
Waktu berlalu tanpa terasa, hingga kumandang adzan subuh dari masjid dekat rumah, menyeruak masuk dalam pendengaran Aura. Gadis itu perlahan membuka matanya dan segera seutas senyum terbit di bibir mungilnya manakala melihat posisi tubuhnya yang masih tetap berada dalam dekapan Damaresh, sedangkan lelaki itu sendiri juga masih terlelap bahkan di atas satu bantal yang sama dengan Aura.
Perlahan Aura memiringkan kepalanya menelisik wajah tampan suaminya yang bak pahatan patung dewa yunani itu dengan seksama. Seperti mimpi rasanya bisa memiliki suami dengan wajah serupawan ini, yahh,walaupun masih banyak kata "Tapi" dalam pernikahan mereka, tapi Aura merasa yakin kalau semuanya akan indah pada waktunya.
"Kau sudah bangun?" tanya Damaresh tiba-tiba yang membuat Aura terlonjak dan menjadi gugup.
"Ah, i-iya, aku mau sholat subuh," jawab gadis itu.
"Mau sholat subuh? atau masih memandangiku?"
Aura hanya memperlihatkan senyumnya dengan itu, ternyata apa yang dilakukannya diketahui oleh Damaresh, padahal jelas kalau sepasang mata lelaki itu tetap terpejam, tapi kenapa dia bisa tau kalau Aura sedang mengagumi ketampanannya.
Apa Damaresh punya indera ke-enam?
batin Aura.
"Apa kau mau melakukan sholat juga, Aresh?" tanya Aura pelan.
Damaresh menggelengkan kepalanya pelan dan merubah posisi tubuhnya dengan tidur terlentang,
sepertinya dia masih ingin menambah tidurnya lagi.
Aura segera beringsut turun dari pembaringan dan melangkah hendak ke kamar mandi.
"Arra!" panggil Damaresh.
"Iya,"
"Jam tujuh kita harus sudah tiba di bandara!"
"Se-secepat itu?" Aura kaget dengan keputusan Damaresh yang ingin segera kembali ke Jakarta.
"Iya, jam sepuluh nanti, aku ada rapat penting!"
"Baiklah."
Aura mengangguk, meski hatinya cukup kecewa.
"Kau keberatan?" Damaresh menatapnya penuh tanya.
"Ti-Tidak, aku hanya merasa belum cukup saja melepas
rindu pada ayah, tapi aku akan patuh pada keputusanmu," ucap gadis itu sambil tersenyum meyakinkan.
Damaresh mengangguk dan kembali melanjutkan tidurnya. Sedangkan Aura melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Setelah hampir satu jam berkutat di dapur, akhirnya sarapan untuk mereka bertiga sudah siap. Aura lalu bergegas menyiapkan air hangat untuk Damaresh mandi, gadis itu harus berburu waktu karna saat ini jam sudah menunjukkan hampir setengah tujuh pagi.
__ADS_1
"Ayah, di mana Aresh?" tanya Aura pada Lukman di ruang tengah, karna baru saja Aura melihat kalau sang ayah sedang berbincang dengan Damaresh di ruangan ini, tapi kini hanya ada Lukman saja di sini.
"Aresh? makasudmu, suamimu nak?"
Aura mengangguk sambil senyum.
"Yang sopan memanggil suami-mu, Nak! jangan langsung menyebut namanya begitu!" Lukman menasehati putrinya itu lembut. Aura hanya bisa mengangguk dengan senyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Suamimu ada di depan, sepertinya ada hal yang sedang dia kerjakan, tapi kami baru saja selesai berbincang," kata Lukman dengan wajah sumringah.
Aura segera bergegas menuju ke ruang depan, dan didapatinya Damaresh sedang duduk menghadapi layar i-padnya di kursi tamu itu.
"Aresh, ayo mandi dulu, sudah ku siapkan airnya," kata Aura cepat.
"Sedikit lagi," Damaresh menjawab santai bahkan tanpa melihat pada Aura.
"Kita harus bergegas, sekarang sudah hampir setengah tujuh,"
Aura menatap Damaresh gemas dengan mode santainya padahal Aura beraktifitas bak kesetanan dalam menyiapkan kebutuhan ayah dan suaminya karna ingin mengejar waktu.
"Kenapa terburu-buru sekali, Arra."
Damaresh masih menanggapi santai, bedanya kali ini pandangannya sudah mengarah pada wajah istrinya.
"Bukankah jam tuju kita harus tiba di bandara?" tanya Aura heran.
"Lho, bukannya jam sepuluh kau ada meeting?" Aura jadi tambah heran.
"Sudah kuatasi, jadi jam sepuluh kita ke bandara."
putus Damaresh sambil berdiri dari duduknya.
"Ta-Tapi kenapa?" Aura masih keheranan dengan perubahan rencana Damaresh yang tiba-tiba.
"Kau bilang, masih belum puas melepas rindu pada ayahmu, kan?"
"Ja-Jadi, kau menundanya karna aku?" Aura mengerjapkan matanya seakan tak percaya.
"Hmm," Damaresh mengangguk. "maaf Ara, hanya bisa menunda waktu tiga jam," ucapnya. Ia memang sengaja melakukan itu demi sedikit menyenangkan Aura agar bisa punya waktu yang lebih lama bersama Lukman. Tapi berdasarkan jadwal pekerjaannya yang sangat padat, Damaresh hanya bisa menangguhkan jadwal kepulangannya selama tiga jam saja tak lebih.
Aura tak menjawab, ia segera menubruk tubuh tinggi tegap Damaresh dan memeluknya erat karna rasa haru dan bahagia. "Terima kasih, Aresh. Waktu tiga jam itu sudah cukup untukku. Terima kasih sudah memahamiku," ucap gadis itu dengan penuh haru sambil meredamkan kepalanya dalam-dalam di dada Damaresh, dimana aroma maskulin menyeruak memenuhi penciumannya.
Damaresh yang awalnya menahan napas dengan reaksi Aura yang tiba-tiba memeluknya, akhirnya lelaki itu mengangkat tangan kanannya mengusap lembut pundak Aura tanpa kata. Sejenak keduanya masih tenggelam dalam keharuan yang melahirkan banyak rasa, hingga tiba-tiba terdengar suara Lukman.
"Aura, itu-" lukman menghentikan ucapannya segera
demi dilihatnya pemandangan yang terpampang di depan matanya.
__ADS_1
Aura reflek melepaskan pelukannya, bersamaan Damaresh yang juga reflek melepaskan rangkulan tangannya dari pundak Aura.
"I-Iya, A-Ayah, kenapa?" Aura sangat gugup dengan situasi itu.
"Maaf, Ayah tak bermaksud menggannggu," ucap Lukman yang membuat Aura semakin tertunduk malu.
Beda dengan Damaresh yang hanya tampak menghela napas pelan.
"Itu, Ayah cuma mau bilang, kalau air yang kau masak sudah mendidih di dapur," kata Lukman.
"I-Iya, Ayah. Aura lupa." Aura segera bergegas ke dapur
disusul Damaresh yang segera masuk ke dalam kamar.
Lukman menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah polah anak dan menantunya itu.
Padahal mereka sudah halal, sudah bebas melakukan apapun, tapi kenapa masih malu hanya karna kepergok sedang berpelukan. Batin Lukman sambil bibirnya tak hentinya tersenyum.
Damaresh memberikan waktu sepenuhnya pada Aura untuk bersama sang ayah dalam masa tiga jam itu.
Usai sarapan bersama, Damaresh segera menenggelamkan diri dengan pekerjaannya di dalam kamar, sedang Aura, banyak hal yang di kerjakannya berdua sang ayah, dari mulai menyiram tanaman bunga
di halaman, melihat kebun sayur yang berada tak jauh
di belakang rumah, atau menyapa tetangga kanan kiri di samping rumah. Hingga lalu tiba waktu yang sudah di tentukan, Damaresh dan Aura segera berpamitan untuk kembali ke Jakarta.
"Titip anak ayah, ya Nak," ujar Lukman sambil menepuk lembut pundak Damaresh. "Maafkan dia, kalau belum bisa jadi istri yang baik untukmu," imbuhnya lagi sambil tersenyum lembut.
Damaresh mengangguk pelan, sambil tersenyum tipis.
Ada rasa hangat yang kembali dirasakan menyeruak dalam jiwanya, terkait sikap Lukman yang begitu hangat padanya, ia jadi merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Sebisa mungkin patuhi setiap perintah dan keinginan suamimu, Nak!" Lukman pun memberikan petuahnya pada sang anak. "Jangan membantah! kecuali bila perintahnya mengarahkanmu untuk bermaksiat terhadap Allah, maka kau wajib menolak," imbuhnya lagi yang segera mendapat anggukan dari Aura dengan sepasang mata berkaca-kaca.
"Hati-Hati ya," pungkas Lukman setelah Aura mencium tangannya. Dan selanjutnya sepasang mata tua Lukman memperhatikan ketika anak dan menantunya
sama-sama masuk ke dalam mobil, yang rodanya segera bergulir meninggalkan halaman rumah Lukman dan semakin menjauh hingga tak tampak lagi oleh
pandangan.
Lukman menghela napasnya pelan, sambil tersisip doa di dalam hatinya.
"Ya robb, jagalah anak dan menantuku dengan kasih sayangmu, di manapun mereka berada."
Aamiin.
******************
__ADS_1
Maaf ya.hari ini hanya bisa up sedikit karna sedang kurang sehat. Dan terima kasih untuk semua dukungan dari teman-teman semua.