Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
103. Beda Cara Menyayangi.


__ADS_3

"Nona Aura," Damian menghampiri gadis berhijab itu dengan senyum terkembang.


Ia sama sekali tak menduga kalau tamu yang sedang menunggunya di Small Guest Room kantor Pramudya itu adalah Aura Aneshka.


"Silahkan duduk, Nona!"


Aura mengangguk kecil, wajah yang selalu meriakkan keramahan itu kini nampak bermendung, tak ada lagi senyum indah yang selalu terkembang dari kedua sudut bibirnya yang mungil.


"Suatu kehormatan, Nona ingin menemuiku," ujar Damian, sesaat setelah Aura mendudukkan dirinya di atas sofa super empuk yang tersedia di dalam ruang itu.


"Saya yang merasa terhormat bisa menjejakkan kaki di kantor megah ini lagi," ucap Aura dengan tatapan yang terlempar pada seisi ruangan dengan selayang pandangan.


"Sebenarnya, saya ingin bertemu langsung dengan tuan William, tapi pastinya beliau tidak akan berkenan," tutur wanita berhijab itu kemudian.


Damian tersenyum lembut.


"Tuan William saat ini tidak sedang berada di kantor, beliau ada di mansion.


Belakangan ini kesehatan tuan William selalu menurun, ya mungkin faktor usia, ditambah beban pekerjaan yang semakin banyak," tutur Damian.


"Saya baru tau, kalau seorang seperti tuan William bisa terbebani juga dengan pekerjaannya," timpal Aura.


Ucapan Aura itu terdengar seperti sindiran di telinga Damian, bahkan membuat pria baya itu merasa salah ucapan. Tapi seketika Damian tertawa renyah guna menutupi sedikit kekagetanya, agar tak terbaca oleh Aura.


"Kalau Nona memang ingin berbicara dengan tuan William, saya akan mengantarkanmu ke mansion." Damian menawarkan jasanya tanpa diminta.


"Ah tidak, terima kasih," tolak Aura.


"Saya akan berbicara dengan tuan Damian saja, iya rasanya itu sudah cukup, seperti saya sudah bicara langsung dengan tuan William. Karna saya percaya, tuan Damian hanya bertindak dan berucap atas nama tuan William, bukan atas nama pribadi seorang tuan Damian."


Kali ini, Damian tak dapat lagi menutupi expresi kagetnya atas ucapan Aura itu, sepenuhnya ia merasa sedang disindir atas tindakannya memberitaukan situasi Airlangga pada Aura yang diakuinya sebagai inisiatif pribadi, beberapa hari yang lalu.


Terlihat Aura mengambil sesuatu dari dalam tas jinjingnya. Sebuah amplop warna coklat yang beberapa hari lalu diberikan oleh Damian pada Aura atas perintah William.


Wanita itu meletakkan amplop diatas meja yang menjadi pembatas diantara keduanya, lalu dengan jemarinya Aura mendorong amplop coklat itu hingga tepat berada di depan Damian.


"Saya kembalikan amplop ini pada, Tuan."


"Ini hak, Nona. Tuan William sudah memberikannya untukmu," ujar Damian sambil mendorong amplop itu kembali ke arah Aura lagi.


"Tidak." Aura segera mencegah dengan tangannya. "Saya tidak pantas menerimanya. Sampaikan pada tuan William, kalau hanya ingin menyuruh saya meninggalkan Damaresh, tidak perlu memberikan saya buku saham, apalagi sebuah perusahaan. Saya hanya orang kecil yang tak pernah bermimpi untuk menjadi orang besar seperti kalian. Tujuan hidup saya hanya ridho Tuhan, bukan untuk memiliki perusahaan seperti yang kalian sangka-kan."


Lagi, Damian hanya mampu terdiam mendengar ucapan Aura yang diiringi dengan tatapan tegar.


"Saya akan sampaikan, Nona." Kalimat itu kemudian yang dipilih oleh Damian.

__ADS_1


"Sampaikan pula pada tuan William, kalau saat ini saya memilih pergi dari Damaresh. bukan karna saya takut akan intimidasi kalian. Saya selalu percaya, bahwa setiap sesuatu yang telah disatukan oleh Tuhan, tak akan bisa di pisahkan oleh hal apapun, seberapapun banyak usaha yang kalian lakukan. Saya memutuskan pergi, karna tidak ingin membuat Damaresh berada dalam kebimbangan, karna harus memilih antara menyelamatkan istrinya atau ayahnya."


Damian hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar penuturan Aura. Entah kenapa tak ada senyum senang di wajahnya karna telah sukses meraih kemenangan gemilang dari tugas yang diberikan William. Yang mana dengan kata-katanya beberapa hari yang lalu, telah berhasil membuat Aura memutuskan pergi dari Damaresh William.


Damian justru tak merasa menang sekarang, pasalnya setiap kalimat sederhana yang dituturkan oleh Aura seakan mata pisau yang tepat mengena ulu hatinya, apalagi ketika kemudian Aura berkata.


"Ini cara saya menyayangi Damaresh, kasih sayang yang kecil,  mungkin karna kami berada dalam satu ikatan tak lebih dari setahun. Beda dengan cara tuan William menyayangi Damaresh yang sangat banyak memberikan tekanan dan ancaman, yang kalian nilai sebagai bentuk kasih sayang yang besar, mungkin karna tuan William sudah mengenal Damaresh dari sebelum dilahirkan."


Aura menarik tangannya yang bertumpu di atas meja ke atas pangkuan, lalu menarik tubuhnya untuk bersandar nyaman di sandaran kursi yang diduduki. Posisinya kali ini terlihat lebih santai, seiring nada ucapannya yang juga lebih santai.


"Perlu dipertanyakan, dimanakah yang sebenarnya pantas disebut kasih sayang dari apa yang saya lakukan dan yang tuan William lakukan pada Damaresh. Karna menurut yang saya pahami selama ini, kasih sayang itu hanya ada dalam diri manusia yang memiliki hati nurani, bukan yang hanya dipenuhi dengan ambisi, bagaimana menurut, Tuan Damian?"


Damian hanya bisa menampilkan senyuman tak sempurna sebagai jawaban atas pertanyaan Aura. Lelaki itu sebenarnya ingin menundukkan kepalanya, tapi ego dan gengsinya membuat lehernya seakan baja yang kaku tak bisa digerakkan.


"Saya akan sampaikan, segala ucapan Nona Aura pada tuan William," ucap Damian. Ia menggunakan kalimat itu lagi, Sepertinya itu kalimat yang dianggap paling tepat untuk menutupi kegugupannya saat ini.


"Memang itu yang saya harapkan, Tuan Damian. Saya percaya kalau Tuan Damian akan menyampaikan semuanya pada tuan william tak lebih dan tak kurang walau cuma satu kata."


Aura kemudian berkemas untuk segera mengahiri pertemuan mereka. "Saya mohon diri, Tuan Damian."


Aura gegas berdiri dan Damian pun ikut mensejajarinya.


"Satu hal lagi, Tuan." Aura yang sudah hendak melangkah segera mengurungkan niatnya.


"Meski saya sudah tidak bersama Damaresh, itu tak menjamin kalau dia akan patuh sepenuhnya pada tuan William. Damaresh seorang yang sangat teguh berprinsip."


"Baik, Nona. Tuan William harus tau hal ini," ucap Damian segera.


"Jika, Tuan Damian ada yang terlupa dari semua ucapan saya, Tuan bisa memutar kembali rekamannya," kata Aura dengan tatapan mengarah.


"Rekaman?" Damian nampak heran, karna ia merasa tak merekam pembicaraan mereka berdua.


"Semua small guest room di kantor ini dilengkapi dengan CCTV canggih yang tak hanya memuat gambar, tapi juga pembicaraan secara jelas. Kamera di setiap Small guest Room terhubung langsung dengan ruangan CEO dan ruangan komisaris. Hal itu dimaksudkan agar tidak ada rahasia dari perusahaan jika salah satu petinggi Pramudya Corp sedang menerima kunjungan tamu di small guest room," ungkap Aura. Karna hanya pejabat tinggi Pramudya saja yang bisa menerima tamu di small guest room. Selainnya, akan menerima kunjungan di lobi atau ruang tamu yang ada di lantai dasar saja.


"Nona tau hal itu?" tanya Damian heran.


"Tuan Damian tidak tau, kalau saya pernah bekerja lebih dari dua bulan di kantor ini sebagai personal asisten CEO?"


Damian terlihat berexpresi kaget, hal ini dia memang belum tau, karna selama ini ia bekerja pada William di Pramudya Corp, London, bukan di Jakarta.


"Bukan tidak mungkin kalau saat ini tuan William sedang memantau pembicaraan kita dari ruangannya. Karna saya tau, kalau tuan Wiliam ada di kantor Pramudya, bukan di mansionnya," tukas Aura yang langsung membungkam Damian dari segala kata.


"Saya permisi, Tuan Damian." Aura segera mengakhiri pembicaraan setelah sukses membuat Damian terdiam.


Wanita itu gegas keluar dari ruangan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.

__ADS_1


*******


"Pak Dirga," sapa Aura heran melihat pengasuh Damaresh sejak kecil itu sedang menunggunya di halaman kantor Pramudya.


"Aku di perintahkan oleh tuan muda untuk mengantarkan, Nona kembali ke Surabaya," ucap Dirga segera.


"Saya memang akan langsung kembali ke Surabaya hari ini. Tapi saya tidak ingin merepotkan Pak Dirga, saya bisa pulang ke Surabaya seorang diri," tolak Aura.


" Aku akan melaksanakan tugasku dengan ataupun tanpa persetujuan, Nona," sahut Dirga. Aura terdiam, karna bila Dirga sudah bertekad demikian, melarangnya, adalah tindakan percuma.


"Nona Aura," ucap Dirga memecah keheningan yang tercipta dalam mobil yang membawa mereka menuju bandara.


"Apa Pak Dirga?"


"Tuan muda itu, sangat mencintai, Nona.


Meskipun mungkin tuan tak pernah mengatakannya. Dan tak ada yang menyuruhku bicara seperti ini pula pada, Nona."


Tak ada tanggapan apa-apa dari Aura atas ucapan Dirga, wanita itu terdiam dengan sepasang mata yang mulai mengembun.


"Aku bisa salah dengan ucapanku, Nona.


Tapi aku merasa sudah cukup mengenal tuan mudaku. Sekali dia mencintaimu, Nona, dia tidak akan tau caranya untuk berhenti.


Kau ada bersamanya atau tidak, dia akan tetap berdiri dengan segala perasaanya.


Itu yang aku tau tentang tuan Damaresh."


Lanjut Dirga yang segera membuat Aura menunduk, ketika gumpalan embun di matanya telah berubah menjadi air, air yang siap untuk mengalir.


"Maaf jika aku lancang padamu, Nona.


Kalau menurutku, bukan keputusan yang tepat, jika kau memilih meninggalkan tuan muda sekarang. Karna meskipun tidak pernah mengatakannya, aku tau kalau tuan muda diam-diam sedang menggalang kekuatan untuk melawan tirani tuan William. Dan dia semakin bersemangat ketika kau masuk dalam hidupnya," ungkap Dirga lagi.


"Aku harus apa, Pak?" Aura bersuara parau.


Aku ingin tenangkan diriku, dulu" lanjutnya sembari mengusap satu titik beningnya yang telah jatuh menggelinding di belahan pipinya.


"Kalau itu alasan Nona, Aku paham..


Kau boleh pergi tapi hanya untuk sekedar menepi, karna sesungguhnya tuan muda lebih membutuhkanmu, dari pada apapun,


Saat ini."


DIrga segera mengatupkan mulutnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2