Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
7. Dilamar


__ADS_3

"Bismillahirrahaanirrahiim.." Aura menjeda kalimatnya sejenak untuk mengambil nafas. Perasaannya sangat gugup, bahkan suaranya terdengar bergetar.


"Saya terima lamarannya mas Akhtar, dengan sepenuh hati saya" Akhirnya Aura menuntaskan kalimatnya.


"Alhamdulillahh.." segera kalimat syukur bergema di dalam ruang tamu rumah Pak Lukman yang sederhana itu. Lukman sendiri menatap putri tunggalnya dengan sangat terharu dan bahagia, sehingga sepasang matanya berkaca-kaca.


Bu Ramlah, ibunya Akhtar bahkan sampai memeluk Aura dan mencium keningnya, berterima kasih karna lamaran putranya di terima dengan sangat baik oleh Aura.


Sedangkan Akhtar sendiri, pemuda tampan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam diserta rasa syukur yang terpahat dalam jiwanya, impiannya untuk menikahi gadis yang sudah di pilihnya dari dulu itu kini tinggal selangkah lagi untuk menjadi kenyataan.


Saat Akhtar mengangkat wajahnya, senyuman indah ia lemparkan pada Aura yang terlihat begitu cantik malam ini dengan abaya putihnya. Aura membalas senyuman calon suaminya itu dengan rasa bahagia.


Yaah sebuah peristiwa bersejarah itu, akhirnya terjadi juga dalam hidup Aura Aneshka. Dia akan Menikah dengan calon imam impian, setelah ia menerima lamarannya malam ini.


Akhtar adalah senior Aura dulu ketika masih menjalani pendidikan di pesantren. Aura jebolan pesantren?. yup itu betul. Aura mengenyam pendidikan Mts Dan Aliyah di sebuah pesantren di daerah Probolinggo, Jawa Timur.


Karna kecerdasan dan kecakapannya nya yang tinggi ia berhasil mendapat beasiswa di salah satu Universitas ternama di ibukota.


Dan setelah lulus Aura langsung di terima bekerja di L&D Foundation, salah satu yayasan sosial ternama milik Pramudya Corp. Selama bekerja di L&D Foundation Aura juga mengajukan pesantrennya untuk mendapatkan jatah beasiswa dari yayasan tersebut.


Akhirnya setelah melalui beberapa proses, pengajuan Aura di terima oleh pihak L&D Foundation, dan Aura sendiri yang bertugas menghandle semuanya.


Dari situlah Aura bertemu kembali dengan Akhtar yang sudah menjadi dosen di perguruan tinggi yang ada di pesantren tersebut.


Pertemuan berlanjut pada lamaran yang di lakukan Akhtar malam ini dan di sambut oleh Aura dengan senang hati.


"Terima kasih untuk semuanya." Akhtar, pemuda tampan yang memakai sarung, berbaju koko dan menutup kepalanya dengan peci itu berdiri tak jauh di samping Aura. Ia memang meminta waktu untuk bisa berbicara dengan Aura sebelum dirinya dan keluarganya bertolak kembali kerumahnya yang ada di luar kota.


Aura mengangguk dengan senyum. "Terima kasih pula untuk kejutannya yang sangat luar biasa." Pendar kebahagiaan terpancar di sepasang mata teduh Aura.


Ia tak pernah menyangka kalau Akhtar akan langsung datang melamarnya, karna ketika mereka bertemu beberapa waktu lalu di pesantren, saat Aura melakukan survei bersama team L&D Foundation, Akhtar tak membicarakan hal yang sangat pribadi, kecuali bertukar kabar masing-masing saja.


Tak di sangka jika ayahnya yang memintanya pulang adalah karna keluarga Akhtar akan datang melamar.


Tentu saja Aura menerima dengan suka cita. Karna sosok Akhtar dengan kesholihannya dan penampilannya yang berkain sarung, berbaju koko dan berpeci itu lebih Berdamage dalam pandangan Aura dari pada seorang lelaki yang memakai stelan jas dan berdasi. Uppss kayak nyindir ya..


"Subhanallah dik Aura, sebenarnya saya tidak cukup percaya diri untuk melakukan langkah ini, karna dik Aura sudah punya kehidupan yang cukup mapan di jakarta, beda dengan saya. Tapi berangkat dari keyaqinan dan niat baik, saya beranikan diri sambil terus berharap ridho Allah. Dan, " Akhtar tak melanjut ucapannya kecuali hanya melempar senyum pada Aura . senyum yang mewakili kebahagiaan dan terima kasihnya.


"Sampai bertemu sebulan lagi Insha-Allah ya, dik."


ucap Akhtar kemudian. Sebulan lagi waktu yang di tentukan oleh kedua keluarga untuk menyatukan keduanya dalam ikatan rumah tangga sakinah.


"Ia mas." sahut Aura tak lupa disertai seulas senyum.


Hari ini wajah cantik Aura memang selalu terhias senyum. Senyum bahagia.


"Semoga Allah selalu menjaga dik Aura sampai waktu saya di beri amanah untuk menjagamu selamanya itu tiba." ujar Akhtar lagi.


"Aamiin." kembali hanya kata amin yang di ucapkan Aura. kalimat yang di ucapkan Akhtar selalu membuatnya speacclesh. Hingga tiba waktu Akhtar pamit.

__ADS_1


"Kak Akhtar." Aura memanggilnya tertahan.


"Ia dik." Akhtar berbalik menatapnya.


Aura sejenak menarik nafasnya sebelum menyampaikan maksudnya.


"take me with you too jannah."


"Alhamdulillah.. Insha-Allah dik. Kita bersama mencapai syurganya ya." Sahut Akhtar dengan haru.


Aura mengangguk senang dan lalu segera melepas kepergian Akhtar beserta keluarga.


"Terima kasih nak, kau sudah menerima lamaran Akhtar." ucap Lukman malam itu, setelah hanya tinggal berdua saja dengan Aura.


Ibunya Aura memang sudah berpulang sejak sepuluh tahun lalu, dan Aura sendiri adalah anak tunggal.


"Aku sangat yaqin kalau Akhtar akan menjadi imam yang baik untukmu." ucap Lukman lagi.


"Aamiin. Insha-Allah ya ayah.." Sahut Aura dengan sangat yaqin. Ia Aura yaqin kalau Akhtar akan jadi imam yang baik untuknya. Akhtar memang tak setampan dan tak sekaya Damaresh Willyam. Tapi dalam diri Akhtar ada potensi yang besar untuk membawa pendamping hidupnya menuju syurga. Itu satu hal yang sangat di inginkan oleh Aura bila sudah tiba waktunya membina rumah tangga.


Tapi kenapa malah membandingkan Akhtar dengan Damaresh, yang sudah jelas keduanya bak langit dan bumi, sangat jauh berbeda.


Bila mengingat Damaresh, Aura juga perlu berterima kasih padanya. Karna peristiwa membahagiakan dalam hidupnya ini terjadi tak lepas dari peran Damaresh pula.


Kemarin, Kaivan menjemput Aura ke kontrakan nya, dan mengantarnya ke stasiun. Tak hanya itu ternyata Kaivan juga sudah membelikannya ticket kereta api Express kelas VIP untuk memudahkan dan melancarkan perjalanan Aura ke kampung halaman.


Cukup baik juga kan atasannya yang bermuka tembok dan terlahir tanpa senyum itu.


Patutlah jika Aura juga berterima kasih padanya.


"nak, jika nanti kalian sudah menikah, masalah pekerjaanmu kau perlu komunikasikan lagi dengan suamimu. Jika Akhtar tak mengijinkanmu bekerja lagi, sebaiknya patuhi apa yang jadi keputusan suamimu.!"


Pak Lukman memberi wejangan.


Aura sejenak diam, namun kemudian ia segera mengangguk. "Ia ayah." Jika memang setelah menikah Akhtar tak akan mengijinkan ia bekerja di Jakarta lagi, mungkin Aura akan mengajar saja di pesantren. Itu lebih baik. Pikirnya.


"Apa kau akan kembali besok?" Tanya Lukman.


"Sebenarnya Aura masih ingin terus bersama Ayah, tapi cuma ijin dua hari ke kantor." sahut Aura dengan menunduk.


"Kalau ijinnya cuma dua hari, berarti besok kau harus kembali. Ingat nak, harus amanah dalam segala hal, apalagi pekerjaan biar rejekinya berkah." petuah Lukman. Ajaran kebaikan itulah yang senantiasa ditanamkan Lukman pada putri semata wayangnya.


"Ia ayah." sahut Aura patuh.


"Ini sudah malam, kau istirahatlah, besok kan kau mau melakukan perjalanan jauh."


"Ayah juga, jaga kesehatan ayah". Sejenak Aura memeluk ayahnya sebelum berlalu menuju ke kamar.


Lukman, sang ayah adalah harta Aura yang paling berharga saat ini.

__ADS_1


Usai mengambil Wudhu, Aura segera merebahkan tubuhnya dikasur sederhananya. Menghela nafas sebanyak-banyaknya dan bersyukur sedalam-dalamnya. Namun suara panggilan masuk di ponselnya mengacaukan semuanya.


Segera Aura meraih ponsel itu memperhatikan layarnya, terdapat beberapa nomer tak di kenal disana.


Apa ini kak Akhtar, tebaknya.


Segera Aura menerima panggilan itu.


"Hallo Assalamu'alaikum." sapa Aura dengan jantung dag dig dug.


Tak ada balasan untuk salam yang di ucapkan. Si penelfhon malah langsung bertanya


"Sudah selesai acaranya?"


"Eeh ini siapa?" tanya Aura yang merasa tak kenal dengan penelfhonnya, karna jelas itu bukan Akhtar. karna pasti seorang Akhtar akan menjawab salamnya lebih dulu sebelum bicara.


"Aku." jawab singkat si penelfhon.


"Ia siapa?"


Tak ada jawaban lagi.


Eh tapi tunggu, suara itu, nada bicaranya yang datar saja, intonasinya juga. Sepertinya Aura sudah sering mendengarnya. Jangan-jangan..


"Pak Damaresh?"


"Ia." tuh betul kan..


"Dari mana bapak tau nomer saya?" merasa tak pernah memberikan nomernya dan juga tak pernah ditanyakan berapa nomernya, Aura jadi bertanya dengan heran.


"Gak usah balik tanya, jawab saja pertanyaanku!" Fix ternyata betul-betul Damaresh di nilai dari cara bicaranya.


"Yaa tapi bapak tadi bertanya apa?"


"Acaramu sudah selesai?" Damaresh mengulang pertanyaannya. Pertama kalinya lho dalam sejarah perkatannya dengan Aura.


"iya pak sudah tadi." Aura menjawab dengan senyum meski Damaresh tak akan melihat senyum itu. Melihatpun percuma karna Damaresh tak akan membalas. Sesaat tak ada tanggapan dari sana.


"Saya juga berterima kasih pada bapak." ucap Aura lagi.


"Untuk apa?"


"Karna bapak sudah memberi saya libur dan melancarkan perjalanan saya pulang." sahut Aura.


"Oo gitu." Dan setelah memberikan jawaban singkat juga tak berbobot itu Damaresh menutup telfhonnya sepihak.


Aura mengerucutkan bibirnya seraya menatap layar ponselnya. Apa maksudnya coba. Gerutunya dalam hati.


Itu artinya Damaresh itu menunjukkan perhatian padamu Aura. tapi masak sih hanya sesederhana itu, seorang Damaresh gitu lho..pasti ada maksud tersendiri di balik setiap tindakannya. Ah lihat saja nanti dah di part berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2