
Claudya yang sedang mendorong kursi roda itu menghentikan langkahnya ketika tatapannya menemukan sesosok ayu berhijab tak jauh di hadapannya. Claudya segera membungkukkan tubuhnya untuk mensejajari posisi Airlangga yang duduk dan berkata pelan. “Elang itu adalah—“
Airlangga mengangkat tangannya sebelum Claudya menuntaskan pemberitahuannya, yang mengisyaratkan agar istrinya itu tak melanjutkan ucapannya.
“Aku tau, dia istrinya Aresh, dia menantuku,” ucap Airlangga dan segera menatap wajah ayu yang penampilannya begitu meneduhkan mata itu dengan tatapan lembut untuk beberapa saat.
Airlangga dapat dengan mudah menebak siapa wanita berhijab di depannya itu sebagai istri anaknya meskipun belum pernah melihat sebelumnya, tidak berupa gambar ataupun fhoto, karena kelembutan dan keramahan yang terpancar dari wanita itu sesuai apa yang sekilas digambarkan oleh Aresh dan selaras dengan bentuk perjuangan yang dilakukan oleh putranya untuk mempertahankan istrinya tersebut.
Airlangga kemudian mengakhiri pandangannya yang memindai dengan seksama wajah ayu di hadapannya itu dengan senyum. Senyuman yang lembut dan memancarkan rasa kasih yang dapat dirasakan oleh Aura, hingga wanita cantik itu juga membalas hal yang serupa. “Kau tidak ingin memeluk ayah mertuamu ini, Nak?”
“Ayah..” Aura segera menghambur memeluk tubuh tegap yang duduk di kursi roda dan memiliki wajah yang hampir sama dengan suaminya dengan selaksa perasaan haru dan bahagia yang membuncah dalam dadanya.
Hari ini terasa sangat spesial bagi Aura dengan kedatangan ayah dan ibu mertuanya dengan tiba-tiba, padahal mereka diketahui sedang berada di New Zealand sekarang. Rupanya secara diam-diam keduanya kembali ke Indonesia untuk memberi kejutan pada anak dan menantu mereka.
Airlangga menatap ke sekitar ruangan dan tak mendapatkan apa yang tengah dicarinya. “di mana Aresh?” iapun bertanya pada Aura.
“Habis shubuh tadi dia tidur lagi, Ayah. Saya sengaja tidak membangunkan meski sudah siang, karena sekarang hari minggu,” tutur Aura dengan bahasanya yang selalu ramah.
“sebentar saya akan panggilkan.” Aura segera bergegas naik ke lantai atas dengan penuh semangat dan menuju ke dalam kamarnya mendapati sang suami yang sedang bergelung di bawah selimut.
“Aresh bangunlah, sudah siang.” Aura mengguncang tubuh itu pelan sepelan ucapannya yang hampir menyerupai bisikan di telinga Damaresh.
“Hmmm” hanya dengungan yang di perdengarkan oleh Damaresh.
“Bangunlah..ada sesuatu untukmu.” Aura membujuk sekali lagi dengan lebih mendekatkan wajahnya.
Terlihat Damaresh mulai membuka matanya pelan. “masih gelap, Arra,” ujarnya lirih dengan suara serak.
Aura menunduk memberikan ciuman pada sepasang mata suaminya itu kanan dan kiri secara bergantian.
“wahh ternyata benar sudah siang,” seru Damaresh sambil mengulum senyum, yang menandakan kalau sepasang matanya sudah mendapatkan penglihatannya dengan sempurna setelah mendapatkan ciuman dari istrinya. Laki-Laki itu segera beringsut dan lalu turun dari atas tempat tidur. “lima belas menit lagi selesai, ya,” ujarnya dan segera membawa tubuhnya keluar dari kamar.
“Aresh tunggu!” panggil Aura tertahan, tapi tubuh Damaresh sudah lenyap dibalik pintu kamar. Aura menggeleng sendiri ia lalu bergegas hendak turun ke lantai bawah untuk menemui Claudya dan Airlangga kembali, ia merasa yakin kalau suaminya itu pasti juga sudah menemui mereka bahkan tanpa membasuh muka bantalnya lebih dulu.
Sudahlah, abaikan saja, Damaresh mau muka bantal sampai lecek sekalipun, wajahnya tetap ganteng tak ada matinya. Aura jadi tersenyum sendiri menyadari hal itu dan bergegas turun ke lantai bawah.
Ternyata di sana ia tak mendapati Damaresh bersama Daddy dan mommy-nya. Claudya dan Airlangga tampak berbincang berdua saja dengan suguhan minuman di atas meja yang sudah di berikan oleh Art-nya barusan.
Bergegas Aura mencari keberadaan Damaresh yang sudah keluar kamar barusan.
“Apa yang kau lakukan di sini, Aresh?” setelah mencari kesana kemari, Aura justru menemukan suaminya itu berada di tempat yang tak pernah disangkanya, kalau Damaresh akan ada di sana.
Pantry. Berkutat dengan alat penggorengan, dengan dua orang Art yang berdiri menyisih membiarkan sang bos besarnya beraksi.
“tunggulah di situ, Arra. Sebentar lagi selesai,” perintah Damaresh, ia tak menjawab tanya Aura dengan benar.
__ADS_1
“Aresh, di sana-“
“Duduk saja Arra!” titah Damaresh sekali lagi di saat ucapan Aura belum mencapai titik kalimat.
Sadar, kalau tak boleh membantah suaminya, ditambah lagi rasa penasarannya akan hal apa yang tengah dilakukan oleh lelaki gantengnya itu, Aura menurut, ia segera duduk menunggu seperti yang diinginkan oleh Damaresh padanya.
Dan dalam hitungan menit, Damaresh sudah menghampirinya dengan membawa sepiring nasi goreng spesial di tangan yang diletakkannya di atas meja di depan Aura. “untukku?” tanya Aura dengan raut wajah terpana.
“Untuk istriku,” sahut Damaresh.
Aura langsung mengembangkan senyuman yang paling sempurna. “kau yang masak sendiri?”
“Kau bisa tanya mereka!” Aresh memberi isyarat pada dua orang Art nya, yang sama-sama menganggukkan kepala, mengisyaratkan kalau memang benar Damaresh yang memasaknya.
“kau bisa memasak?”
“Sedikit.”
“Ah aku baru tau.” Aura tak hentinya menebar senyum bahagianya atas kejutan kecil yang diberikan suminya. “tapi ini dalam rangka apa?” Aura tak sedang berulang tahun ataupun moment yang lainnya.
“maaf,” ujar Damaresh singkat.
“Maaf? Ini adalah permintaan maaf? Apa kau selingkuh di belakangku?” Aura menatap suaminya dengan tatapan menelisik.
“Mungkinkah, menurutmu?” Damaresh malah balik tanya.
Damaresh menoel pipi istrinya dengan ujung jari seraya melafadzkan penggalan ayat dengan singkat. “hatta yalija al jamaalu fi stammi al khiyath."
Aura jadi menatap takjub. “kau tau ayat itu?” tanya-nya dengan terlonjak.
“hinggapun ada unta yang masuk ke lobang jarum.” Bukannya menjawab pertanyaan Aura, Damaresh justru mengartikan ayat yang telah dibacanya dengan singkat itu. “aku tetap tak akan selingkuh darimu,” lanjutnya dengan pasti.
Aura segera meraih tangan suaminya itu dan menciumnya berkali-kali sebagai wujud rasa harunya yang tak bisa diwakilkan dengan kata-kata.
“lalu ini untuk apa?” Aura lanjut bertanya.
“Ternyata kau sudah lupa.” Damaresh menggerayangi tengkuknya yang tak gatal dengan kelima jemarinya. Membuat Aura segera menerawangkan pandangannya untuk mengingat hal apa yang mungkin terlupakan.
“karena teleponku semalam?” ia bertanya dengan nada tak yakin. Namun diluar dugaan, Damaresh justru mengangguk mengiyakan.
Aura jadi speachless.
Semalam selepas isya Aura menelepon Damaresh yang belum pulang dari kantor, padahal biasanya kalau hari Sabtu, jam dua siang lelaki itu sudah datang. Aura sebenarnya tidak mempermasalahkan karena ia tahu bagaimana mode kerja suaminya yang padat, tapi karena sudah lewat waktu isya’ wanita itu pun menelepon untuk memastikan.
Ternyata Damaresh baru saja selesai dengan urusannya dan sedang makan bersama beberapa koleganya.
__ADS_1
“Apa menunya?” tanya Aura.
“Nasi goreng spesial.”
“Kenapa pilih menu nasi goreng?”
“ingin saja.”
“Hmm aku juga pingin,” ucap Aura yang langsung terbayang menu nasi goreng yang sedang disantap oleh suaminya itu.
“Nanti ya.”
“Akan kau bawakan untukku?” tanya Aura dengan nada terlonjak.
“Iya. Aku lanjut dulu ya, sayang. Jangan tidur terlalu malam.” Dan tanpa tunggu jawaban dari Aura, Damaresh menutup telefonnya.
Dan ternyata, urusannya tak bisa diselesaikan dengan cepat, membuat Damaresh baru sampai di rumahnya lewat jam 22, dan istrinya sudah lelap dalam tidurnya. Karena rasa penat yang membelit tubuhnya, Damaresh pun bergabung dengan Aura ikut terjun ke alam mimpi.
“Terima kasih ya, suamiku,” ucap Aura tulus.
“Tapi di sana ada—“
“Makan dulu, sayang,” ucap Damaresh cepat memutus ucapan Aura. “Atau mau aku suapi?”
“Mau, tentu saja. Tapi di sana ada Mommy dan Daddy yang sedang menunggu kita,” tutur Aura.
“Aku tau.”
“Jadi, kau tau kalau mereka datang?”
Damaresh mengangguk.
“Tapi kenapa kau--?”
“Sekarang, kau adalah tanggung jawabku yang pertama, sebelum aku memenuhi kewajibanku padamu terlebih dahulu, aku tak dapat melakukan kewajibanku pada siapapun, sekalipun itu orang tuaku.”
Aura langsung tertunduk dengan sepasang mata berkaca-kaca.
“kenapa?” tanya Damaresh.
“Aku mau nangis,” sahut Aura.
“Dari pada menangis, kau peluk saja suamimu ini, sayangg.”
Aura segera bangkit dari duduknya menghampiri Aresh yang sudah menyambutnya dengan merentangkan kedua tangan. Jadilah keduanya saling berpelukan tanpa memperdulikan dua orang Art mereka yang jadi saling pandang dengan perasaan nelangsa.
__ADS_1
Salam Hari Senen ya..Semuanya..
•