
Claudya sangat merasa antusias dan bahagia setelah menerima pemberitauan dari Clara kalau Damaresh menunggunya di small guest
Room Pramudya Corp usai makan siang.
Dia berencana datang lebih awal agar bisa makan siang bersama putranya itu
Claudya merasa sudah saatnya untuk menjalin kedekatan dengan putra semata wayangnya tersebut, karna hubungan mereka dari dulu yang memang tak pernah benar-benar dekat, dan hubungan itu kian berjarak setelah kepergian Airlangga akibat kecelakaan hebat.
Claudya sudah menyiapkan masakan yang diketahuinya sebagai makanan favourite Damaresh, tapi niatnya sepertinya gagal terlaksana, gara-gara sopir pribadinya tak bisa mengantarkannya karna istrinya tiba tiba mengalami kecelakaan.
Claudya terpaksa meminta salah satu security mansion untuk menjadi sopir dadakan, sialnya security yang dia pilih adalah anak perantauan yang belum sebulan ada di Jakarta dan baru seminggu bekerja di kediaman mewah keluarga Willyam Pramudya, sehinga dia belum paham jalan yang menuju kantor Pramudya Corp.
Akibatnya, perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh dalam jangka waktu setengah jam, molor menjadi satu jam.
Claudya melangkah tergesa membawa kedongkolan hatinya akibat beberapa kesialan yang didapatnya. Impian makan siang bersama sang putra pun sudah pupus hilang, entah kemana. Yang Ia kawatirkan sekarang, kalau Damaresh yang sangat on-time itu akan membatalkan pertemuan mereka akibat keterlambatannya.
Rupanya, kekesalan Claudya tak hanya berhenti sampai di situ saja. Ketika memasuki tempat pertemuan yang dijanjikan, dirinya langsung disuguhkan pemandangan yang sama sekali tak diharapkan, membuat rasa kesal dengan ukuran yang lebih besar segera menguasai kepalanya, dan puncaknya ketika Damaresh mengakui hubungannya dengan Aura Aneshka bukan hubungan biasa, tapi hubungan suami istri yang shah.
"Rupanya benar kalau kau ada hubungan spesial dengan wanita berkerudung ini,"
Claudya mengarahkan pandang pada Aura dengan tatapan meremehkan.
"Sangat spesial, karna kami bukan hanya sekedar pasangan kekasih, tapi pasangan suami istri,"
Damaresh kemudian menyapu wajah Aura dengan tatapan teduhnya dan lalu menempatkan jemari tangan istrinya itu dalam genggaman lembutnya.
Claudya tertawa sumbang atas adegan kecil nan romantis yang disuguhkan kepadanya. "Hentikan drama ini, Aresh!
kau membuat adegan yang sangat menggelikan." meski mengucapkan demikian sambil tertawa, tapi wajah Claudya terlihat memerah, bukan karna sapuan blush-on, tapi karna kemarahan yang menggumpal dalam dadanya.
"Kau pikir, aku akan percaya dengan semua ini, Aresh? jangan mimpi!"
tandas Claudya lagi.
"Sebenarnya akupun sangat ingin kau tidak percaya hal ini, karna dengan itu kami akan menjalani hari kami dengan tenang," sahut Damaresh santai sambil tak melepas pandang dari wajah cantik terawat Claudya diusianya yang tak lagi muda, sehingga Damaresh dengan jelas melihat kalau ibunya itu tengah menahan napas.
"Tapi ini kenyataannya Nyonya Claudya Willyam, satu hal yang sangat ingin kau ketahui dari dulu, kan?"
"Apa..?" sesaat Claudya kehilangan fokusnya karna sibuk membuat pengingkaran dalam dirinya,terkait pengakuan Damaresh itu padanya.
"Berapa kali kau kirim orang untuk menyelidiki hubunganku dengan Aura? maaf, aku harus menggagalkan penyelidikan orang suruhanmu, karna aku ingin menyampaikan hal ini sendiri padamu," ungkap Damaresh.
Claudya menggelengkan kepalanya kuat, yang terlihat dari wajahnya kini bukan kaget lagi, tapi shock sekali.
"Aku tak percaya kalau CEO Pramudya Corp akan mengambil tindakan seperti ini," gumamnya dengan dada turun naik.
"Maaf Nyonya Claudya,"
Aura angkat bicara setelah cukup lama ia hanya menjadi pendengar saja, dalam kondisi rasa tak nyaman yang menyapu
rongga dada.
"Kami memang sudah menikah cukup lama, yang seharusnya ada kehadiran Nyonya dalam pernikahan kami. Maafkan kami yang tak sempat meminta restu anda, maafkan kami yang telah melangkahi batas etika seorang anak terhadap ibunya." Aura berucap dengan suara yang lembut, bahasa yang santun, dan tatapan menunduk. Berbeda jauh dari Damaresh yang tampak jelas menentang ibunya, Aura terlihat jauh lebih ramah dan menghormati Claudya.
Lalu, luluhkah Claudya dengan kesopanan Aura? Tergerakkah hatinya dengan bahasa lemah lembut menantunya itu?
__ADS_1
"Dan apa yang kau harapkan dariku sekarang? memberimu restu? mengijinkanmu menjadi istri putraku?
Jangan mimpi!! Selamanya itu tidak akan pernah terjadi!"
Kata-kata setajam itu yang didapatkan Aura dari Claudya pasca penuturan lemah lembutnya.
Aura jadi kian tertunduk dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Namun gadis itu tak segera berpatah arang untuk lebih menjelaskan. "Tapi Nyonya--" hanya sebatas itu kata yang bisa diucapkan, karna Damaresh yang menarik tangannya, memintanya dengan isyarat mata, untuk tak lagi bicara.
Claudya bangkit dari duduknya.
"Dan kau Aresh, kau pasti tau, kan? Apa akibat dari keputusanmu ini?"
Pertanyaan berselimut ancaman dilontarkan Claudya untuk putranya.
Damaresh juga segera berdiri untuk mengimbangi posisi sang ibu.
"Aku tau, sangat tau dari dulu, dari sejak ayahku mengalami kecelakaan akibat sabotase darimu," jawabnya datar yang seolah mengisyaratkan kalau ancaman Claudya bukan sesuatu yang menakutkannya.
Justru Claudya yang terlihat pias dengan ucapan sang putra, tatapannya yang semula garang bak hewan pemangsa, kini memudar seketika, bahkan kedua kakinya langsung terasa lemas hingga
Seakan tak kuat menahan beban tubuhnya, wanita itu terhuyung dua langkah.
"A-Apa maksudmu, Aresh?"
Damaresh maju dua langkah untuk mencapai posisi yang lebih dekat dengan ibunya. Kata-kata yang dalam dan penuh penekanan kemudian terlontar dari mulutnya.
"Tak usah menanyakan sesuatu, yang jawabannya kau memang sudah tau!"
"A-Aku--" Claudya terlihat sangat gugup. Keangkuhan yang tadi diperlihatkannya, kini habis tak bersisa.
Terlebih ketika kemudian Damaresh mengucapkan kata yang lebih menohok. "Apa kau juga akan berbuat seperti itu kepadaku dan istriku?"
Tapi akankah Claudya mau mengakuinya saat ini?
"Kau menuduhku sekejam itu hanya untuk menekanku, Aresh? hanya agar aku merestuimu dengan wanita itu?
jenius sekali caramu putraku, tapi itu tak akan menghasilkan apa-apa!"
Claudya mendapatkan kembali posisi yang biasa ia tempati setelah sekejab lalu pergi. Claudya yang angkuh, Claudya yang selalu benar, kini telah kembali.
Ia berdiri tegak lagi di depan putranya untuk memantaskan dirinya sebagai pihak tertuduh atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya.
Damaresh tersenyum sinis menatap ibunya dengan rasa iba sekaligus jengkel yang bersamaan.
"Ingatkan aku agar melupakanmu seratus persen sebagai wanita yang melahirkanku, sehingga berkas tuntutan atas kematian ayahku, berikut bukti-buktinya dapat sampai di meja penyidik kepolisian."
Netra pekat Damaresh yang berkilat penuh amarah mengunci tatapan angkuh Claudya hingga luruh tak bersisa. Wajah cantiknya kembali pias seketika.
"Satu hal lagi, di sini aku hanya memberitaumu tentang pernikahanku. ingat, hanya sekedar memberitau, bukan untuk meminta restu. Restu darimu, sama sekali tak penting dalam hidupku," putus Damaresh.
Kalimatnya bak ketukan palu hakim dalam sidang putusan pengadilan. Keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat.
Kali ini Claudya benar-benar bungkam, karna tak menemukan lagi kata-kata yang dapat diucapkan.
"Urusanmu di sini sudah selesai bukan?"
__ADS_1
Damaresh tak ingin lagi memberinya
kesempatan untuk mengatakan apapun.
Kini keadaan sudah berbalik seratus delapan puluh derajat, jika semula Claudya yang ingin pergi dengan kemarahan, kini justru ia harus pergi karna mendapatkan pengusiran.
Wanita itu melangkah pergi, setelah merasa kalau itu adalah keputusan paling benar untuknya saat ini, dengan satu harapan kecil,
mungkin akan ada waktu baginya untuk menjelaskan pada Damaresh kalau tuduhannya itu tak benar, tapi akankah Damaresh mau mendengarkan bila memang benar seperti yang diucapkan, kalau ia punya bukti tentang semuanya.
Lelaki itu meraup wajahnya dan menyugar rambutnya
dengan tangan sekedar untuk menghalau emosinya yang begitu memuncak setelah kepergian Claudya Willyam. Setiap kali mengingat tragedi yang menimpa sang ayah, rasa sakit yang memang tak pernah terobati
itu seakan kian menganga dan berdarah lagi.
Pun rasa amarah dan membenci terhadap Cl??audya kian dalam dan menggerogoti.
Tapi Aresh sadar, bahwa saat ini, ada hati yang harus ia jaga, ada jiwa yang harus ia lindungi, ia tak bisa lagi hanya fokus pada lukanya sendiri, karna ada istri yang butuh sandaran saat ini.
"Arra..," Aresh segera meraih tubuh istrinya yang berurai air mata itu dalam dekapan, ia tau untuk saat ini tak ada kata yang seindah dan sebenar apapun yang akan mampu mendamaikan perasaan Aura, gadis itu sepenuhnya merasa sedih, atas penolakan tegas Claudya terhadapnya.
Meski Aura juga sudah dapat menduganya kalau keluarga Willyam tak akan menerima kehadirannya, tapi begitu penolakan itu mewujud dengan nyata di depannya, sakitnya sungguh tak terkira.
di dalam pelukan suaminya, Aura terisak kian kuat hingga bahunya berguncang.
Aresh pun membiarkan gadis itu menumpahkan segenap beban jiwanya dalam sebentuk tangisan.
Hingga tiba waktunya Aura mendongak menatap Damaresh dengan sepasang mata basah dan hidung yang memerah.
"Ini tidak benar, Aresh."
"Apanya?"
"Pernikahan itu bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi juga tentang keluarga kita, mana bisa kita menjalani pernikahan kita dengan sempurna, bila ibumu tidak merestui," isak Aura lagi, ia sudah siap untuk menumpahkan air matanya kembali, tapi Damaresh segera menghapusi air mata itu dengan jemari,
"Jangan menangis lagi!" hanya itu kata yang diucapkan oleh Aresh sebelum kembali membawa Aura dalam pelukannya lagi. Sebenarnya barisan kata-kata sudah tersusun rapi dalam benaknya, lidahnya juga sudah siap untuk meluncurkan kata-kata tersebut, tapi untuk saat ini, Aura pasti tak akan menerimanya. Karna ia belum tau, apa landasan keluarga Willyam dalam memberikan restu, bukan karna azas kebenaran dan kebaikan, tapi hanya atas nama harta dan kekuasaan.
Pantaskah restu yang seperti itu diperjuangkan??
********
***********
**************
Next part hari senen ya..insha-Allah.
karna masih mau pindah kontrakan sebelah..sudah lama gak up di sana, pembacanya mulai teriak-teriak..
upps jangan lupa jempolnya..
para readers....
**Jempolmu, mengalihkan duniaku
__ADS_1
Buat pembaca pasif, yang hanya baca dan gak meninggalkan jejak..kenalan yukk..
tapi gimana aku akan mengenal kalian, kalau gak ada jejak yang kalian tinggalkan**..