
Tiga keputusan di cetuskan oleh Willyam Pramudya di hadapan seluruh keluarganya, dimana mereka berkumpul di salah satu hotel ternama di kota London.
Perusahaan Pramudya Corp di London, di serahkan pada Damaresh Willyam.
Perusahaan Pramudya Corp di Jakarta, akan di ambil
alih lagi oleh Willyam Pramudya sendiri.
menggelar pertunangan Damaresh Willyam dan Naila Anggara dalam waktu dekat.
Sepertinya keputusan itu telah di sah-kan, meski tanpa adanya ketokan palu hakim di pengadilan, jangan lupa kalau Willyam Pramudya adalah pemangku kekuasaan, yang berhak menentukan keputusan tanpa bantahan.
Dari mulai Edgard yang duduk di ujung paling kiri, Anthony di sampingnya, kemudian duo Anggara, Dipo Anggara dan Dien Anggara, lalu paling kanan adalah Damaresh Willyam, semuanya tak ada yang menunjukkan bantahan, bahkan menampilkan raut kurang setuju di wajah mereka, juga tidak.
Begitupun dengan jajaran para wanita dalam keluarga Willyam yang duduk di belakang mereka, dari mulai Claudya Willyam, Cristhine Willyam, Nola Willyam, dan Melia Anggara, Vla Anggara, serta putri tunggalnya, Naila Anggara. Semua tak ada yang memberikan bantahan dalam sebentuk expresi apapun.
Kesemuanya dari mereka duduk menghadap pada satu orang di depan sana, yang kendati sedang duduk di kursi roda, kharisma kepemimpinan yang sarat akan intimidasi terpancar kuat dari wajahnya yang meski telah di hiasi keriput tapi sisa ketampanan masih memancar di sana. Aura kepemimpinanya semakin di pertegas dengan dua orang ajudan yang berdiri sigap di samping kanan dan kirinya.
Siapa lagi sosok itu kalau bukan Willyam Pramudya,
yang kini sedang memandangi para audiensi di depannya satu demi satu, setelah sabda yang baru diucapkannya dalam beberapa menit yang lalu.
"Edgard, ada yang ingin kau sampaikan terkait keputusanku?" Pertanyaan itu meluncur untuk Edgard
dari Willyam. Hal yang tak pernah dilakukan Willyam sebelumnya, meminta pendapat setelah keputusan dibuat. Apakah ia akan merubah mode kepemimpiannya yang otoriter selama ini menjadi demokrasi? Entahlah!
Toh kenyataannya, meski ia mengutas tanya, nada tak ingin dibantah masih jelas tersemat dalam kalimatnya, apalagi expresi wajahnya.
"Siapa yang bisa membantah setiap keputusanmu, Kakek?" Edgard memberikan jawaban cerdas, yang langsung mendapatkan tatapan kepuasan di sepasang mata Willyam.
Sebenarnya, jawaban Edgard itu bukan datang dari
kecerdasannya untuk menghindari bermasalah dengan sang kakek, melainkan jawaban itu yang memang sudah ter-doktrin dalam tiap benak anggota keluarga Willyam atas setiap keputusan sang maharaja.
__ADS_1
Selanjutnya, Atensi Wilyam berpindah pada Anthoni, cucu yang hampir tak perduli untuk menumpuk prestasi di mata Willyam.
"Dan kau Anthoni?"
"Apa jika aku tak setuju, kau akan merubah keputusanmu, Kakek?" jawaban berupa pertanyaan juga yang dilemparkan Anthoni. Namun tak sebagaimana reaksinya atas jawaban Edgard, kali ini Willyam terlihat sedikit kerutkan keningnya, menandakan kalau dirinya kurang puas atas jawaban adik Edgard itu.
"Jadi?" Anthoni berhasil membuat Willyam bertanya lagi.
"Mematuhimu, itu yang paling tepat saat ini," sahut Anthoni.
"Bagus," puji Willyam.
Selanjutnya ia merotasi matanya pada sepasang Anggara bersaudara.
"Dan kalian bagaimana?" tanya Willyam pada kedua ponakannya tersebut.
Dipo Anggara terlebih dulu menatap Dien Anggara, sekedar minta ijin untuk menyampaikan jawabannya lebih dulu. "Kami di sini, tak pernah punya pendapat lagi, selain apa yang telah Om Willyam sampaikan, bukan karna kami ini seolah orang yang tak punya pendirian, tapi karna setiap keputusanmu, adalah yang terbaik bagi kami," jawab Dipo dengan kalimat yng sungguh manis, yang selalu membuat Willyam memperhitungkan keberadaan keponakannya itu karna kepatuhannya, di samping mereka memang punya saham meski cuma beberapa persen di Pramudya Corp.
"Saya setuju dengan Mas Dipo." Dien Anggara segera menimpali. "Tapi, karna ini menyangkut Damaresh, tentu pendapatnya lebih penting di sini, Om Willyam," imbuhnya lagi seraya melirik Damaresh yang duduk tak jauh di sampingnya.
Willyam mengangguk, terlihat setuju. Tapi nyatanya ia malah melewati Damaresh begitu saja yang seharusnya sudah gilirannya untuk ditanya. Willyam malah langsung bertanya pada Claudya yang duduk di belakang Damaresh.
"Bagaimana pendapatmu Clau?"
"Aku terserah pada Aresh saja, Papa," sahut Claudya segera sepertinya ia tak memerlukan waktu untuk berpikir dulu sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Sepertinya ada yang berbeda darimu kali ini, Clau," tukas Willyam sambil menatap seksama putri sulungnya.
"Dan kau ingin membalaskan itu sekarang padaku," tukas Willyam lagi dengan tatapan semakin mengeras.
"Maafkan aku, Pa. di sini aku mungkin sangat egois, aku
tak berniat untuk membalasmu ataupun melawanmu,
hanya saja, aku sungguh merasa lelah selama bertahun-tahun ini tak pernah di anggap ada oleh anakku sendiri. Jadi kali ini aku tak ingin lagi mengambil keputusan yang tak disetujuinya," putus Claudya.
Ucapannya ini sungguh sangat mengejutkan semua yang ada di sana, Claudya yang biasanya selalu tampil sebagai pendukung utama, berdiri di garis paling depan untuk memuluskan semua rencana Willyam, kini tiba-tiba saja mengambil keputusan yang diluar nalar.
Apa yang telah terjadi dengan Claudya? Hal besar apa yang telah menimpanya hingga sanggup merubah pola pikirnya lebih dari 180 derajat. Demikian pasti yang menjadi pertanyaan mereka semua saat ini.
"Sekalipun dengan cara menantangku?" tanya Willyam penuh penekanan.
"Apa sudah dipastikan kalau Aresh akan menolak keputusan, Papa?" Claudya malah balik tanya.
"Dia pasti akan menerimanya," jawab Willyam penuh percaya diri. "Tapi aku punya penawaran untukmu, Claudya."
"Penawaran apa, Pa?"
"Aku tau, sebenarnya dari dulu kau sangat merindukan
__ADS_1
Airlangga ... " Dan Willyam memutus kalimatnya begitu saja, seakan sengaja membiarkan semua yang ada dalam ruangan itu kecuali Claudya mulai ber-asumsi atas ucapannya. Dan memang terlihat semua di sana saling lirik samar, apalagi Christhine yang terlihat berkali-kali hembuskan napasnya pelan.
"Jika kau kembali menjadi Claudya yang aku tau, aku akan menghidupkan Airlangga untukmu, agar rasa rindumu padanya terobati," lanjut Willyam yang membuat semua mereka di sana menahan napas.
Akan tetapi Claudya masih tetap menunjukkan ketenangan, bahkan dengan santainya ia berkata.
"Aku tetap putrimu, Papa, dan di lain sisi aku juga ibunya Damaresh. Aku ingin menjalankan kewajibanku padamu sebagai anak, tanpa mengabaikan kewajibanku sebagai seorang ibu," ucap Claudya mantap, tentu saja karna ia memang telah tau perihal yang sebenarnya tentang Airlangga yang memang masih hidup.
Jika saja ia tidak tau pada fakta itu, tawaran Willyam yang akan mempertemukannya dengan Airlangga, asal ia selalu mendukungnya, pasti akan ia pertimbangkan.
"Ha...ha..ha..Bijak sekali Clau," cibir Willyam sambil tertawa sumbang.
Tak hanya itu, Claudya juga melanjutkan ucapannya.
"Dan masalah kerinduanku pada Airlangga, biar itu menjadi urusanku saja, ini mungkin sudah hukumanku, untuk selamanya menyimpan rindu pada orang yang telah meninggal. Lagi pula, Papa juga tidak mungkin mendatangkan Airlangga kembali, bukan?"
Tatap Claudya mengarah telak pada sang ayah.
"Kau tau, apapun bisa ku lakukan, Clau," sesumbar Willyam dengan tatapan pongah.
"Tapi tidak untuk menghidupkan orang yang sudah mati, Pa," sergah Claudya cepat. "Terkecuali Airlangga ternyata memang masih hidup dan Papa telah menyembunyikannya selama ini dariku," tukasnya dengan tatapan kokoh menggerayangi wajah ayahnya yang lalu segera menampilkan tawa Khasnya yang menggema di seluruh ruangan itu.
"Kau sedang menuduhku, ternyata," ujarnya di akhir tawa. "Jadi keputusanmu, adalah berdasarkan keputusan Damaresh?" tanya Willyam lagi.
"Ya."
"Baiklah." Willyam menarik napasnya samar, pandangannya lalu beralih pada Damaresh Willyam yang sedari awal hanya selalu diam dengan wajah datar.
"Jadi apa pendapatmu, Aresh?" Willyam langsung bertanya. Dan segenap pandangan dan perhatian ikut teralih padanya, lebih-lebih Naila Anggara, tangannya yang sudah berkeringat dingin dari semula, kini semakin bertambah saja, seiring detak jantung yang tak lagi bisa dihitung, karna terlalu cepatnya.
"Jadi pendapatku masih di perlukan, rupanya," lelaki tampan itu bersuara datar mengiring expresinya.
"Kalau aku pribadi sudah tau apa jawabanmu, Aresh, kalau kau tak akan menolak keputusanku," ucap Willyam tersenyum menang.
"Tapi ibumu, dan calon ayah mertuamu, menginginkan kau menyuarakan pendapatmu di sini, katakanlah apa jawabmu, biar kami semua tau."
Damaresh terlihat menarik sudut bibirnya samar.
"Kau benar Kakek, aku tak dapat menolak keputusanmu, karna aku sudah kalah satu langkah darimu, tapi kau tau, bukan, kalau aku ini tidak akan mudah menyerah."
Tak ada yang paham maksud yang sebenarnya dari ucapan Damaresh kecuali Willyam. Hanya yang mereka mengerti, kalau lelaki itu telah setuju pada ketiga keputusan Willyam terkait dirinya..akan tetapi ada hal yang masih menjadi tanda tanya dari ucapannya.
*******
*******
*******
Segini dulu ya, terlalu panjang kalau dituntaskan dalam
__ADS_1
satu part..tanganku juga udah kesemutan yang ngetik..
Next part akan terjawab apa alasan Aresh menyetujui dan apa tindakannya untuk memperjuangkan pernikahannya dengan Aura..