
"Maaf." Kata yang terucap dengan suara serak, diserta hembusan napas yang menyeruak, menerpa kulit putih lehernya dan terasa hangat.
Aura menunduk, menatap sepasang tangan yang memeluk erat perutnya yang rata, merasakan dagu yang bertumpu di bahunya, dan seraut wajah tampan menawan yang berjarak satu inchi di samping wajahnya.
Kembali kata tanya terucap, ketika Aura hanya tetap mengatup mulutnya rapat.
"Kau diam?"
"Aku mendengarkan."
"Kau tak memaafkanku?"
"Harus aku maafkan?" Aura malah balik tanya.
"Ya." Ujung hidung lancip Aresh mendarat bebas di pipi Aura yang putih bersemu merah.
Aura lalu meraih jemari kekar lelaki itu dan menggenggamnya. "Aku sudah memaafkanmu dari semula, aku paham kenapa kau bertindak begitu.
Justru aku yang harus minta maaf, sudah pergi sejauh ini tanpa minta ijin yang benar padamu." Kata-kata lembut itu meluncur dengan lancar dari bibir ranum Aura.
Aresh segera membalik tubuh istrinya untuk menghadapnya, menatap wajah cantik itu seksama. Dan kembali melingkarkan tangannya pada tubuh Aura. Satu aturan pun dibuatnya untuk sang istri.
"Lain kali jangan pergi ke luar negeri tanpa bersamaku."
"Iya, aku patuhi," sahut Aura.
Aresh mengangguk senang.
"Kau bilang tadi sangat merindukan aku, kan?"
Aura mengangguk.
"Kenapa sekarang hanya aku saja yang memelukmu?"
Aura segera membalas pelukan Damaresh dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada lelaki itu, seiring sepasang matanya yang memejam.
Sesaat mereka biarkan waktu terlewat dalam posisi saling mendekap, hingga satu ingatan muncul dalam benak, Aura segera mendongak.
"Bukankah kau masih ada jadwal meeting?"
Aura ingat betul apa yang disampaikan oleh wanita cantik yang bersama dengan Damaresh dan Kaivan tadi, ia yakini wanita itu adalah Naila Anggara meski tidak ada yang memberitaukannya.
"Ya, satu jam lagi."
"Apa kau akan berangkat sekarang?" tanya Aura meski dengan perasaan yang tak nyaman sambil menggerakkan tubuhnya untuk lepas dari pelukan Damaresh.
"Setengah jam lagi, Ara." Aresh kembali meraih tubuh Aura dalam dekapannya. "Diamlah!" ujarnya saat Aura menunjukkan gerakan ingin melepas lagi.
"Kau kan harus siap-siap, Aresh," ucap Aura seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan itu.
"Ini adalah bagian dari persiapanku untuk melakukan meeting itu, Arra."
"Apa?"
"Memelukmu"
Aura menunduk sambil sembunyikan senyum. Dan acara peluk memeluk itupun terus berlanjut untuk beberapa waktu. Hingga kemudia Aura kembali mendongakkan wajahnya menatap Damaresh yang juga tengah menatapnya.
"Mau aku bantu melakukan persiapan meeting yang lain?"
"Apa?"
Aura semakin mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan singkat di bibir Damaresh. Tapi lelaki itu tak puas hanya dengan kecupan sesingkat itu, segera ia membalas tingkah bibir ranum itu dengan lebih lama, lebih dalam dan lebih berirama.
Semoga saja acara persiapan meeting itu tidak berlanjut lebih jauh, karna waktu setengah jam yang tersisa tentu tak akan cukup karnanya.
__ADS_1
********
Entah sudah berapa kali, Naila melihat pergelangan tangannya, tepatnya pada jam tangan mewah yang melingkar di sana. "Setengah jam lagi," desisnya, dan kembali merubah posisi duduknya.
Kaivan yang duduk santai disebelahnya hanya melirik hal itu sejenak seakan tak terganggu. Padahal sepasang matanya sudah capek melihat tingkah Naila yang terus gelisah saja.
Lagi, Naila menatap jam tangannya yang belum ada lima menit dari terakhir kali tatapannya berlabuh
pada jarum jam itu.
"Kau terlihat gelisah sekali, Nai." Tak tahan, Kaivan pun menegurnya. "Seperti yang mau mengucapkan akad nikah saja," ledeknya di ikuti tawa renyah.
"Kai, jangan bercanda!" Naila menatap tak suka.
"Kalau jam tanganmu itu bisa bicara, dia pasti sudah protes karna kau plototin terus dari tadi," ucap Kaivan, tak perduli dengan tatapan tak suka dari Naila.
"Tak sampai setengah jam lagi, Kai. Tapi Kak Aresh belum datang juga," kata Naila dengan helaan napasnya.
"Dia tadi bilang apa padamu?"
"Ya..katanya lima belas menit sebelum meeting dia sudah akan tiba di sini," ucap Naila menirukan ucapan Damaresh tadi.
"Nah, itu kamu tau, ya udah tunggu aja!" kata Kaivan santai.
"Apa itu mungkin?"
"Sangat mungkin, dia itu orangnya sangat sportif."
Naila perlahan duduk, tak ada salahnya juga percaya pada usul Kaivan. Batinnya. Sesaat kemudian ujung matanya melirik Kaivan yang tertangkap basah oleh pria itu.
"Kenapa? baru nyadar kalau aku juga tampan?"
Naila tersenyum, Kaivan memang tampan, tapi menurut Naila, Damaresh tentu lebih tampan.
"Tanya saja!"
"Aura itu siapa?"
"Kau sudah tanya Damaresh?" Kaivan balik tanya.
"Dia bilang pada pak Sean, kalau Aura itu wanita halalnya," sahut Naila.
"Nah, itu sudah jawabannya," putus Kaivan.
"Masak sih?" Naila bertanya terlonjak.
Kaivan mengangguk.
"Tapi kenapa tuan Willyam tidak tau?" Naila berucap lirih.
"Memang kamu tau darimana kalau tuan Wilyam tidak tau?" tanya Kaivan. Karna setaunya, Willyam Pramudya itu memang tinggal di London, tapi dia punya banyak mata dan telinga yang tersebar di Indonesia, terutama Jakarta, mustahil kalau dia tidak tau tentang Damaresh dan Aura, apalagi belakangan ini, Damaresh sudah cukup terang-terangan memproklamirkan ikatannya dengan Aura, meski tidak dengan cara pasang banner besar di atap gedung kantor Pramudya.
"Karna, .." Naila menjeda ucapannya sejenak untuk menatap pada Kaivan. "Karna tuan Willyam memintaku untuk menikah dengan kak Aresh," ucapnya.
Kaivan hanya terlihat biasa saja mendengarnya, tak tampak ada keterkejutan untuk suatu hal yang memang sudah di-duganya.
"Jadi, kalau misal tuan Willyam tau kak Aresh sudah punya istri, untuk apa dia memintaku untuk menikah dengan Kak Aresh?"
"Dan kau mau menerima permintaan tuan Willyam?"
tanya Kaivan.
"Aku sihh terserah kak Aresh saja," jawab Naila, tapi terlihat ada kegamangan di tatapannya.
"Kalau Aresh gak mau?" tanya Kaivan lebih lanjut.
__ADS_1
Kali ini Naila tak segera menjawab ia justru hanya memperdengarkan hela napasnya saja dan bahkan segera memutar haluan kata.
"Apa aku susul kak Aresh ke hotel ya? ini sudah kurang tujubelas menit lagi."
"Menurutku ya Nai, Damaresh akan memberikan penilaian minus padamu, kalau sampai kau menyusulnya ke hotel, ya walaupun gak ngaruh juga, dia mau memberimu nilai plus atau minus itu," ujar Kaivan.
"Maksudnya itu apa ya, Kai?"
"Kau cerdas, Aresh sendiri mengakui hal itu, masak gak paham?" Kaivan malah melontarkan kalimat tebakan.
Naila diam untuk mencermati maksud ucapan Kaivan.
Saat itulah siluet pria melintas di samping keduanya duduk. "Ayo kita masuk! lima belas menit lagi, meetingnya di mulai," ujarnya.
"Kak Aresh!" Naila terlonjak dan segera berdiri.
Damaresh mengangguk dan terus berlalu.
"Santai, kali Nai. Sampai terlonjak begitu," sindir Kaivan seraya melangkah di samping Naila mengikuti langkah-langkah Damaresh dari belakang.
"Aku gak nyangka aja, dia bisa datang tepat waktu," jawab Naila.
"Itu tandanya kau tidak tau apa-apa tentang Aresh, Nai." Lagi-Lagi Kaivan memberinya kata sindiran lalu bergegas mensejajarkan langkah dengan Damaresh Willyam.
"Semua agenda rapat kali ini sudah ku kirimkan ke tab-mu, sudah kau pelajari?" tanya Kaivan saat langkahnya telah tiba di samping Damaresh.
"Belum," sahut lelaki itu.
"Lho, gimana?"
"Tenang saja, Kai. Aku sudah melakukan persiapan meeting ini dengan matang bersama Arra," ucap Damaresh santai.
"Ya, aku percaya padamu, tapi tunggu, kenapa kau bilang melakukan persiapan bersama Aura?"
Kiavan menautkan alisnya heran.
"Persiapan apa itu?" tanya-nya lebih lanjut.
"Hanya yang sudah halal yang tau, Kai," sahut Damaresh santai.
"Aresh, kau megatakan itu pada seorang jomblo?" Kaivan setengah berseru dalam mengucapkan kalimatnya.
Damaresh hanya mengedikkan bahunya dan gegas berlalu tanpa kata.
Meeting kali ini hanya sekitar dua jam saja, Damaresh sepertinya sengaja memangkas waktu agar rapat itu cepat berlalu. Pria yang selalu kritis itu kali ini hanya lebih banyak menyimak dan mengarahkan di tempat-tempat yang memang diperlukan. Hampir semua pengajuan disetujuinya, tanpa banyak koreksi di sana-sini seperti biasanya.
"Kak sepertinya kau sangat terburu-buru?" tanya Naila sambil berusaha mengejar langkah Damaresh yang tergesa keluar dari meeting room itu.
"Tidak juga," sahut Damaresh singkat.
"Tapi caramu memimpin rapat kali ini, tak seperti biasanya, Kak. Apa ini karna Aura?" tanya Naila lagi.
Damaresh langsung hentikan langkah dan memutar tubuhnya menghadap Naila. "Kalau ada dari keputusanku yang tak kau setujui, kau bisa ajukan semua keberatanmu secara tertulis padaku, Nai."
"Gak seperti itu juga, Kak," tolak Naila.
" Kau berhak Nai, sebagai sekretarisnya kakek. Nanti aku akan pelajari dan secepatnya ku berikan jawaban. Tapi satu hal, Nai. Aku tidak suka mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan, dan aku lebih tidak suka lagi bila orang lain yang melakukan itu padaku."
Damaresh menatap Naila tajam.
Wanita itu merasakan napasnya tercekat di tenggorokan untuk beberapa jenak, sampai Damaresh kembali meneruskan langkah, barulah Naila mengejarnya sambil berujar.
"Maaf Kak, aku tidak bermaksud--"
Damaresh segera mengangkat tangannya, membuat Naila segera hentikan ucapannya. Dan Naila semakin tak dapat meneruskan kalimatnya ketika melihat Damaresh yang menghampiri seorang wanita cantik berhijab yang sepertinya memang sengaja menunggunya ditemani dua orang pria yang berprofesi sebagai bodyguardnya. Siapa lagi wanita tersebut yang kini berjalan sambil menautkan tangan di lengan Damaresh, kalau bukan Aura Aneshka.
__ADS_1