Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
102. Cintaku Terhalang Tahtamu.


__ADS_3

Hampir pagi, ketika mobil mewah itu memasuki halaman rumah, Dirga tergopoh menghampiri, menyambut kedatangan sang tuan muda yang telah meninggalkan rumah selama berhari-hari.


Wajah lelah dan tubuh yang penat tergambar dari Damaresh saat ini, ia hanya anggukkan kepalanya kecil, menjawab sapa dari Dirga. Lelaki itu gegas membawa tubuhnya masuk ke dalam rumah untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi bayangannya selama dalam perjalanan, apalagi kalau bukan peraduan.


Tapi langkahnya terhenti, sekian tapak dari tangga pertama, ketika hidungnya mencium aroma yang sudah sangat dikenalnya dan telah menjadi candu baginya.


Damaresh memutar tubuhnya, untuk mencari dari mana datangnya sumber aroma, dan melupakan niatnya untuk segera sampai di kamarnya.


Dan tak butuh waktu lama, apalagi sampai melibatkan tim SARS dalam pencariannya, Damaresh sudah menemukan sumber aromanya, dari sesosok cantik yang berdiri tak jauh dibelakangnya dan tengah menatapnya.


"Arra,.."


Bak menemukan sinar terang di tengah gelapnya malam, Aresh gegas menghampiri dan meraih tubuh berbalut hijab itu ke dalam pelukan. Pelukan penuh kerinduan.


Aura membiarkan tubuhnya dalam kungkungan Damaresh, bahkan satu tangannya juga turut merangkul punggung lelaki itu dengan helaan  napasnya samar.


"Kapan kau datang? Bersama siapa kau kemari? Kenapa tak memberitukan aku kalau kau mau kesini?"


Puas memberikan pelukan, Aresh mencecar istrinya itu dengan berbagai pertaanyaan.


"Kau ingin duduk minum teh dulu, atau mau langsung istirahat?" Aura malah bertanya hal lain, bukannya menjawab pertanyaan suaminya itu, satu demi satu.


"Aku ingin memelukmu," kata Aresh dan kembali meraih tubuh sintal itu kedalam pelukan. Rasa rindu rasanya belum terbayarkan, kendatipun ia habiskan waktu berjam-jam, merangkum tubuh Aura dalam dekapan.


"Apa om Airlangga sudah ditemukan?"


Satu pertanyaan dari Aura berhasil membuat Aresh mengurai pelukannya.


Tatapannya segera mengarah pada wajah ayu itu yang baru ia rasakan ada yang tak biasa di cermin matanya. Kelembutan  keceriaan, kehangatan seorang Aura seakan sirna dari tatap mata teduhnya.


"Siapa yang memberitaukanmu?" tanya Aresh cepat. "Mommy?"


Aura segera menggeleng. "Apa om Airlangga sudah ditemukan?" Wanita itu gigih dengan pertanyaannya untuk mendapatkan jawaban.


"Belum," sahut Damaresh singkat.


"Kau harus segera menemukannya, Aresh."


Ucapan Aura sekilas terdengar seperti penyemangat,  tapi berikutnya terdengar seperti perintah.


Aresh mengangguk, wajahnya seketika mengeras, netranya yang pekat terlihat berkilat. Amarah kini menguasai dadanya teringat percakapan dengan William beberapa hari sebelumnya.


Flashback On


"Airlangga sudah kau temukan?"


Pertanyaan William itu menghentikan Damaresh yang sedang memeriksa beberapa berkas. Ia membawa kepalanya terangkat menatap wajah tua sang kakek yang masih juga menampilkan gurat ketegasan disana.


"Mengapa menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui jawabannya? Apalagi ancamanmu padaku terkait itu," tukas Damaresh dengan datar.


"Kau sangat jeli. Baiklah, karna kau sudah mengerti, jadi aku tak perlu lagi berbasa-basi."


Damaresh meletakkan beberapa berkas di tangannya ke atas meja. Minatnya untuk melanjutkan meneliti sudah tak ada lagi.


Kini tatapannya mengarah pada William yang terlihat sangat tenang sekali.


"Aku bukannya tak menyetujuimu bersama Aura. Aku melihat gadis itu sangat ber-etika, dan dia cukup cerdas juga.


Tapi, aku sudah terikat perjanjian dengan Mas Anggara, untuk menjodohkan salah satu keturunan kami, nanti."


" kakek yang terikat perjanjian dengan kakek Anggara, kenapa melibatkan aku?" tanya Damaresh sengit. "Dan drama seperti ini sudah seringkali kudengar, bukan lagi hal baru," lanjutnya lagi.


"Masalahnya tak sesederhana itu, aresh,"


tutur William.

__ADS_1


Anggara, adalah kakak William lain bapak.


Pada perjalanannya, Anggara menjadi orang yang sangat mendukung dan membela William dalam berbagai hal. Hingga lalu sebuah kebakaran terjadi pada perusahaan yaang baru dirintis oleh William, dimana saat kejadian William sedang berada di dalam gedung itu dan dia terjebak serta tak menemukan jalan untuk keluar.


Anggara nekat menyelamatkan William, dengan mengabaikan keselamatannya sendiri. Walhasil, William terselamatkan, dan Anggara meninggal setelah dua hari menjalani perawatan.


Di hadapan jenazah Anggara, William berjanji untuk merawat dan mengasuh dua orang putra Anggara saat itu, yakni Dipo Anggara yang masih berusia 10 tahun, serta adiknya, Dien Anggara yang masih berumur 4 tahun (Dien Anggara ini adalah ayahnya Naila Anggara).


William bahkan berjanji untuk menjodohkan Dipo Anggara dengan Claudya. Tapi ketika usia dewasa, baik Dipo maupun Claudya sama-sama menolak keinginan William itu. Sebenarnya sejak saat itu, William sudah mengubur niatnya untuk mengambil salah satu keturunan Anggara sebagai menantunya.


Tapi sejak Naila di lahirkan, William yang tidak memiliki cucu perempuan itu sangat menyayangi putri tunggal Dien Anggara tersebut, hingga dalam hatinya berikrar, kalau Naila akan ia jodohkan dengan  penerusnya kelak, entah itu Edgard William atau Damaresh williiam.


Karna pada akhirnya  Damaresh yang terpilih sebagai penerusnya, maka secara sendirinya, Damaresh lah yang harus menjalankan niat William untuk menikah dengan Naila Anggara.


"Kau tetap bisa hidup dengan Aura, Aresh.


Tapi istrimu harus tetap Naila yang akan tercatat namanya bersama namamu, dalam barisan keluarga William,"


Pungkas William di akhir keterangan.


"Jadi menurutmu, aku hanya menjadikan Aura sebagai wanita simpanan?"


Suara Damaresh terdengar sedikit bergetar.


"Ungkapan itu terlalu kasar, Aresh," ucap William. "Jadikan Aura sebagai istri keduamu, yang tak perlu diketahui oleh publik, itu maksudku."


"Bukankah berita tentang kami sudah diketahui oleh publik?" Cibir Damaresh.


"Hanya satu jam berita itu menyebar. Aku sudah menutupnya dengan caraku," sahut William yang terpaksa gelontorkan miliaran  untuk menarik berita tentang Damaresh dan Aura yang segera menyebar di kota London itu, dari pasaran.


"Dan kau mau memaksaku untuk menuruti keinginanmu itu?"


"Kau tak punya pilihan lain, Aresh," ucap William penuh percaya diri.


"Tidak." William menggeleng tegas.


"Selain sebagai menantuku, Elang juga adalah putra sahabatku. Aku tak akan berlaku sekejam itu. Mungkin aku hanya akan mengembalikannya pada kondisi semula," ancam William.


"Apa maksudmu?" Tanya Damaresh dengan suara bergetar.


"Ketika dia tak bisa mengenali siapapun, termasuk kau, putra kesayangannya dan dirinya sendiri."


"Wahh, kau sedang mengancamku, rupanya." Damaresh tergelak, tapi kilatan amarah jelas tergambar di sepasang netranya.


"Aku dengan segala upayaku, sudah berhasil memulihkan ingatan Airlangga. Maka tentu akupun bisa mengambil ingatannya lagi seperti ketika ia baru sadar dari koma dulu.


Kau tau, Aresh. Kakekmu ini bukan orang yang suka mengancam. Setiap apa yang kuucapkan, itu yang akan ku lakukan," tandas William dengan expresi yang tak mau dibantah.


"Aku akan segera temukan daddyku," ucap Damaresh sepenuh tekad.


"Sebaiknya cepat kau temukan Airlangga, Aresh. Karna aku hanya memberimu waktu empat hari, hanya empat hari saja, Aresh. Sebelum aku membuktikan semua ucapanku, jika kau tak mau mengikuti aturanku. Ingat itu, Damaresh William."


Flashback Of.


"Aku pasti akan segera menemukan dady," ucap Damaresh sepenuh keyakinan, ketika segala ingatannya akan pembicaraan dengan William telah berlalu dalam benak.


Tangannya meraih pinggang Aura dan mendekap tubuh istrinya itu, erat. Dalam hati ia sudah bertekad bahwa ia tak akan pernah menempatkan Aura dalam salah satu posisi yang sudah biasa diterima oleh perempuan-perempuan yang masuk dalam keluarga William, yaitu: Terbelenggu dalam ikatan tanpa cinta, atau terjerat dalam cinta tanpa ikatan.


Tidak.


Aresh tak akan pernah memberikan status seperti itu kepada Aura Aneshka.


"Kalau kau tak bisa bertemu dengan om Airlangga, Aku yang akan mempertemukan kalian," ucap Aura yang membuat Aresh segera menatap wajah istrinya itu.


"Dengan cara apa, Ara? aku sudah mencarinya ke berbagai negara, tapi semuanya sia-sia," sahut Damaresh.

__ADS_1


"Aku akan meminta tuan William untuk melepaskan om Airlangga, Aresh," jawab Aura dengan sangat yakin.


"Kau yakin dia akan menuruti permintaanmu?"


Damaresh menggiring senyum dalam ucapannya,


karna merasa kalau istrinya itu masih belum mengetahui siapa William Pramudya.


"Tuan William pasti akan menuruti permintaanku, Aresh. Tapi sebelum aku meminta padanya, kau harus talak aku dulu, Aresh," ucap Aura dengan tatapan terarah.


"Apa?"


kaget, dan sangat kaget, itulah yang dirasa oleh Aresh, tak menyangka sama sekali kalau kata itu yang akan diucapkan oleh Aura.


"Karna itu yang sebenarnya diinginkan oleh Tuan William, Aresh. Perpisahan kita."


"Bukan seperti itu, Arra. Kau tidak tau yang sebenarnya," sanggah Aresh cepat.


"Aku sudah tau kebenarannya, Aresh. Dan aku juga sudah tau semuanya. Jika kita sudah tak lagi hidup bersama, Kakekmu tak akan menyandera ayahmu."


"Arra--"


"Talak aku, Aresh," pinta Aura cepat.


"Arra, aku--"


"Talak aku sekarang, Aresh!" ucap Aura tegas.


"Tidak Arra."Damaresh menggeleng tegas.


"Aku akan selamatkan ayahku, tanpa harus menjauhkanmu dariku," ucap Damaresh mantap.


"Terima kasih, kau sudah berjuang untukku, Aresh.


Tetapi kini aku tau, cintaku padamu itu, bukan hal yang benar. Cintaku kepadamu, terhalangi oleh tahta yang kau miliki sekarang.


Yang paling tepat untuk kita adalah berpisah, Aresh."


"Arra ... " Aresh tak menemukan lagi kata yang benar sekarang, ketika tatapan mata Aura bak menantang badai. Istrinya itu menunjukkan kesungguhannya dalam keterdiaman.


"Ini keputusanku, Aresh. Ceraikan aku sekarang."


Aresh hembuskan napasnya pelan.


"Kau tidak mau lagi, untuk terus berjalan denganku, Arra?"


"Aku sudah tidak sanggup," sahut Aura.


"Kau sudah tidak mau lagi mendukung perjuanganku, Arra?"


"Aku sudah tidak mampu," sahut Aura.


"Baiklah, Aku tau kalau kau akan tiba pada titik ini, merasa lelah dan merasa tersakiti. Aku juga tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal, jika dengan itu membuatmu merasa tersiksa."


Damaresh mengusap wajahnya dengan helaan napas berat sekali.


"Pergilah Arra! aku ijinkan kau meninggalkanku.


Tapi sampai kapanpun aku tak akan pernah menjatuhkan talak padamu."


"Aresh--"


"Sampai kapanpu Aura Aneshka akan tetap menjadi istriku." Damaresh menatap Aura dengan tatapan kokoh.


"Pergilah Arra!"

__ADS_1


__ADS_2