Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
122. Tak Melewati Aturan Dan Undang Undang.


__ADS_3

"Arra--" panggil Aresh tertahan, karena tubuh sang istri yang telah menghilang di balik pintu kamar. Lelaki itu menghempaskan napasnya pelan. Rasa penat yang seakan menggerogoti tulang membawa tubuhnya untuk segera berbaring di atas peraduan super empuk di dalam kamar, tanpa melepaskan atribut kerja yang tengah digunakan.


Beberapa saat kemudian, Aura kembali masuk ke dalam kamar dan menemukan suaminya sudah terbaring dengan mata yang terpejam.


Besar keinginannya untuk tak menghiraukan, tapi di relung hatinya terdalam, kesadaran sebagai seorang istri membawa tubuhnya untuk mendekat lalu membungkukkan badan untuk melepaskan sepatu Damaresh dan meletakkannya di lantai.


Selanjutnya, Aura merenggangkan lilitan dasi pada kerah baju suaminya itu, agar ia bisa mendapatkan tidurnya dengan nyaman dan lebih leluasa.


Saat Aura hendak berlalu, sebelah tangannya di tahan oleh Damaresh yang sepertinya tidak tertidur dan sadar sepenuhnya pada apa yang dilakukan istrinya kepadanya.


"Kau belum tidur rupanya."


Damaresh menggeleng, ia lalu membawa tubuhnya untuk duduk dengan satu tangan yang masih enggan melepaskan tangan Aura.


"Tidurlah, kau pasti capek. Tapi lepaskan dulu jas-nya," ujar Aura sambil menghindari kontak mata dengan suaminya itu.


"Tidur bagaimana?" Pertanyaan Damaresh terdengar ambigu.


"Iya tidur selayaknya." Aura sedikit membanting ucapannya.


"Tidur selayaknya itu bagaimana?"


Aura menghela napasnya pelan, sebenarnya ia bermaksud meladeni pertanyaan tak penting suaminya itu dengan jawaban yang lebih tidak penting lagi, tapi ia tau kalau Damaresh itu pasti capek setelah bekerja dari pagi sampai malam, mengajak ribut adalah bukan suatu hal yang tepat meski dirinya masih sedang merasa kesal.


"Lepaskan jas nya, lalu berbaringlah! Pejamkan mata dan tidur."


"Bagaimana aku bisa tidur Arra, tanpa melihat senyuman istriku, tanpa mendapatkan perlakuan manis darinya seperti biasanya."


Ucapan Damaresh itu membuat Aura merotasi segenap pandangannya pada wajah tampan Aresh, yang saat ini meski terlihat lelah tapi tetap sedap saja dipandang mata.


"Bagimana aku bisa tidur, jika istriku enggan menatapku, bahkan juga enggan untuk berbicara padaku?"


"Mungkin istrimu sedang kesal," balas Aura dengan mode yang sama. Mode sindiran juga.


"Sepertinya begitu, padahal aku tidak pernah bercita-cita membuat istriku kesal. Malah aku rasa dia yang bercita-cita membuat aku merasa tidak nyaman," ucap Damaresh.


"Gak usah nyindir!" damprat Aura.


Akhirnya dia tak tahan juga dengan mode komunikasi yang sedemikian.


Aresh menyapu pandangannya pada wajah ayu berbalut hijab itu, Aura terlihat menahan amarah yang tergambar jelas di wajahnya dan tatapannya. "Sayangg, wajahmu yang lembut itu gak pas lho kalau di buat garang begitu. Itu bukan kolaborasi yang tepat," ucap Damaresh sambil menahan senyum.


"Apaan sih," tepis Aura dan segera hendak berlalu. Tapi lagi-lagi Aresh menangkap tangannya dan bahkan menarik tubuh gadis itu hingga terduduk di atas pangkuannya. Lelaki itu kemudian mengunci tubuh Aura dengan melingkari pinggang ramping tersebut memakai kedua lengannya.


"Bahasakan dengan kata, apa yang ingin kau sampaikan padaku, Arra." Damaresh mendekatkan wajahnya hingga ujung hidungnya yang runcing menyentuh kulit kenyal pipi Aura yang bersemu merah.


Aura terdiam menahan napasnya.


"Suami-mu ini belum dikaruniai kemampuan untuk bisa membaca isi hatimu, aku hanya dapat merasakan kegundahanmu, tapi tak tau pasti karena hal apa, ... maaf."


Kalimat itu terucap serupa bisikan karena begitu dekatnya jarak di antara keduanya sekarang.


"Karena itu, berucap lah! Biar aku tau, dan berusaha semampuku untuk mendamaikan perasaanmu."


Kali ini, Aura semakin tundukkan wajahnya dan kata maaf terdengar lirih keluar dari bibir mungilnya. "Maaf." Ia kini merasa bersalah, tak seharusnya mendiamkan Damaresh untuk suatu hal yang tak ia jelaskan.

__ADS_1


Aura memang sedang merasa takjub dan sekaligus


kesal secara bersamaan. Pasalnya ia tau perihal Damaresh dengan segala tindakannya pada Pramudya Corp dari Nola, istrinya Edgard.


Sedangkan Damaresh sendiri tidak menjelaskan satu titik kecilpun perihal itu. Yang membuat dirinya mempertanyakan apa statusnya bagi Damaresh, mengapa ada hal yang sepenting ini tentang dirinya, Aura justru tidak tau sama sekali.


Damaresh seakan enggan berbagi cerita dengannya. Padahal Aura sanggup menjadi apa saja demi mendukung suaminya.


Ia sanggup menjadi air, ia sanggup menjadi api.


Ia sanggup menjadi angin, iapun sanggup menjadi badai, asalkan selalu ada di samping suaminya.


Rasa kekecewaannya yang terlampau besar membuatnya enggan bertutur kata dengan suaminya, bahkan juga menghindari untuk berkontak mata. Damaresh yang jeli dapat merasakan perubahan sikap istrinya, hingga terjadilah pembicaraan itu sekarang.


"Apanya darimu yang perlu ku maafkan, kau tak ada salah berupa apapun. Justru aku yang masih sangat banyak kekurangan ketika bersamamu," ucap Damaresh seraya mengusap lembut kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Aku yang selama ini--"


"Cukup, Aresh!"


Aura memutus ucapan Damaresh dengan cepat. "Jangan berubah menjadi seorang pujangga yang pandai merangkai kata. Tetaplah menjadi Aresh yang dulu, yang irit bicara, yang gemar berpuasa kata, yang hanya menatapku dengan diam saja. Karena diam-mu saja, sudah membuatku jatuh cinta. Bagaimana jika kau memeluk jiwaku dengan kata yang bersumber dari hatimu, aku jadi tak tau harus mencintaimu dengan cara yang bagaimana.


"Cintai aku dengan cara yang sederhana saja, seperti yang sudah diatur dalam ajaran agama kita, tentang seharusnya bagaimana seorang istri mencintai suaminya," kata Damaresh diiringi dengan rekah senyum di bibir merah alaminya.


Aura menatap wajah rupawan itu seksama.


"Jangan menatap begitu! Awas jatuh cinta," goda Aresh yang membuat Aura segera tersipu.


"Kalau sudah begini, masih bisakah aku menahan kesal padamu, Aresh?"


"Semua pilihan ada ditanganmu. Kau mau kesal atau tidak, aku tetap sayang."


"Nah, sekarang aku sudah bisa tidur dengan nyenyak, Arra. Aku sudah mendengar suaramu, melihat senyummu, dan mendapat ciuman darimu. Aku ingin tidur sekarang."


Aresh segera beringsut hendak merebahkan tubuhnya lagi.


"Aku ingin menyampaikan dengan bahasa seperti yang kau pinta, kenapa malah ingin kau tinggal tidur?" Protes Aura dengan bibir mulai mengerucut.


"Sampaikan sambil rebah di dadaku, agar aku bisa lebih bisa meresapi ucapanmu."


Damaresh tak memgurungkan niatnya untuk merebahkan dirinya, sambil membawa tubuh Aura untuk tidur di dadanya.


"Berceritalah sekarang!"


"Aku ingin jadi bagian dalam hidupmu, Aresh."


"Tidak bisa."


Jawaban tegas dari Damaresh itu membuat Aura mengangkat kepalanya untuk dapat menatap Damaresh.


"Kau bukan bagian dari hidupku. Tapi justru kau adalah hidupku," kata Damaresh mantap.


"Aku serius."


"Apa aku tidak?"

__ADS_1


"Lalu kenapa banyak hal yang kau sembunyikan dariku tentang dirimu?"


"Apa saja?"


"Tentang perusahaan, tentang pekerjaan, tentang keluargamu."


"Bukan aku sembunyikan Arra, tapi karena belum waktunya kau tau."


"Lalu kapan aku boleh tau?"


"Sekarang. Karena semuanya sudah selesai, maka aku siap untuk menjawab setiap pertanyaanmu."


"Baiklah." Aura menarik napasnya, terlihat penuh semangat.


"Tapi dengarkan aku ya, jangan ditinggal tidur!"


"Kalau aku ketiduran, kau cium saja aku."


"Maunya," sungut Aura tapi tetap tersenyum juga.


"Tentang Alpha DMC."


Aura berujar singkat.


"Aku mengenal Alpha DMC saat masih kuliah.


Alpha bekerjasama dengan universitas kami dalam mencari calon pebisnis muda berbakat. Aku beserta sepuluh orang temanku terpilih pada waktu itu. Dan selanjutnya kami melewati seleksi lagi yang dilakukan langsung oleh pihak Alpha DMC yang akhirnya hanya menyisakan aku dan seorang temanku yang berasal dari Kanada.


Saat itulah aku mulai menjadi bagian dari Alpha DMC," tutur Damaresh mengakhiri ceritanya.


"Lalu kenapa kemudian kau menjadi pemilik Alpha DMC?" tanya Aura.


"Saat itu terjadi goncangan dalam tubuh Alpha DMC, dikarenakan perseteruan keluarga antara dua pemiliknya. Mungkin kau juga mendengar kabar kalau pemilik Alpha itu Dimitri bersaudara."


Damaresh melirik Aura di akhir ucapannya, terlihat kalau istrinya itu mengangguk.


"Perseteruan itu cukup fatal, hingga membuat Alpha terancam --pecah jadi dua, tapi setelah melalui beberapa perundingan yang cukup alot, akhirnya salah satu pihak memutuskan untuk menarik sahamnya saja, saat itulah aku membeli saham tersebut."


"Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?"


tanya Aura penuh selidik.


"Sebagian dari uangku pribadi dan sebagian lagi dari daddy."


Terlihat Aura mengangguk.


"Apa rasa penasaranmu sudah terpuaskan?"


Damaresh mengangkat kepala Aura yang rebah dengan nyaman di atas dadanya.


"Iya."


"Sekarang giliran aku," ucap Damaresh.


"Apanya?"

__ADS_1


Aresh tak menjawab, melainkan segera membalik tubuh Aura dan mengunci kedua tangannya.


Aura tak bisa mengelak lagi ketika wajah mulusnya menjadi sasaran ciuman Damaresh yang tak melewati aturan dan perundang-undangan yang berlaku selama ini di antara keduanya.


__ADS_2