
"Suamimu belum sarapan?" tanya Lukman seraya mengambil posisi duduk untuk memulai sarapannya bersama Aura. Berdua saja.
"Dia meminta kita sarapan lebih dulu, Ayah. Sepertinya masih ada bebrepa hal yang tengah dikerjakannya," sahut Aura sambil tersembunyi menghela napas.
Sudah dua kali ia meminta Aresh dan Kai untuk sarapan dulu, tapi keduanya sama-sama menolak. Penolakan yang diucapkan pun tanpa menatap ke arahnya, sangking terlalu sibuknya dengan tab masing-masing, yang Aura tau kalau keduanya tidak sedang berselancar di dunia maya, atau sedang bermain game online, tapi pasti tentang pekerjaan. Lagi-Lagi tentang pekerjaan.
Dan itu terjadi setelah Damaresh menerima telfhon dari tuan Willyam setengah jam yang terlewat.
"Pekerjaan suami-mu pasti sangat banyak ya, nak. Sampai dia tak sempat sarapan" ucap Lukman setelah menuntaskan sarapannya dan tinggal giliran menenggak minumannya.
Aura menanggapinya dengan anggukan.
"Apa tiap hari dia memang begitu?"
tanya Lukman lagi, setelah air dalam gelas minumannya itu tandas.
"Tidak Ayah, hanya di waktu tertentu saja, bila jadwal pekerjaan sedang sangat padat."
"Aku dengar dari Farlan seberapa besar perusahaan Pramudya Corp itu," kata Lukman selayaknya orang yang baru ketinggalan informasi.
Namun demikian terlihat tak ada kebanggaan yang tersirat di wajahnya setelah mengucapkan kalimat itu, meski punya menantu seorang pengusaha besar yang namanya berada di urutan teratas dari jajaran nama-nama pengusaha sukses di negeri ini. Yang terlihat justru ada beban di raut wajahnya yang tak lagi muda.
"Ayah masih memikirkan hal itu?" Aura mengusap pelan tangan ayahnya.
"Tidak nak, seperti yang ku ucapkan kemarin padamu, jalani garis hidup ini dengan ikhlas, jadikan Allah sebagai sandaran." Lukman berujar mantap dengan tatapan lurus, mengisyaratkan kalau ucapannya itu berlandaskan tekad yang kuat. "Hanya saja, rasa kawatir itu terkadang ada, dan itu lumrah di rasakan oleh setiap orang tua pada anaknya." ia mengahiri ucapannya dengan senyuman tulus. Bahwa tak ada sesuatupun yang perlu dikawatirkan tentangnya.
Aura juga tersenyum. Andai ia tak punya ayah sekuat lukman, mungkin hidupnya tak akan seindah sekarang. Batinnya.
"Oya, Aura. Ayah sudah sehat sekarang, kalau suamimu mengajakmu kembali ke
Jakarta, kau ikutlah bersamanya." putus Lukman sambil berdiri dari duduknya dan melangkah keluar.
"Ayah mau kemana?"
"Jalan-jalan sebentar ke kebun."
Aura segera merapikan meja dan menyingkirkan piring bekas sarapannya dan Lukman ke dapur untuk di cucinya.
"Aresh semua data sudah masuk, ini data terakhir yang dikirim oleh sekretaris tuan Willyam di sana," laporan terakhir di sampaikan oleh Kai, menyusul beberap laporan sebelumnya.
Damaresh mengangguk saja, perhatiannya tetap tak teralih dari layar putih di depannya.
"Naila Anggara? apa ini nama sekretaris kakekmu Aresh?"
"Ya."
"Orang indonesia juga? Aku pikir sekretarisnya dari london juga. Wahh!!"
Kaivan berseru takjub setelah melihat sesosok wanita cantik nan anggun dengan balutan busana kerja yang menampilkan karakteristik kecantikan yang berpadu kecerdasan di dalamnya,
Yang tampil di layar tab-nya.
"Cantik dan smart Aresh, aku baru tau, kalau tuan Wilyam mempunyai sekretaris secantik dan semuda ini,"
Puji Kaivan dengan atensi yang enggan teralihkan pada sosok yang gambarnya baru ia temukan itu.
"Kau mengenalnya, Aresh?"
"Hmm. Dia putri paman Dien Anggara."
"Oo berarti masih kerabatmu ya?"
"Ya."
"Kok gak pernah cerita, punya kerabat secantik ini," ucap Kaivan menyesalkan.
"Mau? Nanti ku kenalkan,"
__ADS_1
"Nah itu dia," Kaivan bertepuk jari di depan Damaresh membuat lelaki itu sedikit menelengkan wajahnya tanpa melepas tatap dari layar 9 inchi di tangannya.
"Keputusan tepat, Resh," Kaivan berucap senang. "Tapi," lelaki itu tampak mengerutkan kening. "Kok aku merasa kalau Naila Anggara ini yang siapkan oleh tuan Willyam sebagai calonmu, ya?"
Damaresh diam, nampak tak tertarik untuk menanggapi ucapan Kaivan.
"Apa aku ganggu?" itu suara pertanyaan dari Aura, entah sejak kapan wanita berhijab itu sudah ada di sana.
"Tidak sama sekali, Aura," sahut Kaivan cepat sambil merangkum harap dalam hati kalau Aura tak akan mendengar ucapannya pada Damaresh barusan.
"Sarapan dulu, nanti keburu dingin, gak enak lagi," kata Aura lembut di iring senyum, walau hanya Kaivan yang melihatnya, karna Damaresh hanya melihat sekilas kedatangannya.
"Boleh aku sarapan dulu, Bos?" tanya Kai pada Damaresh. "Cacing-cacingku sudah bernyanyi dari tadi," imbuhnya lagi.
Damaresh mengangguk singkat,
Kaivan pun segera bergegas, diikuti Aura, sedangkan lelaki itu sendiri masih enggan beranjak.
Hingga beberapa saat kemudian. Ada satu tangan yang menyorongkan sendok berisi makanan ke depan mulutnya.
Barulah perhatian Damaresh beralih.
"Sarapan dulu Aresh! Kau sudah melewatkan waktu sarapanmu dari setengah jam lalu," kata Aura dengan tangan siap menyuapi suaminya itu sarapan.
Damaresh segera membuka mulutnya dan menerima suapan itu lalu mengunyahnya, namun tatapannya kembali teralih pada layar tab-nya.
"Apa ada pekerjaan mendadak?" tanya Aura yang memperhatikan hak itu.
"Ya, Aku akan ke London, Arra." jawab Aresh setelah makanannya memasuki tenggorokan.
"Kapan?" Aura kembali menyorongkan suapan berikutnya.
"Jam sembilan,"
"Jam sembilan--?"
Aura langsung terdiam, semangatnya untuk lanjut menyuapi Damaresh seketika berkurang. "Sangat mendadak," lirihnya pelan.
"Ya. Sekretaris kakek menghubungiku satu jam lalu."
Terhitung ada lima pertemuan bisnis yang akan di lakoninya di london mulai esok. Ia harus mewakili tuan willyam yang saat ini terbaring sakit di salah satu rumah sakit besar di negeri ratu Elizabeth tersebut. Karna jarak tempuh Jakarta-London memakan waktu 15 jam lebih, sedangkan rapat di mulai esok jam 9 pagi waktu setempat.
Maka jika berangkat jam 9 dari Jakarta hari ini, setidaknya Damaresh masih punya waktu istirahat sekitar 3 jam sebelum mulai melakukan pekerjaan..waktu yang sangat mepet sih. Tapi itu bukan tantangan yang berarti bagi seorang Damaresh Willyam,
meski ia harus ngebut mempelajari agenda rapat yang akan di pimpinnya besok. Tapi karna dia sudah memahami pola bisnis perusahaan yang di pimpin sendiri oleh tuan Willyam di sana, ditambah lagi otak bisnisnya yang memang sudah di atas rata-rata, maka tak ada kesulitan sama sekali yang dirasakannya. Meskipun semuanya serba mendadak seperti ini.
Aura kembali menyuapi suaminya itu tanpa kata, raut wajahnya pun terlihat berubah. Sedih? Tentu saja, baru semalam Damaresh datang, itupun hampir tengah malam. Rindunya belum terpuaskan, bahkan juga belum terlampiaskan. Tapi hari ini juga Damaresh harus kembali terbang, tak tanggung-tanggung, terbang jauh ke negeri seberang.
"Kenapa kau diam?"
Damaresh menatap wajah Aura seksama. Gadis itu mesem, sekadar untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
"Apa saja yang harus ku persiapkan untuk kepergianmu nanti?" tanya Aura, selayaknya istri yang sigap meringankan beban suaminya.
"Tidak usah, semua kebutuhanku sudah
disiapkan di sana oleh Naila, selebihnya
biar Kai yang urus."
"Naila, sekretaris tuan Willyam?"
Dari pertanyaan Aura itu jelas menandakan kalau ia mendengar semua yang diucapkan Kaivan barusan.
"Ya, kau tau?"
"Aku dengar. Dia pasti lebih tau apa yang kau perlukan selama di sana, dari pada aku," ucap Aura dan kembali menyendokkan sarapan untuk Damaresh.
__ADS_1
Tapi lelaki itu malah mengambil piring sarapan itu dari tangan Aura berikut sendoknya juga.
"Kau mau makan sendiri? aku ke beres-beres kamar dulu ya"
Aura hendak beranjak tapi Damaresh menahan dengan ucapannya.
"Kau sudah sarapan?"
"Sudah sama ayah, barusan."
"Tidak menungguku?"
"Kau sibuk. Kau juga yang menyuruhku sarapan lebih dulu."
"Kalau begitu, temani aku sarapan di sini!"
Aura mengangguk patuh dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Tapi bukannya memakan sendiri sarapannya, Damaresh malah berinisiatif menyuapi Aura.
"Aku sudah kenyang, Aresh," tolak Aura dan enggan membuka mulutnya.
"Sekali ini saja, Ara," pinta Damaresh.
Aura-pun menerima suapan itu dan mengunyahnya.
"Kau ingat Ara, waktu aku bilang kalau kau orang pertama yang aku suapi?"
"Ya. Biasanya, kalau ada istilah orang pertama, akan ada istilah orang kedua."
"Itu pasti," sahut tegas Damaresh seraya kembali menyuapi Aura lagi.
"Siapa?" tanya Aura mulai dengan pikiran menebak-nebak kesana-kemari.
"Anak kita nanti."
Jlebb..
Ada yang terasa hangat memeluk jiwa Aura mendengar ucapan itu, sesaat geraknya terhenti, tatapnya juga enggan beralih. Hingga Damaresh mengusap lembut kepalanya.
"kau serius ingin punya anak dariku?" tanya Aura dengan suara pelan.
"Harusnya aku punya anak dari siapa, Ara? kau kan istriku, hanya kau yang bisa melahirkan anakku," jawab Damaresh tegas.
Lagi, seakan ada angin sepoy yang melanda jiwa Aura, hamparkan kesejukan yang merata. Tapi..masih ada satu hal yang perlu ditanyakannya.
"Kau yakin, kalau aku ini cukup pantas untuk terus mendampingimu, Ares?"
"Tak ada yang sebaik dirimu, bagiku, Arra. Meskipun aku bukan yang terbaik untukmu." pungkas Damaresh.
Sepasang mata Aura kini terlihat berkaca-kaca karna terharu mendengarnya.
"Aku ingin memelukmu, Aresh," ucapnya dengan suara bergetar.
Damaresh tersenyum lembut. "Sini!" ia menarik kedua tangan istrinya dan di dudukkan di pangkuannya lalu dipeluknya erat sebagaimana Aura yang juga memeluk
dan tak ingin terlepas. Untuk waktu yang sesaat terlewat, keduanya tenggelam dalam kemesraan dalam satu rasa dawai yang sama, dawai asmara.
Kaivan yang telah menuntaskan sarapan segera kembali ke ruang tengah rumah Pak Lukman itu untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak menyangka, kalau pemandangan seperti ini yang akan didapatkan oleh sepasang matanya. Langkahnya sudah tiba di tengah, untuk surut ke belakang juga sudah susah,
Akhirnya ia teruskan juga.
Terlihat Damaresh melihat kedatangannya.
Kaivan nyengir aja sambil berkata:
"Silahkan dilanjut bos, aku hanya mau numpang lewat saja." sambil membawa tubuhnya terus berlalu dari sana.
Ingatkan Kaivan ya teman-teman, begitu memang resiko yang bisa diterimanya, bila bersama dalam satu lingkup bersama pasangan halal, sewaktu-waktu dirinya akan disuguhi romantika suami-istri.
__ADS_1
Segera halalkan wanita yang kau pilih Kai, karna romantisme dalam ikatan halal itu terasa lebih "Sesuatu" lho. Kalau gak percaya, tanya pada Damaresh saja.