
"Duduklah!"
"Saya Nyonya?"
"Ia, kurasa tak ada salahnya aku mengobrol denganmu sambil menunggu putraku datang,"
Gadis itu mengangguk, dan segera duduk di kursi tak jauh di depan Claudya. Terasa kalau pandangan ibu kandung Damaresh itu tengah menatapnya dengan seksama, Aura terdongak dan melemparkan senyum ramah.
"Sepertinya putraku sangat cocok dengan kinerjamu,"
ucap Claudya sambil meletakkan tas mahalnya di atas meja, entah ucapannya ini murni sebentuk pujian untuk Aura, atau hanya spontanitas Claudya saja karna gadis itu memergokinya sedang menatapnya dengan seksama.
"Cukup mengherankan, karna biasanya Damaresh tidak
suka bila ada orang asing yang bekerja di dekatnya,"
Aura tak memberikan tanggapan atau belum memberikan tanggapan, apalagi untuk mengklarifikasi sebutan orang asing yang disematkan Claudya terhadapnya. Nyatanya Aura memang bukan orang asing untuk Damaresh, tapi dia adalah istrinya.
"Apa selama ini dia memperlakukanmu dengan baik?"
Pertanyaan itu merupakan sebentuk perhatian pada Aura atau karna ada hal lain yang ingin diketahuinya?
"Iya, Nyonya," sahut Aura.
"Pasti sangat baik."
Claudya sudah mendengar cerita dari Yeslin perihal Damaresh yang pergi berdua dengan asistennya itu dan memberikannya perlakuan yang istimewa.
"Sangat baik, sebagaimana terhadap semua karyawan yang lain," kata Aura mementahkan anggapan kalau Damaresh memperlakukannya lebih baik daripada yang lain.
Claudya tersenyum samar. "Kau pasti betah bekerja bersamanya. Tapi, bagaimana jika aku menawarkanmu pekerjaan lain yang lebih baik dari hanya sekedar menjadi seoarang asisten?"
Sebuah tawaran pekerjaan?
Aura jadi paham situasinya sekarang, dari awal Claudya mengajaknya mengobrol, ia tau kalau wanita yang selalu mengedepankan penampilan berkelas itu bukan hanya ingin sekedar berbasa-basi dengannya,
tapi pasti ada sesuatu maksud tersendiri yang belum terbaca oleh Aura. Dan setelah Claudya memberinya tawaran pekerjaan, gadis itu mulai dapat membaca
kemana tujuan pembicaraan ibu mertuanya itu.
"Terima kasih banyak atas tawarannya, Nyonya. Saya merasa tersanjung dengan itu," ucap Aura dengan sepenuh hati, hal itu terpancar dari senyum indah yang menyertai ucapannya.
"Kau menyetujuinya?" Claudya tampak senang dengan sikap Aura yang seakan tak menolak tawarannya.
Semudah ini membujuk gadis ini agar menjauh dari putraku, batinnya.
"Saya akan pikirkan tawaran, Nyonya, jika pak Damaresh sudah tak membutuhkan tenaga saya lagi di sini," jawab Aura tanpa melepaskan senyumannya.
"Baiklah," Claudya terlihat tak masalah, padahal helaan napasnya atas jawaban Aura sudah terlihat dan terbaca oleh gadis itu.
"Bisa kau telfhon Aresh! agar dia segera kembali,"
perintah Claudya segera.
"Saya akan minta Mbak Clara, untuk menelphon pak Damaresh," Aura segera hendak beringsut dari duduknya.
Tak lama kemudian.
"Ada apa?" terdengar sebuah pertanyaan datar dari suara yang sudah sangat dikenali oleh Claudya.
Wanita cantik itu segera berdiri dan tersenyum seindah mungkin pada sesosok laki-laki tampan yang tiba-tiba saja sudah hadir di ruangan itu.
"Kau sudah datang, Aresh?"
"Ada apa menemuiku di sini?" Damaresh mengulang pertanyannya lagi, agar Claudya segera menyampaikan maksud kedatangannya.
Seperti biasanya, Damaresh selalu enggan untuk hanya sekedar berbasa-basi dengan Claudya.
"Kau terlihat sangat terburu-buru ya?"
Claudya yang sudah sangat terbiasa dengan sikap dingin putranya menanggapi hal itu dengan biasa saja.
"Ya."
"Baiklah, aku juga tak akan mengganggu waktumu terlalu lama. Yeslin mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit-"
"Aku tau," sahut Damaresh cepat.
Tentu saja Damaresh tau, karna memang dia yang membuat kecelakaan itu terjadi.
"Kau sudah menjenguknya?"
"Aku sudah menyuruh Clara dan Kaivan menjenguknya tadi pagi!"
"Kenapa kau tidak datang sendiri? seharusnya sebagai calon suaminya--"
"Sebaiknya Mommy berhenti berpikir, kalau aku akan menikah dengan Yeslin! karna hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Aresh,-"
"Mommy sudah menyampaikan kepentinganmu menemuiku, kan? ada tamu yang menungguku di bawah!" Damaresh memutar tumitnya dan segera bergegas keluar lagi dari ruangan itu.
Claudya menghela napasnya menahan kekesalan.
Aresh, sepertinya kau belum sepenuhnya tau siapa ibumu ini, bahwa segala apa yang kuinginkan, itu pasti akan terjadi. Lihat saja nanti. Batinnya, sambil tersenyum penuh ancaman.
****
"Apa Pak Dirga sudah lama menunggu?" tanya Aura begitu telah duduk dalam mobil.
__ADS_1
"Belum sampai setengah jam, Mbak," sahut Dirga.
"Maaf ya, Pak. Hari ini pekerjaan banyak sekali,"
"Tidak apa-apa Mbak. Kita akan jalan sekarang?"
"Iya, Pak."
Aura menikmati perjalanannya seperti biasa, karna Dirga memang tak terlalu mengebut dalam menyetir
dan biasanya juga ia akan selalu menuruti permintaan
majikannya. Meski tak tau secara persis apa sebenarnya hubungan Damaresh dengan Aura, namun melihat perlakuan Damaresh yang cukup mengistimewakan Aura, itu sudah cukup sebagai alasan baginya untuk memperlakukan gadis itu dengan istimewa juga, tentunya nomer dua setelah tuan mudanya.
Belum setengah jam perjalanan terlalui, ketika tiba-tiba sebuah goncangan kuat dirasakan Aura dalam mobil bahkan tubuhnya sampai terdorong kuat ke depan, sedikit lagi kepalanya akan menyeruduk bagian belakang kursi yang diduduki oleh Dirga.
"Pak Dirga, apa yang terjadi?" tanya Aura dengan napas yang memburu.
"Ada yang menghadang mobil kita, Mbak." sahut Dirga dengan tatapan waspada.
Aura segera memperhatikan ke depan dimana terlihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mobil mereka. Seorang laki-laki berbadan tegap turun dari mobil itu, sayangnya ia memakai masker dan mengenakan topi sehingga wajahnya tidak terlihat dengan jelas.
"Siapa dia Pak?" tanya Aura mulai dengan perasaan was-was.
"Tidak tau, Mbak. Mbak Aura tunggu dalam mobil! saya akan turun,"
"Tapi--" Aura belum menuntaskan kalimatnya, Dirga sudah bergegas turun tanpa rasa gentar sama sekali.
Aura memperhatikan keluar dengan seksama, tampak Dirga berbicara dengan lelaki itu singkat lalu kembali ke mobil dan membuka pintu di samping Aura.
"Mbak Aura turun dulu!" pinta Dirga dengan tatapan lurus.
Kendati dengan perasaan tidak nyaman serta berbagai pertanyaan yang berkecamuk, Aura mengikuti juga permintaan lelaki paruh baya itu untuk turun dari mobil. "Ada apa, Pak?"
Dirga tak menjawab, hanya memberi isyarat pada lelaki yang memakai masker dan bertopi yang telah bicara dengannya barusan.
Lelaki itu menghampiri Aura dan menyerahkan ponselnya pada gadis itu. "Ada yang ingin bicara pada Nona!" ujarnya datar.
Aura sesaat menatap Dirga yang mengangguk, Aura pun menerima ponsel tersebut dan mulai menyapa dengan suara tercekat karna gugup.
"Ha-Hallo,"
"Hallo, Arra. Ini aku," terdengar suara yang sudah sangat dikenal.
"A-Aresh?"
"Iya, Kau ikut Stefan dulu, Arra!"
"Stefan?"
"Yang memberikan ponsel ini padamu, dia orang kepercayaanku, kau ikut dia dulu, nanti aku akan menjemputmu!"
"Ta-Tapi ikut kemana?"
"Mari, Nona. Kita harus cepat!" lelaki bernama Stefan itu segera membukakan pintu mobilnya untuk Aura.
Terlihat Dirga juga memberi isyarat dan tergesa naik ke mobil yang dikemudikannya dari tadi. Melihat gelagat itu,Aura juga naik pada mobil hitam Stefan tersebut yang segera melaju membelah jalanan yang cukup padat dengan kecepatan cukup tinggi.
Berkali-kali Aura menoleh ke belakang, namun tak dilihatnya mobil sedan yang dikemudikan Dirga itu menyusul mereka. Aura menghela napasnya berkali-kali.
"Sebenarnya, ini mau kemana?"
Aura memberanikan diri bertanya, setelah dirasanya cukup lama perjalanan itu belum juga sampai tujuan, padahal seharusnya kalau memang Stefan itu ditugaskan mengantarnya pulang, mereka sudah sampai di rumah sejak setengah jam lalu.
"Sesuai interuksi pak Damaresh," sahut laki-laki bernama Stefan itu.
Tak ada pilihan lain bagi Aura kecuali mengikuti saja, toch memang Damaresh sendiri tadi yang memerintahkannya untuk mengikuti Stefan ini.
Aura mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan memejamkan mata dan mengatur napasnya berkali-kali.
Terasa kalau mobil sudah berhenti, Aura segera membuka matanya menatap sekeliling yang sudah mulai gelap karna malam yang telah turun menyapa.
"Silahkan, Nona!"
Stefan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan gadis itu turun.
Stefan melangkah memasuki sebuah rumah dengan model dan ukuran minimalis.Aura tampak ragu untuk memasuki rumah yang tampak sepi dan gelap itu, namun Stefan segera menghidupkan lampu dan tampaklah kini rumah itu sangat bersih dan terawat.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah saya,"
"Kenapa membawa saya ke rumah ini?"
"Sesuai perintah,"
"A-Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Saya tidak berhak menjelaskan,"
Lelaki itu hanya menjawab seperlunya setiap pertanyaan dari Aura, dia seperti terlatih untuk tak banyak bicara dan melakukan sesuatu hanya sesuai interuksi atasannya saja.
Tampak kini laki-laki bernama Stefan itu membuka masker dan topinya, terpampanglah wajah yang tampan dan kulit yang putih bersih, sungguh tak pantas untuk ukuran seorang pengawal.
Stefan adalah pengawal bayangan Damaresh yang keberadaannya tak di ketahui siapapun, ia mengikuti setiap pergerakan majikannya dari tempat tersembunyi.
"Apa yang Nona butuhkan? saya akan siapkan,"
"Tidak perlu, saya hanya ingin sholat saja,"
__ADS_1
"Silahkan!"
Stefan segera beringsut keluar, ia memilih duduk di teras rumahnya untuk memberi ruang lebih pada Aura melaksanakan ibadahnya, dan lelaki itu tetap memilih duduk di sana hingga sebuah mobil lexus hitam terlihat memasuki halaman dan berhenti tepat di samping mobilnya.
Stefan segera berdiri menyambut ketika pemilik mobil mewah itu turun menghampirinya.
"Selamat Malam, Pak,"
"Malam Stef, dimana dia?"
"Di dalam, Pak!"
Di atas sofa panjang itu, Aura tertidur meringkuk dengan berbantalkan kedua tangannya, Damaresh segera duduk di dekat gadis itu dan mengusap kepala Aura yang tertutup hijab itu sejenak.
"Maaf Pak, saya tidak tau kalau nona tertidur di kursi,"
kata Stefan.
"Kalau kau tau, apa kau akan mengangkatnya ke dalam kamar?"
Stefan menggeleng dan menunduk. Tentu saja dia tak akan berani melakukan itu, apalagi tadi dengan jelas Damaresh melarangnya untuk menatap Aura, sehingga Stefan selalu menghindari berkontak mata dengan gadis itu. jika menatap saja tidak boleh, apalagi untuk hal yang lebih dari itu seperti mengangkat tubuh Aura ke dalam kamar, Damaresh pasti akan menghabisi Stefan saat itu juga.
"Bagaimana?" tanya Damaresh.
Sebuah pertanyaan yang terdengar ambigu, namun tidak bagi Stefan yang sudah paham kemana arah pembicaraan majikannya itu.
"Mereka orang-orangnya Theo, Pak, kepercayaan Nyonya Claudya,"
"Mereka tau, kalau pergerakannya terbaca?"
"Tidak, Pak. Seperti perintah Bapak tadi,"
Damaresh mengangguk.
"Kenapa tidak dibereskan saja, pak?" tanya Stefan.
"Tidak perlu, mereka hanya diperintahkan untuk menyelidiki sejauh apa kedekatanku dengan Aura,"
"Tapi hal ini juga bisa berbahaya bagi Nona, jika mereka mendapatkan bukti kedekatan Bapak dengan Nona Aura,"
"Karna itu jangan sampai mereka mendapatkan bukti itu, Stefan! dan itu juga bagian dari tugasmu!"
"Baik, Pak."
Damaresh meraih tangan Aura dan mengusapnya lembut. "Arra, bangunlah!"
Tak butuh waktu lama, Aura terlihat membuka matanya melihat sekeliling dan terakhir pandangannya berlabuh pada wajah tampan lelaki yang duduk di dekatnya. "Aresh?"
"Hmm,"
Aura perlahan duduk dan mengusap wajahnya.
"Kau masih ngantuk?" tanya Damaresh yang menatapnya seksama.
"Tidak." Aura menggeleng. " Aresh, apa sebenarnya yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, Arra!"
"Lalu kenapa kau menyuruhku ikut Stefan kemari?"
"Karna aku ingin menjemputmu di sini," sahut Damaresh. Tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Aura kalau perjalanannya bersama Dirga tadi dibuntuti oleh orang-orang suruhan Claudya
sehingga Damaresh meminta Stefan membawa Aura pergi untuk mengacaukan penyelidikan orang-orang itu yang terus mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Dirga.
"Kau tidak bohong?" Aura terlihat tak sepenuhnya percaya dengan keterangan Damaresh itu.
"Buktinya aku benar-benar datang menjemputmu, kan?"
Aura akhirnya mengangguk.
"Ayo kita pulang, Arra!"
Damaresh membimbing Aura untuk bangkit dan terus menggandeng tangan gadis itu sambil melangkah ke arah mobil.
"Bisa tidak, kita pulang jalan kaki saja, Aresh?" pinta Aura tiba-tiba di saat Damaresh hendak membuka
pintu mobil.
"Jalan kaki? jangan bercanda Arra! dari sini sampai rumah butuh satu jam dengan mobil."
"Tapi aku ingin merasakan lebih lama dalam genggaman tanganmu," Aura berucap dengan menunduk sambil menatap tangannya yang di genggam erat oleh Damaresh.
"Kau bisa menggenggam tanganku selama dalam mobil," ucap Damaresh dan segera membuka pintu mobil untuk Aura.
"Tapi kau kan sedang menyetir,"
"Aku bisa menyetir dengan satu tangan."
Dan mobil mewah itu melaju meninggalkan halaman rumah Stefan, keheningan tercipta di dalamnya, Damaresh melirik Aura yang duduk diam di sampingnya dengan dua tangan saling bertaut di atas pangkuannya.
Damaresh meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya lembut.
---------
-----------
Typo maksi.
karna yang nulis masih cenat-cenut, tapi maksain untuk up..karna kangen sama pembaca semua.
__ADS_1
Minta doanya..semoga kesehatanku segera pulih.
Dan semoga teman-teman semua juga di beri kesehatan...Amiin.