
"Tuan Wiliam, sepertinya Tuan Damaresh belum menentukan pilihannya, kami silahkan Tuan untuk menunjukkannya."
Suara sang master off ceremony menggema di seluruh ballroom, membuat atensi segera terfokuskan pada William Pramudya yang duduk tegak di tempatnya semula.
Mengabaikan tatapan Damaresh yang mengarah datar pada sang kakek. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Damaresh sekarang, bila akhirnya William menyebut nama Naila Anggara untuk maju mendampinginya di panggung kehormatan.
Tapi mungkin hanya satu hal yang akan ia tegaskan di depan semuanya, kalau Naila Anggara hanya kerabatnya saja, walaupun dengan itu reputasi William mungkin akan jatuh, karna keputusannya tidak diterima Damaresh dengan patuh.
Naila sendiri menunduk dengan wajah tegang, disertai debar jantung yang tak beraturan. Bila memang William menyebut namanya, apa yang akan dilakukan?
Mematuhi William dan mendapatkan kemarahan Damaresh? Atau mengikuti Damaresh dan mendapat tekanan dari Wiliam. Gadis itu terkapar dalam bimbang.
William sendiri yang semula nampak tersenyum menang ketika dirinya diminta untuk menunjukan pasangan Damaresh, kini malah terdiam dan bungkam.
William juga berpikir panjang bukan, apa akibat yang akan ia dapatkan bila menabuh genderang perang secara terang-terangan dengan Damaresh William.
Ahh, sepertinya rencana William tak berjalan dengan lancar, atau justru diamnya William kali ini adalah bagian dari rencana lain yang sedang dilancarkan?
Terlihat seorang pramusaji menghampiri MC, dan memberikan sesuatu yang tak tertangkap pandangan semua orang.
Pramusaji itu lalu gegas pergi setelah menunaikan tugasnya.
Tetua asosiasi yang merangkap MC itu segera memperdengarkan suara bas nya lagi. "Rupanya, Tuan William sudah mempersiapkan semuanya untuk cucu tercinta," ucapannya terjeda dengan senyuman.
"Kami sudah menerima pemberitahuan tertulis dari Tuan William, yang menyatakan kalau wanita yang paling pantas mendampingi Tuan Damaresh akan segera hadir diruangan ini. Kita sambut bersama."
Tepuk tanganpun bergema di seantero Ballrom. Ada beberapa pasang netra yang saling bersitatap, melempar tanya, ada pula yang mengedarkan pandang ke semua arah mencari siapa adanya yang dimaksud. Tak terkecuali Naila Anggara, secara samar gadis itu juga merotasi matanya ke beberapa arah dan terakhir berlabuh pada William.
William terlihat menampilkan kerutan samar. Dirinya juga merasa sangat terheran tapi berusaha disimpan, pasalnya ia tak merasa memberikan pesan apapun pada ketua asosiasi, kenapa tetiba ia mengumumkan sesuatu dengan mengatas nama-kan William.
Dalam hitungan menit, pintu balroom terbuka menampilkan siluet seorang wanita yang memasukinya. Cantik dan anggun, wanita itu melangkah di atas hamparan karpet tebal yang menghubungkan pada podium. Tatapannya lurus meski tidak dengan dada yang membusung selayaknya cara jalan wanita kalangan atas. Lambaian lembut busana panjang berwarna navi yang membaluti tubuhnya kian menambah keanggunan langkah.
Senyum yang terkembang lembut hanya terarah pada seraut wajah.
Semua perlahan serempak berdiri menyambut hadirnya, seakan sang putri yang memang telah lama dinantikan kedatangannya. Tatapan mereka semua terpusat pada satu arah, dengan berbagai penilaian yang tercetak dalam kepala.
Damaresh yang akhirnya benar-benar menyadari siapa yang telah datang menghampiri, segera melabukan pandang ke berbagai arah, untuk mencari tau, bagaimana bisa wanita ini hadir di sana.
Dan ditemukannya sosok Anthoni yang mengkedipkan sebelah matanya memberi tanda.
Damaresh gegas turun dari panggung kehormatan, tangannya segera terulur menyambut tangan sang wanita yang telah ada di hadapan. Setelah lima jemari mungil itu berada penuh dalam penguasaan tangannya, dibawanya tubuh yang berbalut busana anggun dengan hijabnya itu naik kembali ke atas panggung.
Apakah itu benar Aura Aneshka?
Seutas tanya itu berkali-kali singgah di kepala Naila. Selama dua jam Naila bersama Aura, dan diketahuinya kalau istri Damaresh itu memakai baju warna hitam serupa dengannya, tapi wanita di sana, ia memakai baju warna navi selaras pula dengan hijabnya yang dipasang secara sedehana tapi tetap terlihat indah saja.
Aura memang keluar ballroom karna bajunya yang basah oleh air minum. Tapi apa mungkin Aura akan dapat merubah penampilannya dalam jarak tak sampai duapuluh menit dari sejak ia keluar ruangan. Lalu darimana ia mendapatkan baju ganti dalam jarak waktu yang sesingkat itu?
Tapi kalau itu bukan Aura, tak mungkin Damaresh akan menyambutnya begitu hangat. Berjibun pertanyaan silih berganti dalam benak Naila.
Yang semua pertanyaan itu terjawab ketika terdengar Damaresh berucap.
"Saya perkenalkan, ini istri saya, Aura Aneshka." Jelas, tegas, dan lugas, bahasa yang terucap. Hingga tak perlu lagi ditanya apa maksud dari semuanya.
Tepuk tangan gemuruh menyambut pengakuannya, seiring kilatan cahaya kamera awak media yang mengambil gambarnya. Dapat ditebak, kalau dalam sesaat berita ini akan segera mendunia.
"Dia, yang membuat saya berani mengambil tindakan yang tak pernah saya pikirkan selama ini," ucap Damaresh lagi seraya sebelah tangannya mengapit pinggang ramping Aura yang menampilkan senyuman lembutnya.
"Dia, sosok luar biasa yang ada dibelakang saya, kalau bukan karna dia, mengakuisisi BlC Corp, masih sekedar mimpi," imbuhnya lagi dengan melayangkan tatapan pada William yang langsung membuang pandangan.
" Wahh deskripsi rasa yang luar biasa." Sang MC memberikan tanggapan seiring tepukan tangan.
Seseorang terlihat acungkan tangan, meminta waktu untuk ajukan pertanyaan.
"Ya, silahkan!" Permintaannya dikabulkan.
"Kenapa memilih wanita yang memakai hijab?"
Banyak yang ikut mengangguk mengiring tanya itu. Rupanya pertanyaan tersebut tak hanya bercokol dalam kepala satu orang saja.
"Justru karna hijabnya, dan segala kelembutannya, itu yang mengikat hati saya," jawab Damaresh seraya arahkan netranya secara utuh pada Aura. Wanita itu tersenyum dan sedikit menunduk dengan sepasang mata berkaca karna rasa haru dan bahagia.
__ADS_1
Damaresh itu lho, tak pernah berkata cinta secara langsung pada Aura, ia hanya menunjukkan perasaannya dengan sikapnya. Tapi kini dihadapan semua rekan bisnisnya, dihadapan kakeknya dan di depan banyak sorot kamera, secara tersirat ia akui rasa cintanya.
Wanita mana yang tak akan bahagia...
Untung Aura dapat menahan diri, dan tak melakukan selebrasi.
"Karna cinta, Tuan Damaresh yang kaku dan dingin jadi puitis sekarang," celetuk seseorang yang diiringi tawa oleh yang lain.
Damaresh terlihat tak tersinggung, kendati dirinya menjadi bahan ledekan seantero ballroom, bibirnya justru menyungging senyum.
"Dan Nyonya Damaresh William, adakah yang ingin anda ucapkan untuk suami anda?" tanya tetua langsung pada Aura.
Wanita itu mengangguk kecil.
"Dia, lelaki terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk saya," ucapnya kalem, namun sanggup mendatangkan tepukan riuh dari semua yang mendengarnya. Damaresh bahkan mengusap lembut kepala istrinya dengan senyum sayang.
Dan penghargaan itupun diserahkan pada Damaresh William, ditemani Aura. Yang selanjutnya diikuti oleh ucapan selamat dari semuanya. Ucapan selamat yang tak hanya berupa jabatan tangan, tapi juga memberi pelukan. Baik lelaki maupun perempuan.
Dan beralih pada acara minum bersama, dimana Aura juga harus ikut serta. Ia tak dapat menolak ketika seseorang memberinya minuman serupa dengan yang diterima Damaresh.
Damaresh segera ingin mencegah hal itu, tapi Anthoni yang berdiri di dekatnya segera berbisik.
"Tenang saja, Aresh. Kau dan Aura jadi pusat perhatian sekarang"
"Tapi dia tidak bisa minum alkohol," ucap Damaresh.
"Itu bukan sake seperti punyamu, tadi aku sudah menukarnya dengan captain morgan spiced rum kadar alkoholnya hanya 15%," tutur Anthoni.
"Tapi tetap saja mengandung alkohol."
"Aku juga sudah mencampurnya dengan air, dan Aura hanya akan mencicipinya sedikit, jadi tenang saja, dia tidak akan apa-apa." Anthoni menjelaskan.
"Apa kau yang mengatur semuanya?"
tanya Damaresh seraya menyesap minumannya untuk menyamarkan pembicaraan mereka dari perhatian yang lain.
"Bukan. Aku hanya melanjutkan rencana yang sepertinya sudah berantakan. Itu Karna kecerdasan istrimu juga."
"Maksudnya?"
" Aura!"
Mendengar namanya dipanggil, Aura yang sedang sibuk mengusap-usap pakaiannya yang basah dibagian atas, segera menoleh
Ke arah sumber suara.
"Pak Anthoni?"
Dalam hitungan menit, Anthoni sudah tiba di dekatnya. "Kau kemari diajak kakek?" tanya Anthoni langsung.
Aura mengangguk dengan satu tangan yang masih mencoba menghilangkan noda minuman di bajunya yang telah membuat tidak nyaman bagian badan atasnya.
"Aresh tau?"
"Tidak," sahut Aura. "Pak Anthoni tau dari mana saya ada di sini?" Aura balik tanya.
"Aku melihat insiden itu, tapi Aresh tidak," tutur Anthoni. "Apa kau butuh bantuan?" Anthoni menawarkan saat dilihatnya sebaris kekecewaan di wajah Aura.
"Bantuan?" Aura sejenak diam, dia memang sedang kebingungan mencari toilet, tapi untuk menuju ke sana, ada seseorang yang masih ia nantikan kedatangannya di tempat ini. "Saya sedang menunggu James." ujarnya.
"James, siapa?"
"Yang disuruh Aresh menjaga saya, saya minta dia untuk membawakan baju ganti untuk saya," tutur Aura.
"Membawa baju ganti dari Panthouse?"
tanya Anthoni heran. Pasti akan sangat butuh waktu lama untuk itu, pikirnya.
"Dari lobby hotel ini, dia sedang menunggu saya di sana," sahut Aura.
"Wahh, kau sampai mempersiapkan baju ganti juga?" Anthoni terlihat takjub.
__ADS_1
"Saya hanya memprediksi kalau peristiwa ini mungkin akan terjadi pada saya yang belum pernah datang pada acara seperti ini."
"Kau sangat jeli," puji Anthoni
"Bukan sangat jeli," sanggah Aura cepat.
"Tapi keputusan Tuhan itu berdasarkan prasangka hambanya, dan saya sudah berprasangka akan mengalami hal yang buruk, akhirnya ya.. kejadian," lanjutnya lagi menerangkan.
"Ah aku tak sepenuhnya mengerti dengan ucapanmu." Anthoni mengkibaskan tangannya. "Tapi kini aku mengerti satu hal, apa rencanamu, Aura?"
"Rencana?"
"Ya, kau kemari bukan hanya karna ajakan kakek, kan?" Tebak Anthoni.
Aura mengangguk. "Aresh sudah berjuang untuk saya, sayapun ingin melakukan yang serupa," ucapnya dengan tekad yang berkilat di sorot mata.
"Bagus. Aku suka itu, kau dan Aresh sangat menginspirasi bagiku," ujar Anthoni dengan senyum. "Aura, sebentar lagi Aresh akan menerima penghargaan, pastikan kau yang ada disampingnya, jangan sampai orang lain."
Aura mengangguk.
"Aku akan membantumu dengan caraku," ucap Anthoni lagi.
"Terima kasih, Pak Anthoni."
Terlihat seorang lelaki hampir usia tigapuluh tahunan setengah berlari menghampiri dengan menjinjing paper bag di tangan
"Dia James?" Tebak Anthoni.
"Ya."
"Lekaslah, Aura, toiletnya di sebelah sana," tunjuk Anthoni setelah paper bag di tangan James sudah berpindah tangan pada Aura.
Anthoni sendiri gegas memasuki ballroom kembali dimana kini terlihat Damaresh telah berdiri di atas panggung kehormatan dan tengah mendapat desakan dari MC dan beberapa yang hadir untuk membawa wanitanya ke atas panggung.
Bahkan tatkala dilihatnya Damaresh masih diam, sang master off ceremony itu melemparkan umpan pada William Pramudya.
Tersembunyi, Anthoni mencatatkan sesuatu di atas kertas kecil, yang lalu diberikannya pada seorang pramusaji agar disampaikan pada MC. Tak lupa Anthoni menyertakan beberapa lembar poundsterling, agar kertas yang diberikan itu segera terbang melebihi angin.
Dan disaat yang tepat, kertas yang diberikan Anthoni sampai di tangan sang MC yang lalu membacakan isi pesan yang sengaja ditulis atas nama William.
Flashback off
Damaresh mencengkram gelasnya mendengar penuturan Anthoni. lelaki itu kini diam seribu bahasa, hanya mengangguk saja bila ada yang mengajaknya bicara. Sepertinya ia tengah meredam emosinya yang terasa membara dalam dada.
Tetiba Anthoni berbisik. "Kau bawa Aura pulang," ucapnya.
Terlihat Aura sedikit pucat dan ada titik peluh di dahinya. ya sekecil apapun kadar alkohol dalam minuman, bagi yang tak biasa akan tetap bereaksi juga. Damaresh segera meraih tangan istrinya.
"kita pulang," ajaknya pelan.
Dengan menuntun tangan Aura, Damaresh berpamitan pada beberapa orang yang berkepentingan, termasuk juga William yang malam ini juga banyak mendapat ucapan selamat dari semua rekan.
"Kami pulang dulu," pamitnya.
"Ya," sahut William singkat.
Damaresh sudah ayunkan langkah, namun segera berhenti dan kembali menatap William yang berdiri di dekat Naila itu.
"Sepertinya yang terjadi saat ini, adalah seumpama senjata makan tuan," sindirnya tajam.
William hanya terdiam.
-----
*****
********
*******%%**
Gimana..sesuaikah dengan exspektasi kalian??
__ADS_1
hari senen, saudara-saudara, aku tunggu uluran tangan anda semua..
tekan like, koment, dan vote nya ya..