Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
16. Harapan terus bersama.


__ADS_3

"Ayahh," semakin erat Aura memeluk tubuh Lukman, semakin bercucuran air matanya. dan semakin lembut Lukman menepuk-nepuk bahu putrinya yang sudah terguncang menahan isak tangis.


"Maaf ayah," lirih Aura berkali-kali di sela isak tangisnya. "Maaf harusnya aku selalu ada di dekat ayah,


maaf karna gara-gara aku ayah sampai jatuh sakit,"


Aura menumpahkan semua perasaan terpendamnya


dari sejak menempuh perjalanan menuju rumah sakit.


Lukman mengangkat kepala Aura dan menghapusi air matanya, "Jangan selalu minta maaf nak, Aura tidak salah, ayah yang terlalu bahagia dengan pernikahanmu sampai lupa untuk banyak istirahat,"


Lukman berkata pelan sambil menatap Aura lembut.


Kembali Aura memeluk sang ayah dengan rasa sayang.


Menurut Bibi Husna adiknya Lukman yang selama ini sering membantu mengurusi keperluan Lukman sewaktu Aura bekerja. Lukman pingsan usai datang mengurusi kelengkapan surat-surat dari KUA, terkait pernikahan putrinya. Selama ini Lukman memang terlalu bersemangat mengurusi semua keperluan pernikahan Aura, padahal banyak keponakannya yakni sepupu Aura yang menawarkan jasa untuk membantu, tapi Lukman bersikeras melakukannya sendiri dengan alasan ini adalah tanggung jawabnya untuk mengantarkan putri tunggalnya menikah.


Lukman yang memang pernah punya riwayat sakit jantung harus di larikan kerumah sakit untuk menjalani pengobatan yang intensif. Tapi kini kondisinya sudah membaik, Aura bisa bernafas lega meski rasa bersalah masih sering menghampirinya tiap kali melihat kondisi sang ayah.


Terdengar pintu ruang rawat itu di buka dari luar, dan terlihat Lukman tersenyum ke arah seseorang yang datang, Aura segera menghapus air matanya dan menoleh untuk melihat siapa yang berkunjung.


Degg


Melihat sosok laki-laki itu, detak jantungnya bagai di pompa lebih cepat, tampak jelas keterkejutan di wajah Aura, sementara lelaki itu tersenyum lembut ke arahnya.


"Dik Aura sudah datang?"


sapanya, tanpa melepaskan senyuman. Aura hanya mengangguk kaku, dirinya masih speacleesh melihat lelaki itu ada disini juga sekarang.


"Nak Akhtar dari mana?" tanya Lukman.


"Saya sholat 'ashar di musholla, ayah." jawab Akhtar sembari melangkah menghampiri dan duduk tak jauh di samping ayah.

__ADS_1


"Apa masih terasa sesak, ayah?" ia bertanya penuh perhatian.


"Sejak tiba-tiba Aura datang dan memeluk ayah, rasa sesaknya sudah hilang nak," Lukman menjawab berseloroh.


"Alhamdulillah, itu tandanya ayah rindu pada Dik Aura,"


sahut Akhtar sambil melempar senyum pada Aura yang masih membisu.


"Kak Akhtar ada disini juga?" tanya Aura ketika keduanya berjalan beriringan hendak ke musholla Rumah sakit, Akhtar meminta ijin Lukman untuk mengantar Aura melaksanakan sholat Ashar.


"Ia." Akhtar mengangguk. "Aku disini mulai kemarin"


"Jadi kakak tau sewaktu ayah pingsan?"


"Aku tiba di rumah ayah, sekitar satu jam setelah ayah di bawa ke Rumah sakit,"


Aura kembali hendak bertanya, namun langkah mereka kini sudah menapaki teras musholla.


"Dik Aura sholat dulu, kakak tunggu disini ya,"


Aura menagngguk dan segera berlalu untuk mengambil wudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholatnya.


"Kak, aku minta maaf, untuk semua hal yang telah terjadi," akhirnya Aura mampu mengucapkan kata yang telah terangkai dalam otaknya sejak sebelum melaksanakan sholat barusan. Sampai kini Akhtar mengajaknya makan di sebuah rumah makan yang ada di depan rumah sakit, gadis itu tak dapat menikmati makanannya dengan nikmat karna beban pikiran yang masih berjibun di kepalanya.


Rangkaian tanda tanya terbaris rapi dalam diri Aura atas keberadaan Aktar di rumah sakit ini juga. Sikap Akhtar yang juga terlihat biasa bahkan tetap ramah dan lembut juga semakin menambah deretan pertanyaan dalam dirinya.


Padahal dua hari sebelumnya, dalam hubungan mereka via telfhon, Akhtar terkesan membatasi komunikasi, ia hanya berbicara seperlunya, dan tak ada lagi kata-kata manis yang biasa ia sisipkan dalam tiap obrolan seperti biasanya.


Akhtar menghentikan makannya atas ucapan Aura itu,


ia menatap gadis cantik yang sudah di pujanya diam-diam dari sejak sama-sama di pesantren itu dengan lama. "Aku yang harusnya minta maaf dik, karna telah mencurigaimu tanpa berusaha untuk tabayyun lebih dulu,"


Demi apapun, Aura merasa ucapan Akhtar itu seperti siraman air telaga di tengah jiwanya yang kerontang kekeringan karna kesalah pahaman yang terjadi di antara keduanya. Bahkan selama dalam perjalanan pulang, sempat terlintas pemikiran buruk dalam diri Aura, kalau ayahnya terkena serangan jantung karna Akhtar yang telah membatalkan rencana pernikahan mereka, hingga gadis itu tak henti-hentinya meneteskan air mata karna rasa bersalah yang sedemikian besar membelit perasaannya.

__ADS_1


Tapi setelah mendengar penjelasan Bi Husna terkait musabab tumbangnya sang ayah, Aura meraup nafas lega berkali-kali dengan limpahan syukur karna segala yang di kawatirkan tak terjadi, meski tak menutup kemungkinan kalau Akhtar akan benar-benar membatalkan pernikahan mereka karna di nilai dari nada bicaranya di telfhon yang sudah berubah bukan hanya seratus delapan puluh derajat saja.


Ternyata Akhtar juga ada di rumah sakit, turut merawat dan memberikan perhatian besar pada Lukman, tak hanya itu ia juga tetap bersikap lembut pada Aura, dan terakhir apa yang di ucapkannya baru saja melambungkan rasa lega dalam diri Aura untuk kesekian kalinya.


"Kak, untuk semua peristiwa itu, aku bisa jelaskan," ujar Aura dengan mantap, karna sekarang ia punya saksi yang pasti bisa di mintai kesaksiannya bahwa tak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Damaresh malam itu.


"Ia." Akhtar mengangguk. "Dan aku siap untuk mendengarkan karna memang itu yang sangat aku harapkan,"


"Tapi jangan sekarang ya dik, kita fokus dulu pada kesembuhan ayah," usul Akhtar kemudian.


Aura menngangguk, karna untuk saat ini kesehatan Lukman adalah prioritas.


"Kak Akhtar tidak marah padaku?" Aura bertanya takut-takut.


"Insha-Allah tidak lagi," Aktar menyertai senyum lembut dalam ucapannya, membuat Aura yaqin kalau lelaki itu baik-baik saja. Terbentang harapan untuk terus bersama yang terpendar dalam sinar mata keduanya.


Akhtar memang sempat marah bahkan sangat marah


juga terbakar api cemburu yang hampir mematahkan akal sehatnya, namun kemudian ia tersadar bahwa tak bijak untuk langsung memutuskan kalau Aura bersalah tanpa adanya bukti yang jelas.


Iapun memutuskan untuk menyusul Aura ke jakarta tanpa memberitau pada gadis itu guna mengetahui kebenarannya lebih jelas. Akhtar kemudian mengunjungi Lukman untuk meminta alamat kontrakan Aura di sana. Tapi siapa sangka ia justru menemukan kenyataan kalau Lukman di larikan kerumah sakit akibat serangan jantung ringan.


Dan ketika bertemu Aura di Rumah sakit ini segala kemarahan yang dirasakannya selama ini menguap begitu saja di sertai keyaqinan kalau calon istrinya itu tak bersalah, meski masih ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menuntut penjelasan.


Keduanya meninggalkan rumah makan yang ada di depan rumah sakit itu usai menuntaskan pembayaran dari makanan yang mereka makan. Lalu sama-sama kembali ke ruangan perawatan Lukman.


"Kak Akhtar masih akan disini?" tanya Aura begitu keduanya telah duduk di kursi dalam ruangan rawat Lukman, ayahnya itu sendiri tampak sedang tertidur.


"Ia. Aku juga akan menjaga dan merawat ayah, beliau itu ayahku juga kan?"


Aura tersenyum senang mendengarnya.


"Terima kasih ya calon imamku," Aura berkata tulus.

__ADS_1


"sama-sama calon ma'mumku," Balas Akhtar dengan tulus pula.


Keduanya menyatukan pandangan dalam satu harapan yang sama. Harapan untuk terus bersama selamanya.


__ADS_2