi kau sudah menyuruhku tidur," Aura sedikit mengerucutkan bibirnya, hal yang terlihat menggemaskan dalam pandangan Damaresh


hingga dengan cepat ia mengusap bibir Aura lembut dengan telunjuk jarinya.


"Benar kau belum mengantuk?" lirih suara Damaresh dikombinasi tatapannya yang lembut sukses membuat Aura terpana hingga untuk beberapa saat gadis itu tak mengalihkan atensinya dari wajah tampan Damaresh.


" Atau karna ada derap pacuan kuda?"


Damaresh menurunkan jarinya dari bibir Aura, turun perlahan melewati dagu terus menyelusuri leher dan berhenti di dadanya.


"Di sini?"


Aura terlihat gugup, dan tubuhnya bergerak gelisah, tak ada jawaban yang diberikan Aura atas pertanyaan Damaresh, karna lelaki itu pasti juga sudah mendengarkannya sendiri dengan jelas.


Damaresh menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.


"Kau tidak menjawabku, Arra?" goda Damaresh yang semakin membuat Aura kian gugup.


Damaresh menarik tangannya kembali dari dada Aura dan mendaratkannya di atas kepala gadis itu. "Rambutmu tidak begitu kering, Arra. kau bisa pusing bila tidur dengan rambut begini, aku bantu keringkan ya?"


"Tidak, aku tidak nyaman terkena hair drayer terlalu lama," Aura sedikit menggeser kepalanya agar tak terlalu dekat dengan Damaresh, tapi lelaki itu meraih pinggang Aura dan di tariknya untuk merapat.


"Ku rasa aku harus melakukan ini, agar kau tidak kedinginan," ucapnya menjawab tatap mata Aura yang berlabuh di wajahnya atas sikapnya itu.


"Aku baik-baik saja, Aresh. Aku tidak kedinginan."


Aura berkata dengan pandangan mata beralih kemana-mana karna menghindari bersitatap dengan netra Damaresh yang hanya membuat derap pacuan kuda di dadanya semakin kencang saja.


"Kalau begitu, aku yang kedinginan."


Damaresh kian mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Aura dan kian mendekatkan wajahnya hingga


jarak hidungnya dengan ujung hidung mancung Aura hanya beberapa inchi saja. Sapuan napas hangat lelaki itu dengan aroma mint yang menguar membuat perasaan Aura mengembara kemana-mana dan membuat degup jantungnya kian menggila, sampai Aura sempat kawatir kalau organ dalam tubuhnya itu akan mendobrak keluar karna frekuensi detakan yang sudah sangat jauh di atas normal.


"Kau tau kalau aku tadi juga terjun ke kolam, kan?


Jadi sekarang aku cukup merasa kedinginan."


Suara Damaresh hampir tak kedengaran karna lelaki itu mengucapkannya dengan begitu pelan, bisa jadi karna jarak mereka yang terlalu dekat atau karna rasa kantuk yang mulai menyerang.


"Iya. Terima kasih kau telah menyelamatkan aku."


terdengar hembusan napas berat Aura.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa." Aura ingin menggelengkan kepalanya


tapi segera ditahan, karna bila ia bergerak sedikit saja.


kedua ujung hidung mereka akan saling bersentuhan.


"Apa yang kau pikirkan saat ini, Arra?"


"A-Aku merasa gugup," Aura menjawab jujur, berbicara dengan seseorang dalam jarak yang terlalu dekat seperti ini, apalagi yang akan dirasakan pertama kali kalau bukan kegugupan, kecuali kalau hal itu memang sudah menjadi kebiasaan.


"Apa kau pernah membayangkan sebelumnya, akan berada di posisi seperti saat ini bersamaku?"


Damaresh kian menarik Aura untuk menyelami kegugupannya dengan pertanyaan itu.


"Iya dan tidak." Aura memilih kalimat itu sebagai jawaban.


Damaresh menarik kepalanya keatas dan dengan satu gerakan kecil saja darinya satu kecupan lembut mendarat di kening Aura dan beralih pada sepasang matanya kanan-kiri, terus berpindah pada belahan pipi Aura silih berganti dan berakhir dengan ujung hidung mereka yang saling berkait.


"Kenapa memberikan jawaban yang tidak pasti, Arra?"


"Aku--" Aura menelan salivanya.


"Aku menantikan jawabanmu." Damaresh masih enggan memberi jarak diantara dirinya dan Aura.


Sementara Aura mulai kehilangan semua fokusnya untuk menjawab, segala kata yang terangkai di kepalanya sudah lari luntang-lantung entah kemana


"A-Aku pernah membayangkan berada dalam posisi seperti ini bersama lelaki halalku, dan aku tidak menduga kalau itu, kamu." Kalimat itu kemudian yang dipilih Aura sebagai jawaban.


"Kau perlu mengulang jawabanmu barusan Arra, aku tidak mendengarnya," kata Damaresh.


Iya bagaimana dia bisa mendengar apa yang dikatakan Aura, jika sepanjang gadis itu berucap perhatian Damaresh hanya tertuju sepenuhnya pada bibir ranum Aura.


"Apa?" Aura menggerakkan bibirnya cepat siap untuk melayangkan kata protes, baginya sangat mustahil Damaresh tak mendengar ucapannya dalam kondisi mereka yang tanpa jarak.


Dan dalam kondisi itulah, Damaresh tak dapat menahan gejolak hasratnya lagi untuk mencicipi bibir ranum yang selalu mengembangkan senyum indah nan memesonai jiwanya itu.


Sepasang benda kenyal mereka pun bertemu, menciptakan sensasi yang sulit tergambarkan dengan kata, hanya irama jantung yang bak genderang perang mulai ditabuh terdengar membahana.


Aura merasakan tubuhnya memanas seketika, ketika bibir itu perlahan bergerak lembut mengklaim benda kenyal nan ranum milik Aura sebagai miliknya.


Gemetar hebat bercampur debaran memabukkan dirasakan Aura, hingga dengan tanpa diminta tubuhnya memberi respon yang senada, Aura memberi


ruang untuk Damaresh merubah kecupan-kecupan ringan di awal itu menjadi pagutan yang semakin dalam.


Sesaat aktifitas yang menaikkan suhu tubuh sampai ke ubun-ubun itu terhenti, ketika Damaresh melepaskan belitan bibirnya dan menatap Aura yang memejamkan mata. Jemari Damaresh menelusuri bibir Aura, menghapus sisa salivanya yang tertinggal di sana, dan selanjutnya lelaki itu mengulang aksinya kembali yang kembali mendapat sambutan pasrah dari Aura.


Mereka tenggelam dalam harmonisasi intim dan memabukkan, belitan kokoh lengan Damaresh di belakang punggung dirasakan Aura, belum lagi jemari di belakang lehernya yang membuat kepala Aura tak bergeser sedikitpun untuk semakin memperdalam pagutan.


Tapi siapa sangka kalau aktifitas itu terpaksa harus berhenti karna dering panggilan telfhon dari atas nakas dimana lelaki itu meletakkan telfhon pintarnya di sana.

__ADS_1


Damaresh menarik dirinya sambil mengambil napas sebanyak-banyaknya, tatapannya teduh menyapu wajah Aura yang juga melakukan hal yang sama.


Damaresh tau betul siapa yang menelfhonnya saat ini meski belum mengangkatnya, karnanya dengan berat hati ia harus menghentikan perjalanan hasratnya yang bahkan baru dimulai.


"Ya, Stefan," Suara Damaresh masih terdengar sedikit memburu ketika mengangkat telfhon orang kepercayaannya itu.


"Pak, Nyonya Claudya mengirimkan orang-orangnya


menyusul Bapak,"


"Shiftt" Damaresh langsung menggeram kesal yang membuat Aura memutar kepala menatapnya.


"Kapan mereka tiba, Stefan?"


"Mereka baru keluar dari bandara Ngurah rai sepuluh menit yang lalu,Pak. Dan kami sedang mengikuti mereka sekarang."


"Stefan, aku tak ingin bermain cantik lagi," ucap Damaresh dengan menahan geram.


"Siap Pak,"


"Bersihkan mereka sampai tak bersisa!"


Damaresh memutuskan tanpa perlu lagi berpikir panjang. Perihal keikut sertaan Aura ke Bali sudah sangat dirahasiakan oleh Damaresh, tapi kehadiran Yeslin sebagai perwakilan Blanc Compani sama sekali tak ada dalam perkiraannya, dapat ditebak apa yang akan terjadi setelah Yeslin tau kalau Aura juga bersama Damaresh di Bali. Dan Perkiraannya itu sekarang benar-benar terjadi.


"Baik Pak,"


Stefan segera mengahiri panggilan telfhonnya.


Damaresh masih berada dalam posisi duduk diam sambil mengusap wajahnya pelan. Ia tau akibat dari semua ini sama dengan memulai perang terbuka dengan ibunya, tapi ia juga merasa tak akan bisa selamanya menyembunyikan hubungannya dengan Aura dari keluarganya, maka setelah ini, keselamatan Aura yang terancam. Lelaki itu ingin menyesali tindakannya mengikat Aura dalam pernikahan yang


hanya menjerumuskan gadis itu dalam bahaya.


Damaresh kembali meraup udara sebanyak-banyaknya.


"Apa yang terjadi, Aresh?" Aura duduk di belakangnya dan memegang pundaknya lembut.


Damaresh memutar tubuhnya menemukan Aura di belakangnya, kedua tangannya segera meraih tubuh gadis itu dalam dekapan. "Kode alam, Arra,"


"Maksudnya, kode alam apa?" Aura bertanya tak mengerti sambil menyandarkan kepalanya di dada yang bidang serta menghangatkan itu.


"Kode alam, agar aku tak melanjutkan hasratku, untuk memilikimu secara utuh, karna aku belum bisa disebut sebagai suami yang sesungguhnya untukmu."


Aura hanya menghembuskan napasnya mendengar itu.


Damaresh lalu membawa tubuh Aura rebah bersama dan kembali menjadikan dadanya sebagai pelindung kepala Aura dimana gadis itu menenggelamkan wajahnya di sana. "Tidurlah, aku akan menjagamu sampai pagi," bisik Damaresh sambil mendaratkan ciuman di rambut wangi Aura.


"Aku ingin kau menjagaku sampai nanti, selamanya."


Suara Aura terdengar bergetar di dalam dekapannya.


"Iya, semoga." putus Damaresh. Keinginan itu pernah terbersit juga di jiwanya meski dalam bentuk yang kecil.

__ADS_1


__ADS_2