
tiga jam sebelum kejadian.
Damaresh memeriksa dengan jeli dan teliti, sebuah email yang baru saja di terima. Email itu berisi rancangan kerja yang cukup bernilai bagus menurutnya, bahkan rancangan yang diajukan itu cukup banyak memiliki kelebihan dan keistimewaan, meski sepintas lalu seperti sama saja dengan program kebanyakan.
Damaresh mengangguk singkat saja. Tapi anggukan itu menghadirkan rasa teramat lega bagi lelaki yang ada di hadapannya.
"Disetujui, Mr?" ia bahkan masih bertanya karena tak ingin salah mengartikan anggukan atasannya.
"Ya," singkat Damaresh. Yang sekali lagi membuat rasa lega kian mendominasi dalam diri Juan, si pembawa laporan.
"Ini hasil rancanganmu pribadi, Juan?" tanya Damaresh seraya meraih minuman yang tersaji di depannya dan menyesapnya pelan.
Juan tak segera menjawab, ia masih menunggu sang bos meletakkan gelas minumannya itu kembali untuk memberikan jawab.
"Saya, bersama team, Mr."
Damaresh masih menatap Juan dengan seksama, seakan masih mengukur sejauh mana kejujuran Juan dalam pengakuannya. Setelah menemukan apa yang dicari, Damaresh mengangguk singkat saja.
"Setengah jam, Kamu harus tiba di lokasi, dan setenagh jam kemudian, saya harus sudah menerima laporannya," titah Damaresh, setelah sesaat menatap jam tangannya yang memiliki harga selangit.
"Baik, Mr. Saya segera melaksanakan tugas." Juan segera berdiri, dan setelah menjura hormat, lelaki itu bergegas pergi.
Selang satu menit sejak kepergian Juan, Damaresh menerima pangilan telepon dari seseorang yang segera melapor. "Aman, Pak."
"Sudah dipastikan?"
"Ya, Pak. Kami mengawal ketat team kteatif dan pengembangan ketika membuat rancangan itu. Saya bisa pastikan, kalau data yang asli dibawa oleh pak Juan menghadap, Bapak. Dan data yang lain tersimpan di database perusahaan." Orang itu memberikan laporan dengan lebih rinci.
"Pantau terus data tersebut, seperti yang sudah kuperintahkan," titah Damaresh.
"Baik, Pak."
Sambungan telepon berakhir. Lelaki berdarah indo Turki itu menarik napas pelan. Satu point dinyatakan gugur.
Damaresh memang sudah menetapkan dua point terkait kemunduran kinerja dalam tubuh BLC Corp belakangan ini. Kedua point itu didapatkan dari hasil penyelidikan singkat dibantu para pekerja bayangan yang masih menjadi ciri khas Damaresh yang tak bisa dicopy.
Ada waktu sekitar 55 menit, sebelum ia memutuskan untuk mengeksekusi point kedua. Meski dugaan ke arah sana sudah semakin membesar saja, tapi lelaki itu tetap menunggu laporan dari Juan, untuk lebih jelasnya.
Damaresh menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, untuk sekedar meraih posisi santai meski tak kan senyaman therapy relaksasi. Jemarinya segera menekan beberapa nomor, dan untuk sesaat masih menunggu panggilannya itu dijawab.
"Hallo assalamualaikum."
Terdengar suara dari seberang yang saat mendengarnya saja, kedua sudut bibir Damaresh langsung membuat lengkungan. Ia tersenyum.
"Anakku, nakal, tidak?" tanya Damaresh setelah menjawab salam.
__ADS_1
"Jangan membuat aku patah hati, Aresh," ucap Aura dari seberang.
"Loh, kenapa sayang?"
"Bukan tentang aku lagi yang kau tanyakan pertama kali," racau Aura di seberang sana, yang membuat Damaresh tersenyum dan menyadari kesalahannya.
"Apa kabar istriku, sayang?"
"Sebaik, harapan yang kau pinta pada Tuhan," jawab Aura berpuitis ria. Dan dia lalu balik melontar pertanyaan. "Kau sendiri bagaimana, Aresh?"
"Sebaik, doa yang kau pinta," Aresh pun membalas puitis juga yang lalu berakhir dengan tawa renyah dari Aura.
"Sudah?" tanya Aura singkat.
"Belum."
"Kapan pulang ke Indo?"
"Kenapa tanya aku kapan pulang, Arra. kamu 'kan yang memintaku pergi?" sindir Damaresh.
"Aku kangen," ucap Aura.
"Aku gak," jawab Damaresh. namun, tanpa sepengetahuan Aura, lelaki itu sedang menahan senyumnya.
"Aresh .." Terdengar Aura merajuk manja.
"Aihh, gombalanmu receh. Tapi aku suka."
"Itu aku copas, Sayang," aku Damaresh.
"Copas sama siapa?" tanya Aura penasaran.
"Stefan, dia bicara sama Clara semalam di telpon dan mengatakan demikian.Ya udah, aku tiru aja." Damaresh hampir tak bisa menuntaskan ucapannya karena sudah didahului tawa. Dan tawa Aura pun segera membahana.
"Kamu seorang CEO, lho. Masak gak kreatif banget sih, pakai Copas lagi," tawa Aura kian menjadi sampai kalimat tanya Damaresh menginterupsi.
"Sudah sholat asar, sayang?"
"Belum, waktu asar masih setengah jam lagi. Kamu sudah sholat dhuhur?"
"Di sini, baru jam 8 lewat sekian."
"Oh ya, aku lupa," ucap Aura dengan terlonjak, terlupa kalau benua telah menjadi jarak, antara dirinya dan suami tercinta.
"Aku lanjut kerja dulu, Arra. Salam sama putraku tunggu ayahnya dulu."
__ADS_1
"Ya, aku memang selalu mengatakan itu padanya."
Usai bertelepon ria dengan istrinya, Damaresh segera beranjak dan kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaan yang menumpuk.
Di waktu yang ditentukan, Juan memberikan laporan, kalau Building contruction di Feel Street, gagal mereka dapatkan. Karena sudah kedahuluan BLC pusat yang membawa rancangan yang sama persis dengan yang Juan bawa. Hanya selisih waktu lima menit saja, dan BLC Corp London dinyatakan kalah, bahkan mendapat tuduhan telah menjiplak rancangan. Padahal itu asli kreatifitas Juan dan teman-teman.
"Bagaiamana, Pak?" tanya Juan diakhir laporan. Jangan tanyakan seberapa banyak debaran yang diarasakan. Tersadar kalau hukuman akan segera didapatkan.
"Kembali ke kantor!" titah singkat Damaresh yang hampir tak dipercaya oleh Juan yang mendengarnya. Ternyata bosnya itu tidak terdengar marah atau berteriak dengan lengkingan keras di Telepon. Juan hanya disuruh pulang saja.
Setelah menutup panggilan telepon dengan Juan, Damaresh ganti menghubungi Stefan. "Yang benar adalah Point kedua, Stefan," katanya langsung ketika Stefan menjawabnya dengan kata hallo.
"Database perusahaan telah diretas, Pak?"
"Ya, kirimkan nama-nama Hacker di kota ini berikut track and recordnya."
"Baik, Pak."
Setelah melihat beberapa nama dari para Hacker handal kiriman dari Stefan itu, pilihan Damaresh jatuh pada Alex Gupta yang dikenal dengan nama Brian Smith. Hanya dalam waktu tiga jam, Damaresh berhasil menemukan posisi Alex dan menolongnya keluar dari kepungan anggota mafia anak buah Darel.
Tak hanya itu, Damaresh juga berhasil membuat kesepakatan dengan Alex. Kesepakatan yang sangat membingungkan bagi Hacker yang tak pernah tersentuh jerat hukum itu, karena sederet nama besar yang ada di belakangnya.
kini, Alex berkali-kali menatap data perusahaan yang diberikan Damaresh padanya. Ternyata data itu tetap tak berubah. Itu adalah data perusahaan BLC Corp London, perusahaan yang databasenya sudah diretas oleh Alex selama ini.
Damaresh telah menjerat Alex atas pekerjaannya sendiri. Meminta Alex menemukan siapa peretas data BLC, padahal itu adalah kelakuan Alex sendiri. Bos Pramudya itu juga meminta Alex membalas pelakunya. Apalagi jenis balasan itu, kalau bukan Alex harus balik menyerahkan data perusahaan yang telah menyuruhnya selama ini.
Sudah dapat dipaham bukan, kenapa Alex harus merasa kebingungan. Di mana kini ia harus menjadi senjata yang makan tuan. Dan Damaresh yang memegang permainan.
Alex sungguh ingin membatalkan kesepakatan ini. Tapi ancaman Damaresh sangat menakutkan sekali. Kini si kribo ini hanya bisa menyesali, yang sayangnya semua penyesalan itu sudah tak berguna lagi.
Di tengah kebingungan Alex, terdapat panggilan dari Private Number di ponselnya.
"Berapa jam dari sekarang, kau akan mengirimkan database perusahaan BLC Corp Pusat, padaku, Alex?" itu suara Damaresh yang terdengar jelas di telinga Damaresh.
"E-" Alex sejenak tercekat. Bahkan Damaresh tau, kalau Alex meretas data BLC Corp London, adalah atas perintah dari BLC pusat yang ingin menguasai BLC London lagi.
"Sa-satu jam dari sekarang," jawab Alex.
"Baik, lebih satu menit saja, aku tak bisa menolerirnya."
"I-Iya, Pak. Ta-tapi aku butuh jaminan keselamatan dari Hukuman pihak BLC pusat dan dari Darel." Alex coba mengajukan permintaan.
"Kirimkan saja datanya, maka segala permintaanmu itu aku penuhi," tegas Damaresh dan segera mengakhiri panggilan telepon.
Alex meraup napas berkali-kali, sebelum jari-jari lincahnya segera melakukan keahlian tersembunyinya selama ini. Dan sesuai janji. Dalam satu jam 80 persen database perusahaan BLC Corp Pusat sudah masuk ke tangan Damaresh.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Alex?
Kini si Kribo sudah berada di Bandara internasional London, dengan mengantongi dolar yang jumlahnya hampir tak bisa dibaca dengan angka. Alex siap diterbangkan ke Negara baru dengan identitas baru dan memulai kehidupan baru, bukan lagi sebagai Alex Gupta atau pun Brian Smith lagi.