Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
107.


__ADS_3

"Terima kasih, Tante," kata Aura setelah suapan terakhir lolos melewati tenggorokan.


Claudya mengangguk sambil tersenyum, tangannya meletakkan piring diatas nakas setelah gelas yang ia sodorkan diterima oleh Aura.


Ada kejadian apa sebelumya yang terluput dari perhatian kita tentang mereka.


Hanya Lukman yang menjadi saksi kedatangan Claudya ke rumah sakit itu yang hampir bersamaan dengan petugas pengantar makanan.


Setelah sejenak bertanya perihal kondisi Aura dan menyampaikan keprihatinannya atas keguguran yang dialami oleh istri putranya itu, Claudya berinisiatif menyuapi Aura makan yang sempat ditolak dengan halus oleh Aura.


Tapi Claudya memperlihatkan kesungguhannya yang membuat Aura tak bisa menolak. Dan hanya Lukman pula yang menyaksikan ketika putrinya itu disuapi oleh ibu mertuanya.


"Kedepannya, jaga kesehatanmu, dan tetaplah optimis." Claudya mengusap pelan pundak Aura disertai mengulum senyum tipis.


"Terima kasih, Tante," seloroh Aura dengan mata berbinar.


"Mommy, aku akan senang jika kau mau memanggilku, begitu," pinta Claudya lembut yang segera ditanggapi oleh Aura dengan anggukan.


"Ini mungkin pertama dan terakhir aku bisa mengunjungimu," tutur Claudya.


"Mommy, pasti sangat sibuk." Aura langsung menebak, wanita itu tiba-tiba hadir di rumah sakit ini dan menjenguknya, bagi Aura itu adalah sebuah keajaiban.


"Lebih dari itu, Aura. Mommy harus melakukan sebuah pertanggung jawaban," kata Claudya.


"Pertanggung jawaban." Aura mengulangi kalimat itu dengan raut heran. Namun sebelum pertanyaannya terjawab terdengar suara sapaan ke arah Claudya.


"Kak, Clau!"


Claudya segera arahkan tatapan ke sumber suara, dan keterkejutan pun menghampirinya, setelah melihat pada orang yang telah memanggilnya.


"Alarick?" seakan tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya, Claudya segera bangkit untuk menghampiri.


"Alarick? benarkah kau Alarick?"


"Iya, Kak. Aku Alarick " lelaki itu dengan jelas memberikan jawaban.


Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Claudya ketika menemukan adik bungsunya yang telah lama pergi itu, kini berada di hadapannya.


Tangisannya pecah saat kedua tangannya memeluk tubuh gagah yang telah bertahun-tahun tak pernah dilihatnya lagi itu.


"Aku melihatmu sudah banyak berubah, Kak."


Alarick memindai tatapannya pada Claudya yang kini mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya.


Wanita itu memberikan senyum tipis, keanggunanya sebagai wanita dari keturunan berkelas, masih sangat terlihat, yang membedakan kini, Claudya terlihat lebih lembut pada orang lain.


"Apa selama ini, kau selalu sehat dan bahagia, Al?"


"Ya, Kak."


Sekali lagi, Claudya menatap adiknya itu dengan seksama yang memang terlihat tak kekurangan suatu apa, meski ia lepas dari keluarga William dan namanya tak ada lagi ada dalam daftar ahli waris William Pramudya.


"Ini istriku, kak," tunjuk Alarick pada seorang wanita cantik berhijab yang berdiri di sampingnya.


"Ini istrimu?" tanya Claudya seakan tak percaya, kalau wanita yang dinilai seumur dengan Aura itu adalah istri adiknya.


"Saya Sherin Mumtaza, saya istrinya mas Alarick," ucap wanita cantik berhijab itu dan segera menyorongkan tangannya pada Claudya untuk menyalami.

__ADS_1


"Aku Claudya, kakaknya Alarick. Karna sepertinya kau seusia dengan menantu-ku, kau panggil aku Tante saja." begitu ucap Claudya saat menerima jabatan tangan Sherin.


"Saya, memang teman satu pesantren dengan, Aura, Tante," kata Sherin sambil mengulas senyum manis.


"Benarkah?" Claudya lalu memalingkan kepalanya pada Aura dan melempar tatap tanya.


Wanita yang bersandar nyaman di ranjangnya itu mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Ini sangat kebetulan sekali," seloroh Claudya, tampak raut senang di wajahnya.


"Mommy kenapa tiba-tiba ada di sini?"


tanya Damaresh yang memang datang bersamaan dengan Alarick dan istrinya.


"Yeslin memberitahukan aku, kalau Aura dirawat di


sini, katanya Alex juga dirawat di sini, sebelum dipindahkan ke Jakarta tadi pagi," tutur Claudya.


"Aresh, besok di hari ulang tahun papa, aku dengar papa juga akan meresmikan pertunanganmu dengan yeslin," ujar Claudya pada Damaresh. Hal mana membuat Alarick terlihat menarik napas, beda dengan Damaresh yang tetap terlihat tenang dan diam.


Mereka kini hanya bertiga saja di depan ruang perawatan, sedangkan Sherin menemani Aura di dalam. "Kau pikirkan baik-baik untuk datang," ucap Claudya lagi.


"Aku akan datang," sahut Damaresh.


"Jika kau datang, acara pertunangan itu akan dilangsungkan, apa kau mau ini terjadi?"


"Tidak." Damaresh menggelengkan kepalanya tegas.


"Papa akan tetap menekanmu, Aresh. Dan kau tak bisa apa-apa selagi Elang belum ditemukan. Sebaiknya kau tak perlu datang," usul Claudya.


"Pasti, jika kau tak datang, papa akan marah padamu, tapi semarah-marahnya papa, dia masih tetap membutuhkan-mu untuk perusahaan," imbuh Claudya.


"Tapi kupikir, Elang akan paham Aresh, kalaupun nanti dia harus menjadi korbannya papa," kata Claudya sesaat kemudian.


"Apa maksud, Mommy?" tanya Damaresh cepat, dan Alarick pun memandang kakaknya itu lekat.


"Lakukan saja apa yang kau mau sesuai dengan dirimu Aresh, jangan lagi terbeban dengan apapun,


baik itu perusahaan, ataupun hilangnya Elang.


Mungkin dengan itu papa akan menyakiti Elang, tapi kurasa Elang akan paham dengan semuanya.


Dia sangat menyayangimu, Aresh."


"Mommy bersungguh-sungguh memberikan saran seperti itu?"


"Iya, tanggung jawabmu saat ini, adalah keluarga kecilmu, jangan terbebani dengan kami."


Ucapan Claudya itu membuat Damaresh dan Alarick sejenak saling pandang. Terlihat kemudian, Alarick tersenyum samar, ketika menyadari kalau Sepertinya kakak sulungnya yang angkuh itu benar-benar telah berubah. "Tak ada salahnya juga kau pikirkan usul Kak Claudya, Aresh!" saran Alarick dengan seulas senyum.


Damaresh hanya mengangguk samar, sedang nertranya masih tak lepas dari wajah Claudya yang terlihat datar.


"Aku tetap mengerahkan orang-orangku untuk terus mencari Elang. Dan jika aku diberi kesempatan, akupun akan turun langsung untuk mencarinya," tegas Claudya kemudian setelah beberapa jenak terdiam.


"Kesempatan apa, Kak?" tanya Alarick.


"Mungkin setelah ini, aku tak akan memiliki lagi kebebasanku," sahut Claudya, terdengar ambigu.

__ADS_1


"Apa yang Mommy rencanakan?" tanya Damaresh cepat.


"Aku sudah menemui keluarga besar mendiang Saraswati, dan mengakui kalau kematian Saraswati beberapa tahun silam, adalah akibat sabotase dariku," tutur Claudya.


"Apa?" Damaresh yang biasa tenang pun kini nampak bertanya kaget.


"Aku tidak tau, apa langkah mereka setelah tau hal ini, yang pasti mereka tidak akan tinggal diam, dan mungkin akan segera melaporkan kejahatanku pada pihak berwenang, tapi apapun itu, aku sudah siap,"


pungkas Claudya dengan raut wajah yang tenang.


"Apa yang membuatmu punya keberanian untuk melakukan itu, Kak?" tanya Alarick.


"Aku ingin menjalani hidupku dengan lebih benar.


Nyatanya selama ini aku dikungkung perasaan bersalah pada Elang, yang selalu coba kututupi dengan berbagai hal. Dan saat mengetahui kalau Elang ternyata masih hidup dan aku tidak bisa menemukannya, aku merasa kalau aku memang layak mendapatkan ini. Elang pasti juga tidak akan mungkin memaafkanku, karna kesalahanku memang sudah sangat besar."


Claudya tertunduk ketika diakhir kalimatnya yang menandakan benar adanya rasa penyesalan yang ia rasakan.


"Tapi dalam hati kecilku punya sedikit harapan untuk bisa dimaafkan. Dan Elang sangat menyayangi Saraswati, mungkin dengan mempertanggung jawabkan perbuatanku secara benar, Elang masih bisa melihat sisi kemanusiaanku, itu harapanku," ungkap Claudya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca karna penuh dengan cairan bening yang semakin menumpuk disana.


"Jadi, ini semua untuk mas Elang?" tanya Alarick yang merasa takjub akan ungkapan perasaan seorang Claudya.


"Untuk putraku juga," sahut Claudya serak, karna cairan beningnya yang mulai luruh tanpa dapat ia cegah.


"Mommy siap, dengan segala konsekwensi yang akan, Mommy dapat, nanti?" tanya Damaresh.


"Ya," sahut Claudya singkat tapi terdengar tegas.


"Aku appreciate Mommy, atas tindakanmu, tapi maaf aku tak bisa melakukan apa-apa untuk membelamu," ucap Damaresh pasti.


"Tidak perlu, Aresh. mommy hanya ingin setelah ini, kau bisa menganggap aku layak menjadi seorang ibu."


Claudya menatap putranya itu lembut. Sepertinya segenap kesombongan dan keangkuhannya selama ini telah tergerus angin atau mungkin badai. Damaresh yang memang tak pandai mengekspresikan diri itu hanya meng-angguk pelan, entah karna memang tak bisa bereaksi lebih, atau karna belum sepenuhnya mempercayai.


Tapi atmosfer yang dipenuhi dengan rasa haru itu, mengendap begitu saja, ketika hadir seseorang di tengah mereka.


Damian yang datang, orang kepercayaan William.


Ada apa gerangan, tangan kanan William itu sampai menyusul Damaresh ke Malang.


Dan abaikan saja perihal William yang mengetahui kalau Damaresh sedang ada di rumah sakit Saiful


Anwar, karna bagi William mencari semut di dalam sarang bukan sesuatu hal yang merepotkan, apalagi untuk menemukan Damaresh William.


Setelah menganggukkan kepalanya sopan sebagai bentuk penghormatan, Damian segera menyampaikan maksud kedatangannya.


"Saya diperintahkan tuan William, untuk membawa Tuan muda kembali ke Jakarta."


"Membawaku? kau pikir aku barang?"


"Maaf, Tuan muda, tidak bermaksud seperti itu, saya hanya menyampaikan pesannya tuan William."


"Sampaikan pada tuan William, aku akan akan pulang sendiri ke Jakarta. Setengah jam, sebelum acaranya dimulai, aku akan tiba disana," putus Damaresh yang sepertinya tanpa perlu berpikir lebih dulu.


"Baik, Tuan, segera saya sampaikan," sahut Damian patuh dan tanpa perlu berlama-lama, ia segera berbalik badan dan pergi berlalu.


"Kau yakin akan datang, Aresh?" tanya Claudya.

__ADS_1


"Ya, aku tau apa yang harus aku lakukan, Mom," sahut Damaresh.


"Baiklah, aku percaya padamu."


__ADS_2