
"Jam berapa dia kembali ke London?"
"Sekitar pukul duapuluh satu, Tuan."
"Apa ada yang ikut bersamanya?"
"Tidak ada."
Terlihat Willyam mengangguk samar, pandangannya masih tak teralih dari jendela kaca besar yang membuatnya leluasa untuk menatap segala sesuatu di luar.
"Jadi dia ke Jepang hanya untuk mencari informasi tentang Airlangga?" Willyam mengulang pertanyaannya lagi seakan tak percaya dengan informasi yang telah di dengarnya tadi.
"Begitu menurut pengamatan kami, Tuan."
Informans-nya itupun memberikan jawaban yang serupa seperti yang di berikannya tadi.
"Mungkin saja dia menemui keluarga Hayden," gumam lirih Willyam. Keluarga Hayden yang tinggal di Jepang, diketahui sebagai pemegang 35% saham BLC Corp.
Willyam curiga kalau kepergian Damaresh secara diam-diam ke Jepang adalah untuk menemui keluarga itu. Ternyata malah informasi yang didapatkannya jauh berbeda dari dugaannya.
"Dipastikan tidak, Tuan. Karna menurut informasi yang kami dapat, keluarga Hayden telah berpindah ke Finland sejak pertengahan tahun yang lalu."
Willyam mengangguk, sepertinya ia memang tak perlu meragukan pendengarannya, begitu memang adanya informasi itu, tak lebih, tak kurang.
Willyam mendengkus samar, seiring sebuah tanda tanya dalam benak yang tak terucapkan. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh anak itu, ia berani menantangku untuk melawan keputusanku,
Tapi malah tak mempergunakan waktu yang ku berikan dengan benar.
"Kau boleh pergi!" titah Willyam.
Pria berjas dan berdasi yang sedari tadi duduk di depannya tanpa mendongak sama sekali itu, segera bangkit dan gegas pergi. "Suruh Naila Anggara menghadapku!" Willyam memberi perintah tambahan saat lelaki itu hampir mencapai
Pintu. Lelaki itu menganggguk dengan kepatuhan dan segera membawa dirinya keluar.
Dalam kesendiriannya kembali, Willyam meneruskan pertanyaan dalam benaknya yang sempat terputuskan.
Aku tau Aresh sangat cerdas, dibalik ketenangannya dia pasti diam-diam sudah bergerak, tapi secepat apapun dia bergerak, tak akan mungkin bisa mengambil alih BLC dalam waktu cepat. satu minggu saja.
Willyam meraup udara sebanyak-banyaknya sambil tersenyum samar.
Akhirnya kau harus mengakui kekalahanmu, cucuku. batin Willyam.
Dan Willyam memungkas pikirannya sendiri dengan helaan napas panjang.
"Saya menghadap, Kakek." Itu suara Naila yang segera membuat Willyam memutar kepala melihatnya.
"Duduklah!"
"Bagaimana aktifitas di kantor hari ini?"
tanya Willyam setelah Naila duduk di tempat yang ia inginkan.
"Berjalan seperti biasa," sahut Naila.
"Aresh sudah datang, hari ini?"
"Belum."
Willyam mengalihkan pandang pada penunjuk jam yang berada tepat di titik delapan. "Ini bukan kebiasaannya," gumam Willyam yang sudah sangat hafal dengan cara kerja Damaresh yang begitu on-time sebagaimana dirinya.
"Pergilah kau ke tempatnya, Nai! Suruh dia menemuiku, katakan padanya kalau aku akan kembali ke Jakarta, nanti sore."
Naila mengangguk dan segera menatap Willyam. "Kakek akan kembali ke Jakarta?"
"Ya, aku menunda kepulanganku karna mengikuti permainan anak itu, dan lihat apa yang ia berikan sekarang, hanya kekalahan," putus Willyam.
__ADS_1
"Saya berharap kak Aresh menang," ucap lirih Naila dengan tundukkan kepala.
"Kau takut padanya, Nai? Kau bilang sangat menyukainya, kan?"
"Tapi kak Aresh tak suka pada saya, Kakek."
"Bagaimana dia akan suka kalau kau tidak mau berusaha, cepat temui dia sekarang!
lakukan apa yang seharusnya kau lakukan!" titah Willyam tegas yang segera disambut oleh Naila dengan kepatuhan.
*********
***************
Cukup lama ia berdiri menanti, ketika akhirnya pintu terbuka dari dalam.
Naila langsung membisu dan membatu, melihat siapa yang membukakan pintu.
Wajah ayu berbalut hijab itu, berdiri di depannya kini, tatapan teduhnya menyapu wajah cantik Naila yang tampil begitu cantik pagi ini dengan make-up flawlessnya.
Sesaat atmosfer kecanggungan menyelimuti keduanya, Naila yang biasa selalu luwes dan mampu menguasai situasi dengan cepat dalam berbagai kondisi, kini kemampuan itu seakan berlari pergi, tinggallah dirinya yang bahkan tak bisa merubah posisi berdirinya walau cuma satu inchi, apalagi untuk mulai menyapa, dan sekadar berbasa-basi.
Sebegitu kuatkah pesona wanita berhijab di depannya, hingga kini ia tak mampu berucap sepatah kata?
Entahlah...
"Naila Anggara." Suara merdu itu menyapa pendengaran Naila, yang segera merampas kembali kesadarannya dari keterpakuannya.
"Ah, iya, Aura Aneshka, kan?"
Naila telah menemukan dirinya kembali, dia balik menyapa dengan nada lebih luwes dan lebih akrab.
Wanita berhijab itu tersenyum, senyum yang lembut, yang seketika tercetus tanya dalam diri Naila. Senyum lembut inikah, yang membuat kak Aresh, terpesona?
Aura mengangguk dengan tak melepas senyumnya. " Ada, masuklah!"
Ia persilahkan dengan tangan seraya melangkah mendahului, Naila pun mengikuti.
"Duduk-lah! saya beritaukan dia, dulu,"
tunjuk Aura pada sofa yang tersedia, Naila
Mengangguk, dan setelah Aura berlalu dari hadapannya, Naila menghela napasnya dengan dalam, sementara hatinya merutuk, mengapa jadi begitu kaget hingga tak bisa kuasai diri begitu melihat Aura ada di depannya dan di panthouse Damaresh pula.
Lebih dari itu, segenap rencana yang telah disusunnya selama dalam perjalanan, buyar seketika, entah pergi kemana, atau tertinggal di depan pintu, saat ia terpaku ketika melihat Aura Aneshka berdiri di depannya itu.
Selang lima menit, Aura sudah kembali berdiri di hadapan Naila.
"Tunggu sebentar ya," ujarnya. Ramah, itu kesan yang tertangkap dari ucapan Aura.
"Ah iya, terima kasih," jawab Naila sambil menyertai senyum. Ujung matanya sesaat menelisik penampilan Aura, yang kendati tertutup tapi terlihat cantik dan modis.
"Ee bisakah kita mengobrol?" tanya Naila segera ketika atensi matanya itu tertangkap basah oleh Aura.
"Tentu saja." Aura tersenyum lepas dan segera duduk di depan Naila.
"Senang, akhirnya bisa bertatap muka seperti ini, Aura. Sudah lama aku sangat ingin mengenalmu," ucap Naila. Sepertinya kini ia mampu menguasai keadaan.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku berasa jadi orang penting yang ingin kau kenali," sahut Aura.
"Ya, begitulah, memang," Naila lebih menegaskan keinginannya untuk mengenal Aura.
"Sepertinya ada hal yang kau nilai menarik dari diriku, yang ingin kau ketahui," tebak Aura yang segera dibenarkan oleh Naila
Dengan anggukannya.
__ADS_1
"Kau pasti sangat istimewa sampai bisa berada di hati Kak Aresh," ucap Naila. Ia merasa tak perlu lagi sembunyikan apa yang ia rasa.
"Dan kau mencari keistimewaan itu dari diriku, tapi tak kau dapati, bukan?"
Aura melempar penilaian dalam sebentuk pertanyaan yang diiringi senyuman.
Naila terdiam, pada tahap ini ia merasa tak mendapat kata yang tepat untuk menjadi jawaban.
"Aku hanya wanita biasa, Naila. Aku bisa berada di samping Aresh bukan karna aku sangat istimewa. Tapi karna takdir yang menentukan kami untuk bersama," tutur Aura dengan raut wajah setenang air danau.
"Tak-Takdir?" gugup Naila bertanya.
"Iya, Takdir. Ketentuan dari Tuhan yang tidak terbantahkan. Ia punya rencana yang selalu terlaksana, betapapun kuatnya manusia berusaha menghalanginya. Dan hanya orang yang punya kepercayaan kepada Tuhan saja, yang mampu memahami semua ini."
Lagi, kalimat Aura membuat Naila tak mampu berkata, bahkan lehernya terasa kaku untuk hanya sekedar tundukkan kepala.
"Jika ada yang bertanya, kenapa aku dengan semua keterbatasanku bisa bersama dengan Aresh yang punya segalanya, itu hanya Tuhan saja yang punya jawabannya, karna dia yang menakdirkan kami untuk bersama. Sedangkan aku sebagai hambanya hanya berusaha menjalani segala ketentuannya dengan penuh rasa syukur dan ikhlas, berharap ini adalah jalan menuju ridhonya,"
pungkas Aura dengan wajah damai berhias senyuman.
Sekali lagi Naila terpana dengan ucapan itu, lebih terpana lagi karna tetiba saja Damaresh datang menangkup kepala Aura dengan kedua tangan dan mencium kening istrinya itu dengan sayang.
"Kau sudah memasukkan semua berkas yang ku perlukan dalam tas?" tanya-nya setelah melepaskan ciuman.
"Ya, Insha-A
llah sudah tak ada yang tertinggal," sahut Aura.
Aresh segera duduk tepat di sebelahnya dengan satu tangan menguasai kelima jemari lentik Aura.
"Ini, kerabatku, Naila Anggara." Damaresh memperkenalkan Naila pada Aura.
"Ayahnya adalah sepupunya mommy," lanjutnya lagi.
Sebuah ungkapan yang cukup jelas, bukan? Bahwa di mata Damaresh, Naila hanyalah seorang kerabat dekat, tak lebih.
Masihkah ia berharap pada Damaresh setelah ini?
Apalagi sudah jelas apa yang diucapkan Aura barusan, bahwa menentang kebersamaan Aura dengan Damaresh, sama dengan menentang takdir Tuhan?
Apakah wanita secerdas Naila tak mampu memahami itu?
Ah aku lupa, cerdas intelektual itu tak sama dengan cerdas spiritual, kan?
Orang bisa saja punya gelar akademik setinggi apapun, tapi pemahaman tentang ke-Tuhan-an, tak bisa di dapati hanya dengan bekal kecerdasan secara intelektual, tapi juga spiritual.
Naila melemparkan senyuman sebagai tanggapan dari semuanya, entah berbentuk seperti apa senyum yang dilemparkannya, karna perasaannya sedang runyam saat ini, tak mungkin ia bisa memberikan senyum sempurna, sedang perasaannya sedang tidak baik-baik saja.
"Kak, aku mau menyampaikan pesan kakek, dia mau kembali ke Jakarta nanti sore, Kak Aresh diminta untuk menemuinya," tutur Naila. Hal yang paling benar yang harus dilakukannya sekarang adalah menyampaikan fokus kepentingannya dan segera pergi. Begitu pikirnya.
"Terima kasih, Nai. Sampaikan pula pesanku padanya, jam sepuluh ada rapat dengan dewan direksi, aku menunggu kehadiran kakek di sana."
"Baik, Kak. Segera ku sampaikan, kalau begitu aku mohon diri."
Naila segera berdiri bahkan sebelum mendapat jawaban, ia hanya sekilas melempar senyuman pada Aura sebelum bergesa menuju pintu dan membawa tubuhnya keluar dari sana.
Sepeninggal Naila, Aresh memeluk erat Aura dan menghujani wajahnya dengan ciuman yang membabi buta. Haru, itulah perasaannya ketika mendengar semua ucapan Aura pada Naila baru saja. Dan apa yang dilakukannya saat ini adalah untuk merefleksikan keharuan itu.
********
***********
*************
Alhamdulillah..terima kasih banyak ya..untuk semua yang sudah kasih dukungan dan tunjuk tangan..syukronnn..
__ADS_1