
"Pergi saja, Aresh. Gak papa." Aura mengusap-usap pundak suaminya yang sedang terpekur dari beberapa puluh menit silam.
"Pergi kemana?" Aresh bertanya tak paham.
"Aku mendengar pembicaraanmu semalam dengan kakek. kalau perusahaan di London sedang dalam masalah."
Damaresh menghembuskan napasnya pelan. Memang benar. Pramudya Corp di London sedang goyang. Akibat menerima serangan bisnis dari BLC Corp pusat.
Mungkin semua masih ingat, bagaimana cara Damaresh mengakuisisi BLC Corp-London, yang merupakan salah satu bentuk perjuangan putra Airlangga itu, memertahankan cintanya pada Aura.
BLC Corp London itu adalah anak perusahaan dari induknya yang berpusat di Amerika. Atas jatuhnya BLC Corp London, ke tangan Rival perusahaan--William Pramudya-- tentu saja, Induk BLC tidak terima. Mereka sudah pasti segera menyusun strategi bisnis untuk bisa merebut BLC Corp-London kembali.
Dan saat inilah, perlawanan mereka itu mulai terlihat jelas. Perang strategi mulai tampak nyata. Dan Pramudya Corp, cenderung menampakkan kekalahan dalam strateginya. Sehingga diperlukan penanganan langsung dari Damaresh yang kini sudah didapok sebagai penguasa Pramudya--kekuasaan yang didapat tak hanya dari jalur keluarga, tapi Damaresh sudah mengambil alih Pramudya lewat jalan bisnis juga.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Damaresh pada istrinya.
Aura mengangguk.
"Termasuk apa yang dikatakan, Kakek?"
"Iya."
"Yang kamu dengar, kakek bilang apa?"
"kakek bilang, kalau urusan keluarga itu lebih utama, dari pada urusan Pramudya Corp di London," ujar Aura menirukan ucapan William semalam dari yang ia dengar.
"Kamu tau, kenapa kakek bilang begitu?"
"Iya tau," sahut Aura.
"Kenapa?" kembali Damaresh meminta istrinya untuk menyebut apa yang memang sudah diketahuinya.
"Karena kamu gak mau pergi jauh-jauh. kawatir aku akan melahirkan dalam waktu dekat, dan kamu gak ada."
"Nah itu kamu tau, Arra. Berarti sekarang kamu juga tau 'kan, kalau aku tak akan pergi ke London?"
Aura mengangguk. Dia memang tahu, kalau suaminya itu tak akan memilih pergi. Tapi ada satu hal yang menjadi pertimbangannya saat ini.
Aura segera duduk di depan Damaresh, menatap suaminya itu dengan pandangan lembut. "Aku ingat bagaimana kamu berjuang untuk mendapatkan BLC. Perjuangan itu, salah satu bukti cintamu padaku. Dan tiap kali nama perusahaan BLC disebut aku selalu merasa bangga. Teringat bahwa aku, di matamu begitu berharga."
Aura sejenak menghentikan ucapannya untuk meraih tangan Damaresh dan menggenggamnya mesra. Karena dalam setiap kata yang terucap teriring haru yang memuncak. bahkan kini mulai ada kilatan bening yang berkumpul di sepasang telaganya yang teduh.
"Kebahagiaan terbesar bagi seorang istri, adalah ketika ia sangat dicintai oleh suaminya. Karena cinta itu merangkum semua yang seharusnya dirasakan dan didapatkan istri dalam rumah tangganya.
Dan aku, mendapatkan semua itu darimu, Aresh."
__ADS_1
Damaresh masih terdiam, dan tatapan nya dari wajah sang istri juga masih belum teralihkan. Tak ada kata apa pun darinya, karena Aresh tau, kalau Aura belum menuntaskan kalimatnya.
"Aku mengabadikan banyak hal dalam hatiku dari bukti-bukti cintamu, salah satunya BLC Corp London itu. Aku ingin perusahaan itu tetap ada di bawah genggamanmu. Dan aku yakin kau bisa memertahankannya, untukku."
Damaresh menghempaskan tubuhnya pelan ke sandaran kursi yang dari sejak tadi diabaikan. Tarikan napasnya terdengar sedikit berat, seakan telah berlaku dua pertentangan dalam maya pikirannya yang sama-sama kuat.
"Aresh, ini bukan tentang nilai uangnya."
"Aku paham, kau sudah menguraikannya panjang lebar. Tapi permasalahan yang ada di sana sudah cukup genting, Arra. Tak bisa hanya aku tangani dari balik meja," terang Damaresh seraya menatap wajah istrinya seksama.
"Iya, kau harus turun sendiri kesana," sambung Aura.
"Dan itu, aku tidak mau," tandas Damaresh.
"Aresh ..."
"Aku tak ingin kehilangan moment menemanimu saat melahirkan putraku," sergah Damaresh cepat. "Akan jauh lebih mudah bagaiku, jika kau memintaku membangunkan perusahaan di sini, dari pada aku harus pergi jauh ke luar Negeri dan meninggalkanmu."
Aura terdiam. Sepertinya keputusan Damaresh sudah final. Meski segala alasan telah ia uraikan, suaminya itu enggan untuk mengabulkan.
"Kakek juga sudah rela melepas BLC, mendapatkan pengakuan dari rivalnya sudah tak menjadi prioritasnya lagi. Aku sangat menghargai niatmu. Tapi untuk saat ini jangan memberikan aku pilihan yang sulit. Pilihanmu untuk melahirkan secara normal saja sudah cukup membuatku frustasi. Sekarang malah kau minta aku pergi jauh."
"Putramu tak akan lahir, sebelum kau ada didekatku, Aresh," tegas Aura.
"Arra, aku bisa membangun perusahaan baru yang lebih besar dari BLC Corp di London itu. Aku mampu, Arra," tegas Damaresh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
Aura berucap tak kalah tegasnya.
"Kenapa Arra kau sampai sekokoh ini? apa tak cukup aku membuktikan cintaku padamu selama ini, selain dari mengakuisisi BLC Corp itu?" Aresh menatap istrinya itu tak mengerti. Menurutnya, hampir seluruh waktunya sudah ia dedikasikan untuk rasa cintanya pada sang istri.
Dalam memimpin dua perusahaan besar yang dimilikinya, bukan lagi menumpuk rupiah atau dolar yang menjadi tujuan Damaresh. Tapi ia bekerja untuk niat ibadah, agar anak turunnya kelak, mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sehingga lancar menjalankan tugasnya di dunia ini sebagai hamba Allah.
Dan pemahaman itu ia dapat dari Aura, yang berusaha diterapkan dalam hidupnya. Dan faktanya dengan memiliki sudut pandang seperti itu, hidup Damaresh terasa jauh lebih berharga.
"Kau ingat Aresh, saat kau mendapatkan penghargaan dari Asosiasi pengusaha di London, karena berhasil mengakuisisi BLC? saat itu kau mengakui aku di mata dunia sebagai istrimu, yang sebelumnya aku hanya istri rahasia bagimu. Itu, adalah satu moment yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku," tutur Aura dengan suara bergetar. Bahkan kini di sepasang matanya ada gumpalan air yang mengambang.
"Aku punya mimpi, untuk menunjukkan BLC Corp pada putraku kelak. Sebagai prasasti yang membuktikan bahwa ayahnya adalah seorang laki-laki yang hebat, yang mencintai ibunya dengan luar biasa. Tidak dengan rangkaian kata-kata seperti pujangga, tapi dengan wujud yang nyata." Dan jatuh sudah air mata Aura, mengalir deras di kedua belahan pipi mulusnya.
"Aku gak akan melahirkan sebelum BLC Corp kembali ke tanganmu dengan aman," tandas Aura dan segera bangkit dari duduknya seraya menghapus air mata.
"Arra ..." Damaresh jadi tercekat.
"Waktu seminggu, pasti cukup untuk mengatasi semua itu. Aku beri waktu seminggu," putus Aura dan segera memutar tumitnya untuk berlalu.
"HPL mu dalam minggu ini, Arra. Itulah kenapa aku tidak mau."
__ADS_1
"HPL itu hanya perkiraan, Aresh. Perkiraan. Yang menentukan semuanya itu Allah. Bukan dokter. Titik. Aku tidak mau berdebat." Dan wanita dengan perut membesar itu segera meninggalkan ruangan. Meninggalkan Damaresh yang menghempas napasnya pelan.
********
"Aura itu bukan wanita yang mengedepankan harta dan kemewahan. lihat saja, meski ia sudah menjadi seorang nyonya muda yang kaya raya, di tetap memilih hidup biasa tanpa berlebihan. Beda dengan mommy." itu ucapan Claudya saat Damaresh mengadukan perdebatannya dengan Aura, beberapa saat setelahnya.
Sebenarnya bukan mengadu, tapi dia sedang meminta pendapat pada ayah dan ibunya terkait keinginan Aura itu.
"Aura juga bukan istri yang suka mendebat suaminya. Apalagi, tentang perusahaan. Kau pasti lebih tau ini, Aresh," lanjut Claudya.
Damaresh mengangguk pelan.
"Itu berarti, apa yang diinginkan Aura sekarang memang adalah hal besar yang berdasarkan perasaan. Jika kau mampu untuk mengabulkan, kenapa tidak?"
Claudya menatap putranya itu lembut.
"Tapi Mommy, aku ingin menemani Arra melahirkan." Damaresh tetap teguh dengan harapan dan keinginannya.
Bagi Damaresh, menemani istrinya sampai hari melahirkan tiba, itu juga wujud cinta. Apa bedanya dengan keinginan Aura yang meminta pertahankan BLC karena dianggap lambang cinta Aresh padanya. Bukankah sama saja.Aresh sama-sama menunjukkan bukti cintanya?
"Aresh, pikiran lelaki dan wanita itu berbeda. Kamu berpikiran simple saja, kalau dengan menemaninya itu juga bukti cinta. Tapi istrimu tak berpikir sesimple itu. Seorang wanita itu lebih menghargai sebuah moment. Karena suatu moment berharga itu, sebuah kebanggaan baginya."
"Artinya, Mommy ingin aku pergi?"
"Iya, demi keinginan Aura," sahut Claudya.
"Tapi bagaimana jika Aura melahirkan nanti?" Damaresh terlihat masih sangat ragu.
"Apa kau masih ragu dengan cinta Mommy pada Aura?
"Aku dan Mommy mu akan menjaga Aura 24 jam, Aresh," ucap Airlangga. Ayah Damaresh yang dari awal hanya diam dan menyimak saja itu, kini memperdengarkan keputusannya.
"Daddy juga ingin aku pergi?"
"Iya," jawab Airlangga singkat.
"Aku akan menelepon team dokter yang khusus menangani persalinan Aura nanti, agar tiap harinya selama 24 jam, mereka mengirimkan seorang dokter spesialis dan beberapa perawat untuk memantau kondisi Aura setiap saat di sini." itu ucapan William. Ia juga turut memberikan persetujuan dalam sebentuk tindakan.
"Jadi, Kakek juga setuju aku pergi?"
"Iya."
"Baiklah, aku akan pergi ke London," putus Damaresh sambil menghela napas.
"Tapi ingat! jaga istriku baik-baik, kalau ada apa-apa padanya, aku akan meminta tanggung jawab kalian. Karena aku yakin, di mansion ini, tidak ada yang lebih mencintai Arra, melebihi aku," ucap Damaresh. Ia memberi perintah sekaligus ancaman pada seluruh keluarganya.
__ADS_1
Claudya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang putra.