
"Terima kasih mbak"
Aura mengucapkan itu dengan senyum tipis sambil menatap Clara sekilas.
"Iya, sudah tugas saya," sahut Clara usai meletakkan semua makanan pesanan Damaresh itu di atas meja.
"Apa kau baik-baik saja?"
Clara memperhatikan wajah cantik di
depannya yang tak terlihat seperti biasa, ujung hidungnya yang memerah, bingkai matanya yang sembab, menandakan kalau di wajah itu baru saja dialiri air mata mungkin dengan aliran yang cukup deras, atau aliran biasa namun dengan durasi yang tidak singkat.
"Iya, insha-Allah." sahut Aura dan memutus tatap dengan cepat dari Clara.
Tak ingin turut campur terlalu dalam, meski dalam diri terbentuk rasa penasaran yang besar, Clara segera mengangguk seiring harapan semoga memang tak terjadi apa-apa.
Dengan sendirinya telah terbentuk rasa kepedulian yang sangat besar pada Aura, keramahan gadis itu, sopan santunnya, lemah lembutnya selama mereka bekerja bersama, begitu membekas dalam diri Clara.
Ia juga tak marah begitu tau kalau Aura yang dipilih oleh Damaresh, lelaki pujaan hatinya, karna dirinya telah terpaut akan budi pekerti Aura.
Melihat perubahan wajah Aura yang tak secerah biasanya ketika datang bersama Damaresh barusan, Clara langsung merasa ada sesuatu yang terjadi, terlebih ia tau dari Kaivan, kalau Aura menemani Damaresh bertemu dengan Claudya Willyam.
"Iya, semoga kau selalu baik-baik saja"
"Terima kasih, Mbak"
Damaresh keluar dari private room dengan sisa-sisa titik air di wajahnya.
melihatnya, Clara segera berpamit keluar.
"Makanannya sudah siap" Aura memberitaukan lelaki itu yang masih tetap berdiri saja di depannya sambil menurunkan lengan bajunya yang digulung se-siku.
Damaresh lalu duduk di depan Aura dan meraih piring makanannya, mengambil satu suap dengan sendok dan disodorkannya pada Aura.
"Kok aku?" Aura menatap protes.
Ia sudah bilang tadi kalau dirinya sudah makan ketika Damaresh memesan makanan itu pada Clara.
Damaresh tak menggubris, tak juga menurunkan tangannya dari depan mulut Aura, membuat gadis itu terpaksa membuka mulutnya menerima suapan tersebut.
"Tanganku, kaku ya? Ini baru pertama kalinya aku menyuapi orang," ucap Aresh setelah Aura mengunyah makanannya itu.
"Terima kasih, aku menjadi orang pertama yang kau suapi makan,"
Damaresh kembali menyendokkan makanan itu untuk Aura.
"Kau saja Aresh, aku sudah kenyang,"
Damaresh menggeleng dan tak mengurungkan niatnya, Aurapun kembali menerima suapan kedua itu dan mengunyahnya, meski tak ada rasa yang dapat ia cecap dari makanan yang harusnya terasa lezat. Tapi di lidah Aura semuanya terasa hambar, bukan karna terpapar virus yang lagi marak
Sekarang, tapi imbas dari perasaannya yang sedih dan terguncang.
"Aku sudah menelfhon Olivia memberitaukan kalau kau tak akan kembali ke yayasan sekarang."
"Tapi ini masih jam kerja, Aresh."
"Olivia sudah mengijinkan, dan dia juga bilang kalau kau belum makan siang sebelum pergi. Kenapa bohong? Kenapa bilang kalau kau sudah makan?"
Aresh menatap Aura menuntut penjelasan.
"Aku tidak ingin makan--"
"Karna peristiwa ini?"
Tak ada jawaban, tapi segera tumpukan bening mengambang di bola mata teduh Aura, yang sudah cukup memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
Aresh segera memindahkan dirinya tepat di samping Aura, dan membawa tubuh itu dalam pelukan, dimana air yang mengambang di mata Aura segera luruh menjadi butiran yang menggelindingi belahan pipinya
yang sehalus pualam.
"Apa yang bisa kulakukan untuk mendamaikan perasaanmu?" lirih tanya Damaresh terdengar di pendengaran Aura.
Gadis itu menggeleng, ia juga tak tau harus bagaimana, sebagaimana juga tak tau kenapa sesedih ini rasanya.
"Apa aku akan mengantarmu pulang, agar kau bisa beristirahat di rumah?"
Tak ada jawaban dari Aura, dan Aresh pun segera berubah pikiran, kalau Aura pulang ke rumah, dan dirinya kembali lagi ke kantor, istrinya itu akan sendirian
__ADS_1
yang berpotensi akan semakin tenggelam dalam kesedihan, karna sekalipun di rumah ada Dirga, lelaki itu tak akan mewati batasnya kalau tanpa diminta, apalagi untuk menemani Aura.
"Atau kau istirahat saja di ruanganku, aku akan menuntaskan pekerjaanku dulu, setelah itu kita pulang bersama."
Aura melepaskan dirinya pelan dari pelukan Damaresh yang dirasanya sebagai tempat paling nyaman.
"Aku di sini saja, kau lanjutkan pekerjaanmu!"
"Baiklah, tapi jangan nangis lagi! apalagi hanya untuk hal ini"
Aresh menghapusi air mata Aura dengan jemari, sebelum ia kembali ke kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.
Dulu, Aresh adalah seorang workaholich sejati, dia sanggup duduk berjam-jam tanpa jeda di depan laptop yang terbuka
dan tumpukan berkas, tanpa ada hal se-urgens apapun yang mampu mengalihkan fokusnya.
Di depan tumpukan pekerjaan itu, dirinya merasa tertantang untuk menuntaskan lagi dan lagi, di depan tumpukan pekerjaan itu pula dirinya mampu melupakan segala kesakitan dalam hidup yang menderanya dalam belitan kerumitan keluarganya.
Bahkan seakan tak ada bedanya yang mana kantor, yang mana rumah, karna tidak di kantor atau di rumah, hanya kerja saja yang dilakoninya.
Terkadang Kaivan harus membujuknya berkali-kali atau mesti pakai jampi-jampi untuk hanya sekedar mengajaknya jalan menikmati waktu tanpa aktifitas pekerjaan.
Jangan berharap untuk bisa mendapatkan perhatian Damaresh ketika lelaki itu sudah tenggelam dalam pekerjaannya, karna ia telah menyerahkan dirinya secara utuh hanya pada apa yang dikerjakannya saja.
Tapi hal itu tidak berlaku untuk kali ini, di sela-sela fokusnya, tatapannya sering teralih pada Aura yang duduk di sofa tak
Jauh darinya, dan kembali lanjut pekerjaannya ketika dirasanya, Aura baik-baik saja. Begitu berulang.
Sampai kemudian ia bangkit dari kursinya dan menghamipiri Aura, ketika pandangannya menemukan gadis itu kembali berurai air mata.
Tanpa kata, ia menarik tangan Aura dan menuntunnya menuju kursi yang di dudukinya. Aresh lalu duduk di kursi itu dan menarik tubuh Aura untuk duduk di pangkuannya.
Aura menurut saja, bahkan ketika Aresh kian menarik tubuhnya untuk merapat, Aura segera menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aresh sambil menghirup aroma maskulin dari sana.
"Kenapa menangis lagi?" Aresh mengusap-usap kepala Aura dengan tangan kirinya yang sepenuhnya melingkari tubuh Aura, sedangkan tangan kanannya lanjut membolak-balik berkas di atas mejanya.
Terasa Aura menggeleng.
"Kasih tau aku, apa yang kau rasa, mungkin dengan itu kesedihanmu akan berkurang," Damaresh tetap berkata lembut, meski kini perhatiannya harus terbagi.
"Aku ke-ingat ayah," ucap Aura lirih.
desah hangat napasnya menyapu leher Damaresh, membuat pria itu sedikit menahan napas.
"Apa kau ingin mengunjunginya?"
"Boleh?"
"Boleh, tapi tunggu aku atur jadwal dulu ya, gak bisa kalau harus hari ini atau besok, agendaku masih padat."
Terasa Aura mengangguk sambil berucap. " jangan terlalu lama!"
"Iya. Ku usahakan dalam minggu ini,
apa dengan begini membuatmu lebih nyaman?"
"Hmm," Aura mengangguk dan lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Damaresh, membuat lelaki itu kian mempererat dekapan tangannya sedangkan tangan kanannya tetap lincah menari di atas tumpukan kertas dan sesekali beralih memegang mouse.
"Aku sedih bila ingat ucapan ayah,"
Aura kembali membuka pembicaraan setelah sesaat terdiam.
"Ayah bilang apa?"
Aresh terus membagi adil perhatiannya. Antara yang ada di depannya dan yang ada di dalam dekapannya. Sudah seperti seorang yang berpoligami dia saat ini,
yang membagi adil cintanya pada dua orang istri. atau seperti judul lagu dangdut di era 90-an. Mawar di tangan melati di pelukan.
(Author: jadi bernostalgia ke masa lampau)
"Dulu, saat kita bermalam disana, setelah menghadiri acara di pesantrenku, ayah bilang ingin bersilatur rahim dengan keluargamu..."
Ucapan Aura itu membuat Aresh menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencatat.
"Dalam lingkup keluarga kami, pernikahan itu dilaksanakan dengan melibatkan keluarga kedua belah pihak, mereka saling bersilaturrahim dan saling memberi restu. Wajar jika ayah ingin begitu, tapi sampai saat ini, aku belum bisa memenuhi keinginannya."
Terasakan dengan jelas sedalam apa kesedihan Aura dari ceritanya dan cara menceritakannya.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah memberikan pernikahan yang tak utuh padamu, Arra."
"Gak papa," jawab Aura dengan suara bergetar menahan isakan.
"Kau ingin aku membujuk mommy?"
Sebenarnya apa yang ditanyakannya adalah hal yang sangat tidak ingin dilakukannya, bahkan bertentangan dengan hatinya, tapi andai Aura berkata "iya" Aresh akan berusaha untuk melakukannya walau harus menekan egonya sedalam mungkin.
Entahlah, kenapa saat ini ia merasa sanggup untuk melakukan apa saja asal Aura terlepas dari kesedihannya.
"Tidak perlu. Sudah jelas, bukan seperti aku yang dia inginkan, membujuknya itu seperti percuma."
Kali ini Aura tak dapat sembunyikan isakannya ketika bicara.
"Aku akan berdoa saja, Aresh, agar Allah membukakan hatinya. Hanya Allah yang maha membolak-balikkan hati."
putusnya dengan sebaris harapan dalam hati.
"Begitu lebih baik, kalau itu yang jadi keyakinanmu, lakukanlah! dan jangan pikirkan apapun lagi!"
Damaresh mendekap tubuh Aura dengan kedua tangannya dan mendaratkan ciuman di kepalanya dengan lama.
"Aku seperti ingin tidur," ucap Aura yang merasa mengantuk setelah puas dengan kesedihan dan air matanya. "Pelukanmu adalah tempat paling nyaman bagiku," imbuhnya lagi.
"Tidurlah begini, agar aku bisa menjaga tidurmu!"
Aura tak mengajukan penolakan ia justru segera memejamkan mata dalam dekapan suaminya dan menjemput mimpinya.
Setelah merasa Aura mulai tenang, Aresh kembali meneruskan pekerjaan dengan satu tangan seperti semula..hingga beberapa saat berlalu. Terdengar ketukan di pintu.
"Masuk!"
Clara segera membuka pintu dan membawa tubuhnya masuk, namun melihat pemandangan di depannya,
Clara gegas menghentikan langkah.
"Ada apa Clara?" tanya Damaresh sambil menatapnya.
"Ee Pak Anton dari bagian HRD dan Pak Edwin dari divisi keuangan minta ijin menghadap, Pak.
Tapi saya akan meminta mereka untuk menundanya dulu," ucap Clara sambil sedikit mencuri tatap pada
Aura yang bersandar nyaman dalam pelukan Damaresh
di atas pangkuannya.
"Suruh mereka masuk! aku memang sudah menunggunya!"
"Tapi Pak," lagi Clara mencuri tatapan pada Aura, apa iya Damaresh akan menerima tamu dalam kondisi tetap memangku istrinya begitu. pikir Clara.
"Ada masalah?" tanya Damaresh datar.
"Ee Ti-Tidak pak," Clara segera memutar tumit dan bergegas keluar. Tak butuh lima menit terdengar sapaan secara bersamaan dan dari suara yang berbeda.
yang bisa dipastikan kalau itu adalah Edwin dan Anton.
"Selamat siang, Pak."
"Siang, silahkan duduk!"
Bukannya segera duduk, Anton dan Edwin malah saling menukar pandang, pasalnya pemandangan di depan mereka saat ini adalah sesuatu yang sangat jauh dari pribadi seorang Damaresh Willyam yang mereka kenal. Sepertinya mereka harus lebih memastikan apa benar yang berada di depan mereka saat ini adalah bosnya atau bukan.
"Kalian kesini untuk memberikan laporan pada saya. atau hanya untuk memperhatikan saya dan istri saya,"
tegur Damaresh disertai tatapan tajam.
"I-Iya ma-maaf Pak."
Gugup secara bersamaan itulah mereka kemudian.
Gegas duduk dan mulai secara bergantian memberikan laporan. Damaresh memperhatikan mereka secara seksama dan sesekali membenahi posisi tangannya yang merangkul Aura, terasakan tubuh gadis itu kian berat ketika kepalanya terkulai lemas dalam tidurnya yang lena, tapi tak sedikitpun Damaresh merasa kelelahan.
Pun fokusnya tak terpecah dari apa yang di sampaikan Edwin dan Anton secara bergantian.
Ahh benar-benar bak mawar di tangan dan melati di pelukan. Perhatiannya terpecah jadi dua dengan nilai
yang sama rata.
__ADS_1