
"Apa kau benar-benar ingin mengantarkan aku bekerja?"
"Iya."
"Kau yakin?"
Aura ternyata masih belum sepenuhnya mempercayai
pendengarannya sendiri. Padahal dengan jelas dan di depannya sendiri Damaresh mengatakan pada Dirga kalau dirinya yang akan mengantarkan Aura ke kantor.
"Kau yang tak yakin dengan jawabanku," sahut Damaresh.
"Bukan begitu. Jika kita datang bersama-sama dengan satu mobil, akan jadi pertanyaan orang-orang di kantor,
Aresh!" Aura coba mengingatkan mungkin saja kalau Damaresh lupa pada komitmen di awal, bahwa pernikahan mereka tidak boleh diketahui oleh siapapun.
"Itu sudah ku pikirkan,"
Damaresh segera duduk di kursi tempat istiqamah nya
selama ini tiap kali sarapan sebelum ke kantor.
"Apa itu artinya kau akan mengakui aku di depan umum?" tanya Aura dengan perasaan senang yang membuncah terlihat dari senyum indahnya yang terkembang dan cerlang matanya yang berbinar indah.
Damaresh masih menikmati pemandangan indah tak biasa di depannya sebelum menjawab pertanyaan Aura.
"Apa kau merasa tersakiti dengan itu?"
Eh salah. Damaresh bukan menjawab pertanyaan Aura,
tapi ia justru bertanya lain.
"Aku tetap menghargai, apapun yang menjadi keputusanmu," sahut Aura lembut.
"Ckk," Damaresh berdecak singkat. "Jangan membuatku berasa kenyang sebelum sarapan, Arra!"
ucapnya disertai dengan sebaris singkat lengkungan yang terbit di sudut bibirnya.
"Maksudmu?" kelihatannya Aura jadi telat berpikir untuk memahami maksud ucapan Damaresh, atau justru gadis itu takut salah menerka sehingga lebih baik bertanya saja pada sang empunya kata.
"Duduklah! kita sarapan bersama!"
Damaresh menunjuk kursi di depannya dan segera memulai sarapannya. Aura pun memutus niatnya untuk bertanya, ia bahkan segera menuangkan air minum untuk Damaresh dalam lirikan lelaki itu yang lalu tersembunyi menghela napasnya pelan.
Gadis ini begitu penurut, padahal aslinya ia begitu pembangkang terhadapku, apakah status pernikahan yang membuatnya berubah sikap padaku.
Konsep pernikahan seperti apa yang dianutnya, sehingga aku juga seakan terikat dengannya.
Kalimat tanya yang tersusun rapi dan hanya terucap dalam maya pikiran Damaresh.
Sangat wajar jika dalam diri Damaresh terbersit tanya demikian, karna sepanjang pemahamannya selama ini,
pernikahan hanyalah sebuah alat untuk melegalkan
penguasaan terhadap individu lain. Dan demikian juga potret pernikahan yang ada dalam circle keluarga Willyam.
******
Akhirnya sesuatu yang selama ini sering menjadi dambaan yang tak terucapkan oleh Aura, kini terjadi.
Yaitu berangkat bersama suami ke tempat kerja.
Gadis itu tak hentinya mengurai senyum seiring syukur dalam hati. Namun senyum itu memudar mana kala menyadari kalau jalan yang ditempuh oleh mobil mewah Damaresh itu bukan jalan yang menuju kantor Pramudya Corp.
"Kita mau kemana, Aresh?"
"Ke L&D," sahut Damaresh.
"Ada hal apa kita ke Yayasan?"
"Ada kepentingan, tentunya."
Aura mengangguk saja dan iapun ikut turun dari mobil begitu telah terparkir apik di halaman bangunan megah kantor L&D Foundation, atas perintah Damaresh.
Kehadiran CEO Pramudya Corp itu disambut penuh hormat di sana, tak ada satupun dari orang-orang yang bekerja di yayasan dan berpapasan dengan mereka yang tak menghentikan langkahnya dan berdiri menepi sambil menyuguhkan anggukan hormat ke arah Damaresh yang berjalan beriringan dengan Aura. Keduanya menuju ruangan ketua yayasan, Olivia, yang sepertinya memang sudah menunggu kehadiran mereka.
"Bagaimana?" tanya Damaresh langsung begitu telah berhadapan dengan Olivia.
"Ya, saya telah menyiapkan semuanya, Pak, sesuai dengan keinginan bapak," sahut Olivia.
Sepertinya memang telah terjadi pembicaraan sebelumnya dengan Damaresh sehingga ketua L&D Foundation itu tak perlu lagi berbanyak tanya.
"Bisa kita lihat?"
"Oh tentu saja, mari ikuti saya!"
Olivia segera keluar dari ruangannya menuju ke sebuah ruangan lain yang tak begitu jauh dari ruang sebelumnya. Ruang yang memiliki ukuran luas lima kali tuju meter itu nampak bersih dan rapi dengan seperangkat meja kerja di dalamnya, juga beberapa furniture yang mempercantik tampilan ruang. Serta dua buah kursi yang di batasi meja kayu berukir dengan posisi menghadap ke arah jendela kaca yang lebar dan menampilkan pemandangan taman buatan di samping bangunan gedung yayasan.
Damaresh menganggukkan kepalanya yang mengisyaratkan kalau ia puas dengan ruangan yang telah disiapkan oleh Olivia ini.
Damaresh lalu memutar kepalanya menatap Aura yang berdiri tak jauh di sampingnya. "Bagaimana menurutmu ruangan ini?"
"Sangat bagus."
"Kau suka?" tanya Damaresh yang membuat Aura menatap lelaki itu sesaat. Tentu saja Aura sedang berpikir kenapa Damaresh menanyakan ia suka atau tidak, seakan Aura sedang melihat-lihat ruangan kerja itu untuk dimilikinya. Namun tak urung Aura mengangguk juga karna Damaresh yang tak mengalihkan atensinya dari Aura karna ingin mendapatkan jawaban dari gadis itu.
__ADS_1
"Ini adalah ruang kerjamu, Arra!"
"Apa maksudnya?"
"Ya. Mulai hari ini kau akan bekerja di sini, di ruangan ini!"
"Apa itu artinya kau memecatku Aresh?" tanya Aura dengan tatapan cemas.
Damaresh memutar kepalanya menatap Olivia.
Wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu mengangguk dan gegas keluar dari sana dengan kembali menutup rapat pintunya.
Aura tak melepaskan pandangannya dari wajah rupawan Damaresh, berharap dapat penjelasan dari apa yang telah di sampaikan laki-laki itu padanya.
"Mulai hari ini kau tak lagi bekerja sebagai personal asisten ku Arra, tapi kau kembali bekerja di sini."
Damaresh memperjelas maksud dari ucapannya.
"Apa ada yang salah dengan cara kerjaku selama ini, sehingga kau memecatku?"
"Tidak. Kau bekerja dengan sangat baik, Arra."
"Lalu kenapa?"
"Kurasa bekerja di sini itu lebih tepat untukmu, untuk mengasah segala potensi yang ada padamu," ujar Damaresh.
"Kau selalu membuat keputusan dengan semau-mu sendiri Aresh," protes Aura dengan keras.
"Dulu saat aku masih ingin tetap bekerja di sini, kau merekrutku dengan paksa untuk bekerja padamu.
Dan sekarang setelah aku menyukai pekerjaanku, aku suka bekerja di dekatmu bukan hanya sebagai seorang personal asisten biasa tapi juga sebagai istri yang meringankan pekerjaan suaminya, kau malah mendepakku untuk kembali kemari, kau selalu membuat keputusan tentangku tanpa memberitauku sebelumnya." Aura mengajukan protesnya dengan emosi yang membuncah bahkan kini sepasang matanya terlihat berkaca-kaca.
"Sebegitu tidak pentingnya pendapatku bagimu Aresh?" tanya Aura dengan suara bergetar.
"Jangan salah paham Arra!"
Damaresh menatap gadis itu lekat.
"Atau ini caramu untuk mengusir aku dari hidupmu?,
apa artinya mulai sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu?!"
Dan tangis Aura pun pecah seiring kalimat tanya terakhir yang di ajukannya.
Damaresh mendekat mengikis jarak diantara keduanya, ia lalu merengkuh tubuh Aura ke dalam pelukannya, tanpa tunggu waktu lama Aura sudah tenggelam dalam tangisan kuat dalam dekapan Damaresh hingga bahunya sampai terguncang karna menahan isak.
Tak ada kata apapun yang diucapkan Damaresh, kecuali mengusap lembut kepala Aura dengan ritme teratur
hingga kemudian terasakan kalau Aura sudah mulai tenang dalam tangisannya.
"Ini tak seperti dugaanmu, Arra!" ucap Damaresh yang terdengar sangat jelas di pendengaran Aura. "Aku tak bermaksud mengusirmu dari hidupku," ucapnya lagi.
"Karna aku ingin melindungimu."
"Melindungiku dari hal apa?"
"Dari hal yang belum kau mengerti,"
"Jelaskan padaku! biar aku mengerti," desak Aura
"Aku belum bisa," tolak Damaresh.
"Kau pasti sedang membohongiku kan, Aresh?"
"Tidak," sanggah Damaresh dengan cepat, dengan tegas dan dengan tatapan menghunjam tepat.
"Aku tidak sedang membohongimu."
Damaresh memang tidak sedang berbohong, segala yang dilakukannya saat ini adalah merupakan sebentuk perlindungan untuk Aura.
"Bekerjalah di sini dengan baik! kau sudah tau semua prosedur pekerjaannya, kan?" Damaresh meraih tangan Aura dan menggenggamnya lembut.
Gadis cantik itu menunduk sambil menghela napas,
ia tau bila Damaresh sudah membuat keputusan tak ada siapapun yang bisa menolak. Dia type laki-laki yang memiliki kharisma kepemimpinan yang tinggi, dimana setiap keputusannya adalah sabda yang harus terjadi.
"Nanti sore akan ada yang menjemputmu kemari, bukan Dirga."
Aura bergeming, ia belum mau menanggapi ucapan itu.
Terasa kalau Damaresh mengusap kepalanya
dan mencium keningnya lembut sebelum laki-laki itu memutar tumitnya dan keluar dari dalam ruangan tersebut dengan bergegas.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Damaresh menatap Olivia yang menunggunya di depan ruangan.
"Baik Pak, mari ke ruangan saya!" Olivia mempersilahkan dengan tangannya. Dan kini mereka sudah duduk berhadapan dalam ruangan kerja Olivia.
"Hal apa yang sangat kau butuhkan saat ini, Olivia?"
tanya Damaresh yang membuat Olivia sedikit mengerutkan kening.
"Mak-Maksud Pak Damaresh?"
__ADS_1
"Kebutuhan mendesak yang hampir mustahil untuk kau penuhi,"
Olivia menghela napas dengan perasaan heran.Darimana pak Damaresh tau kalau aku sedang membutuhkan sesuatau sekarang. Batinnya.
Tapi segera ia mengabaikan semuanya demi dilihatnya tatapan Damaresh yang begitu tajam terarah padanya.
"Iya, ada Pak. Anak saya mengalami masalah cukup besar yang membuatnya kemungkinan akan di keluarkan dari kampusnya di LA. Untuk menyelamatkannya saya harus melakukan sesuatu,"
Olivia kembali menghela napasnya berat.
"Sesuatu yang membutuhkan dana yang sangat besar, Pak," lanjut Olivia.
"Berapa?" tanya Damaresh singkat.
"90,000 us dollar."
Suara Olivia terdengar berat ketika menyebutkan jumblah uang yang kalau di rupiahkan itu setara dengan 1.289.083.500,00.
Sungguh jumblah yang sangat fantastis dalam ukuran kantong Olivia.
Tapi untuk seorang Damaresh Willyam, itu mungkin jumblah yang biasa, terlihat dari raut wajahnya yang tak menampakkan perubahan sama sekali.
"Berapa lama waktu yang kau punya untuk mendapatkan uang itu?" tanya-nya datar.
"Dalam tiga hari ke depan," jawab Olivia dengan suara tercekat, terkait hal ini ia sudah berada di ambang putus asa, setelah dari sekian usaha yang dilakukannya tiada yang membuahkan hasil. Olivia sudah tiba pada titik pasrah kalaupun nanti tak berhasil menyelamatkan putranya.
"Berapa nomer rekeningmu?"
"Un-Untuk apa, Pak?"
"Kau butuh uangnya, kan?"
"Ba-Bapak mau memberikannya untuk saya?"
Olivia hampir membulatkan matanya ketika mendapati Damaresh mengangguk pasti atas pertanyaannya.
Selayaknya seorang yang kehausan di tengah gurun gersang, tetiba ada orang datang menawarkan segalon minuman, olivia terbirit mendekati dan meraih minuman tersebut tanpa harus berpikir panjang lagi.
Begitulah, ketika ia segera menyebut sederet angka yang merupakan nomer rekeningnya yang lalu di catat oleh Damaresh di telfhon pintarnya.
Untuk beberapa saat lelaki itu sibuk mengotak-atik smartfhonnya di hadapan Olivia. "Kau bisa periksa rekeningmu dalam lima menit kedepan!"
titahnya pada Olivia kemudian yang membuat wanita itu menampilkan senyuman lebar dengan tatapan penuh luapan haru dan senang, bahkan hampir saja Olivia tak dapat menahan dirinya untuk segera bangkit dan memeluk Damaresh sembari mengucapkan jutaan terima kasih.
Tetapi ada satu hal yang menyeruak dalam maya pikirnya kemudian, yang seketika membuat senyumannya memudar, bahwa tak mungkin semudah itu seorang Damaresh Willyam membantunya tanpa adanya timbal balik yang harus ia berikan.
"Apa yang harus saya lakukan untuk membalas semua ini, Pak?"
"Pertanyaan cerdas, Olivia," sambut Damaresh karna ia memang tak akan memberikan bantuannya dengan cuma-cuma.
Olivia menelan salivanya dengan itu.
"Jaga Aura dengan wewenangmu di sini! jaga dia dari jangkauan seluruh anggota keluarga Willyam, termasuk tuan Willlyam Pramudya sendiri!"
perintah Damaresh yang membuat beberapa lipatan terlihat di dahi Olivia. Bukan tanpa maksud jika Damaresh meminta hal tersebut, Olivia adalah pemangku kekuasaan kedua di L&D setelah Cristhine.
Ia juga sering menjadi pion untuk Crishtine dan Claudya. Penting untuk menariknya dalam kendali Damaresh untuk melindungi Aura, karna Olivia pasti cukup tau bagaimana cara kerja Cristhine dan Claudya. Dan sebagai pion, meski ia tak bisa memakan ratunya, tapi ia bisa memakan bagian lain yang berada dalam satu bagian secara diagonal dari posisinya.
"Kau sudah tidak punya jalan untuk kembali, sekarang uang itu telah masuk dalam rekeningmu," ucap Damaresh cepat demi di lihatnya expresi Olivia yang nampak bimbang.
Olivia menghela napasnya pelan, bukan lagi perkara siapa Aura bagi Damaresh hingga lelaki itu memperlakukannya sedemikian istimewa yang ada dalam pikiran Olivia sekarang. Tapi permintaan Damaresh yang membuatnya harus diam-diam melawan keluarga Willyam, itu yang sangat memberatkan. Selama lebih sepuluh tahun bekerja pada keluarga Willyam membuat Olivia cukup tau bagaimana keluarga Willyam bila sudah mengincar sesuatu dan bila sudah tak menginginkan sesuatu.
Melawan keluarga Willyam, sama artinya dengan menggali kuburannya sendiri. Tapi apa wanita itu bisa menolak permintaan Damaresh di saat lelaki itu sudah mencekoki-nya dengan sesuatu hal yang memang sangat ia butuhkan.
"Baik Pak, saya akan jaga Aura sesuai keinginan Bapak,"
putus Olivia akhirnya.
"Bagus, aku suka kerjasama ini." Damaresh menarik sudut bibirnya samar. Semua tindakannya memang sudah ia perhitungkan, dan hasil yang sesuai itu yang kini ia dapatkan. "Ingatlah Olivia, jika terjadi sesuatu pada Aura selama ia bekerja di sini, kau orang pertama yang akan aku mintai pertanggung jawabannya."
Tegas Damaresh kemudian.
"Baik, Pak. Saya paham." Olivia mengangguk pasti.
Fakta yang terjadi di sini adalah, bahwa Demi untuk melindungi Aura,Damaresh rela mengucurkan uang dengan jumblah besar.
Setelah mendapatkan hasil yang sesuai, Damaresh segera meninggalkan kantor yayasan L&D dengan di antar Olivia hingga keluar gedung kantor.
Damaresh masih berdiri disamping mobilnya untuk menghubungi Stefan.
"Selamat pagi, Pak."
Stefan menjawab panggilannya dengan cepat.
"Bagaimana dengan orang-orangmu?"
tanya Damaresh langsung.
"Mereka sudah tiba di L&D setengah jam sebelum bapak."
"Kau sudah memberitau mereka cara kerjanya?"
"Sudah dengan jelas,Pak."
"Bagus. Terima kasih Stefan."
__ADS_1
Meminta orang-orang Stefan untuk menjaga Aura juga adalah cara yang dilakukan Damaresh untuk melindungi Aura. Ya, semuanya adalah sebentuk perlindungan darinya untuk Aura Aneshka.
Damaresh menutup telfhonnya dan gegas memasuki mobilnya, dalam sekejab roda kuda besi itu sudah bergulir meninggalkan yayasan, meninggalkan hembusan napas pelan Aura yang melihat semuanya dari balik jendela ruang kerjanya di lantai tiga.