Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
61. Olahraga Malam Dan Olahraga Pagi.


__ADS_3

Satu hal berbeda didapatnya pagi ini, ketika membuka mata setelah melewati tidur yang teramat lena, yang pertama dilihatnya adalah wajah cantik alami Aura, yang masih lelap dalam dekapannya.


Damaresh menelisik wajah itu di setiap inchi-nya dengan pandangan kekaguman, sungguh Aura memiliki kecantikan alami yang sangat mempesonakan mata.


Damaresh merasa telah banyak melewatkan fakta


penting tentang gadis yang telah resmi menjadi seorang wanita setelah menyerahkan diri dengan utuh itu kepadanya. Diantaranya kecantikan dan kelembutan kulitnya, yang ketika disentuh dengan ujung jemari saja, perasaan Damaresh langsung meremang dengan fantasi liarnya.


Akibat sentuhan jemarinya diwajah Aura yang tenang, si empunya wajah menunjukkan pergerakan ringan, terusik dari tidurnya yang nyaman.


Lalu kelopak matanya terbuka, cahaya teduh memancar dari telaga beningnya, menatap wajah Damaresh yang tersenyum untuknya.


"Pagi," Sapa Damaresh disertai senyum.


"Pagi juga," balas Aura juga dengan senyumannya.


"Maaf aku mengganggu tidurmu,"


Aresh kembali mengusap bibir bawah Aura dengan ujung jemarinya.


"Sudah waktunya aku terbangun."


Aura meraih jemari itu. "Jam berapa sekarang?"


"Jam lima."


"Astaghfirlooh," Aura terhenyak.


"Aku harus sholat subuh," ujarnya dan segera melepas selimutnya untuk turun dari pembaringan.


Tapi gadis itu segera menjerit tertahan melihat tubuhnya sendiri yang polos tanpa sehelai benang.


Aura segera menarik selimut itu kembali sampai


sebatas dada dengan napas memburu dan sepasang mata yang melirik kanan-kiri, seàkan maling ayam yang baru saja ketahuan warga.


Damaresh tersenyum gemas dengan tingkah istrinya itu dan segera menoel ujung hidungnya.


"Kenapa hmm?"


"Bagaimana caranya aku ke kamar mandi?"


"Mau aku gendong?" Damaresh menawarkan.


"Bu-Bukan begitu."


"Lalu?"


"Maukah kau ambilkan pakaianku?" pinta Aura penuh harap.


"Pakaianmu ada dimana?"


"Di kamar mandi, kau membukanya semalam di sana, kan?"


"Kapan? aku tidak ingat." Damaresh memutar bola matanya seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.


"Aresh.." Aura menatap menghiba.


"Apa?" Damaresh mempertahankan mode sedang mengingat-ingat semuanya.


"Apa kau sungguh kau tak ingat semuanya?"


tanya Aura dengan raut sedih dan air mata yang siap tumpah dari kelopaknya.


Damaresh mengusap lembut belahan pipi Aura.


"Aku mengingat semuanya, Arra. Setiap inchi tubuhmu aku ingat, dan rasanya, juga aku--"


Damaresh memutuskan untuk mengahiri sandiwara lupa ingatannya karna tak tega melihat expresi wajah Aura, namun lelaki itu tak dapat menuntaskan semua kalimatnya karna Aura segera menutup mulutnya dengan jari telunjuk.

__ADS_1


"Tolong, ambilkan saja pakaianku," pintanya sekali lagi.


Lelaki itu patuh, ia segera duduk membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot sampai dibawah perut. Aura terkesiap melihat pemandangan roti sobek yang seperti disebut dalam cerita novel itu di sana.


"Kenapa? kau baru melihatnya? bukankah semalam kau juga telah melihatnya? Ah aku lupa semalam kau banyak memejamkan mata daripada--"


"Aresh cukup!" Aura kembali memotong ucapan Damaresh sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aku malu," ujarnya.


Damaresh tersenyum dan mencuri ciuman di kening Aura sebelum beringsut turun dan membungkus tubuhnya dengan handuk lalu kembali naik ke atas tempat tidur dan mengangkat tubuh polos Aura ke kamar mandi. Ahh apa lagi yang akan terjadi??


"Kau mandi dulu!" Aresh mengusap wajah Aura yang terlihat tegang sambil tersenyum lembut dan segera bergegas keluar.


Aura menghembus napasnya lega, pikirannya sudah terbang kemana-mana ketika tiba-tiba Damaresh mengangkat tubuhnya tanpa kata, ia kawatir niatnya untuk mandi akan berakhir dengan olah raga pagi, bisa-bisa ia akan tertinggal waktu sholat,


Untunglah, kekawatiran itu tak terjadi.


Ada satu doa yang terucap dalam hati Aura ketika wajahnya tunduk di atas tempat sujud, dalam gelaran sajadah dengan tubuh berbalut mukennah.


Hari ini ya rabb, aku telah menuntaskan ibadahku sebagai seorang istri untuk suamiku, inshaallah aku ikhlas karna engkau ya rabb..


Satu pintaku, aku juga ingin melakukan ibadah bersamanya di hadapanmu seperti ini, aku ingin suamiku bisa menjadi imam sholatku, tolong bukakan hatinya dan bimbinglah dia..


Aura menuntaskan sholatnya dan mengakhiri sujudnya, ia masih duduk dengan dzikirnya ketika terdengar suara ketukan di pintu kamar.


*******


"Aresh," Terdengar suara Kaivan diantara ketukan pintu. Hening tak ada suara apapun terlebih jawaban.


Kaivan mengulang panggilannya plus ketukannya.


Barulah pintu dibuka dari dalam dan menampilkan siluet wanita cantik berhijab, Kaivan terkesiap.


"Arra?"


Aura tersenyum lembut.


"Ka-Kau ada disini?" tanya Kaivan heran sambil kernyitkan kening. Pertanyaan apa itu Kai? Aresh dan Arra itu pasangan halal, wajar jika mereka tidur sekamar.


Aura mengangguk. "Mas Kai cari Aresh ya? dia sedang mandi!"


"Oo gitu." Kaivan menggaruk-garuk pelipisnya dengan telunjuk jari. "Kami ada rencana ber-olah raga pagi, aku sudah menunggunya dari tadi," kata Kaivan menjelaskan kepentingannya.


"Oo iya, mungkin dia lupa," sahut Aura.


"Tolong katakan padanya, aku tunggu di bawah."


Setelah mendapat anggukan dari Aura, Kaivan bergegas pergi seiring Aura yang menutup pintunya kembali.


Damaresh menghampiri Kaivan yang sedang duduk di teras samping sekitar setengah jam kemudian.


Kaivan hanya melirik sahabatnya yang duduk tak jauh di sampingnya itu dengan ujung matanya, dan kembali perhatiannya beralih pada layar putih dari benda pipih yang dipegangnya.


"Sudah kau hubungi?" tanya Damaresh tanpa perlu menyebut apa objecknya, karna Kaivan pasti sudah tau apa maksudnya.


"Iya. pukul lima belas nanti," sahutnya. benar kan Kaivan langsung paham. "Dan aku juga sudah melaporkan jadwal kepulangan kita besok, sesuai instruksimu," lanjut Kaivan meski tatapannya tetap tak teralih dari benda pipih di depannya.


"Sedang baca apa?" tanya Damaresh kemudian.


"Artikel tentang perbedaan olahraga malam dan olahraga pagi. Kau tau apa perbedaannya?" Kaivan mengalihkan tatapannya pada Damaresh yang pagi ini tampak begitu segar, wajah tampannya terlihat lebih cerah dari biasanya.


"Olahraga malam, meningkatkan aktifitas enzim dan fungsi otot serta membantu merilekskan tubuh setelah seharian bekerja.


Olahraga pagi menjaga berat badan tetap ideal, mencegah datangnya penyakit, meningkatkan suasana


hati, meningkatkan energi."


Damaresh menjawab lancar berdasar yang memang sudah diketahuinya.


"Benar juga, dan biasanya olahraga malam itu dilakukan di atas ranjang, kalau olahraga pagi di kamar mandi, benar kan?" Kaivan menatap Damaresh sambil menaik-turunkan alisnya.

__ADS_1


"Maksudnya apa ini?" Damaresh belum ngeh dengan maksud Kaivan itu.


"Aku hanya sedang memahami situasinya, Aresh.


Kalau kau sudah melakukan olahraga malam bersama Arra, mungkin juga plus olahraga pagi. Jadi lupakan perjanjian kita semalam untuk olahraga keliling komplek pagi ini,"


tukas Kaivan yang di akhiri dengan terkekeh pelan.


"Ckk," Damaresh menampakkan raut sebal. bisa-bisanya executive asistannya itu mengerjainya dengan serapi ini.


"Gimana?" tanya Kaivan kemudian.


"Apanya?"


"Olahraga-nya?"


"Aku tak akan pernah berbagi mometn itu dengan siapapun, apalagi denganmu," tandas Damaresh yang langsung membuat Kaivan tergelak kencang.


"Jiahh akhirnya kau naik status sekarang ya, tak hanya sebagai lelaki, tapi sebagai suami."


Kaivan lanjut dengan tawanya yang hanya mendapat tatapan sekilas dari Damaresh. Lelaki itu baru menghentikan tawa karna melihat siluet Aura menghampiri mereka.


Aura meletakkan segelas minuman hangat di atas meja depan Damaresh sambil mengulum senyum pada lelaki itu yang tengah sepenuhnya mengarahkan tatap padanya. "Kita kembali ke Jakarta nanti jam tiga siang, Arra," ujarnya yang segera mendapat anggukan dari Aura.


"Baik, aku akan berkemas," sahut Aura.


"Tak perlu melakukannya sendiri, suruh ART saja!"


"Iya aku akan meminta tolong mereka,"


Terdapat dua perbedaan kata di sini, Damaresh mengatakan langsung untuk menyuruh ART. ya wajar saja jika dia bilang begitu, karna mereka para maid itu di gaji untuk menyelesaikan pekerjaan yang tak bisa dilakukan sendiri oleh sang majikan. Artinya mereka ada dalam posisi yang harus siap menerima perintah.


Sedangkan Aura menggunakan kata "minta tolong"


karna memang bukan dia yang membayar mereka, disamping itu, Aura menghargai setiap orang sebagai satu pribadi yang merdeka, apapun statusnya.


Ini lho salah satu perbedaan Aresh dan Arra, yang ketika perbedaan itu bersatu dalam satu wadah dengan azas saling menghargai, hasilnya..miracle.


Mungkin benar ucapan salah satu motifator kenamaan di Negeri ini dulu, ia mengatakan kalau "Bahasa itu adalah pembeda kelas".


kembali pada Aresh dan Arra, juga Kai, tentunya.


"Aku ke dalam dulu ya," pamit Arra pada Aresh, karna tatapannya hanya tertuju pada pria itu. "Kalau butuh sesuatu, katakan saja," imbuhnya lagi.


Aresh mengangguk. Selanjutnya ia membiarkan Aura pergi dengan pandangannya yang terus mengikuti.


"Katakan saja padaku!" ujar Kaivan yang melihat Damaresh terus menggiring tatapannya pada Aura.


"Apa?" Aresh menatapnya.


"Mungkin kau mau berbagi tentang apa yang kau rasakan kali ini terhadap istrimu."


"Aku selama ini tak pernah mempunyai penilaian apa-apa terhadap Arra tentang pakaiannya yang tertutup, tapi sekarang, aku sangat setuju dengan cara Arra berpakaian seperti itu, karna ia menutupi segala keindahannya dari siapapun, dan hanya aku yang bisa melihatnya. Itu hal yang sangat membuatku senang."


Ucapan Damaresh itu sukses membuat Kaivan membuka setengah mulutnya dengan tatap terpana seakan tak percaya..dan satu kata yang diucapkannya.


"Wahhh--" untuk kalimat selanjutnya, Kaivan masih butuh waktu sesaat untuk melanjutkannya.


"Ini beneran Damaresh Willyam, atau ustadz Abdus-Shomad?"


Ehh ternyata Kaivan tau juga ya pada ustadz Abdus-Shomad, entah kalau ustadz solmed, apa ia tau juga???


*******%%%%%********


Haii maaf ya..Up nya telat..


Riweh banget dari tadi..


Semoga tetap suka ya dengan cerita Aresh Arra.

__ADS_1


__ADS_2