
Mobil Mendarat dengan mulus di bandara Juanda, Surabaya. Aura menghela napasnya dalam-dalam, dan membuka matanya pelan. Selama perjalanan dilewatinya dengan mata memejam dan debur jantung yang tak karuan.
"Ikuti saya!" titah lelaki itu setelah membuka pintu di samping Aura, dan setelah Aura keluar dari mobil dengan mengedar pandang ke sekitar.
Langkahnya bergegas memasuki bandara dan langsung menuju terminal keberangkatan jalur pribadi tanpa perlu melakukan boarding pass lebih dulu. Aura paham itu, karna sudah dua kali ia kembali ke Jakarta bersama Damaresh dengan memakai jet pribadi.
Dan langkahnya segera terhenti begitu melihat pesawat dengan kabin tak terlalu besar yang sudah menanti, jelas itu bukan private jett keluarga Willyam yang diketahuinya selama ini. Dan ketika tatapannya mengedar ke semua arah, tak ditemuinya sosok Damaresh Willyam di sana.
Terlihat lelaki yang membawanya tadi berjabat tangan dengan seorang pria bule yang memakai jas dan berdasi lengkap.
Bule itu segera menghampiri Aura dan langsung menyilahkan untuk segera menaiki pesawat dengan isyarat tangan dan bahasanya.
"Mrs Aura please get on the plane! we will start the flight soon."
Aura mengangguk dan menurut, sisi positif pemikirannya bersuara, bahwa mungkin benar ini semua adalah perintah dari Damaresh, buktinya dirinya di perlakukan dengan baik.
Dalam pesawat itu sekali lagi, ia merotasi pandangannya kanan kiri, kalau-kalau akan menemukan sosok yang di cari, ternyata nihil. Hanya ada dirinya bersama bule tadi yang mengambil posisi duduk tidak terlalu dekat darinya, dan dua orang asing juga yang duduk tak jauh dibelakang keduanya.
Tidak ada pramugari di sana mungkin karna jet ini tak sebesar milik keluarga Willyam.
Ketika pesawat mulai take off, bule itu menoleh pada Aura dan tersenyum sambil berkata. "have a nice trip."
Aura mengangguk kecil saja, tanpa berniat membalas senyuman.
Lama sekali perjalanan ini terasakan, meski segala kebutuhannya dilayani dengan baik oleh dua orang lelaki yang duduk di belakangnya, yang ternyata fasih berbahasa Indonesia. Dari kebutuhan makan, minum, istirahat, sholat, semuanya mereka penuhi dengan sempurna sesuai keinginan Aura.
Jika perjalanannya kali ini adalah sebuah penculikan, maka Aura adalah korban penculikan kelas VVIP. Demikian bisa disebutkan.
Rasanya sudah masuk waktu dini hari, ketika pesawat mendarat di sebuah bandara, yang tak diketahui oleh Aura bandara apa dan di negara mana. Ia juga malas membuka mulutnya untuk bertanya, pasalnya lidah kampungnya tak bisa fasih berbahasa inggris, hanya sedikit saja yang diucapkan, itup-un dengan lidah keseleo. hihi.
Sebuah mobil mercy telah menanti, Aura langsung di persilahkan untuk masuk mobil tersebut. Tiga lelaki yang bersamanya dalam pesawat tadi menghentikan langkahnya hanya sampai di situ saja, rupanya tugas mereka telah berakhir sampai di sana, bisa dipastikan kalau setelah ini ada orang lain yang bertugas membawanya.
Hawa dingin menelusup, kendati sudah ada dalam mobil yang tertutup, Aura mendekap tubuhnya dengan kedua tangan, dan sandarkan kepalanya untuk mendapatkan posisi duduk yang lebih nyaman.
Perlahan matanya mulai memejam, seiring mobil yang terasa mulai berjalan. Lelah dan penat menyerangnya dengan kuat, ditambah kantuk, membuat serangan terasa kian ganas. Dalam hitungan menit kepalanya mulai terkulai, dan tak menyadari ketika mobil sesaat berhenti untuk menaikkan seseorang, sebelum kembali melaju membelah jalanan yang lengang.
Entah sudah berapa lama, Aura berada dalam lelap, ketika terbangun dalam kondisi tubuh terasa hangat, kepalanya rebah di pangkuan seseorang yang satu tangannya melingkari tubuh Aura dan tangan yang lain mengusap-usap kepalanya.
Aura reflek duduk dengan tegak, menatap siapa kiranya yang telah memberikannya posisi tidur yang enak, tak perduli dengan kepalanya yang berdenyut karna gerakan serentak.
"Hei, kenapa kau bangun?!" suara teguran sekaligus pertanyaan dari lelaki yang sudah sangat dikenalnya.
"A-Aresh?" gugup Aura dengan suara bergetar.
melihat seraut wajah tampan nan rupawan yang duduk di hadapannya, dalam mobil yang sama, yang baru saja ia tiduran di pangkuannya.
"Ya, Arra." Lelaki itu memberinya senyuman indah.
Aura segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, ada gumpalan air di sepasang netranya terlihat mengambang. Kaget, senang, dan tak percaya campur baur dirasakan, hingga tak tau harus bagaimana merefleksikan.
"Sini!" Damaresh merentangkan kedua tangan, siap untuk merangkum jiwa haru itu dalam dekapan.
Aura pun segera menghambur menubruk tubuh pemilik wajah rupawan yang sangat ia rindukan.
Dan tangis Aura pecah dalam pelukan.
Rasa haru nan bahagia, karna akhirnya bisa bertemu jua, dengan sosok yang tiada henti ia titipkan kerinduan. Rindu yang tak menemukan tepian.
Damaresh menundukkan wajahnya, melabuhkan ciuman berkali-kali di ubun-ubun Aura, yang ternyata malah membuat tangisnya kian membahana, beberapa usapan lembut di berikan Damaresh untuk sedikit menenangkannya, hingga beberapa waktu terlewati, terasa kalau tangisan itu mulai berhenti.
Damaresh menangkup wajah ayu itu dengan kedua tangannya. "Apa kau takut?"
Aura anggukkan kepala.
"Kawatir?" tanya Damaresh lagi. Yang kembali dijawab dengan anggukan oleh Aura bahkan dengan expresi wajah yang seolah ingin menangis lagi.
Aresh segera melabuhkan beberapa ciuman lembut di wajah basah itu, untuk mentransfer ketenangan pada diri Aura.
__ADS_1
"Jadi benar, mereka adalah orang suruhanmu?"
tanya Aura dengan suara hampir tercekat.
"Ya."
"Kenapa tak memberitahukanku lebih dulu? aku takut, Aresh," ucap Aura dengan suara bergetar.
"Maaf." Aresh kembali menarik tubuh yang tak lepas hijab itu ke dalam pelukan. "Tadinya aku yang ingin menemui kamu ke Surabaya, Arra. Tapi aku tak bisa mendapatkan waktu. Pekerjaan ku disini
sangat menyita waktuku."
Lelaki itu sejenak membuat kalimatnya terjeda, untuk kembali mencium wajah Aura yang bersandar nyaman di dadanya.
"Jadi aku pikir, kau saja yang harus datang ke sini."
"Kenapa harus dengan cara seperti ini? aku takut,"
isak Aura menggambarkan perasaannya dari sejak perjalanan dimulai.
"Apa mereka tak bilang, kalau aku yang menyuruh?"
"Mereka bilang begitu padaku, tapi aku rasa ini bukan kebiasaanmu, yang memerintahkan orang untuk membawaku tanpa memberitahukan aku lebih dulu."
Damaresh tak memberikan jawaban, hanya semakin mempererat pelukan, banyak hal yang tak bisa ia beritahukan, bukan karna kurang kepercayaan, tapi karna tak ingin mendatangkan kekawatiran.
Anggap saja ia telah melakukan keteledoran dalam tindakannya, yang membuat Aura merasa ketakutan. Tapi saat ia memberi perintah pada orang kepercayaan untuk menjemput Aura, dirinya sedang berada di Jepang secara diam-diam dalam misi pencarian Airlangga. Rencananya dari sana ia akan langsung terbang ke Indonesia untuk menemui Aura. Tapi orang kepercayaannya di London melaporkan kalau Willyam memerintahkan orang untuk mengikutinya. Maka dibuatlah rencana dadakan untuk menjemput Aura, sementara dirinya kembali ke London dengan tangan hampa, tanpa kabar yang bisa ia dapat tentang keberadaan Airlangga.
Secara bersamaan, saat dirinya terbang ke london, saat itulah orang yang menjemput Aura juga melakukan penerbangan ke tempat yang sama. Wajar jika ponselnya tak bisa dihubungi, tapi ia sudah memberitahukan Kaivan di Jakarta atas misinya ini, kalau-kalau Aura nanti menanyai.
Damaresh mendarat di London, empat jam sebelum Aura tiba, dan ia memilih menunggu kedatangan istrinya itu sambil beristirahat di sebuah penginapan yang berjarak 10 km dari bandara.
"Apa orang suruhanku memperlakukanmu dengan baik?"
"Ya, mereka cukup ramah, kurasa," sahut Aura.
Pertanyaan itu membuat Aura kembali menegakkan tubuhnya, menatap Damaresh dengan expresi yang tak terbaca, namun hanya sesaat saja, sebelum sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya, di sertai gelengan kepala.
"Hanya saja ... " Aura memutus ucapannya begitu saja.
"Apa?" Damaresh menatapnya penuh tanya.
"Aku sangat rindu, Aresh."
Senyum sempurna terbit di bibir Damaresh atas kalimat sepenuh rasa yang terucap dari bibir Aura.
Segera, kedua tangannya kembali mendekap tubuh itu mesra. Bahkan lalu ia membaringkan tubuh Aura di atas pangkuannya.
"tidurlah kembali! kau pasti masih sangat lelah," ucapnya disertai usapan lembut di kepala Aura.
"Hmm.." Dengungan halus diperdengarkan oleh Aura seiring anggukan kecil di kepala. Netranya lalu memejam sempurna, membawa rasa hangat dan damai jiwanya karna kini telah berada di tempat yang paling aman dan paling benar untuknya.
Di mana lagi, kalau bukan di samping suaminya.
Saat matanya kembali terbuka, setelah mengakhiri tidurnya yang lena, didapatinya, tubuhnya terbaring di atas kasur super empuk, di dalam kamar yang bercahaya temaram, dengan aroma maskulin lembut yang menguar di penciuman.
Seraut wajah tampan berbaring menyamping menghadap ke arahnya, satu tangan menyanggah kepala, sedang tatapan hanya terarah pada wajah Aura saja.
Senyuman, dijadikan sapa pertama oleh keduanya, tatkala dua pasang netra bertemu di udara.
"Kau sudah bangun?"
"Ya, apa tidurku sangat lama?"
"Tak lebih dari dua jam."
Aura mengedarkan pandang ke sekitar ruangan.
__ADS_1
"Apa security yang menggendongku ke dalam kamar ini?" tanya-nya.
Damaresh hanya menjawab dengan anggukan.
Keduanya sama-sama sedang bercanda. Damaresh tak akan membiarkan siapapun membawa tubuh istrinya yang sudah lelap sejak dalam perjalanan. Dan Aura tau pula hal itu.
"Jam berapa sekarang?" tanya Aura.
"Hampir pagi."
"Dan kau tidak tidur sama sekali?" Aura menatap Damaresh dengan tatapan menelisik.
"Aku lapar, Arra," sahut lelaki itu sambil sedikit mengatupkan mata.
"Ha?" Aura segera duduk tegak, dan mengikat rambutnya tinggi. "Di mana dapurnya?"
"Mau apa?" Damaresh masih bertanya.
"Aku mau lihat, apa ada bahan makanan yang bisa aku masak, tunggu sebentar ya," pinta Aura.
Gegas wanita itu keluar dari dalam kamar, yang di-iring oleh Damaresh dengan senyuman.
Tapi tak sampai lima menit, Aura kembali datang.
"Gak ada apapun yang bisa ku masak, Aresh. Hanya ada minuman di dalam kulkas," ucapnya dengan nada lesu. "Bagaimana hari-harimu selama
di sini? apa makanan-mu terjaga?" tanya-nya lagi, tampak raut khawatir di wajahnya.
"Ya, aku tinggal pesan," sahut Aresh.
"Kalau begitu pesan saja sekarang! ... Apa jam segini mereka sudah tak melayani pesanan?"
"Mereka memberi pelayanan 24 jam, Arra."
"Lalu kenapa kau diam saja? ayo cepat pesan, Aresh!"
Damaresh segera bangkit dari tidur nyaman-nya, dan menghampiri Aura yang berdiri tak jauh dari pembaringan. Kedua tangannya melingkari pinggang ramping Aura, lalu dagu-nya bertumpu di bahu istrinya. "Aku bukan lapar itu, Ara," ujarnya dengan suara serak.
"Lalu?"
Aresh sedikit memalingkan posisi kepalanya, dan memberi kecupan singkat di kulit leher Aura yang seputih susu. "Kamu," ucapnya singkat.
Degg
Seketika Jantung Aura seakan terpompa begitu cepat. Membuatnya harus mengatupkan matanya rapat.
"Boleh?" tanya Damaresh.
Aura mengangguk. Dan dalam hitungan detik, tubuhnya melayang ke udara karna Aresh yang sudah mengangkatnya menuju pembaringan lagi.
Bismillah, Aura menyerahkan diri sepenuhnya pada
lelaki halal-nya, keduanya pun begitu khusyu' menjalankan ibadah suami istri bersama.
---------------
----------------------
------------------------------
Yang kangen Aresh dan Arra segera merapat..
Vote nya jangan lupa ya..biar ke uwu-an mereka tak
akan hilang selamanya.
Ehh ya..yang mau double up..angkat tangan..
__ADS_1