
Lukman terburu menuntaskan dzikirnya, tatkala pintu depan rumahnya diketuk berkali-kali setelah diawali deru mesin mobil yang terdengar berhenti di halaman.
Tak sempat menengok keluar untuk melihat siapa yang datang di saat hampir subuh menjelang begini, Lukman segera membukakan pintu dan mendapati Damaresh berdiri di depannya sambil menggendong Aura..
"Nak, apa yang terjadi dengan Aura, dia..dia kenapa, Nak?" Lukman langsung bertanya gugup dengan wajah panik.
"Tidak apa-apa, Ayah..dia hanya ketiduran di mobil, dan saya tidak tega untuk membangunkan," jelas Damaresh dengan sedikit senyum.
"Ooh." Lukman menghela napas lega. Kepanikannya langsung berubah menjadi bahagia, melihat perlakuan lembut penuh kasih dari Damaresh pada Aura.
Usai membaringkan Aura dengan posisi yang dinilainya paling nyaman, dan menyelimutinya, Damaresh bergegas keluar menuju halaman, dimana beberapa orang kepercayaannya yang mengiringinya dari bandara masih menunggu di sana.
Sesaat mereka masih terlibat perbincangan serius entah seputar apa, dimana ketiga orang itu nampak memperhatikan sang majikan dengan seksama. Setelah beberapa kata perintah atau mungkin juga petuah, lolos dari bibir Damaresh dan di terima oleh ketiganya dengan expresi sami'naa wa atho'naa,
Orang-orang itu segera pergi, meninggalkan sang tuannya seorang diri.
Damaresh segera masuk ke dalam rumah sederhana milik ayah Aura itu dengan niat terpatri kuat untuk segera menyusul istrinya menuju lena, karna sebentar lagi, pagi akan menyapa.
Diruang tengah berpapasan dengan Lukman yang segera menyapanya. "Apa kau butuh minuman hangat, Nak. Aku akan membuatkannya untukmu," ucap Lukman dengan senyum lembutnya.
Damaresh merasa tercekat untuk sesaat
mendengar tawaran ayah mertuanya itu. Lukman dengan sikap lembutnya sebagai seorang ayah, memang selalu berhasil mentransfer rasa hangat dalam jiwa Damaresh yang terlalu lama beku.
"Tidak, Ayah, terima kasih," tolak Aresh dengan sunggingkan senyum kecil, sepertinya kini ia telah terbiasa memanggil Lukman dengan sebutan Ayah sebagaimana Aura.
"Kalau begitu, istirahatlah." Lukman pun segera berlalu hampir bersamaan dengan Damaresh yang segera masuk ke dalam kamar Aura. Namun lelaki itu masih sandarkan tubuhnya dibalik pintu, ketika merasa satu bayangan berkelebat dalam benaknya, bayangan wajah Airlangga yang sampai kini masih tak diketahui dimana rimbanya.
Segera tangannya terulur meraih telfhon pintarnya yang terdapat dalam saku celana
dan menghubungi seseorang yang ada diseberang sana.
Hasil yang nihil, sepertinya itu berita yang diterimanya kali ini, lagi dan lagi. Sudah berapa negara yang dijelajahi untuk mencari keberadaan Airlangga, namun hingga kini ekspedisi yang dipimpin oleh stefan itu belum mendapatkan hasil yang memuaskan.
Damaresh mendudukkan dirinya di tepi pembaringan, mengatur napasnya pelan, sekadar menghalau emosi dan kemarahan yang tetiba menghunjam. Sesaat waktu dilaluinya dalam posisi demikian, hingga terdengar suara Aura bergumam.
Aresh memutar kepalanya menatap sang istri yang masih terkapar dalam lena, namun bibirnya mendesiskan kalimat yang tak dapat dicerna maknanya. Wajah polos dengan sepasang mata memejam itu kini menjadi sasaran mata Damaresh, pun bibirnya yang bergerak-gerak mengeluarkan kata-kata abstrak itu.
Damaresh mendekatkan tubuhnya dan menundukkan wajahnya, lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir Aura yang ternyata ampuh membuat sepasang bibir ranum itu tak menunjukkan eksistensinya lagi.
Kau selalu mampu mengalihkan duniaku, Arra. Bahkan dalam setiap resahku, kau selalu hadir menenangkan jiwa, tanpa perlu kau berbuat apa-apa, hanya cukup aku memandang wajahmu saja. Batinnya menggemakan beberapa untaian kata, sementara tangan mengusap lembut wajah Aura.
Lelaki itu mengulum senyum tersembunyi,
tatapannya tak lepas dari wajah polos Aura yang baginya terlihat begitu menggemaskan saat ini.
Segera ia bergabung untuk tidur, dengan rebahkan tubuhnya rapat di samping sang istri. Jangan lupakan tangannya yang melingkar posesif di pinggang Aura, dan semakin lama semakin erat saja.
Aura melenguhkan napas, seraya menggerakkan tubuhnya pelan.
"Aresh.." gumamnya tak jelas.
"Tidur lagi." Aresh segera membelai lembut
Surai legam itu agar Aura kembali mendapatkan lelapnya.
"Apa kita sudah nyampai?" Tanya Aura lebih terdengar seperti gumaman.
"Masih dalam mobil," sahut Damaresh sembari makin merapatkan tubuhnya pada Aura dan kian meng-eratkan pelukannya juga.
"Aresh, kau membuatku hampir gak bisa bernafas," lirih Aura sambil menggerak-gerakkan tubuhnya, meronta kecil, sementara sepasang matanya tetap memejam sempurna.
"Tempatnya sempit, Arra. Kita kan masih dalam mobil, jadi harus dempet-dempetan," sahut Aresh dan semakin menggila mempererat rangkulan.
__ADS_1
"Itu, nanti anak buahmu di depan, lihat kita lho," ucap Aura. Masih sempat-sempatnya ia memperingati, padahal sepasang matanya tak bisa terbuka sama sekali.
"Aku sudah memberi lem pada mata mereka," sahut Aresh dengan asal.
Dan Aura terlihat tak mempermasalahkan, ia segera melanjutkan perjalanan tidurnya yang sempat terganggu dengan ulah jahil suaminya. Aresh pun menyusul ikut memejamkan matanya juga sembari membingkai senyum samar di kedua sudut bibirnya.
Hampir terlena mimpi, ibarat pesawat yang sudah mau lepas landas, terdengar raungan ponsel yang menarik dengan paksa perjalanan Aresh yang baru saja dimulai. Karna ponsel yang masih tetap tersimpan di saku celana, membuat lelaki itu harus mengurai pelukannya pada Aura dan bahkan harus mendudukkan tubuhnya.
Meraih ponsel dan segera melihat siapa yang telah memanggilnya jam segini.
Tak butuh waktu lama, bahkan tak perlu mengangkat telfhonnya, Aresh segera meletakkan ponsel pintar canggih itu di atas nakas. Dan saat ia membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan tidur, terlihat Aura sudah duduk juga di tengah pembaringan dan sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Jadi, kita masih ada di dalam mobil?
Ini mobil apa namanya, Resh? Alphard, fortuner, atau pajero?" tanya-nya bernada sindiran.
"Mobil tak bergerak," sahut Aresh, dengan jawaban
yang berpoles senyum tipis, lelaki itu kembali mendekat. "Keberatan, aku memelukmu seperti itu?"
"Ketagihan, malah," sahut Aura dan langsung menerjang masuk kedalam pelukan suaminya itu kembali dan balik memeluk dengan lebih erat lagi.
Acara peluk memeluk tak berlangsung lama karna raungan suara ponsel Damaresh yang mengalihkan atensi keduanya.
"Ada telfhon, Aresh"
"Ya." menjawab singkat tanpa beranjak.
"Siapa yang menelfon?
"Mommy," sahut Aresh dengan mata terpejam nyaman.
"Angkatlah, mungkin tante Claudya ada kepentingan denganmu!"
Damaresh bergeming, nyata sekali keengganan di wajahnya.
Tak ada jawaban, tapi Aura segera membawa tubuhnya bangkit dan meraih smartphone itu dari atas nakas.
"Assalamu alaikum, Tante."
"Waalaikum salam, Aura ya?"
tanya Claudya di seberang.
"Iya, Tante."
"Aresh ada Aura, tante ada perlu."
"Ya, ada, Tante," sahut Aura dan segera memutar kepalanya ke arah Damaresh yang masih setia memejamkan matanya.
"Aresh, tante ada perlu!"
"Suruh sampaikan padamu saja, Ara!" ucap Aresh
dengan raut malas.
Aura mengusap wajah tampan Damaresh, mencium lembut pipinya, dan lalu berkata. "Terima dulu, tante kedengarannya sedang panik, mungkin ini sangat penting."
Damaresh menerima ponselnya sambil hembuskan napas, sebelum mengarahkan pembicaraan dengan sang ibu, tatapannya datar terarah pada Aura. "Jangan bersekongkol lagi dengannya untuk membujukku," ujarnya.
"Aku gak sekongkol," sahut Aura cepat.
"Tapi caramu itu bikin aku gak tahan, Arra."
__ADS_1
"Gak tahan, apa?"
"Gak tahan untuk tak menurutimu," lirih Damaresh dan segera menyapa Claudya yang telah dibiarkan cukup lama menunggu.
Aura tersenyum senang seraya langsung bergelung di bawah selimut sambil sedikit gelengkan kepalanya ketika mendengar sapaan datar dari Damaresh pada ibunya.
"Ada apa?"
"Aresh ini tentang Elang."
"Ada apa dengan daddy?"
"Aku mengirim orang untuk melacak keberadaan Elang, dan orang suruhanku menemukan salah satu kepercayaan papa sedang berada di Thailand, kemungkinan Elang ada di negara itu, tetapi ketika berusaha dilacak, orang ku tertangkap ."
Tampak Expresi Damaresh yang mengeras mendengar info itu.
"Cepat kau kirim orangmu, ke Thailand, Aresh.
sebelum papa memindahkan Elang ke negara lain,"
"Bagaimana dengan orangmu?"
"Aku akan segera mengurusnya."
"Baiklah.." Damaresh segera mematikan sambungan telfhon dan gegas bangkit hendak keluar ruangan.
"Kau mau kemana?" Aura segera mencegah dengan pertanyaannya.
"Aku mau keluar sebentar."
"Keluar kemana? jam segini?"
"Ke halaman depan saja, Arra. Aku mau telfhon seseorang." Damaresh segera menuju pintu.
"Ada apa, Aresh?"
"Gak ada apa-apa."
"Tapi kenapa perasaanku gak nyaman?"
Damaresh yang sudah mencapai pintu segera kembali, menangkup wajah istrinya dengan dua tangan dan memberikan beberapa ciuman.
"Gak ada apa-apa, Arra," bisiknya pelan, dan segera teruskan langkahnya keluar.
*****
********
***********
Hallo semuanya..
Maaf ya dah dua hari gak up,,
bukan karna tak sayang kalian..
itu karna aku lagi belajar mancing.
Tapi bukannya dapat ikan, malah kailnya patah.
Usut punya usut, ternyata aku memancing di air yang keruh...
hehwhwh...
__ADS_1
Oya, episode ini malah belum ku beri judul..
Ada yg punya usul, gak..ini baiknya dikasih judul apa..