Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
20. Menikah.


__ADS_3

"Duduklah," Lukman mempersilahkan dengan tangannya untuk tamunya itu duduk. Tamu yang memang sudah ditunggu kedatangannya sejak tiga hari terakhir. Kaivan yang duduk lebih dulu kemudian diikuti Damaresh Willyam.


Bibi Husna datang membawa nampan berisi dua gelas minuman dan menyuguhkannya ke hadapan dua lelaki itu, "Panggil Aura kemari," Titah Lukman


yang segera di angguki oleh Husna, tak lupa wanita paruh baya itu mencuri tatap pada Kaivan dan Damaresh sebelum berlalu pergi.


"Jadi ada apa, Pak Lukman memanggil saya kemari?"


Damaresh sepertinya tak ingin buang-buang waktu terlalu lama. Karna hari ini ia harus segera kembali ke Jakarta. Namun undangan ayah Aura melalui telfhon yang memintanya datang membuat lelaki itu harus putar arah yang sedianya dari Mediatama akan langsung ke bandara, tapi malah berakhir di rumah Aura Aneshka.


"Silahkan di minum dulu!" Lukman berkata santai, namun expresi wajahnya malah terlihat tegang.


Kaivan sempat melirik ke arah Damaresh yang terlihat biasa saja, berbeda dengan dirinya yang merasakan adanya perubahan pada sikap Lukman. Ayah Aura itu yang pada pertemuan pertama mereka dulu memperlihatkan sikap yang ramah, kini malah menampakkan muka datar.


Aura hadir di ruangan itu, sempat kaget melihat dua orang lelaki yang sedang duduk di hadapan ayahnya.


Ia segera duduk tak jauh di samping Lukman mengikuti isyarat dari lelaki paruh baya tersebut.


Tanpa sepatah kata, Lukman menyerahkan amplop coklat besar kehadapan Damaresh yang segera di perhatikan dengan seksama oleh lelaki itu, namun tidak menyentuhnya.


"Silahkan dibuka!" Suara Lukman sedikit bergetar, sepertinya lelaki itu sedang berusaha menahan dirinya


yang sejak melihat wajah Damaresh tadi sudah ingin


melayangkan tinjunya pada wajah tampan atasan putrinya itu.


Damaresh memberi Isyarat pada Kaivan untuk membuka amplop itu. Kaivan segera melaksanakan tugasnya. Membuka amplop, melihat isinya dan segera memperlihatkannya pada Damaresh.


"Apakah itu benar pak Damaresh dengan putri saya?"


tanya Lukman.


"Ya, benar. Itu saya bersama putrimu," Jawab Damaresh


dengan tegas, terlihat tak ada niatnya untuk mengingkari itu semua. Aura tampak menahan nafas


seraya menatap tajam pada Damaresh.


"Akhtar, calon suami Aura membatalkan pernikahan mereka karna foto tersebut. Saya paham, siapapun akan punya pemikiran negativ pada kalian melihat foto seperti itu, termasuk juga saya," Lukman segera menghentikan ucapannya karna Aura yang segera berkata.


"Tapi kejadian yang sebenarnya tidak sama seperti yang kalian pikirkan, Ayah. Pak Damaresh tolong, jelaskan yang sebenarnya,"


"Jangan bicara sebelum aku memintamu, Aura!"


Kemarahan, kekecewaan, dan sekaligus kesedihan bercampur aduk dalam diri Lukman dan terpancar jelas di wajahnya, membuat Aura tak mampu lagi untuk berkata-kata.


"Ayah sungguh kecewa padamu," lagi, kalimat itu di ucapkan Lukman dengan suara bergetar. Menandakan betapa dalam kekecewaan yang dirasakan terhadap


putri tunggalnya yang selalu menjadi kebanggaannya selama ini.


"Aura tidak pernah melakukan hal seperti itu, Ayah,"

__ADS_1


Aura mencoba menjelaskan sekali lagi dengan suara yang mulai parau karna hampir menangis.


"Jangan berkilah Aura, bukti itu sudah jelas!" Lukman membentak putrinya itu dengan suara lantang.


Aura menunduk, satu titik bening air matanya jatuh.


Seumur hidupnya, baru kali inilah Lukman membentaknya dengan kasar. Hati Aura terasa sakit,


tapi melihat kesakitan sang ayah karna mengetahui dirinya telah melakukan tindakan yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya,


itu membuat hatinya jauh lebih sakit. Hatinya menjerit,


dan seketika kebencian terhadap Damaresh Willyam membuncah dalam dadanya.


"Saya tidak mau tau siapa bapak," Lukman mengarahkan tatapan tajamnya pada Damaresh.


"Yang saya tau, bapak sudah berbuat tidak pantas dengan putri saya. Maka kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian."


Lukman berkata penuh penekanan, tak ada sekalipun rasa gentar dalam dirinya. Meski ia tau betapa kuat kekuasaan Damaresh Willyam, yang mungkin hanya dengan menjentikkan jarinya saja, Lukman dan putrinya pasti akan hancur.


Tapi Lukman harus menyampaikan kebenaran, terutama tentang Aura Aneshka, putri tercintanya.


"Kalian harus menikah!" Lukman berkata tegas.


"Apa?" hanya Aura yang terlihat terkejut, tidak dengan Damaresh. Lelaki yang selalu tampil dengan muka datarnya itu masih tetap memperlihatkan expresi yang sama.


"Tidak Ayah, sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan pak Damaresh," Aura menggeleng cepat. Baginya untuk apa menjalin sebuah ikatan sakral dengan lelaki yang tak pernah percaya dengan sebuah pernikahan seperti Damaresh. Akan seperti apa hancurnya hidup Aura nanti bila hidup bersamanya.


Demikian pikir Aura.


"Tapi ayah, .."


"Saya akan menikah dengan Arra," Damaresh berkata cepat sebelum Aura menyelesaikan ucapannya.


Aura menatap bosnya dengan melotot, Kaivan juga terlihat terkejut.


"Bagus, memang seharusnya begitu," Ucap Lukman terlihat lega dan sekaligus juga kawatir di waktu yang bersamaan.


"Kapan kami harus menikah?" tanya Damaresh dengan santainya.


"Secepatnya,"


"Kalau begitu kami akan menikah malam ini juga,"


putusnya tanpa beban.


"Bapak jangan bercanda!" Aura mengajukan protes keras sambil menatap tajam. Menurutnya tak mungkin seorang Damaresh yang selama ini tak mau tunduk kepada siapapun itu, mau begitu saja mengikuti keputusan Lukman. Apalagi ini adalah keputusan untuk menikah, satu hal yang tak pernah ingin dilakukan oleh Damaresh sejak dulu. Pasti lelaki itu hanya sekadar main-main saja.


"Aku tidak bercanda, Arra." Damaresh balik menatap Aura dengan tatapan mengintimidasi, seperti kebiasaannya selama ini bila perintahnya ditampik.


"Saya tidak percaya dengan bapak," Sahut Aura.

__ADS_1


"Terserah, yang penting aku akan menikahimu malam ini juga sesuai dengan permintaan ayahmu."


Lelaki itu benar-benar memutuskan. Sebuah keputusan yang tidak bisa dibantah.


"Bapak jangan main-main dengan sebuah pernikahan,"


Aura coba mengingatkan walau ia tau, ini tak akan berhasil. Tetapi ada satu fakta yang tak bisa dilupakan


Aura, bahwa antara dirinya dan Damaresh Willyam punya pandangan yang bertolak belakang tentang arti sebuah pernikahan. (seperti yang diceritakan dalam bab sepuluh)


Damaresh tersenyum miring, ah bukan senyum tapi lebih tepatnya lagi menyeringai ke arah Aura seakan menegaskan kalau keputusannya sudah tak bisa lagi di ganggu gugat.


Aura merasakan kepalanya berdenyut, semua yang terjadi ini terlalu mengejutkan dan di luar dugaan.


Menikah dengan Damaresh Willyam itu bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Lelaki itu jangankan untuk bisa menjadi imam yang baik dalam rumah tangganya, sampai saat ini Aura bahkan tidak tau apa keyakinan yang dianut olehnya.


"Kau siap?" Tanya Kaivan, terus terang ia menghawatirkan sahabatnya itu. Sebentar lagi Damaresh akan menikah dengan Aura.


"Aku selalu siap untuk menghadapi apapun, Kai."


"Aku tau, tapi ini hal lain Resh, kurasa belum terlambat


jika kau ingin membatalkan!" usul Kaivan.


"Kenapa aku harus membatalkan?"


"Karna sebenarnya kau tak pernah ingin menikah,"


Kaivan tentu saja tau bagaimana seorang Damaresh itu.


"Aku ingin melakukannya saat ini." putus Damaresh


"Kenapa?"


"Arra pernah menantangku, kalau dia tak akan pernah sudi menikah denganku, sekarang aku ingin membuktikan kalau aku bisa menikah dengannya."


Sahut Damaresh.


"Aresh, Aura itu bukan orang yang punya pemikiran simple tentang sebuah pernikahan,"


"Aku tau. sudahlah Kai, sekarang ajarkan aku kalimat syahadat, aku sudah lupa bagaimana itu,"


"Kalimat Syahadat?" Kaivan nampak bingung.


"Ya. Katanya itu syarat akad nikah secara islam,"


Kaivan menurut.


Damaresh memang terlahir sebagai muslim, namun jangan tanyakan padanya bagaimana caranya sholat,


wudhu, dan sebagainya dari ritual ibadah seoarang muslim. Karna dalam dirinya tidak ditanamkan hal seperti itu sejak kecil. Hanya diwaktu neneknya masih hidup, Nyonya Laura Dewi yang berdarah jawa asli itu mengajarkan beberapa hal mengenai agama islam pada cucunya seperti sholat, bersyahadat dan sebagainya.

__ADS_1


Dan ketika Damaresh sudah masuk usia sekolah, pelajaran agama itu sudah tidak menjadi prioritas lagi.


Karna anak-anak yang lahir dari keluarga Willyam Pramudya hanya di-didik dan digembleng untuk menjadi pejuang dollar yang tangguh. Apalagi ketika Laura Dewi meninggal karna sebuah kecelakaan pesawat, tak ada lagi pendidikan agama yang diterima oleh Damaresh dan para saudaranya hingga mereka dewasa.


__ADS_2