
"Mas Kai," suara Clara terdengar bergetar bahkan disertai dengan isakan. Kaivan yang semula menerima telepon dari istri Stefan itu dengan duduk santai bersandar, segera menegakkan tubuh, sigap memerhatikan.
"Ada apa, Clara?"
"A-Aku baru dapat kabar, ka-kalau, kalau ..." Clara tak dapat melanjutkan ucapannya karena sudah didahului dengan isakan.
"Tarik napasmu dulu, Clara! tenangkan dirimu dulu! setelah itu bicara pelan-pelan!" interuksi dari Kaivan itu membuat beberapa orang yang ada di sana sama-sama menoleh pada Kaivan. Seperti Edgard, Anthoni dan Nola. Bahkan Naila menghampiri calon suaminya itu dan melayangkan tatapan penuh tanya.
Fokus perhatian Kaivan tetap tertuju pada suara Clara di ujung telepon. "Mas Kai, aku dengar info dari teman di London. Katanya Pesawat Airbus A380 hilang kontak sejak 45 menit meninggalkan London Heatrow." Clara mengahiri kalimatnya tidak dengan titik tapi dengan isakan lagi.
Mendengar itu, Kaivan terlihat tegang dan sontak berdiri dari duduknya. Membuat keheranan kedua yang datang dari semua yang ada di sana.
"Stefan bilang ka-kalau mereka pulang pakai pesawat itu. Dan me-menurut ATC London, pesawat yang hilang kontak itu, me-memang, pe-sawat penerbangan pribadi." Suara clara terbata-bata di antara isak tangisnya.
"Clara tenang! tenang! aku akan cari infonya lebih dulu. Secepatnya ku kabari ya." Kaivan berusaha menenangkan Clara, sedangkan dirinya sendiri sudah berada dalam raut ketegangan yang nyata.
"Kai, ada apa?" Edgard tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya di saat Kaivan belum mengakhiri teleponnya dengan Clara.
"A-Aresh pakai pesawat apa?" tanya Kaivan dengan raut tegang.
"Airbus A380," sahut Anthoni. ia tahu betul kalau pesawat itu yang di pakai oleh Damaresh ke London dan tetap berada di sana sampai sang majikan kembali ke Indonesia.
"Yakin itu?" tanya Kaivan dengan napas memburu.
"Iya."
"Kai, ada apa? katakan!" tanya Edgard setengah membentak.
"Clara dapat info dari temannya di London, Airbus A380 hilang kontak, 45 menit setelah meninggalkan Heatrow."
"Apa?! gak mungkin!" seru Anthoni.
"Cari infonya secara akurat dulu!" Edgard segera mengeluarkan ponsel menghubungi seseorang, terlihat tak sabar ketika teleponnya tak segera mendapat jawaban.
Anthoni tak kalah panik, ia lakukan hal serupa sambil mondar-mandir. Sementara Kaivan sudah melesat dari tempat itu diikuti oleh Naila yang harus berlari agar bisa sejajar dengan langkah Kaivan yang lebar.
Nola dan Vriska hanya bisa saling pandang tegang, lalu sama-sama melihat ke pintu ruang yang tertutup, di mana Aura sedang berjuang untuk melahirkan.
"Ingat! jangan bicarakan apapun sebelum semuanya jelas! jangan sampai berita ini didengar oleh yang di dalam. Ingat itu!" Edgard memberi perintah tegas pada Nola dan Vriska sebelum bergegas dari tempat itu dengan setengah berlari.
"Berita apa?" tiba-tiba terdengar tanya dari Airlangga. Ayah Damaresh itu baru saja tiba di sana, setelah keluar sebentar untuk sholat isya.
"Ada berita apa yang tidak boleh didengar oleh yang ada di dalam?" ulang Airlangga.
__ADS_1
"Ee" Nola hanya terlihat gugup, begitu pula, Vriska. Mereka lalu sama-sama menatap pada Anthoni yang juga terlihat bingung harus berkata apa.
"Anthoni?" Airlangga menatap keponakannya itu. menanti jawaban.
"Eh anu, Om. itu ..." Anthoni menghela napas sejenak. "Barusan ada kabar, tapi belum tentu akurat juga," lanjutnya.
"Kabar apa?" tanya Airlangga cepat.
"Pesawat Airbus A380 hilang kontak."
"Itu pesawat Aresh?"
"Kemungkinan, Iya."
Airlangga terdiam, secara bersamaan tenaganya seakan hilang. Lelaki baya itu hampir terhuyung, tapi dengan cepat Nola dan Vriska membimbingnya duduk.
"Masih belum pasti, Om. kami masih menyelidiki berita ini secara akurat." Anthoni menepuk pundak Airlangga, untuk menstransfer kekuatan.
"Areshku pasti baik-baik saja. Dia sangat menanti kehadiran anak pertamanya. Dia pasti akan datang untuk anak dan istrinya." Airlangga berkata lirih dengan suara dalam.
"Itu harapan kita semua, Om," ujar Nola dengan raut wajah sendu.
"Temani Om Elang! aku akan menyusul yang lain!" titah Anthoni pada istri dan kakak iparnya sebelum bergesa meninggalkan tempat itu juga.
Haruskah kita kehilangan Damaresh William?
Kumandang adzan subuh dengan suara merdu dan indah, terdengar dari ponsel milik Aura yang tergeletak di samping bantal tidurnya. Perlahan tangan wanita cantik itu meraba perutnya yang semakin menunjukkan kontraksi teratur.
Sesekali ia berdesis menahan rasa sakit yang tak hanya bagaikan dicubit. Sesekali sepasang matanya mengatup rapat dengan kedua alis yang saling bertaut. Dan sesekali pula, ada titik air yang menggelinding di pipinya yang mulus.
Aura menarik napasnya kuat. Sekali lagi mengusap perutnya, lalu menoleh pada Claudya yang setia mendampingi dengan wajah yang kini terlihat pucat karena tak bisa memejamkan mata dari sejak semalam.
"Mom, antarkan aku ke kamar mandi!" pintanya dengan suara pelan.
"Mau apa, Nak?"
"Aku mau wudhu' Mom, aku mau sholat subuh."
Claudya menoleh pada dokter Prita dan melempar kata tanya dengan isyarat mata. Boleh atau tidak.
"Nyonya Aura merasa kuat?" tanya Dokter Prita.
"Iya. Aku kuat," sahut Aura dengan suara tercekat. Sebenarnya Prita ingin melarang karena melihat kondisi Aura yang sudah sangat kesakitan, sedangkan ia harus berada dalam posisi yang tenang sekarang. Tapi melihat tekad Aura yang begitu kuat, akhirnya Prita mengijinkan.
__ADS_1
Aura mengambil air wudhu sebagaimana orang normal, meski desis kesakitan kerap kali terdengar. Claudya hanya bisa melihat itu dengan air mata yang berurai. Untuk dicegah pun, Aura pasti tidak akan berkenan.
"Sholat duduk saja ya, Nak," bujuk Claudya seraya menuntun Aura dari dalam kamar mandi bersama Sherin, Christhine mengekor di belakang mereka.
"Aku ingin sholat secara normal."
"Tapi kamu sudah kesakitan begitu, sayang."
Aura menggeleng pelan. Ia lalu menatap mertuanya itu dengan tatapan sendu. "Mommy juga sholat ya, kita berdoa untuk Aresh. Kita minta pada Allah agar ia datang. Dan anaknya lahir dengan selamat," ucapnya dengan disertai isakan.
"Iya." Claudya hanya menjawab singkat dan segera membuang pandangan. Pasalnya, air mata sudah bagai hujan yang dituang. Tapi wanita paruh baya itu segera mengambil air wudhu. Sementara Sherin membentangkan sajadah dan menyiapkan mukenna sambil sesekali mengusap air mata. Aura berdiri bertopang pada Chrusthine yang juga tak bisa menahan linangan di wajahnya.
"Sherin jangan nangis!" Aura menepuk pundak Sherin.
"Aku-aku. Aku mau wudhu," ucap Sherin terbata sambil menghindari tatapan Aura. Sebenarnya ia ingin memeluk sahabatnya itu, merangkulnya dengan erat. Tapi Sherin takut, jika dengan hal itu akan membuat Aura jadi curiga.
"Aku tau kok Rin. Aku dengar pembicaraan kalian tadi, tentang Aresh," ucap Aura lirih.
Tangis Sherin pun meledak tak bisa dicegah, begitu pula dengan Cristhine. Keduanya berebut memeluk Aura yang masih berkata dengan berusaha membangun ketegaran di atas jiwanya yang seakan berkecai.
"Ada Dia. Yang Maha Kuat. Yang Maha Pelindung. Yang Maha penolong. Yang Memiliki segala bentuk keajaiban. Aku ingin meminta keselamatan suami dan anakku kepada-Nya. Bantu aku!"
Aura melaksnakan sholat subuh dengan cara sebagaimana biasanya. Meski saat ini ia sedang mengalami kontraksi. Tapi niatnya yang begitu kuat, seakan membuat kekuatannya berlipat, hingga mampu menahan rasa sakit yang sudah melekat.
Beberapa tim dokter siaga satu di samping kanan dan kirinya. Christhine yang melihat itu tak dapat menahan linangan air mata. Sedangkan Claudya dan Sherin yang juga melaksanakan sholat bersama, sesekali terlihat pundaknya terguncang menahan isak.
Pada sujud Terakhir, terdengar desis kesakitan dari Aura. Membuat dokter Prita memberi perintah untuk mengangkat tubuh wanita yang belum menuntaskan sholat subuhnya itu. Tapi William menahannya. Ia meminta dokter menunggu sampai Aura selesai dengan salam.
Dan, usai salam, belum sempat wanita itu mengangkat tangan untuk berdoa, Jerit kesakitan lolos begitu saja dari mulutnya. Pasalnya rasa sakit yang datang sudah tak dapat lagi ditahan.
"Angkat!" perintah dokter Prita, sementara dirinya sendiri bersama dokter Mia segera bersiap.
Petugas medist sigap hendak mengangkat tubuh Aura yang sudah merintih tanpa henti. Tapi mereka kalah cepat dari seseorang yang datang menyeruak.
Tanpa kata, tanpa isyarat, ia mengangkat tubuh Aura dan dibawanya dalam dekap.
"Kuat ya, Sayang.. anak kita sudah ingin bertemu dengan kita, bertahan ya sayang!" kalimat lembut ia bisikkan sambil merebahkan tubuh Aura yang sedikit kejang karena rasa sakit yang tak tertahankan.
"Aresh ..."
******
*******%%%
__ADS_1
Apakah benar Aresh yang datang?