Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
Cerita Yang Tertinggal


__ADS_3

usai dari pemakaman, masih dalam balutan baju serba hitam, lelaki tampan itu berdiri di tengah pintu kamar. Netranya yang tajam memindai dua batita tampan, yang tidur bersebelahan, di atas kasur empuk pabrikan dari luar. lama ia terdiam, tenggelam dalam tatapan yang dalam. Merangkum beraneka perasaan yang terpendam, dan Tak terungkapkan.


"Kita punya dua orang putra sekarang." Sebuah suara lembut mengusik, dari sampingnya, di susul hadirnya paras ayu yang berhias hijab warna hitam juga, senada dengan baju gamis yang dikenakannya.


Aresh mengangguk, meraih pinggang istrinya dan mencium keningnya lembut. "Mereka berdua adalah anak kandung kita, mulai sekarang, dan selamanya," ucapnya pelan. Nyata sekali adanya getar pilu yang mengiringi ucapan itu.


"Kita belajar ikhlas, Sayang. Semua sudah dikehendaki Allah." Aura menangkup wajah tampan sang suami dengan dua tapak tangan. Senyumnya terulas lembut, menghias wajahnya yang meneduhkan.


Damaresh meraih tangan itu dan memberinya kecupan. "Tetap ingatkan aku, Sayang, jika aku lupa dan lalai. Tetap di sampingku, selamanya." Itu sebuah permintaan atau permohonan? Pasti keduanya. Atau bisa jadi juga sebuah pemberitahuan. Bahwa baginya, Aura adalah nyawa, yang harus tetap ada bersamanya, jika ingin terus hidup menjalankan amanahnya di dunia.


"Tetap berada di sampingmu selamanya, bukan hanya sudah menjadi kewajibanku, tapi juga kebutuhanku." Aura mengucapkan hal itu sambil memeluk tubuh gagah sang suami, yang saat ini pasti sedang ringkih karena nestapa yang menyelimuti.


jiwa lelaki itu begitu terluka, hal itu terlihat dari tatapan matanya, dan cara pelukannya pada sang istri tercinta. Meski di depan semua orang ia tetap menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja, karena seorang Damaresh William, tak akan pernah menampakkan kelemahannya terhadap siapa pun, kecuali pada Aura Aneshka saja, sang mutiara jiwa.


Kepergian Edgard dan istrinya, yang secara tiba-tiba, karena sebuah kecelakaan, telah mengembalikan seluruh anggota keluarga William pada suasana duka puluhan tahun silam, saat kecelakaan tragis juga dialami oleh Alan William. kini, peristiwa berdarah itu juga menimpa putra Alan--Edgard dan istrinya--mereka meninggalkan putra tampan yang usianya hanya selisih 3 bulan dengan putra Damaresh William. Dan baru saja, jasad keduanya dikebumikan.


Meski tak memiliki kedekatan yang cukup erat dengan Edgard. Nyatanya setelah sepupunya itu berpulang, Damaresh juga merasakan kesedihan yang mendalam. Terlebih saat ia menatap putra yang ditinggalkan oleh Edgard untuk selama-lamanya itu.


Terdengar suara gumaman kecil dari salah satu batita tampan yang sedang tertidur pulas itu. keduanya gegas menghampiri, dan sama-sama memerhatikan keduanya. Di mana kini salah satu dari batita itu tengah tidur dengan gelisah. "Sayang, jangan takut! papa dan mama ada di sini." Aura segera mendekap sayang dan membelai-belai wajah salah satu batita itu. Sedangkan Damaresh juga melakukan hal serupa pada anak yang satunya.


Siapakah kedua batita dua tahunan yang kini berada dalam buaian Damaresh dan Aura? jelas, Aura tak melahirkan anak kembar. Ia hanya punya seorang putra tampan, yang bahkan untuk menentukan namanya saja saat itu, mereka sama-sama kebingungan. Sampai menanyakan pendapat para pembaca juga. Pasti sudah bisa ditebak, kalau kedua batita itu, adalah anak Damaresh dan Aura. Dan yang satunya adalah anak Edgard dan Nola.


Teringat nama buat putra Damaresh dan Aura, Saya sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Karena pada akhirnya bukan nama itu yang dipilih untuk disematkan pada putra pertama Damaresh dan Aura. Namun, nama itu tetap dipakai untuk anak mereka yang kedua, dan untuk nama anak dari sepupu Damaresh--Rafardhan--seorang artis terkenal, yang kemudian banting stir menjadi seorang dokter bedah TKV yang terkenal.


Kembali pada cerita Damaresh dan Aura.

__ADS_1


"Erald." Damaresh menyentuh lembut wajah anak yang ada dalam buaiannya itu. Dia, Rafaresh Emerald William, putra kandungnya sendiri.


"Elvan." Dan selanjutnya tangan kekar Damaresh juga mengusap wajah anak yang ada dalam buaian Aura. Dia, Ziko Elvano William, putra Edgard dan Nola.


"Kalian adalah penerus papa. Bantu papa nanti ya, menjalankan semua tanggung jawab pada keluarga besar kita. Dan bantu papa juga untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda." Usai mengucapkan kalimat itu, Damaresh menunduk menciumi kedua jagoannya secara bergantian. Sementara Aura, ia memerhatikan tingkah suaminya itu dengan senyuman.


"Sayang." Damaresh menatap istrinya sambil tersenyum. "Kita punya anak satu lagi, ya."


"Apa?" Aura terlihat kaget.


"Aku ingin punya anak laki-laki satu lagi. Jadi kita punya tiga jagoan, nanti," ucapnya dengan wajah berbinar.


"Kenapa, bukan anak perempuan? aku ingin anak perempuan," rengek Aura.


"Sudah ada Izara, dan sudah ada Angela dan Annethya," sahut Damaresh. Izara adalah anaknya Alarick, yang umurnya sebaya dengan Erald dan Elvan. Angela dan Annethya, adalah anak Anthony. Aura sejenak diam.


Damaresh lalu duduk, setelah memberikan kecupan di kening Erald. "Aku minta ijin padamu, Sayang," ujarnya pada Aura.


"Ijin apa?" tanya Aura, dan iapun segera ikut duduk menyejejajari suaminya.


"Siapa di antara putra kita nanti, yang bisa memecahkan teka-teki Airbus A380, dia yang akan jadi pewarisku." Damaresh mengucap kalimat itu dengan tegas.


Semua pasti masih ingat pada tragedi hilangnya pesawat Airbus A380, Jet pribadi keluarga William, yang membawa Damaresh dan Stefan, bertolak dari bandara Heathrow-London, ke Jakarta. Dalam penerbangannya, pesawat itu dinyatakan hilang kontak setelah empat jam meninggalkan landasan. Dan peristiwa itu bertepatan dengan detik-detik Aura akan melahirkan Rafaresh Emerald William. Tentu saja semua orang sudah beranggapan kalau Damaresh dan Stefan sudah menjadi korban.


Nyatanya, beberapa jam kemudian, Damaresh datang ke rumah sakit, dalam keadaan utuh tak kurang suatu apa. Belakangan, baru terkuak fakta, kalau Damaresh bertukar pesawat dengan Darel-Seorang mafia yang juga merupakan teman Damares--sesaat sebelum berangkat. Dan hal itu semua atas permintaan dari Darel sendiri. Damaresh bahkan sudah dengan tegas menolak, tapi Darel memaksa, dan tidak mau menerima penolakan dari Damaresh.

__ADS_1


Maka yang menjadi korban hilangnya pesawat itu, tentu saja adalah Darel, bukan Damaresh. Sampai di sini, tentu bisa dipahami, betapa Damaresh sangat merasa berhutang budi pada Darel. Ia memutuskan untuk mencari pesawat itu sampai ketemu apa pun caranya, dan betapa pun susahnya, sebagai penghormatan terhadap Darel, dan sekaligus mengungkap penyebab jatuhnya pesawat yang bahkan baru satu tahun dibeli oleh keluarga William dari perusahaan Airbus sendiri.


Dan memang, setelah dua tahun berlalu, tragedi hilangnya pesawat itu menjadi teka-teki yang belum terjawab. Bahkan titik lokasi hilangnya pesawat juga belum ditemukan sama sekali. Tapi, Damaresh tak pernah putus asa untuk mencari. Se-berapa pun banyak dana yang harus ia keluarkan untuk hal ini.


"Bagaimana jika kau sudah bisa menemukan pesawat itu, sebelum anak-anak kita dewasa?" tanya Aura.


"Aku sangat bahagai, pasti. Dan aku juga sangat menyukurinya. Tapi, aku tetap akan membuat peraturan untuk anak-anak kita, terkait siapa yang pantas menggantikan aku."


"Jika itu keputusanmu, aku setuju." Aura tersenyum, terlihat tak ada rasa keberatan sama sekali. "Tapi, peraturan itu jangan hanya berlaku untuk anak-anak kita saja. Tapi, juga untuk anak-anak sepupumu yang lain. Seperti Anthoni dan Rafasya. Meski anak Anthoni, keduanya perempuan, bukan tak mungkin jika mereka juga bisa, 'kan?" lanjut wanita itu lagi.


Damaresh diam sejenak, mendengar usul sang istri, dan pada akhirnya ia pun mengangguk. "Baiklah, aku setuju. Tapi, peraturan yang aku buat itu, tak hanya itu saja, Sayang. Ada lagi beberapa hal yang lain."


"Selama itu untuk kebaikan anak-anak kita, dan generasi muda keluarga William yang lain, aku setuju," sahut Aura, tanpa perlu berpikir lebih dulu.


"Makasih, Sayang." Damaresh langsung memeluk istrinya erat. "Aku jadi ingin tanya sekarang, Aura Aneshka ini, istrinya siapa?"


"Jika suamiku yang paling tampan sejagad jiwa ini, sudah lupa, aku ini istrinya siapa, bolehkah aku mencari pria lain lagi, yang tak akan pernah melupakan aku sebagai istrinya," balas Aura sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Coba saja! kupastikan besok pagi, Jakarta akan rata dengan tanah," ucap Damaresh dengan tatap mata pekat.


"Wahh!" Seru Aura sambil bergidik, dan sedetik kemudian segera tertawa sambil m3nciumi wajah suaminya. "uhibbuka, hubban Syadiidan, suamiku," ucapnya mesra dalam bahasa arab yang fasih.


Damaresh tersenyum, ia sudah faham sekali apa arti ucapan istrinya itu. "Love u to," sahutnya dan segera menikmati kejelitaan wajah sang istri dengan ci-u-man dan ke-c-u-pannya.


Kita tinggalkan Damaresh yang selalu bisa menciptakan kemesraan bersama sang istri tercinta. Karena cerita yang tertinggal, memang hanya sebatas ini saja. Selanjutnya, ikutilah kisah anak-anak mereka, dan para generasi muda keluarga William, dalam kisah yang berjudul.

__ADS_1


TERJERAT CINTA SANG PEWARIS. Sudah rilis, dan sudah memasuki bab 14. Yuk kita ketemuan di sana. Saya tunggu kalian semua ya...



__ADS_2